Beranda blog Halaman 392

Ketika Islam Hanya Menjadi Sebuah Identitas

0

PERCIKANIMAN.ID – Saat kejujuran menjadi barang langka, entah ke mana bekasnya. Manusia makin angkuh dalam gelimang harta di tengah perdaban. Moral makin terpinggirkan, akhlak dan adab hanya menjadi bahan omongan tanpa tindakan. Terlebih, bangsa Indonesia yang katanya jumlah muslimnya terbesar di dunia, tidak lebih baik moralnya dari negara muslim minoritas.

Ke mana perginya Islam dari diri kita? Banyak orang yang mengaku Islam ketika ada pendataan kependudukan, tapi dalam praktinya nol. Islam hanya menjadi omong kosong, sebuah identitas tanpa makna.

Betapa banyak muslim Indonesia yang melakukan praktIk penipuan, korupsi, perjudian, mabuk, zina, pencurian, hingga pembunuhan? Setiap hari kita disuguhi berita yang jauh dari akhlak dan adab islami. Segala macam bentuk kriminal menjadi santapan sehari-hari, dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Para produsen film, musik, majalah, portal online, dan sebagainya semakin gencar untuk mempertontonkan sisi sensualitas wanita yang katanya adalah seni. Hanya beberapa produsen yang memang benar-benar menonjolkan seni yang benar.

Makin banyak saja pencuri dari kelas teri hingga kakap sekelas koruptor yang tertangkap dan kebanyakan dari mereka mengaku beragama Islam. Banyak bermunculan pula para dukun dan paranormal yang dalam identitas kependudukannya beragama Islam. Apakah benar mereka adalah penganut Islam? Apakah mereka setiap hari menyempatkan diri untuk membaca Al-Qur’an barang satu atau dua ayat? Apakah benar mereka malakukan zakat, puasa sunnah atau Ramadhan, bahkan haji atas dasar iman?

Saat ini, banyak orang Islam ketika disuruh untuk membaca Al-Qur’an justru tidak bisa atau disuruh membaca doa-doa dalam shalat malah tidak lancar. Padahal, bukankah akhlak Islam itu ada dalam Al-Qur’an?

Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah r.a. tentang akhlak Rasulullah Saw. Aisyah menjawab, “Akhlak Nabi Saw. adalah Al-Qur’an.” (H.R. Muslim). Sungguh, jawaban Aisyah ini singkat, namun sarat makna. Dia menyifati Rasulullah Saw. dengan satu sifat yang dapat mewakili seluruh sifat yang ada. Memang tepat, akhlak Nabi Saw. adalah Al-Qur’an.

Allah Swt. berfirman, “Sungguh, Al-Qur’an memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus…” (Q.S. Al-Isrā’ [17]: 9)

Pada masa permulaan dakwah Islam, Nabi Muhammad Saw. tidak hanya membangun sisi tauhid, tetapi juga membangun sendi dan pilar akhlak mulia. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Sungguh, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (H.R. Baihaqi dan Al-Hakim).

Jika melihat mentalitas dan sikap muslim saat ini yang jauh dari ajaran agama, bisa dikatakan penganut Islam di negeri ini kurang memahami dan perlu menelaah kembali sikap dan tingkah laku seorang muslim sejati. Maka, kutipan ayat berikut sangat tepat menggambarkan kondisi umat saat ini.

“Kemudian, datanglah setelah mereka pengganti yang mengabaikan salat dan mengikuti hawa nafsunya. Mereka kelak akan tersesat.” (Q.S. Maryam [19]: 59)

Bagaimana tidak benar, saat ini kita hanya diperbudak hawa nafsu. Kita semakin lupa akan kewajiban untuk shalat. Masjid semakin jarang jamaahnya. Ketika tiba waktu shalat, jamaahnya pergi entah kemana seolah lupa akan Tuhan yang telah menciptakan mereka. Bagaimana Tuhan akan bersama hamba-Nya jika sang hamban tidak mendekatkan diri kepada Sang Penciptanya?

Maka, sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita kembali menelaah dan mengkaji kembali agama yang telah kita anut agar tidak sekedar menjadi identitas di KTP. Bayangkan jika semua muslim mempraktikkan ajaran agamanya dengan benar, saya yakin tidak akan ada lagi berita-berita yang tidak sedap mengenai umat Islam di negeri ini. Wallahu’alam bishowab.

Penulis : Ahmad Faris Faisal, Alumni  Institut Studi Islam Darussalam

Anak TK Tidak Boleh Diajari Calistung, Ini Alasan

0

 

PERCIKANIMAN.ID – – BOCAH-bocah yang masih duduk di taman kanak-kanak dilarang diajarkan baca tulis dan berhitung. Sebab, hal tersebut dinilai tidak tepat bagi tumbuh kembang anak. Pernyataan itu seperti yang disampaikan Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Ella Yulaelawati seperti dilansir dari Radar Malang yang dikutip okezone

Ella meminta seluruh TK di Indonesia kembali pada jalurnya. Tugasnya sebagai lembaga pendidikan yang menyiapkan anak untuk mandiri dan mengembangkan aspek sosial, salah satunya tidak takut bertemu dengan orang baru.

Menurut Ella, pendidikan TK yang mengajarkan baca, tulis, dan hitung, ternyata dinilai tidak tepat. Ia menambahkan pendidikan TK lebih tepat untuk bermain sambil belajar. Sementara itu, baca, tulis, dan hitung, sebatas pengenalan saja.

Namun, beberapa TK di Malang Raya sudah menerapkan baca tulis. Alasannya, itu karena permintaan orangtua siswa. Para orangtua lebih memilih sekolah TK yang dapat mengajarkan anaknya baca tulis. Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kabupaten Malang Handarijati pun membenarkan bahwa hal tersebut memang terjadi di beberapa TK. Kebutuhan belajar baca, tulis, dan hitung (calistung), itu permintaan orangtua murid.

