Beranda blog Halaman 402

GNPF MUI Gelar Grand Launching Koperasi Syariah 212

0

PERCIKANIMAN.ID – – Impian Ummat Islam Indonesia khususnya para peserta Aksi Bela Islam baik 411 dan 212 akhirnya menjadi kenyataan dengan mendirikan Koperasi Syariah 212. Acara Grand Soft Launchingnya sendiri digelar di kampus STEI Tazkia Kawasan Sentul Bogor, Jumat (6/1/2017)

Ustadz Bachtiar Nasir selaku Ketua GNPFMUI dalam kesempatan tersebut menjelasankan bahwa Koperasi Syariah 212 merupakan koperasi primer syariah yang akan berperan sebagai investment holding dan mewadahi gerakan-gerakan ekonomi syariah berlabel 212 yang sudah diprakarsai beberapa orang sebelumnya.

“Dalam hal ini GNPF MUI menyatukan aspirasi masyarakat, sehingga semangat 212 tidak hanya dlm hal penegakan hukum saja, namun juga semangat untuk membangun ekonomi rakyat yg halal dan berkah. Dengan berjamah, dikelola dengan amanah, sehingga bangkitnya izzah umat Islam,”paparnya melalui rilisnya yang diterima redaksi percikaniman.id

Ia menambahkan, sama seperti koperasi pada umumnya, bagi masyarakat yang ingin bergabung akan ada simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela (tabungan investasi). Sementara yang akan menjadi target besar adalah bagaimana mengumpulkan semua potensi ekonomi umat Islam sehingga bisa tumbuh bersaing dengan swasta ataupun BUMN.

“Harapan besar berkembangnya koperasi ini sebagai investment holding adalah dari simpanan sukarela atau tabungan investasi, bukan dari simpanan pokok dan simpanan wajib,”imbuhnya.

Sementara itu Dr.Syafii Antonio selaku Ketua STEI Tazkia dalam sambutannya menyatakan bahwa  semangat dan inisiatif Ummat Islam pasca Aksi Bela Islam 212 terus  bergerak namun masih secara parsial dan masing-masing.  Belum terkoordinir dengan rapi.  Sehingga, sambungnya, bila ini dibiarkan, maka potensi umat yang demikian besar tidak dapat dimaksimalkan dengan baik.

“Sentralisasi gerakan ekonomi 212 penting dilakukan untuk mewujudkan maslahah yang lebih besar,”ungkapnya.

Ia melanjutkan bahwa gerakan ekonomi 212 ini mesti dikelola dengan baik;  terpusat,  trsanparan, akuntabel,  dan profesional. Semangat aksi bela Islam 212 tidak boleh berhenti hanya pada gerakan saja, namun semangatnya musti disalurkan pada gerakan gerakan kolektif Umat Islam.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan tentang konsep dan rencana digulirkannya tabungan investasi. Diharapkan tabungan ini bisa digunakan antara lain:

  1. Tabungan investasi waralaba, yang diharapkan bisa digunakan untuk mendirikan mini market , termasuk jaringan distribusi, produk consumer goods, bahkan kalau bisa mengakuisisi perusahaan-perusahaan besar.
  2. Tabungan investasi properti, dimana dana ini digunakan untuk menguasai properti, sehingga kavling-kavling atau tanah-tanah yang saat ini banyak dimiliki pribumi muslim, tidak berpindah tangan kepada non-muslim. Ke depannya, diharapkan bisa membangun Quranic Village dengan sarana prasarana dan perekonomian yang islami di berbagai daerah di Indonesia.
  3. Tabungan Investasi perbankan syariah, dimana dana ini dikumpulkan dengan harapan bisa mengakuisisi bank-bank syariah yang dalam kondisi kritis atau pun bank swasta/asing, sehingga ekonomi Islam bisa tumbuh lebih besar lagi.

Pada kesempatan tersebut diresmikan pula susunan dewan penasihat dan dewan pengawas operasional  Koperasi Syariah 212 ini. Namun, berbagai aspek teknis, legalitas, dan sebagainya masih akan disempurnakan dan dirampungkan dalam 1 minggu ke depan.

Dalam kesempatan tersebut hadir tokoh dan ulama seperti K.H Ma’ruf Amin (Ketua MUI, Habib Rizieq (Ketua Dewan Pembina GNPFMUI), Prof. Didin Hafidhuddin (Wk Ketua Pertimbangan MUI), Ust. Bachtiar Nasir (Ketua GNPFMUI), K.H Abdullah Gymnastiar (AA Gym), Ust. Arifin Ilham, Dr. Muhammad Syafii Antonio (Ekonom & Dewan Ekonomi Syariah MUI), ust. Zaitun Rasmin, Ust. Erick Yusuf  juga nampak hadir Prof.Dr.KH.Miftah Faridl. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Foto: gnpf mui

YLKI Minta Masyarakat Waspadai Makanan Impor Tanpa Label Halal

0

PERCIKANIMAN.ID – – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Sumatera Utara meminta kepada masyarakat agar tetap mewaspadai produk makanan kemasan dari luar negeri, tanpa menggunakan label halal yang dijual di pusat perbelanjaan.

“Konsumen jangan sampai terkecoh dengan makanan dari berbagai negara asing yang masuk ke Indonesia,” kata Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumut, Abubakar Siddik di Medan, seperti dilaporkan antara, Jumat (6/1/2017).

Ia berharap, Dinas Perdagangan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan BPOM, agar melakukan pemeriksaan terhadap produk makanan dari luar negeri.

“Penertiban produk yang tak pakai label halal itu, harus dilaksanakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diingini terhadap masyarakat,” ujar Abubakar.

Ia menilai, setiap produk makanan dari luar negeri harus mencantumkan label halal, sehingga bisa diketahui oleh konsumen dan masyarakat secara luas. Selain itu, masyarakat juga bisa mengetahui produk makanan yang akan mereka beli, dan tidak terjadi kesalahan atau keliru memilih produk itu.