”Orangtua murid maunya instan. Mereka ingin anaknya bisa baca tulis dan hitung di sekolah agar keterima masuk SD,” ujar dia.

Jika lembaga TK tidak memenuhi permintaan tersebut, dampaknya tidak memiliki murid. Jadi, hampir serbasalah kalau seperti ini. Namun, dia menyatakan, tetap mengimbau kepada 940 TK yang ada di Kabupaten Malang agar tidak memaksakan murid untuk baca, tulis, dan hitung. Sebaiknya, materi tersebut diberikan sesuai batasan pengenalan.

Sebagaiamana kurikulum TK yang berlaku. Sekretaris IGTKI Kota Batu Resti Mengari menyampaikan hal senada. Banyak TK di Kota Batu berlomba-lomba untuk dapat menarik simpati warga masyarakat. Salah satu caranya dengan menerapkan program intensif baca, tulis, hitung, dan lebih sedikit bermain.

”Kalau tidak memenuhi, bisa jadi tidak ada peminatnya. Sekolah kok main saja, biasanya ada celetukan begitu,” imbuh dia.

Menurut dia, sebetulnya yang diperbolehkan hanya mengenalkan angka saja. Jika sudah masuk pada penjumlahan, perkalian, dan pembagian, itu sudah berlebihan. Ketua IGTKI Kota Malang Lutfiyah menyatakan, adanya TK yang mengajarkan belajar tulis hitung tidak dapat dimungkiri. Semua itu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, sesungguhnya hal tersebut tidak tepat. Justru, dampaknya pada psikologi anak.

”Mereka belum waktunya baca tulis hitung, seperti SD, tetapi sudah dipaksakan sejak kecil,” ujarnya.

Namun, dia menyatakan, selalu mengimbau beberapa guru TK di 358 TK yang ada di Kota Malang agar tidak fokus pada baca, tulis, dan hitung. Aspek bermain yang harus lebih ditekankan.

”Dengan banyak bermain, justru akan mengembangkan sel otak anak sejak kecil,” ujar sarjana psikologi itu.

Di Kota Malang, menurut dia, TK yang mengajarkan baca, tulis, dan hitung, tidak sedikit. Dia mengaku, sering menerima laporan.

”Sekolah TK di sana kok mengajarkan seperti ini dan itu,” terangnya.

Dia mengimbau kepada orangtua untuk selektif dalam memilih TK. Sebab, TK menentukan perkembangan psikologi anak. Bukan berarti baca, tulis, hitung, waktu kecil tidak penting, tetapi di TK sifatnya hanya pengenalan. Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Malang Atimah menyatakan, masuk SD tidak mensyaratkan anak bisa baca, tulis, dan hitung dengan mahir. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Ketika ‘Lonceng’ Berbunyi di Masjid

0

Ding Dong Dang…

Bunyi lonceng jam antik memecah kekhusyuan ceramah jumat. Saya tak habis pikir, kenapa di beberapa masjid jam antik model seperti selalu ada. Ciri-cirinya khas; terbuat dari kayu, tinggi, jarum jam berwarna emas, terdapat bandul mekanik, dan selalu berbunyi setiap jam dua belas. Biasanya diletakan di sebelah mimbar khatib, tak jarang ukurannya begitu besar. Jam antik dengan model desain abad pertengahan itu bak primadona dengan ukiran halus. Meski tak ada larangan menaruh jam seperti itu di masjid, tapi loncengnya membuat saya bertanya-tanya.

Bukankah bunyi lonceng merupakan identitas agama lain? Saya jadi teringat suatu kisah. Ketika umat Islam kebingungan dengan tanda saat shalat akan dimulai. Tepatnya tahun kedua Hijriah, saat komunitas Muslim mulai terbentuk di Madinah. Kala itu, pemeluk Islam sudah cukup banyak. Mereka tengah kesulitan memberitahu muslim lain jika waktu shalat sudah dimulai. Rasul memimpin musyawarah dan mengumpulkan para sahabat. Diskusi pun dimulai, beberapa saran dilayangkan.

Ada yang mengusulkan agar sebelum shalat dimulai ditiupkan terompet keras-keras agar terdengar ke penjuru kota. Tapi, Rasul menolaknya. Karena meniup terompet adalah kebiasaan dan budaya orang Yahudi. Berikutnya mengusulkan agar dinyalakan api agar orang-orang dapat melihat asapnya sebagai penanda waktu shalat. Rasul juga menolaknya, karena menyalakan api adalah budaya kaum Majusi. Lalu, seseorang mengajukan untuk membunyikan lonceng yang cukup besar. Lagi-lagi Rasul menolaknya. Karena lonceng dan membunyikannya adalah budaya Nasrani. Rasul tidak ingin bila seruan untuk shalat menyerupai budaya agama lain.

Umar bin Khatab, yang ketika itu mengikuti musyawarah memberi saran yang cukup bagus. Dia berpendapat agar ditunjuk seseorang untuk menyeru umat untuk shalat. Saran ini diterima oleh Rasul. Tapi, mereka belum menemukan kalimat yang pas dalam seruan itu. Musyawarah pun ditutup hari itu. Keesokan harinya, Abdullah bin Zaid mendatangi Rasul dan bercerita perihal mimpinya semalam. Ia mengatakan seseorang mengajariny cara mengumandangkan adzan. “Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu,” jawab Rasul (dalam HR. Abu Daud). Sejak saat itu adzan dikumandangkan.

Dari kisah itu, kita bisa lihat betapa Rasul sangat berhati-hati memutuskan satu perkara. Sikap ‘mengekor’ atau cuma ikut-ikutan jelas bukan budaya Islam. “Berdiri di atas kaki sendiri” itulah ciri umat Islam. Lagipula, Rasul telah mengingatkan kepada kita bahwa mengikuti suatu kaum itu tidak dibenarkan. Rasul bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya.” (HR. Abu Daud). Lonceng, api, dan terompet bukan berasal dari Islam, melainkan ciri khas umat lain. Meniru dan menggunakan simbol-simbol mereka jelas dilarang.

Larangan Tasyabbuh
Tasyabbuh dalam Islam dimaknai sebagai perbuatan meniru-niru. Adapun secara syariat, Tasyabbuh berarti menyerupai orang kafir dalam hal akidah, ibadah, adat-istiadat, atau cara hidup. Kegiatan meniru ini banyak macamnya. Mulai dari yang sekadar ikut-ikutan, hingga mereka yang secara sadar melakukannya. Misalkan, ikut merayakan atau mengucapkan hari raya agama lain. Menggunakan simbol-simbol/barang yang menjadi identitas agama lain. Sampai mengikuti pola hidup dan gaya umat lain, baik yang disadari maupun tidak.

Para ulama sepakat bahwa tasyabbuh perihal urusan akidah dan syariat adalah haram. Baik itu berupa perilaku, tindakan, atau hanya penggunaan simbol saja. Sedangkan tasyabbuh yang di luar itu sifatnya mubah. Misalkan, penggunaan handphone atau komputer. Kedua barang ini tidak merepresentaskan simbol keagamaan tertentu. Selain itu, perangkat teknologi bukanlah milik satu kaum sehingga tidak mencari ciri khas kaum tertentu.

Tetapi bila sudah lonceng dan terompet lain lagi ceritanya. Keduanya punya makna tersendiri, serta memiliki nilai historis dan religi bagi agama lain. Nah, bila sudah merujuk pada simbol-simbol keagamaan kita jelas-jelas dilarang untuk menyerupai. Bukankan setiap hari kita selalu berdoa kepada Allah, “Tunjukan kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang murkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat,” (QS. Al Fatihah : 6-7).

Mau taruh ‘lonceng’ di masjid? Pikir dua kali deh.

Bijaklah dalam Mengatakan “Insya Allah”

0

“Kapan?”

“Besok, jam satu siang.”

“Oke, insya Allah.”

Dan, keesokanharinya, yang bersangkutan tidak datang. Kejadian seperti itu seolah sudah biasa di masyarakat kita. Bahkan, bila kita bilang, “Insya Allah,” orang yang diberi janji akan mengkonfirmasi,  “Insya Allah Sunda atau Islam?” Dalam benak kebanyakan orang, kalimat insya Allah dijadikan legitimasi untuk melanggar janji.

Dalam Al-Qur’an, kalimat insya Allah disebut dalam Surat Al-Kahfiayat 23-24. Dalam ayat tersebut dengan tegas dinyatakan bahwa jangan sesekali mengatakan sesuatu yang belum pasti kecuali menyebut insya Allah.

Secara harfiah, kalimat insya Allah dapat diartikan “jika Allah menghendaki.” Tentu kita selaku mahluk tidak mempunyai kuasa atau kehendak akan hari esok. Karena itu, kita sebaiknya menyerahkan segala sesuatunya pada kehendak Yangkuasa.

Makna kalimat Insya Allah juga sebenarnya sangat dalam. KH. Q. Shaleh dalam Asbabun Nuzul (1995) menukil sebuah riwayat tentang turunnya Surat Al-Kahfi ayat ke-23 dan ke-24. Ketika itu, kaum Quraisy mengutus An-Nadlr bin Al-Harts dan Uqbah bin Abi Mu’ith untuk menemui seorang pendetaYahudi di Madinah. Maksudnya untuk menanyakan perihal kenabian Muhammad Saw.

Begitu bertemu dengan pendeta yang dimaksud, oleh sang pendeta, kedua utusan itu disuruh bertanya kepada Muhammad secara langsung mengenai tiga hal. “Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. Kedua, tanyakan juga tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi kepadanya. Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang ruh. Jika dapat menjawab, dia Nabi yang diutus. Akan tetapi, jika tidak dapat menjawab, dia hanyalah orang yang mengaku sebagai Nabi.”

Tiba di Mekah, kedua utusan tersebut bergegas menemui Muhammad Saw. dan menanyakan ketiga hal yang dipesankan oleh pendeta Yahudi. Saat itu, Rasulullah menjawab, “Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok.” Ternyata keesokan harinya, jawaban dari langit tidak kunjung tiba. Bahkan, beberapa riwayat menyebutkan bahwa Rasul Saw. menunggu hingga lima belas hari. Alhasil, Rasul pun dicemooh oleh kaum Quraisy karena dianggap sebagai Nabi abal-abal. Kemudian, barulah malaikat Jibril turun membawa wahyu. Isinya bukan jawaban atas pertanyaan utusan kaum Quraisy, tapi teguran atas sikap Nabi Saw. yang tidak hati-hati. Tentu saja, Rasul banyak belajar atas kejadian itu, bahwa manusia tidak memiliki kuasa akan hari esok.

Sungguh agung makna kalimat insya Allah itu sebenarnya. Melalui kalimat ini, kita menunjukan ketergantungan kita pada ketentuan Allah (tauhid). Melalui kalimat ini pula, kita diajarkan untuk tidak sombong dan mengobral berjanji.