“Apalagi, mengenai kehalalan dan kebersihan makanan tersebut, perlu diketahui bagi masyarakat yang beragama Islam,” ucapnya.

Abubakar menyebutkan, produk makanan dari luar negeri yang tidak dilaporkan masuk ke Indonesia, bukan hanya mencemaskan masyarakat, tetapi juga akan merugikan negara karena tidak mendapatkan pajak.

“Pemerintah melalui lembaga terkait, harus tetap mengawasi produk makanan dari negara luar itu, apakah sudah terjamin kebersihannya, dan tidak mengalami gangguan kesehatan,” pungkasnya. [ ]

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: lppom mui

 

 

Pria Penjaga Masjid Ini Tiba-Tiba Meninggal Saat Sujud

0

PERCIKANIMAN.ID – Setiap Muslim mendambakan di akhir hayatnya menghadap Yang Maha Kuasa dalam keadaan husnul khotimah.

Sepenggal cerita menjemput ajal datang dari sebuah kampung di Lawang, Kabupaten Malang. Meninggalnya seorang warga bernama Miftah Arifin membuat nama Kampung Kauman, Lawang, menjadi pusat perhatian.

Miftah adalah seorang warga biasa yang tinggal di Jalan Kauman Nomor 72. Namun, kisah kematiannya bisa menjadi teladan bagi setiap Muslim. Pada Selasa (3/1/2017) malam, ia meninggal dalam keadaan bersujud di Masjid Babus Salam, Lawang. Kabar meninggalnya Miftah sontak mengagetkan warga kampung lantaran terjadi sangat tiba-tiba.

Tidak ada yang berbeda di Masjid Babus Salam, Kauman, Lawang pada malam itu. Muhammad Sueb, petugas masjid, bersiap-siap mematikan lampu dan mengunci pintu usai seluruh jamaah menunaikan shalat Isya.

Sekitar pukul 19.35 masih ada beberapa jamaah yang tinggal untuk menjalankan shalat ba’da Isya, termasuk Miftah Arifin. Sueb pun menunggu hingga seluruh jamaah benar-benar meninggalkan masjid.

Jarum jam menunjukkan pukul 19.50, tapi Sueb masih melihat Miftah Arifin tak kunjung menuntaskan shalatnya. “Saya kenal Pak Miftah karena dia warga sini dan rajin ke masjid, tapi malam itu dia sujud lama sekali saya tunggu hampir setengah jam ia terus bersujud,” kisah Sueb  saat ditemui pada Kamis (5/1/2017) di Masjid Babus Salam.

Penjaga masjid itu pun mendekati Miftah. Ketika Sueb memegang pundak Miftah, pria tersebut bergeming, tak memberikan reaksi.

“Saya hanya dengar Pak Miftah bernafas dua kali lalu setelah itu diam,” ujarnya. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, ia memanggil teman-temannya yang berada di teras masjid untuk ikut menengok kondisi Miftah. Beberapa orang datang melihat Miftah yang masih bersujud namun tak satu pun yang berani mengambil tindakan.

Tak berapa lama, istri Miftah dan ketua RW datang ke Masjid Babus Salam. Setelah kedua orang itu hadir, Sueb dan rekan-rekannya baru memberanikan diri mengangkat Miftah.

Tak dinyana, pria 63 tahun itu ternyata telah meninggal dunia. Jasadnya yang masih lemas dibopong oleh para takmir masjid. Keharuan langsung menyelimuti orang-orang yang menyaksikan peristiwa tersebut. Dalam keadaan bersujud, Miftah dipanggil menghadap Allah SWT.

Pria yang sehari-hari istiqamah menunaikan shalat wajib dan sunahnya di masjid telah berpulang untuk selama-lamanya. Di kalangan warga setempat, Miftah dikenal sebagai orang yang suka membantu perawatan jenazah termasuk memandikan jenazah.

“Pernah dulu ada tetangga meninggal tengah malam, Pak Miftah langsung sigap ketika dimintai tolong, padahal fisiknya tak lagi muda dan kakinya sakit karena diabetes,” kata Sueb.

Miftah dikebumikan pada Rabu (4/1/2017) kemarin  pukul 10.00 di TPU Kalirejo, Lawang. Imam Affandi, putra kedua almarhum, menuturkan, pihak keluarga sengaja tak memanggil dokter untuk memeriksa kondisi ayahnya. “Keluarga sudah ikhlas dengan kepergian bapak,” katanya.

Sumber : Republika

Apa Saja Syarat Poligami dalam Islam?

0

Oleh : Ustad Ahmad Al Habsyi 

Beberapa ulama, setelah meninjau ayat-ayat tentang poligami, telah menetapkan bahwa menurut asalnya, Islam sebenarnya ialah monogami. Terdapat ayat yang mengandung anjuran serta peringatan agar poligami itu tidak disalahgunakan di tempat-tempat yang tidak wajar. Ini semua bertujuan untuk menghindari terjadinya kezaliman.

Tetapi, poligami diperbolehkan dengan syarat ia dilakukan pada saat-saat terdesak untuk mengatasi masalah yang tidak dapat diatasi dengan jalan lain. Atau dengan kata lain bahwa poligami itu diperbolehkan oleh Islam dan tidak dilarang kecuali jikalau dikhwatirkan bahwa kebaikannya akan dikalahkan oleh keburukannya.

Jadi, sebagaimana talak (perceraian), begitu jugalah hanya dengan poligami yang diperbolehkan karena hendak mencari jalan keluar dari kesulitan. Islam memperbolehkan umatnya berpoligami berdasarkan nas-nas syariat serta realitas keadaan masyarakat. Ini berarti ia tidak boleh dilakukan dengan sewenang-wenang demi untuk mencapai kesejahteraan masyarakat Islam, demi untuk menjaga ketinggian budi pekerti dan nilai kaum Muslimin.

Oleh karena itu, apabila seorang laki-laki akan berpoligami, hendaklah dia memenuhi setidaknya 5 (lima) syarat sebagai berikut;

1.  Membatasi jumlah Istri yang akan dinikahinya.
Syarat ini telah disebutkan oleh Allah swt. dengan firman-Nya;
…maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat (Q.S. An- Nisaa :3).

Ayat di atas menerangan dengan jelas bahwa Allah telah menetapkan seorang laki-laki itu tidak boleh menikah dengan lebih dari empat orang istri. Jadi Islam membatasi kalau tidak beristri satu, boleh dua, tiga, atau empat saja.

Pembatasan ini juga bertujuan membatasi kaum laki-laki yang gemar perempuan agar tidak berbuat sesuka hatinya. Disamping itu, dengan pembatasan empat orang istri, diharapkan jangan sampai ada lelaki lain yang tidak menemukan istri atau ada pula wanita yang tidak menemukan suami. Mungkin, kalau Islam membolehkan dua orang istri saja, maka akan banyak wanita yang tidak menikah. Kalau pula dibolehkan lebih dari empat, mungkin saja terjadi banyak lelaki yang tidak memperoleh istri.

2. Diharamkan bagi suami mengumpulkan wanita-wanita yang masih ada tali persaudaraan menjadi istrinya.

Misalnya, menikah dengan kakak, adik, ibu dan anaknya, anak saudara dengan ibu saudara baik dari pihak ayah maupun ibu. Tujuan pengharaman ini ialah untuk menjaga silaturrahim antara anggota-anggota keluarga.

Rasulullah bersabda, yang maksudnya; “Sesungguhnya kalau kamu berbuat yang demikian itu, akibatnya kamu akan memutuskan silaturrahim di antara sesama kamu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Seorang sahabat benama Fairuz Ad-Dailamy setelah memeluk agama Islam, memberitahu kepada Rasulullah bahwa dia mempunyai istri yang kakak beradik. Maka Rasulullah menyuruhnya memilih salah saeorang di antara mereka dan menceraikan yang satunya lagi. Jadi telah disepakati tentang haramnya mengumpulkan kakak beradik ini didalam Islam.

3. Disyaratkan pula berlaku adil,

Sebagaimana yang difirmankan Allah swt:
Kemudian jika kamu bimbang tidak dapat berlaku adil (diantara istri-istri kamu), maka (kawinlah dengannya) seorang saja, atau (pakailah) hamba-hamba perempuan yang kaumiliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat (untuk mencegah) supaya kamu tidak melakukan kezaliman.” (Q.S. An-Nisaa : 3)

Dengan tegas diterangkan serta dituntut agar para suami bersikap adil jika akan berpoligami. Andaikan takut tidak dapat berlaku adil kalau sampai empat orang istri, cukuplah tiga orang saja. Tetapi kalau itupun masih juga tidak dapat adil, cukuplah dua saja, Dan kalau dua itu pun masih khawatir tidak bisa berlaku adil, maka hendaklah menikah dengan seorang saja. Para mufassirin berpendapat bahwa berlaku adil itu wajib. Adil di sini bukanlah berarti hanya adil terhadap para istri saja, tetapi mengandung arti berlaku adil secara mutlak.

Bersikap adil dalam hal-hal menunjukan dan membagi cinta dan kasih sayang terhadap istri-istri, adalah satu tanggung jawab yang sangat besar. Meski demikian, ia termasuk perkara yang masih berada dalam kemampuan manusia.

Keadilan yang dijadikan syarat diperbolehkannya poligami berdasarkan ayat 3 surah An-Nisaa. Kemudian pada ayat 129 surah itu pula menyatakan bahwa keadilan itu tidak mungkin dapat dipenuhi atau dilakukan.

Sebenarnya, yang dimaksudkan oleh kedua ayat di atas ialah keadilan yang dikehendaki itu bukanlah keadilan yang menyempitkan dada kamu sehingga kamu merasakan keberatan yang berlebihan terhadap poligami yang dihalalkan oleh Allah. Hanya saja yang dikehendaki ialah jangan sampai kamu cenderung sepenuh-penuhnya kepada salah seorang saja di antara para istri kamu itu, lalu kamu tinggalkan yang lain seperti terkatung-katung.

Selain itu, Orang yang boleh beristri dua ialah yang percaya benar akan dirinya dapat berlaku adil, yang sedikitpun tidak akan ada keraguannya. Jika dia ragu, cukuplah seorang saja. Adil yang dimaksudkan di sini ialah ‘kecondongan hati’. Dan tentu ini amat sulit untuk dilakukan, sehingga poligami adalah suatu hal yang sukar untuk dicapai. Jelasnya, poligami itu diperbolehkan secara darurat bagi orang yang benar-benar percaya dapat berbuat adil.

Bahkan, jangan sampai si suami membiarkan salah seorang istrinya terkatung-katung, ibarat digantung tak bertali. Hendaklah disingkirkan sikap condong kepada salah seorang istri yang menyebabkan seorang yang lain lagi merasa kecewa. Adapun condong yang dimaafkan hanyalah condong yang tidak dapat dilepaskan oleh setiap individu darinya, yaitu condong hati kepada salah seorang diantara mereka namun tidak sampai membawa kepada tindakan mengurangkan hak yang lain.

Afif Ab. Fattah Tabbarah dalam bukunya Ruhuddinil Islami mengatakan; Makna adil di dalam ayat tersebut adalah persamaan: yang dikehendaki ialah persamaan dalam hal pergaulan yang bersifat lahir seperti memberi nafkah, tempat tinggal, tempat tidur, dan layanan yang baik, juga dalam hal menunaikan tanggungjawab sebagai suami-istri.”

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

Bagaimana Menghadapi Teman yang Suka Memfitnah?