Selepas menerima pelajaran berharga dari Allah mengenai kehati-hatian dalam berjanji, Rasul pun mendapat wahyu yang isinya jawaban dari pertanyaan kaum Quraisy melalui utusannya tersebut. Jibril menyampaikan tentang pemuda-pemuda yang bepergian, yakni Ashabul Kahfi yang bersembunyi dalam gua dari kejaran kaum kafir (QS 18:9-26); seorang pengembara, yakni Zulkarnain yang menyampaikan kebenaran ajaran-Nya kepada orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanannya (QS. 18:83-101); dan perkara ruh yang merupakan sepenuhnya pengetahuan Allah Saw. dan beliau hanya memiliki sedikit sekali pengetahuan tentangnya (Q.S.17:85). Kaum Quraisy sontak terkejut. Jawaban Rasul tersebut telah membuktikan bahwa dia benar-benar utusan Allah.

Penggunaan kalimat insya Allah benar-benar tidak bisa sembarangan. Ada konsekuensi di dalamnya. Bila kita berjanji, tentunya harus ditepati. Bukankah janji adalah utang yang harus dilunasi sebelum kita meninggal?

Jadi, sekali lagi ditegaskan bahwa kalimat insya Allah itu bukan berarti enggak janji. Jika memang tidak bisa atau tidak mau datang, bila saja terus terang. Atau bila masih ragu, cukup bilang besok dikasih kabar lagi. Selesai. (Iqbal)

Viral Video Anak SD Bersama Presiden, KPAI: Hentikan Peredarannya dan Stop Bullying Pada Anak

0

PERCIKANIMAN.ID – – Sesaat setelah peredaran video anak SD bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) diunggah di media social dan menjadi viral,  Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) segera berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) agar segera menghentikan peredaran video tersebut.

Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh menyayangkan peredaran materi video anak SD yang salah mengucapkan nama jenis ikan saat bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia meminta penghentian peredaran video itu karena masuk kategori bully pada anak.

“KPAI sudah berkoordinasi dengan Menkominfo untuk menghentikan peredaran konten ini dengan cara take down,” kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima, redaksi, Kamis malam (26/1/2017).

Asrorun menegaskan, peredaran video tersebut masuk kategori bully sebab, video itu berdampak pada penertawaan dan pengolok-olokan. Menurutnya, video itu bukan bahan lelucon.

“Saatnya kita memiliki sensitivitas terhadap perlindungan anak. Dengan peredaran video tersebut, si anak pasti akan tertekan secara psikis. Belum lagi akan jadi bahan olok-olok temannya. Ini harus dicegah,” kata dia.

Asrorun berharap, salah pengucapan nama jenis ikan merupakan spontanitas dan keluguan anak, bukan kesengajaan oleh orang dewasa.

“Saya juga minta masyarakat untuk tidak terus menyebarkannya. Jadilah orang yang cerdas dan punya sensitivitas terhadap perlindungan anak. Bayangkan kalau itu adalah anak kita,” katanya.

Asrorun meyakini, peyebaran video bisa berdampak buruk pada tumbuh kembang anak khususnya yang bersangkutan. Ia mengusulkan kepolisian untuk mengusut siapa yang pertama kali mengedarkan video itu. Tujuannya, agar hal semacam ini tidak dianggap lumrah sehingga menjadi mati rasa perlindungan anak.

“Saatnya polisi tegakkan hukum. Saya secara khusus juga sudah berkomunikasi dengan Dirtipideksus Mabes Polri untuk ambil langkah-langkah. Saya yakin polisi punya kemampuan dan komitmen untuk memastikan perlindungan anak,” jelasnya. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Foto: kpai.go.id

 

Pemimpin Muslim Lakukan Aksi Protes Tolak Kebijakan Trump

0

PERCIKANIMAN.ID – -Beberapa jam sebelum Presiden AS Donald Trump menerapkan larangan bagi Muslim dan beberapa jam setelah ia mengesahkan pembangunan dinding perbatasan di Meksiko, para pemimpin Muslim menggelar demonstrasi darurat menentang perintah eksekutif.

Dilansir dari Independent, Kamis waktu setempat (26/1/2017), aksi protes digelar di Washington Square Park. Ratusan orang yang tergabung membawa sejumlah kertas bertuliskan, “Tidak ada manusia yang ilegal.” Beberapa bahkan ada yang menulis, “Setiap Muslim yang pernah saya kenal, lebih baik baik daripada Presiden Amerika Donald Trump.”

Setidaknya, sebanyak lima helikopter berputar-putar di atas Washington Square Park. Para pendemo menyalakan telepon genggam mereka hingga menciptakan dinding putih di seberang lengkungan ikonik di taman itu.

“Tidak ada larangan, tidak ada dinding, ini New York kami,” teriak mereka seperti dikutip dari republika.

Aksi ini digelar dalam waktu singkat untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap Islam dan Muslim Amerika Serikat. Direktur Eksekutif Hubungan Amerika-Islam (CAIR), Nihad Awad mengatakan perintah eksekutif adalah konfirmasi terhadap islamofobia.

“Larangan ini tidak membuat negara kita lebih aman. Sebaliknya, berfungsi menstigmatisasi pengungsi Muslim dan komunitas Muslim Amerika secara keseluruhan,” ujar Awad.

Ia khawatir ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi itu. Ia meyakini, kebijakan Trump terhadap Muslim dapat menjadi alat propaganda untuk musuh AS yang mempromosikan narasi palsu perang Amerika terhadap Islam. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Foto: AP Photo/Andres Kudacki

Mana Yang Lebih Utama Haji Tamattu’ , Haji Qiran atau Haji Ifrad ?