0

Pak Ustadz, saya seorang ibu bekerja yang sudah meiliki dua orang putri dan insya Allah sedang mengandung anak ke-3. Saya sedang menghadapi suatu permasalah yang mungkin akan menjadi dilemma. Saya sedang berada dalam pilihan yang sangat berat yaitu setelah kelahiran anak ke-3 apakah tetap bekerja atau berhenti saja. Di satu sisi, dengan saya bekerja alhamdullilah bisa membantu perekonomian keluarga tapi di sisi yang lain saya sedang merasakan kejenuhan di kantor. Memang, kantor merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dengan karakter yang berbeda-beda. Tapi, dari dua tahun pertama bekerja, saya merasakan ketidaknyamanan terlebih semenjak ada teman saya yang berinisial “I”.
Hal tersebut ditambah lagi dengan kejadian beberapa waktu lalu yang mebuat cukup banyak orang beranggapan bahwa saya bukan teman (kerja) yang baik. Waktu itu saya hendak ikut istirahat di mess sekalian menjenguk anak teman saya yangg berinisial “V”. Nah, “I” ini paling tidak suka dengan “V” dengan alasan sifatnya yang menyebalkan. Saya sengaja tidak mengajak “I” karena sebelumnya ia pernah diajak oleh teman yang lain dan tidak mau. Setelah sampai di mess, saya sempat beristirahat di kamar “V” (teman akhwat juga). Tidak berapa lama, ruang tamu ramai karena ada mantan pegawai berinisial “S” dan disambul oleh teman-teman kantor yang lain. Saya tidak tahu kalau “S” akan datang dan mengajak makan. Saya juga tidak tahu dengan siapakah “S” membuat janji datang ke mess. Tersebarlah berita kami makan-makan dengan “S” dan sampai ke telinga “I” yang langsung bertanya kepada sahabatnya “D” kenapa ia tidak diajak.

Singkatnya, setelah saya menerangkan lewat sms kepada “I” dan “D”, mereka bersikap manis di depan saya tapi dibelakang saya mereka bercerita yang tidak sesuai dengan kenyataan dan orang-orang di kantor percaya akan cerita “I” karena memang dia pandai bersilat lidah. Kalau mau jujur, saya lah yang lebih sering sakit hati karena kelakuan “I” dan “D” yang selalu yakin kalau mereka tidak pernah berbuat salah kepada siapa pun dan mengaku selalu mengalah karena mereka sudah dewasa.

Yang mau saya tanyakan :
– Apakah sikap saya salah mengingat saya sudah berusaha untuk menerangkan dengan sejelas-jelasnya mengenai situasi yang terjadi dan telah meminta maaf?
– Kalau memang saya salah dan permohonan maaf saya tidak diterima oleh “I” dan “D”, apakah Allah juga tidak akan memaafkan saya?

Jazakallah atas jawabannya. Saya mohon doanya semoga saya dapat menghadapi kedua orang tersebut dengan lapang dada dan sabar.

 

 

Sebelumnya, saya ucapkan selamat atas kehamilan anak Anda yang ke-3. Semoga seluruh keturunan Anda kelak menjadi generasi shaleh-shalehah yang siap menyongsong masa depan tegaknya kalimatullah di muka bumi ini. Amin.

Persoalan yang Anda hadapi mungkin bertitik-tolak pada kesalah-fahaman dan komunikasi yang sedikit tersendat. Saya melihat bahwa niat Anda sudah benar karena hendak menjaga sesuatu (yang buruk) yang mungkin akan terjadi antara Anda dengan “V” ketika mengajak “I”.

Namun, perlu juga kiranya Anda mengevaluasi sikap tidak mengajak “I” yang sedikit dilatar-belakangi oleh prasangka yang belum tentu benar. Seandainya Anda tidak mengawalinya dengan prasangka tersebut dan tetap menjaga komunikasi dalam setiap kesempatan, sepertinya kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Yang saya sampaikan ini bukan bermaksud untuk menyalahkan siapa pun.

Namun, perlu kiranya menjadi pelajaran bahwa sekecil apa pun permasalahan, jika tidak dikomunikasikan akan memunculkan sakwa sangka yang merugikan. Sekarang, semuanya sudah terjadi. Tinggal Anda beristighfar meski belum tentu Anda yang bersalah. Jaga dan tingkatkan sillaturahmi dengan orang yang membenci kita sekali pun.

Jika itu semua sudah dilakukan dan ternyata sejumlah teman kantor sepertinya tetap membenci Anda, maka Anda tidak perlu risau karena teman yang sesungguhnya adalah mereka yang sama-sama menginginkan adanya ishlah dan tetap terjaganya silaturrahim.

Allah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Setiap maaf yang dimohonkan kepada-Nya dengan tulus, baik langsung ataupun tidak langsung, dipastikan akan senantiasa diterima. Bahkan, Allah membenci hamba-Nya yang merasa selalu bersih dari dosa dan memandang diri tidak perlu memohon ampun kepada-Nya.

Jika kesalahan itu ada pada sesama manusia, maka di saat kita memintakan maaf kepada orang yang bersangkutan, secara otomatis di saat itu pula Allah dengan cepat memaafkan kita meski orang tersebut tidak memberikan maaf. Perlu diingat pula bahwa hal tersebut (teman tidak memberi maaf) jangan sampai membuat kita tidak memaafkan teman tersebut karena hal itu hanya akan merugikan kita sendiri. Wallahu a’lam.

*  Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam

Pemerintah Didesak Segera Tingkatkan Mutu PTAI

0

PERCIKANIMAN.ID – – Memasuki tahun 2017, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag), diminta untuk semakin meningkatkan mutu perguruan tinggi agama Islam (PTAI). Menurut anggota Komisi VIII DPR Ledia Hanifa, pemerintah perlu berfokus pada soal kurikulum yang berlaku di PTAI.

“Memastikan standar kurikulum yang dipergunakan untuk program studi dan jenjang yang sama di seluruh Indonesia,” ungkap Ledia Hanifa seperti dikutip dari republika online, Jumat (5/1/2017).

Sebelumnya, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kemenag mengungkapkan masalah sumber daya manusia (SDM) menjadi fokus utama dalam tahun 2017 ini. Menurut Direktur PTI Kemenag, Amsal Bakhtiar, program peningkatan kualitas dosen sudah dilakukan sejak 2015, yakni melalui program 5.000 doktor. Kemenag memberikan beasiswa kepada dosen-dosen PTAI untuk mengambil gelar doktor.

“Kita harapkan ke depan, 80 sampai 90 persen dosen (PTAI) doktor,” kata Amsal.

Sementara dilansir dari bps.go.id setidaknya di Indonesia hingga 2016 ada 53 PTAI Negeri dan sekira 625 dikelola pihak swasta dengan total mahasiswanya (negeri dan swasta) sekira 700 ribu mahasiswa berbagai jenjang strata.      Sementara jumlah tenaga pengajarnya atau dosen ada 12 000 orang untuk PTAI Negeri dan      14 700 untuk yang swasta. Tak dipungkuri dari jumlah dosen tersebut masih ada yang lulusan sarjana (S1) khususnya di daerah. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Bagaimana Keabsahan Doa Di Medsos?

0

Pak Aam di era medsos sekarang ini kita sering dapat permintaan doa maupun menyebarkan doa orang lain terkait situasi yang dialaminya. Lantas kalau kita nge retweet status atau ngeshare doa di medsos, itu keabsahannya bagaimana ? Terima kasih. (Mira by bbm)

 

 

Iya di era teknologi sekarang, kita tidak bisa lepas dari teknologi yang berkembang, dampak yang harus dipertimbangkan adanya teknologi ini adalah dampak positif dan negatif. Penggunaan media sosial yang berkembang saat ini ada yang memang digunakan untuk berbuat kebaikan bahkan juga untuk berdakwah namun juga ada yang digunakan untuk keburukan dan tindak kejahatan. Bahkan dengan sekejap saja di era sekarang kita bisa sebar fitnah dengan cepat tanpa bisa terbendung atau ditarik kembali.

Namun sebagai muslim maka sebaiknya kita jangan sembarang menyebar atau broadcast informasi-informasi baik itu tentang agama, kesehatan, pendidikan, apapun itu jika kita masih ragu akan kebenaran informasi tersebut. Jalan yang harus ditempuh sebelum menyebarkannya adalah tabayyun. Hal ini seperti yang telah Allah Swt perintah kepada kita:

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian”.(QS.Al-Hujurât :6).

Apa itu tabayyun ?. Tabayyun itu hal yang dianjurkan dalam Islam jika kita menerima informasi dari orang lain mengenai sesuatu hal. Tabayun itu mengklarifikasi informasi kepada sumbernya secara langsung tidak melaluli orang lain. Tabayyun tidak boleh dilakukan kepada orang lain, kroscek harus dilakukan kepada sumber yang bersangkutan langsung.

Tugas kita dalam menginformasikan sesauatu harus selektif, kita perhatikan isi informasinya, sekiranya tidak akan menimbulkan permusuhan dan dosa itu bagus untuk di share, tetapi kalau sebalaiknya, maka tidak usah di sebarkan. Jikalau kita menyebarkan suatu fitnah atau informasi yang belum benar keabsahannya, sama saja kita sedang mengundang laknat Allah, Malaikat, dan kebanyakan orang. Karena orang-orang yang menyebarkan fitnah akan di benci oleh orang pada umumnya, sehingga banyak orang-orang yang mendoakan para pemitnah ini doa-doa yang tidak baik.

Dalam proses tabayyun harus diserahkan kepada ahlinya, tabayyun mengenai agama harus kepada ahli agama, tabayyun mengenai kesehatan, bisa tabayyun kepada dokter atau ahli kesehatan, tapi kalau tabayyun mengenai informasi yang sifatnya pribadi, itu harus langsung bertabayyun kepada orang yang bersangkutannya langsung. Hal ini dimaksudkan agar informasi yang di dapat akurat dan benar.

Kehidupan bermasyarakat dewasa ini tidak lekang dari isu, gosip sampai adu domba antar manusia. Keadaan ini diperkeruh oleh adanya sekelompok masyarakat menjadikan gosip dan `aib serta `aurat (kehormatan) orang lain sebagai komoditas perdagangan untuk meraup keuntungan dunia. Bahkan untuk tujuan popularitas ada yang menjual gosip yang menyangkut diri dan keluarganya.

Perilaku gosip yang telah menjadi penyakit masyarakat ini tidak disadari oleh kebanyakan pecandunya di dunia maya (medsos), bahwasanya menyebarluaskan gosip itu ibarat telah saling memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Allah Ta’ala menggambarkan demikian itu ketika melarang kaum beriman saling ghibah (menggunjing), menghina, menghujat bahkann fitnah dan sebagainya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam Al-Qur`ân:

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Jangan pula kalian memata-matai dan saling menggunjing. Apakah di antara kalian ada yang suka menyantap daging bangkai saudaranya sendiri? Sudah barang tentu kalian jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allaah Maha menerima taubat dan Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujurât:12).