0

Assalamu’alaykum wr.wb. Pak Ustadz dalam sebuah ceramah saya pernah mendengar bahwa haji ada tiga jenisnya yaitu  Haji Tamattu’ lalu Haji Qiran dan Haji Ifrad. Mohon penjelasannya dan mana yang lebih baik atau utama? . Terima kasih ( Sony by email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr. Wb. Iya Pak Sony dan pembaca sekalian, secara bahasa, “haji” berarti “menyengaja sesuatu”. Namun ada sebagian ahli mengatakan bahwa kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja. Secara istilah Haji adalah menyengaja berkunjung ke Baitullah, untuk melakukan Thawaf, Sa’i, Wukuf di Arafah dan melakukan amalan–amalan yang lain dalam waktu dan tempat tertentu untuk mendapatkan keridhaan dari Allah SWT”.

Tentu saja pelaksaan dan tata cara berhaji ini harus sesuai syariat dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw sebab haji bagian dari rangkaian ibadah bukan sekedar jalan-jalan semata.  Rasululloh Saw  bersabda : “Ikutilah saya dalam ibadah haji kalian.” (Riwayat Muslim).

Sementara umrah adalah berkunjung ke Ka’bah untuk melakukan serangkaian ibadah dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Umroh disunahkan bagi muslim yang mampu. Umroh dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada hari Arafah yaitu tgl 10 Zulhijah dan hari-hari Tasyrik yaitu tgl 11,12,13 Zulhijah.

Seorang calon jamaah haji sudah seharus mengenali jenis-jenis haji dan miqatnya. Agar dia bisa melihat dan memilih jenis haji apakah yang paling tepat bagi dan dari miqat manakah dia harus melakukannya.

Apa yang Anda tanyakan ini sebenarnya ada dalam jenis-jenis haji. Berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih dari Nabi Saw ada tiga jenis haji yang bisa diamalkan. Masing-masing mempunyai nama dan sifat yang berbeda. Tiga jenis haji tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Haji Tamattu’

Haji Tamattu’ artinya berihram untuk menunaikan umrah di bulan-bulan haji dan diselesaikan umrah pada waktu-waktu tersebut. Kemudian pada hari Tarwiyah berihram kembali dari Makkah untuk menunaikan haji hingga sempurna. Bagi yang berhaji Tamattu’ wajib baginya menyembelih hewan kurban pada tanggal 10 Dzul Hijjah atau di hari-hari tasyriq . Bila tidak mampu menyembelih maka wajib berpuasa 10 hari; 3 hari di waktu haji dan 7 hari setelah pulang ke kampung halamannya.

  1. Haji Qiran

Haji Qiran artinya manasik yang dilakukan dengan nait ganda yaitu untuk haji dan umroh. Dengan kata lain, haji qiron adalah haji dengan satu mansik tapi dua fungsi yaitu haji dan umroh. Ihlal ihrom yang diucapkan dipadukan antara haji dan umroh atau ihlal ihrom untuk umroh terlebih dahulu baru kemudian sebelum thawaf qudum, ihlal hajinya diucapkan. Dengan demikian, bagi haji qiron hanya ada satu thawaf dan sa’i meski haji dan umroh pada asalnya harus memiliki thawaf dan sa’i masing-masing.

  1. Haji Ifrad

Haji Ifrad adalah melakukan ihram untuk berhaji saja di bulan-bulan haji. Setiba di Makkah melakukan thawaf qudum kemudian shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim. Kemudian menetapkan diri dalam kondisi berihram hingga datang masa tahallul di hari nahr.

Manakah yang paling utama diantara ketiganya?. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Berdasarkan penelitian maka keutamaan tersebut tergantung pada kondisi orang yang akan melakukannya. Jika dia safar untuk umrah secara tersendiri kemudian safar kembali untuk berhaji atau dia bersafar ke Makkah sebelum bulan-bulan haji untuk berumrah lalu tinggal di sana maka para ulama sepakat bahwa yang afdhal baginya adalah haji Ifrad. Adapun jika dia bersafar ke Makkah pada bulan-bulan haji untuk melakukan umrah dan haji dengan membawa hewan kurban maka yang afdhal bagi adalah haji Qiran. Dan bila tidak membawa hewan kurban maka yang afdhal baginya adalah haji Tamattu’.”

Sebagian ulama berpendapat bahwa haji Tamattu’ lebih utama dari semua jenis haji secara mutlak berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam : “Wahai pengikut Muhammad, barangsiapa di antara kamu yang mengerjakan  haji maka supaya memulai dengan umrah dalam hajinya … ( Hr. ibnu Hibban dan dinyatakan shahih oleh Al-Albabani)

Terkait dengan pembahasan seputar haji dan umroh ini saya telah tulis dalam buku “Haji dan Umroh” yang insya Allah sebentar lagi akan terbit. Mohon doanya dan bagi bapak atau ibu yang ingin memiliki bisa pesan dari sekarang. Wallahu’alam. [ ]

 

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

Elemen API dan Ormas BBC Siap Bela Ulama dan Islam

0

PERCIKANIMAN.ID – – Seribuan massa dari berbagai organisasi masyarakat (Ormas) Islam serta pondok pesantren menggelar “Aksi Bela Ulama & Islam” di depan halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (26/1/2017). Elemen ormas yang tergabung dalam Aliasnsi Pergerakan Islam (API) Jabar ini mendesak Polda Jabar menghentikan proses hukum terhadap Habib Rizieq Syihab karena tidak ada bukti yang kuat telah melecehkan Pancasila.

Koordinator aksi Asep Syaripudin menyatakan permintaan penghentian proses hukum terhadap imam besar FPI itu beralasan. Pasalnya, proses hukum terhadap Habib Rizieq Syihab kental akan muatan politik dan kepentingan pihak tertentu yang dipaksakan.

“Kami melihat apa yang dilakukan kepada (Rizieq Syihab) substansi hukumnya tidak ada, tapi lebih kepada muatan politik,” kata Asep dalam orasinya.