Dari penyakit ini, syahwat akan meluas dan berkembang penyakit lain yang tidak kalah bahayanya, di antaranya kebiasaan berbohong dan bahayanya berbohong disebarkan melalui medsos. Tentu kita akan ikut berdosa jika kebohongan tersebut turut kita sebarkan kepada orang lain. Untuk itu jangan mudah terbujuk dengan ajakan untuk menyebarkan kabar yang belum tentu kebenarannya. Demikian juga dengan doa, sebaiknya sebelum mendoakan cek dulu kebenarannya atau cari sumber yang terpercaya. Wallahu’alam. [ ]

Editor: iman

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam

 

Pendidikan Seks, Terapkan Sejak Dini Agar Paham dan Terjaga

0

PERCIKANIMAN.ID – – Sudah menjadi fitrahnya, setiap anak akan mengalami masa pubertas seiring bertambahnya usia mereka. Sehingga sudah seharusnya pula, mereka mendapat pendidikan seksualitas sejak dini. Sayangnya, mayoritas masyarakat Indonesia masih menganggap dan menilai bahwa masalah seks dan kesehatan reproduksi adalah sesuatu yang “tabu” untuk dibahas, apalagi  untuk dibicarakan dengan anak-anaknya. Padahal, bila mengacu pada proses atau tahapan pendidikan anak, membicarakan seksualitas merupakan salah satu tanggung jawab orangtua, Dengan pendidikan yang tepat, kelak anak-anak mempunyai pemahaman yang baik tentang dirinya dan apa yang ada pada dirinya termasuk fungsinya.

Berdasarkan teori para ahli, peletakan dasar landasan pendidikan seks yang efektif dan paling mudah adalah saat prasekolah. Pada usia ini, perkembangan otak anak sangat pesat mencapai 80 persen sehingga dinamakan “masa emas”. Hasil pendidikan yang ditanamkan (selama sesuai dengan  perkembangannya) akan lebih merasuk pada jiwa dan terekam kuat pada ingatan anak. Begitu juga dengan pendidikan seks dan kesehatan reproduksi sejak dini. Penyampaian yang wajar, jujur, dan sederhana, serta menggunakan bahasa yang mereka pahami, akan membentuk konsep diri anak yang positif. Anak juga bisa melindungi kesehatan diri serta menjaga diri dari ancaman kekerasan seksual di kemudian hari.

Hal ini juga diakui psikolog anak dan remaja, Alva Handayani. Menurutnya, anak yang mengalami masa puber adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan para orangtua. Walaupun pubertas di usia yang lebih dini sering kali membuat orangtua bingung, namun yang perlu dilakukan orangtua adalah memberi pemahaman dan penjelasan yang tepat sesuai dengan tingkat logikanya. Ia (anak) tengah mengalami suatu kejadian yang luar biasa sehingga pengetahuan tentang apa yang tengah terjadi dengan dirinya sangat penting. Jika anak tidak mendapatkan penjelasan dari orang yang dipercaya (orangtua), maka sangat dimungkinkan ia mencari tahu dengan yang lain baik bertanya pada temannya atau mencari tahu lewat media lain (buku,internet) yang bisa berbahaya.

Menurut Alva, setidaknya ada dua faktor mengapa edukasi seks sangat penting bagi anak-anak atau remaja. Pertama, anak-anak yang mulai tumbuh menjadi remaja belum paham dengan seksualitas, sebab orang tua masih menganggap pembicaraan soal ini adalah hal yang tabu. Sehingga dari ketidakpahaman, tersebut para remaja merasa tidak bertanggungjawab dengan seks atau kesehatan anatomi reproduksinya.

Faktor kedua, dari ketidakpahaman remaja tentang seks dan kesehatan anatomi reproduksi mereka, di lingkungan sosial masyarakat, banyak yang menawarkan hanya sebatas komoditi, seperti media-media yang menyajikan hal-hal yang bersifat pornografi, antara lain DVD, majalah, internet, bahkan tayangan televisi pun saat ini sudah mengarah kepada hal yang seperti itu. Dampak dari ketidakpahaman remaja tentang sex education ini, banyak hal-hal negatif terjadi, seperti tingginya hubungan seks di luar nikah, kehamilan yang tidak diinginkan, penularan virus HIV/AIDS dan sebagainya.

Menurut Alva, pengetahuan tentang organ reproduksi akan membuat anak atau remaja menjadi lebih menghargai baik dirinya sendiri maupun orang lain khususnya teman sebayanya.

“Dengan belajar tentang sex education, khususnya sejak awal diharapkan anak-anak atau remaja dapat memperoleh pengetahuan yang lengkap tentang organ reproduksinya. Dengan kemampuan untuk menjaga organ-organ reproduksi pada tubuh mereka dan orang lain tidak boleh menyentuh organ reproduksinya khususnya bagi remaja putri, mereka akan melindungi diri sendiri,”ujar penulis buku Anak Anda Bertanya Seks? ini kepada percikaniman.id beberapa waktu lalu.

Mungkin yang sulit bagi orangtua, kata Alva, adalah saat untuk memulai pembicaraan atau memberi penjelasannya. Untuk itu orangtua harus mencari momen yang tepat sesuai dengan situasi atau mood anak.

”Saat yang tepat adalah saat anak bertanya berarti ia mengingingkan pengetahuan. Selain itu saat menonton televisi ada iklan tentang pembalut misalnya, maka momen itu bisa dimanfaatkan untuk menjelaskan fungsi pembalut tersebut,”ungkap Direktur Pengembangan Program di Lembaga Openmind ini.

Alva menambahkan, sebelum melakukan pendekatan kepada anak, maka orangtua harus menyiapkan diri, mencari ilmu dan referensi yang memadai agar tidak tidak salah memberi penjelasan. Sebelum mengajarkan pentingnya nilai-nilai tersebut pada anak,maka  pastikan orangtua mencerminkan nilai-nilai tersebut dalam perilakunya sehari-hari. Sebelumnya orangtua harus menjadi teladan yang baik dalam proses pendidikan tersebut. Hal awal yang perlu untuk dilakukan orangtua adalah mengajarkan kasih sayang,saling menghormati antar anggota keluarga dan menjaga hubungan yang harmonis.