Menurut Asep, apa yang dilakukan Polda Jabar merupakan sebuah upaya sistematis mengkriminalisasi ulama. Pasalnya, proses hukum terhadap Rizieq Syihab terkesan dipaksakan dan hanya memenuhi keinginan sekelompok orang yang tidak suka kepada ulama khususnya dan umumnya kepada Ummat Islam.

Dengan adanya upaya kriminalisasi ini, kata Asep, pihaknya juga meminta Kapolri Jendral Tito Karnavian mencopot Irjen (Pol) Anton Charliyan dari jabatannya sebagai Kapolda Jabar. Pasalnya, Anton dianggap tidak bisa memimpin kepolisian di Jabar serta bisa menciptakan suasana yang kondusif .

Sementara itu Tantan Winata selaku Ketua Ormas Buah Batu Corps (BBC) Investigator menyampaikan bahwa pihaknya menolak upaya kriminalisasi terhadap ulama yang dipaksakan. Menurutnya pemerintah harus menghargai peran ulama baik di masa perjuangan merebut kemerdekaan maupun saat ini dalam masa pembangunan.

“BBC cinta Islam,cinta NKRI, cinta ulama dan cinta damai. Kami menolak segala upaya yang dapat merorong keutuhan NKRI dengan menuduh ummat Islam anti NKRI,”ujarnya.

Terkait dengan adanya insiden beberapa waktu lalu yang melibatkan oknum salah satu ormas atau LSM, Tantan berharap aparat kepolisian dapat bersikap netral. Ia meminta yang benar jangan jangan disalahkan dan yang salah dibenarkan.

antan Winta dari BBC Investigator
Tantan Winta dari BBC Investigator Indonesia melakukan orasi

“Hukum harus ditegakkan, segara tangkap dan adili oknum yang melakukan penyerangan dan perilaku premanisme. Kita siap kawal Jabar yang kondusif dan menolak ormas atau LSM yang anarkis,”tegasnya.

Terkait dugaan pelecehan Pancasila yang dituduhkan kepada Habib Rizieq, Tantan menilai bahwa Habib Rizieq  tidak bersalah. Menurut Tantan, Imam Besar FPI tersebut hanya korban diskriminasi politik yang sarat dengan kepentingan oknum yang tidak suka Ummat Islam bersatu.

“Bebaskan (Habib Rizieq) dari segala tuduhan yang tidak berdasar dan pihak kepolisian tidak perlu memaksakan kehendaknya jika tidak ada alas an untuk menahan apalagi sampai memenjarakannya. Aparat kepolisian harus bersikap netral dan jangan larut dalam irama kepentingan politik,”pintanya.

Pihaknya juga mengaku akan siap bersama Umat Islam dalam membela ulama. Meski ormasnya bukan ormas keagamaan namun Tantan dan anggotan selaku muslim terpanggil untuk membela ulama dan Islam.

“Kami mengakui,kami tidak ahli dalam agama, pengetahuan dan amalan kami tentang Islam tidak seluas dan sebesar saudara-saudara sekalian. Namun jika ada yang mengganggu ulama apalagi sampai menistakan Islam maka kami siap membela dengan harta bahkan nyawa,”ujar Tantan yang disambut pekik takbir peserta aksi.

Massa dari BBC Investigator Indonesia dalam Aksi Bela Ulama
Massa dari BBC Investigator Indonesia dalam Aksi Bela Ulama

Diakhir orasinya ia mengajak semua komponen bangsa untuk selalu menjaga keutuhan NKRI serta tidak memojokkan ummat maupun ormas Islam. Semua pihak khususnya pemerintah maupun masyarakat harus mengingat peran ulama dan ummat Islam dalam merebut dan mempertahankan NKRI.

“Siapa saja yang menistakan ulama dan ummat Islam sejatinya mereka telah mengkhianati bangsa dan Negara Indonesia,”pungkasnya.

Dalam aksi kali ini, massa membawa berbagai atribut yang berisi berbagai aspirasi. Di antaranya ‘Copot Kapolda Jabar dan Bubarkan GMBI’, ‘Kami Siap Ganyang PKI’, serta ‘Hidup Mulia atau Mati Syahid Demi Bela Islam dan NKRI’ serta “FPI Dibubarkan Kami Siap Perang,’ juga “ GMBI Tidak Mewakili Masyarakat Sunda, Orang Sunda Cinta Ulama dan NKRI” dan sebagainya. Menjelang adzan Dhuhur massa membubarkan diri dengan tertib dan menuju Masjid Pusdai untuk menunaikan shalat. [ ]

 

Rep: iman

Editor: candra

Berhati-hatilah Soal Utang Piutang, Islam Serius dalam Perkara Ini

0

PERCIKANIMAN.ID- Utang-piutang dan masyarakat tak bisa dipisahkan dan sangat wajar. Apalagi di era seperti sekarang, yang katanya tak mungkin menghindari utang (sebenarnya bisa). Perkara utang-piutang dalam Islam punya porsi tersendiri. Beberapa ulama bahkan memposisikan utang-piutang sebagai perkara yang sangat serius. Tengok saja sabda Rasul, “Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya” (HR. Muslim)

Bahkan Rasul tak mau menyalatkani jenazah orang yang masih berutang! Diriwayatkan oleh Jabir, suatu ketika seseorang diantara mereka ada yang wafat. Selepas dimandikan dan dikafani mereka pergi kehadapan Rasul seraya berkata, “Apakah Engkau bersedia menyalatkan jenazahnya?” Rasul kemudian bertanya, “Adakah utang atasnya?” Mereka menjawab, “Dua dinar.” Lalu Rasul berpaling.