Dalam proses pendidikan ini menurut Alva, orangtua juga harus menyesuaikan dengan perkembangan anak dan dilakukan setahap demi setahap. Pahami juga sudah sejauh mana perkembangan anak baik fisik maupun sisi psikologisnya,siapa temannya dan sebagainya. Untuk bisa memasuki dunia anak maka orangtua harus mengetahui dunia anak itu sendiri.Selain itu orangtua perlu membuat kesepatan bersama tentang aturan apa yang sementara boleh atau tidak boleh ditanyakan.Selain itu bisa juga orangtua membuat tugas misalnya untuk menjelaskan pertanyaan tentang A,sang ayah yang menjawab begitu juga dengan pertanyaan lainnya. Pembagian tugas ini akan membuat lebih mudah dalam proses pembelajaran selanjutnya.

Masa puber, jelas Alva, layaknya gerbang yang menyambut anak-anak menuju tahap kehidupan yang lebih tinggi, yaitu masa remaja. Dengan problematika yang lebih kompleks, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan orang tua dan tenaga pendidik bagi anak-anak yang menjelang puber. Yang paling perlu diperhatikan saat puber adalah perkembangan organ reproduksi yang semakin matang. Artinya, mulai muncul dorongan yang cukup besar untuk melakukan hubungan seks. Padahal remaja sebenarnya belum siap secara mental dan fisik.

“Salah satu hal yang paling penting bagi anak-anak untuk menghadapi pubertas adalah pendidikan seksologi. Beberapa penelitian menemukan bahwa remaja cenderung mau melakukan hubungan seks berisiko karena tak tahu apa konsekuensinya. Secara psikologis memang demikian karena adanya dorongan atau hasrat seksualnya yang mulai muncul. Jika ia tidak mendapat pemahaman dan penjelasannya maka bisa terjerumus,”jelas Alva.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

Hati-hati ! Rumah Tinggal Dekat Jalan Raya Penghuninya Berisiko Mengidap Demensia

0

PERCIKANIMAN.ID – – Bagi sebagian orang mempunyai rumah dekat dengan jalan raya adalah sebuah impian. Ada banyak keuntungan jika mempunyai rumah dekat dengan jalan raya selain akses yang mudah dan cepat juga strategis untuk buka usaha. Demikian juga dengan harga jual yang kembali tinggi sehingga mendatangkan keuntungan. Namun Anda harus berpikir ulang jika masih menginginkan tinggal di rumah dekat jalan raya sebab dari sisi kesehatan hal ini tidak menguntungkan.  Orang-orang yang tinggal di dekat jalan raya berpotensi mengidap demensia atau sindrom memori jangka pendek, menurut sebuah studi skala besar yang diterbitkan jurnal medis Inggris, The Lancet, seperti dilaporkan AFP, dan dikutip dari antaranews, Kamis (5/1/2017)

Penelitian yang mengamati enam juta orang dewasa di Ontario, Kanada, periode 2001 hingga 2012, menemukan bahwa mereka yang tinggal di lokasi dengan jarak kurang dari 50 meter dari ruas jalan yang ramai berpotensi tujuh persen lebih tinggi mengidap demensia.

Bagi mereka yang tinggal pada jarak sekira 50-100 meter dari jalan utama memiliki risiko empat persen lebih tinggi dan mereka yang tinggal 100-200 meter dari jalan raya memiliki potensi dua persen lebih tinggi.

Di sisi lain, tidak ada risiko yang terlihat pada masyarakat yang tinggal dengan jarak lebih dari 200 meter dari jalan raya.

Penelitian yang dipimpin Hong Chen dari Kesehatan Masyarakat Ontario, menemukan paparan polusi nitrogen dioksida (NO2) dan partikel halus dalam jangka panjang terkait dengan demensia, kendati belum diperhitungkan efeknya secara menyeluruh.

Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor lain seperti kebisingan atau polusi lainnya juga berkontribusi atas demensia itu.

Penelitian ini tidak membangun hubungan antara kedekatan lalu lintas ramai dengan kondisi neurologis lain seperti penyakit parkinson atau sklerosis ganda.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, terdapat 47,5 juta orang di seluruh dunia yang memiliki penyakit demensia yaitu sindrom yang ditandai penurunan memori, berpikir, perilaku dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Sebanyak 7,7 juta kasus demensia baru dilaporkan setiap tahunnya, dengan penyakit Alzheimer menjadi penyebab paling umum dan berkontribusi terhadap 60 persen sampai 70 persen kasus.

Penyakit lain yang bisa disebabkan demensia adalah stroke dan hipertensi. Polusi sudah lama dicurigai memainkan peran dalam perkembangan penyakit Alzheimer tetapi tidak ada hubungan pasti yang bisa dijelaskan hingga sekarang.

“Studi kami menunjukkan jalan yang sibuk bisa menjadi sumber stres lingkungan yang dapat menimbulkan terjadinya demensia,” kata Hong

“Peningkatan pertumbuhan penduduk dan urbanisasi membuat banyak orang tinggal dekat dengan lalu lintas yang padat, dengan luasnya kontak dengan lalu lintas dan tingkat pertumbuhan demensia, bahkan efek sederhana dari tinggal di dekat jalan bisa menimbulkan beban kesehatan publik yang besar,” pungkasnya. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Mungkinkah Kita Menjadi Wali Allah?

0

Ustad yang saya hormati, apakah mungkin kita bisa menjadi wali Allah? Bagaimana dan apa syaratnya agak kita dapat menjadi wali Allah?

 

Setiap Muslim berpeluang sama untuk menjadi wali Allah asalkan bisa memenuhi persyaratan berikut,

1. Berdakwah

Dakwah artinya mentransformasikan ajaran Islam kepada umat dengan amar ma’ruf nahyi munkar.