Abu Qatadah datang untuk menanggung pembayaran dua dinar itu, “Dua dinar itu menjadi tanggungan saya.” Rasul kembali bertanya, “Apakah betul engkau akan menanggung pembayaran utang itu sehingga ia terlepas dari tanggungan itu?” Abu Qatadah berkata, “Benar, ya Rasulullah.” Setelah itu Nabi SAW menyalatkan jenazahnya. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan an-Nasa’i). Begitu beratkah perkara utang-piutang dalam Islam?

Islam sebenarnya tidak melarang utang-piutang, tetapi pelaksanaannya diatur. Maksudnya bukan untuk membatas-batasi seseorang, tetapi untuk melindungi orang itu dari ‘bencana’ finansial. Pinjaman bisa saja menjadi solusi bagi beberapa orang. Tapi bila tak bijak dan cermat, utang bisa saja berbuah petaka. “Karena itu kita harus cerdas dalam mengelola utang piutang,” tegas Guru Besar Ilmu Agama Islam Institut Pertanian Bogor (IPB) , Didin Hafidhuddin. Ia mengingatkan umat agar lebih berhati-hati saat ingin berutang.

Ayat terpanjang dalam Al Quran adalah ayat 282 dari Surat Al Baqarah. Oleh para ulama ayat ini disebut sebagai Ayat al-Mudayanah alias ayat utang-piutang! Isinya berbicara tentang anjuran/ kewajiban menuliskan urusan utang-piutang. Juga keharusan diketahui oleh saksi/ notaris, serta menentukan tenggat waktu pelunasannya. “Tak peduli besar atau kecil utangnya meskipun dengan saudara sendiri sekalipun,” tutur Didin.

Pada uraian sebelumnya Al Quran memaparkan tentang anjuran sedekah dan infak (QS Al Baqarah : 271-274), disusul larangan melakukan riba (QS Al Baqarah : 275-279), hingga anjuran memberi tangguhan bagi yang tak mampu bayar utang (QS Al Baqarah : 280). Semua paparkan secara sistematis dan terperinci. Didin menerangkan, perhatian Islam terhadap ekonomi sangat luar biasa.
Uraian Al Quran dalam Surat Al Baqarah itu punya makna tersendiri. Anjuran infak dan sedekah menunjukan pentingnya pembangunan ekonomi berbasis kemasyarakatan. Sehingga kekuatan ekonomi umat tidak akan bergantung dengan pihak luar. Larangan riba mengisyaratkan kemurnian harta dari hal-hal yang bersifat merugikan. Kita sudah sama-sama saksikan bagaimana riba membuat ekonomi umat carut-marut.

Terakhir adalah pendidikan notulensi dalam perkara utang-piutang. “Bukan hanya untuk mengingatkan, catatan juga harus punya kekuatan secara hukum.” Lebih lanjut, Didin menjelaskan catatan sejatinya akan memelihara harta. Selain mudah di cek ulang, catatan juga bisa memberi rasa aman dan keadilan bagi kedua belah pihak. Bukankah keadilan ini yang kita dambakan? Yakni ketika kedua belah pihak mendulang manfaat yang sama. Maka dalam berutang haruslah diniatkan untuk saling membantu dan mendorong roda perekonomian umat.

Masalah yang muncul sekarang adalah pola konsumsi masyarakat yang mulai tidak rasional. Utang pun kerap dianggap biasa, bahkan ada yang bilang sebagai sebuah kebutuhan. Hal ini jelas keliru. “Lihat saja sekarang orang dengan mudah berutang dengan kartu kredit atau angsuran ringan,” ungkap Didin.

Meski tak terasa, utang kecil seperti itu bila tidak dikelola dengan baik malah akan merugikan. Tak jarang orang rela berutang cuma ingin beli handphone baru. Banyak juga yang berutang untuk hal yang tidak perlu dan mendesak.

Konsumerisme dan budaya hedon membuat utang nampak indah dan mudah. “Inilah realitas yang terjadi sekarang kita tak bisa memungkiri hal itu.” Guna mencegah ‘bencana’ finansial yang lebih besar, Didin mewanti-wanti masyarakat agar tak mudah berutang. Meski kita sulit lepas dari utang-piutang, minimalnya kita bisa mengurangi prakteknya.

Misalkan, tidak meminjam untuk keperluan konsumsi. Gunakanlah utang untuk keperluan produksi atau modal usaha. Sehingga utang kita akan lebih produktif dan terukur untuk urusan pelunasan. Perhatikan penghasilan rutin atau sarana pengembalian utang. Jangan pernah berpikir untuk melunasi utang dengan utang baru! Apalagi menggunakan harta yang ‘kotor’ untuk melunasi utang. Mental ‘gali lobang tutup lobang’ jelas-jelas berbahaya dan sudah banyak korbannya. Lakukanlah manajemen keuangan yang sehat. Periksa arus kas keluarga, jangan meminjam uang yang lebih besar ketimbang penghasilan.

Berutang hanya saat terdesak adalah langkah yang tepat. Tidak mudah tergiur dengan tawaran cicilan atau utang-utang ringan merupakan tindak nyata yang bisa kita lakukan. Meski sepele hal ini mampu menyelamatkan kita dari ‘jurang’ utang. Sudah sepatutnya tuntunan agama mengajarkan manusia kebaikan, melahirkan ketenangan sekaligus harga diri. Karena itu Islam sangat menganjurkan umatnya agar selalu berhati-hati dalam urusan utang.

Jangan Berutang Bila Tak Mau Bayar!

Anda pernah mendapai orang seperti itu? Datang dengan bergelimang air mata seolah beban hidupnya yang paling luar biasa. Setelah mendapat ‘angin segar’ berupa pinjaman uang dari kita, ia menghilang ditelan bumi. Kalaupun ada, sangat sulit dihubungi. Bila bisa ditemui atau dihubungi alasannya seribu satu. Sub-judul tulisan ini ada betulnya, tak perlu berutang bila niat kita sudah tidak baik. Tentu niat semula baik, tapi apa daya dalam perjalanan banyak rencana berubah, kata orang-orang.

Nah, itulah pentingnya manajemen keuangan yang sehat. Lagipula, niat yang baik sudah pasti akan diteruskan dengan amal (perbuatan) baik pula. “Utang adalah kewajiban yang perlu kita selesaikan selama hidup di dunia,” kata Didin. Karena itu ada hadist yang menyatakan bahwa jiwa seseorang mukmin ‘bergantung’ sampai hutangnya dilunasi. Dengan niat baik untuk melunasi utang, setidaknya seseorang akan mempersiapkan langkah-langkah konkretnya.

Kebiasaan yang mungkin terjadi pada beberapa orang di masyarakat kita adalah membayar utang saat tanggal jatuh tempo. Padahal menyegerakan melunasi utang adalah kebaikan. Bahkan, bila seseorang sudah mampu melunasi tapi masih menundanya adalah sebuah kezhaliman. Karena itu segera dahulukan melunasi utang sebelum keperluan lain yang tidak mendesak.

***

Jika kita mau lebih cermat, sebenarnya kita punya “utang” yang lebih hakiki dalam hidup. Yakni utang kita kepada Allah SWT. Bukankah selama ini kita telah diberi karunia yang begitu besar selama hidup? Seharusnya kita “membayar” hutang kita itu. Tentu dunia dan seisinya tak mungkin cukup membayar semua itu. Karena itulah kita membayarnya dengan menjalankan syariat agama Islam serta ikhlas di dalamnya. Kehadiran manusia ‘menyerahkan’ diri kepada-Nya adalah bukti pengakuan tentang ‘utangnya’. Inilah sikap terbaik dari seseorang yang berutang. Bersyukurlah, Allah telah meridhoi Islam sebagai agama kita (QS Al Maidah : 4). []

Meraih Pahala Ibadah dari Utang Piutang

0

PERCIKANIMAN.ID – Mari penulis ceritakan satu atau dua hal tentang utang piutang. Di dunia ini, setiap orang pasti ingin terbebas dari utang. Meski demikian, hampir semua orang memilikinya, dari yang jumlahnya hanya puluhan ribu hingga milyaran. Bukan hanya yang jelas-jelas dikatagorikan masyarakat miskin yang tinggal di rumah-rumah petak, para konglomerat yang memiliki beberapa perusahaan pun memilikinya, meski memang kondisi dan peruntukannya berbeda.

Utang tetap saja utang. Bukan hanya negara miskin yang tengah dilanda berbagai krisis, negara adikuasa pun tidak kalah kalah besar utangnya sehingga harus menyediakan sekian banyak anggaran untuk membayar cicilan (utang) tiap tahunnya.

Jika dipraktikkan dengan benar, utang piutang dapat mendatangkan keuntungan, bukan hanya dari segi duniawi tapi juga ukhrawi. Ya, utang piutang dapat dimaknai lebih dari sekadar proses meminjamkan atau menerima pinjaman dengan konsekuensi pembayaran, baik tunai maupun dicicil, seperti disepakati kedua belah pihak. Paling tidak, penulis menilai ada tiga hal yang dapat kita dapatkan dari transaksi utang piutang.

Pertama, utang piutang sebaga sarana solusi permasalahan keuangan. Daripada terjerat riba rentenir, meminjam uang untuk kebutuhan yang medesak kepada saudara seiman tentu lebih dianjurkan. Tentu saja, berbagai kesepakatan mengenai tenggat pengembalian utang atau besarnya cicilan yang mampu dibayar per periodenya harus disepakati di awal agar tidak terjadi salah persepsi dan miskomunikasi yang dapat menjadi bibir bermasalahan kelak di kemudian hari. Pencatatan juga penting dilakukan mengingat kecenderungannya orang yang berutang selalu merasa bahwa utangnya tinggal sedikit dan orang yang memberi utang merasa piutangnya masih banyak.

Kedua, utang piutang sebagai sarana untuk membuat kita bekerja lebih giat. Bagi yang berutang, tentu saja harus lebih giat berusaha untuk mengembalikan atau paling tidak mencicil utang yang ditanggungnya. Bagi yang memberikan utang, menolong orang yang membutuhkan (utang) adalah perbuatan mulia. Karenanya, dia harus berusaha lebih giat lagi agar berkesempatan untuk meminjamkan (uang) kepada lebih banyak orang yang memang tengah membutuhkan.

Ketiga, utang piutang sebagai sarana mempererat tali persahabatan atau persaudaraan. Sebuah keterangan menyatakan bahwa sahabat sejati hanya baru dapat diketahui ketika kita pernah melakukan perjalanan, bermalam, serta pinjam meminjamkan uang. Mengapa? Karena melalui tiga kegiatan tersebut kita bisa mengetahui watak dan sifat asli sahabat kita tersebut. Dalam hal utang piutang utamanya, kita dapat melihat apakah watak asli teman kita itu suka menumbar aib (baca: utang) temannya atau tidak. Atau, kita juga dapat menakar sejauh mana ketepatan janji teman kita dari caranya melunasi utang-utangnya.

Jadi, tidak ada salahnya kita memaknai juga mempraktikkan utang piutang sebagai sebuah ibadah. Bukankah kita ingin membawa pahala ibadah sebanyak-banyaknya sebagai bekal kehidupan di alam akhirat kelak? Mari mengumpulkan pahala ibadah tersebut yang salah satunya kita dapatkan dari praktik pinjam meminjam yang sesuai koridor yang telah ditetapkan. (Muslik)