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia karena kamu menyuruh berbuat yang ma‘ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” ( Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 110)

“Orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian lain. Mereka me nyu ruh berbuat yang ma‘ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, melaksanakan sa lat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Se sung guh nya, Allah Mahaperkasa, Maha bijak sana.” ( Q.S. 16 At-Taubah [9]: 71)

Amar ma’ruf nahyi munkar adalah beriman dan berilmu, kemudian beramal dalam rangka mentransfor masikan ajaran Islam (berdakwah) dengan metode yang proporsional sesuai dengan konteks zaman yang terus berubah. Supaya dakwah itu efektif, mesti dilakukan dengan penuh cinta kasih dan ilmu, serta sikap yang bijak,

“Serulah manusia pada jalan Tuhan mu dengan hikmah dan pengajaran baik dan berdebatlah de ngan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu, Allah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Allah yang lebih menge tahui siapa yang mendapat petunjuk.” ( Q.S. An-Naĥl [16]: 125)

Seorang da’i (orang yang mengajak pada kebenaran) harus mampu melaksanakan apa yang disampaikannya pada orang lain, atau dengan kata lain harus senafas antara kata-kata dengan perbuatannya, supaya dakwah yang disampaikannya efektif. “Hai, orang-orang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Allah sangat murka jika kamu me nga takan apa yang tidak kamu kerja kan.” ( Q.S. Aś-Śaff [61]: 2-3)

2. Mendirikan Shalat

Mendirikan shalat adalah realisasi pengabdian kepada Allah Swt., yaitu tunduk dan patuh hanya pada Allah. “Hai, manusia! Sembahlah Tuhan mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa.” ( Q.S. Al-Baqarah [2]: 21). “Laksanakanlah salat sejak mata hari tergelincir sampai gelapnya malam dan laksanakan pula salat Subuh. Sung guh, salat Subuh itu disaksikan oleh malaikat. Pada sebagian malam, lakukanlah salat Tahajud sebagai suatu ibadah tam bahan bagimu.  Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” ( Q.S. Al-Isrā’ [17]: 78-79). “Katakan (Muhammad), ‘Sesungguhnya, salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.’” ( Q.S. Al-An‘ām [6]: 162).

Shalat merupakan media untuk menyucikan diri (penyucian lahir dan batin) dari dosa-dosa, merasakan kedamaian dan ketenteraman serta mendamaikan lingkungan sekitar. “Bacalah Al-Qur’an yang telah di wahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya, salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ketahuilah, salat itu lebih besar keutamaannya daripada ibadah lain. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( Q.S. Al-‘Ankabūt [29]: 45).

Abu Hurairah r.a. berkata, saya telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Bagaimanakah pendapat kamu kalau ada sebuah sungai di muka pintu salah seorang di antara kamu, dan ia mandi di sungai itu setiap hari lima kali. Apakah masih tertinggal kotorannya?” Jawab sahabat, “Tidak,” Rasulullah menambahkan, “Maka demikianlah shalat lima waktu. Allah menghapus dengannya dosa-dosa.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Mendirikan shalat lima waktu merupakan suatu kewajiban atau keniscayaan dari Allah, apabila melanggarnya berarti telah menyimpang dari fitrahnya. Konsekuensinya, orang yang meninggalkan shalat, berarti dalam posisi menzalimi diri sendiri sehingga ia dalam situasi kehidupan yang tidak damai, resah, takut, dan bermasalah. Lakukanlah shalat dengan konsisten sampai ajal tiba, akan dirasakan ketenteraman.

“Sesungguhnya, orang-orang ber iman, mengerjakan kebajikan, me laksanakan salat, dan menunaikan zakat mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” ( Q.S. Al-Baqarah [2]: 277).

Karena itu shalat akan menjadi mediator turunnya pertolongan Allah Swt. “Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Salat itu berat, kecuali bagi orang-orang khusyuk, yaitu mereka yang yakin akan menemui Tuhannya dan akan kembali kepada-Nya.” ( Q.S. Al-Baqarah [2]: 45-46).

3. Mengeluarkan Zakat

Ayat-ayat Allah yang tersurat di dalam Al-Qur’an tentang wajibnya mengeluarkan zakat selalu bergandengan dengan ayat tentang mendirikan shalat. Shalat dan zakat merupakan ibadah vertikal dan horizontal. Shalat dimulai dengan takbir (vertikal) dan diakhiri dengan salam (sebagai kekuatan dalam implementasi habluminannas; mendamaikan dan menyejahterakan sesama manusia).

Mengeluarkan zakat pun merupakan suatu keniscayaan, sebagai media pengaktualisasian fi trah, yaitu kerinduan hidup dalam kebersamaan yang penuh kasih sayang, kesejahteraan, kedamaian, dan ketenteraman.

4. Taat pada Allah dan Rasul-Nya

Taat pada Allah dan Rasul-Nya adalah tunduk pada aturan Allah (Islam) yang dibawa oleh Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad Saw. “Apabila diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan per kara di antara mereka, hanya orang-orang mukmin yang berkata, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Mere ka itu lah orang-orang beruntung.” ( Q.S. An-Nūr [24]: 51)

“Siapa pun yang menaati Allah dan Rasul (Muhammad), mereka akan bersama-sama dengan orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Itu adalah karunia Allah dan cukuplah Allah yang Maha Menge tahui.” ( Q.S. An-Nisā’ [4]:

Menjalankan aturan-aturan Allah dengan menjadikan Rasulullah sebagai tauladan adalah sebagai bukti pengabdian kepada Allah dan kecintaan kepada Rasul-Nya. “Allah menurunkan kepadamu Al-Qur’an yang mengandung kebenaran dan membenarkan kitab-kitab sebelum nya. Allah juga menurunkan Taurat dan Injil.” ( Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 31).

Itulah langkah-langkah utama untuk menjadi wali Allah; berdakwah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan menaati Allah dan Rasulullah Saw. Apabila empat hal ini sudah terlaksana, sifat-sifat mulia lainnya seperti jiwa taubat, pemaaf, dermawan, tawakal,
akan ikut serta. Wallahu A’lam.
* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam