Beranda blog Halaman 379

Dari Sidang Ahok, Saksi Ahli Nyatakan Non-Muslim Dilarang Tafsirkan Al Quran

0

PERCIKANIMAN.ID – – Ahli agama Islam dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Miftachul Akhyar menegaskan orang yang beragama non-Muslim dilarang untuk menafsirkan isi Al Quran.

“Yang diperbolehkan hanya ahli agama Islam saja, itu saja masih bisa diperdebatkan,” kata Miftachul dalam sidang kesebelas kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, seperti dilaporkan republika.co.id, Selasa (21/2/2017).

Miftachul menjelaskan terdapat dua kesalahan yang dilakukan Ahok, yaitu menafsirkan Surat Al-Maidah ayat 51 sebagai orang non-Muslim dan memengaruhi masyarakat dengan menyinggung Surat Al-Maidah ayat 51 dalam pidatonya di Kepulauan Seribu.

Selain Miftachul, Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga dijadwalkan memanggil ahli agama Islam lainnya Yunahar Ilyas dan ahli pidana dari Universitas Islam Indonesia (UII) Mudzakkir.

Ahok dikenakan dakwaan alternatif yakni Pasal 156a dengan ancaman lima tahun penjara dan Pasal 156 KUHP dengan ancaman empat tahun penjara. Menurut Pasal 156 KUHP, barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Perkataan golongan dalam pasal ini dan pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.

Sementara menurut Pasal 156a KUHP, pidana penjara selama-lamanya lima tahun dikenakan kepada siapa saja yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

Sementara itu Pakar hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Mudzakkir, menjadi saksi ahli ketiga yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU)  dalam sidang ke-11 kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan,  Selasa (21/2).

Dalam keterangannya kepada Majelis Hakim ada tiga hal yang menjadi sorotannya dalam pidato Ahok saat kunjungan kerja sosialisasi budidaya ikan kerapu di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016. Hal tersebut ia analisis setelah melihat video pidato Ahok.

Saat melihat video, Mudzakkir mengakui tidak melihatnya secara keseluruhan. Sebab dalam menganalisis, ahli hanya melihat apakah ada perbuatan menghina dan pidana. “Misalnya, ada satu buku terdapat tulisan mantan Bupati Blitar terlibat PKI. Kalimat itu dinyatakan menghina, kan tak perlu kata pengantar sampai referensi dibaca,” jelas Mudzakkir.

Setelah melihat video tersebut,  Mudzakkir melihat ketidakrelevanan antara pidato budidaya kerapu dengan kata-kata Ahok yang menyinggung surat Almaidah ayat 51. Karena ucapan Ahok tentang surah Almaidah lebih mengarah untuk pilkada.

Adapun, tiga poin yang menjadi bahan analisisnya, pertama soal kata-kata Ahok, “jangan percaya pada orang”. Kedua kata-kata, “maka kamu enggak memilih saya kan”. Dan ketiga, “dibohongi pakai Almaidah 51”.

“Jadi, tiga penggalan kata itu yang dianalisis. Pertama, orang yang menyampaikan sesungguhnya “jangan percaya pada orang”, orang itu siapa kami konstruksikan jadi satu kesatuan. Orang itu orang yang menyampaikan  Almaidah 51. Maknanya demikian,” tuturnya.

Kemudian poin kedua adalah “maka kamu nggak memilih saya kan”, itu berarti penyampaian  terkait pemilihan. Sebab, surat Almaidah ayat 51 itu disampaikan oleh orang yang bersangkutan, si pengucap atau pengujar kalimat itu menjadi tidak terpilih karena Almaidah 51. Untuk poin ketiga, kata-kata Ahok tentang dibodohi atau dibohongi Al Maidah 51.

Menurut Mudzakkir,  ketiga poin kalimat itu memiliki keterkaitan satu sama lain. Sehingga, dari ketiga poin itu pula, kata-kata Ahok dikategorikan sebagai perbuatan menistakan atau menodai agama Islam.

“Kata penodaan ada pada kata dibohongi dan dibodohi dengan obyek Al Maidah 51. Jadi, dibohongi Almaidah 51 itulah kalau digabung maknanya istilah penodaan. Karena  Almaidah 51 itu teks Alquran yang menurut ajaran Islam itu sebuah sumber kitab suci, firman Allah. Itu yang menurut ahli kata dibohongi Al Maidah 51, penodaan letaknya di situ,” jelasnya.

Menanggapi jawaban saksi, tim penasihat hukum Ahok langsung memberikan pertanyaan ihwal keabsahan 13 saksi pelapor yang melaporkan Ahok ke polisi, sementara mereka tak hadir langsung saat  Ahok berpidato. “Saksi tak melihat langsung di TKP, tapi melihat YouTube. Bagaimana nilai kesaksiannya menurut ahli?” tanya kuasa hukum Ahok.

Menurut Mudzakkir,  saksi yang tak hadir langsung di tempat kejadian perkara dapat diterima persidangan. Asalkan, terdapat bukti fakta dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Kalau yang dilaporkan dalam bentuk tulisan harus ada tulisannya, kalau yang dilaporkan dalam bentuk suara harus ada suaranya. Selama satu buktinya ya bisa (sah),” terang Mudzakkir.

Karena, setiap saksi boleh saja memberi kesaksian tanpa harus di tempat kejadian perkara. Terlebih dalam kasus Ahok, ada bukti berupa sebuah video yang dapat dijadikan dasar pengaduan.

“Kalau rekaman diputar dan memberi informasi secara publik berarti bisa. Dalam kasus penghinaan orang tak harus langsung ada di lokasi,” jelas Mudzakkir. Adapun, Ahok didakwa dengan Pasal 156 dan 156a yang masing-masing ancaman hukumannya paling lama empat tahun dan lima tahun penjara.[ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Foto: antara

Pentingnya Pedidikan Bagi Anak dalam Pandangan Ibnu Khaldun

0

PERCIKANIMAN.ID – – Ibnu Khaldun berpendapat bahwa tidak cukup seorang guru hanya membekali anak didik dengan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, guru wajib memperbaiki metode dalam penyajian ilmu kepada anak didiknya dengan cara mempelajari kejiwaan seorang anak dan mengetahui tingkat-tingkat kematangan serta bakat-bakat ilmiah anak.

 

Dengan cara demikian, menurut Abdessalam Cheddadi dalam tulisannya seperti dikutip republika.co.id, Selasa (21/2/2017), yang bertajuk Ibn Khaldun’s Concept of Education in the ‘Muqaddima”, diharapkan akan terjalin hubungan yang baik antara guru dan anak didiknya.

 

Dalam mentransfer ilmu pengetahuan, Ibnu Khaldun dikenal sebagai seorang pakar pendidikan yang menentang metode verbalisme dan teknik hafalan. Karena cara demikian, menurutnya, akan menghambat kemampuan memahami ilmu yang diajarkan guru.

 

Sebaliknya, Ibnu Khaldun mengimbau agar para guru menggunakan metode ilmiah yang modern dalam membahas problema ilmu pengetahuan. Dan, cara yang paling gampang dalam menumbuhkan kemampuan memahami ilmu, menurut Ibnu Khaldun, adalah mengasah kemampuan berbicara dan berdiskusi.

 

Ibnu Khaldun menganjurkan agar para guru benar-benar memperhatikan perkembangan akal pikiran muridnya karena seorang anak pada awal hidupnya belum memiliki kematangan pertumbuhan. Ia juga mendorong para guru untuk menggunakan alat peraga dalam menyampaikan ilmunya karena pada awal belajar umumnya anak didik lemah dalam memahami dan kurang daya pengamatannya. Dengan penggunaan alat peraga ini, diharapkan bisa membantu anak dalam menangkap pengetahuan yang diajarkan gurunya.

 

Menurut Ibnu Khaldun, mengajar anak-anak hendaknya berdasarkan prinsip-prinsip penahapan, baru kemudian terperinci dan melakukan pengulangan sehingga anak didik dapat menerima dan memahami setiap bagian dari ilmu yang diajarkan. Sementara dalam menyampaikan ilmu pada awal proses belajar, hendaknya para guru selalu memulainya dengan memberikan contoh-contoh yang sederhana, tetapi jelas dan mudah dimengerti.

 

Dalam menyampaikan pengetahuan, Ibnu Khaldun menyarankan agar guru mengaitkan suatu ilmu dengan ilmu lainnya. Karena, dalam pandangannya, memisahkan ilmu satu dengan yang lainnya akan menyebabkan kelupaan. Ia juga menganjurkan agar guru tidak mengajarkan dua ilmu pengetahuan pada saat bersamaan kepada muridnya karena akan menyebabkan terpecahnya konsentrasi pikiran anak didik. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Air Sebagai Sumber Kehidupan, Ini Penjelasan Al Quran dan Sains

0

PERCIKANIMAN.ID – – Keberadaan air dalam kehidupn makhluk hidup ada sebuah keniscayaan sebab mustahil ada kehidupan tanpa air. Pentingnya air dalam kehidupan bisa dipahami dari banyaknya dimana sebagian besar bumi ini lebih luas lautannya ketimbang daratannya. Demikian juga dalam tubuh manusia dimana sebagian besar tubuh manusia berisi cairan.

 

Allah Swt telah sempurna menyediakan keberadaan air ini untuk kebutuhan makhluk-Nya dengan adanya siklus hujan. Hujan merupakan fenomena alam yang terjadi di bumi sehingga ketersediaan air menjadi seimbang. Munculnya hujan sebagai sumber kehidupan telah dijelaskan dalam Al Quran dan sains. Di kutip dari buku ‘Alquran vs Sains Modern” menurut Dr. Zakir Naik’ yang dilansir okezone menjelaskan bahwa terjadinya musim kemarau yang kering, maka sebagian besar binatang liar di tempat tersebut bermigrasi. Mereka berpindah tempat untuk mencari sumber makanan dan minuman.

 

Selain minimnya sumber makanan dan minuman, wilayah yang kering tersebut juga menjadi sepi karena ditinggalkan hewan-hewan penghuninya. Selanjutnya, ketika Allah kemudian menurunkan hujan dalam kadar yang telah ditetapkannya, maka wilayah tersebut berangsur-angsur menjadi hijau kembali.

 

Tumbuhan hijau dan beraneka warna hidup memenuhi wilayah tersebut. Air pun melimpah sebagai sumber air minum dan habitat ikan. Wilayah itu menjadi wilayah yang mendukung kelangsungan makhluk hidup. Dalam Alquran, hujan telah disebutkan sebagai sumber kehidupan dan mendukung habitat makhluk hidup.

 

Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan) dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak,” (QS. Al-Furqan: 48-49).

 

Sebagian orang sudah mulai menyadari pentingnya air dalam kehidupan sehingga melakukan beberapa tindakan untuk menjaga sumber air. Melakukan penghijauan, tidak merusak hutan dan menjaga lingkungan adalah beberapa cara orang yang sadar akan pentingnya air. Namun harus diakui masih banyak pula masyarakat belum menyadari pentingnya air sehingga masih acuh dan abai terhadap upaya menjaga kelestarian air. [ ]

 

Red:admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: norman

 

PM Lebanon: Muslim Menjadi Target Pertama Terorisme

0

PERCIKANIMAN.ID – -Sebagian kalangan menilai kelompok barat atau non muslim menjadi sasaran utama serangan tindakan terorisme. Namun anggapan ini salah besar sebab kaum muslim yang justru menjadi korban tindakan terorisme yang sebenarnya.

Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri menilai, kaum moderat di dunia yang sebagian besar Muslim merupakan target pertama dari terorisme. Ia merasa, hal itu dikarenakan Muslim yang sebenarnya menjadi benteng pertama melawan ekstrimisme.

 

Dilansir dari Xinhua dan mengutip republikaonline, Selasa (21/2/2017), pandangan itu diungkapkan kepada salah satu calon Presiden Perancis, Marine Le Pen, yang datang beserta delegasinya. Le Pen sendiri merupakan pemimpin dari partai sayap kanan Perancis, National Front.

 

Hariri menegaskan, Muslim merupakan korban pertama dari terorisme, yang kerap menimbulkan kesalahan pemahaman tentang Islam dan Muslim di satu sisi, dan terorisme di sisi lain. Padahal, keduanya tidak memiliki hubungan satu sama lain.

 

Ia menerangkan, Lebanon yang populasinya tidak lebih dari empat juta orang dengan dua juta pengungsi, memiliki tekanan ekonomi dan infrastruktur yang tinggi. Karenanya, pemerintah Lebanon tengah mempersiapkan rencana terpadu, untuk mengatasi masalah tersebut.

 

Le Pen sendiri tiba di Beirut sejak Ahad (19/2) malam, dan memulai pertemuannya pada Senin (20/2) dimulai dengan Presiden Michel Aoun di Istana Presiden Baabda. Selanjutnya, Le Pen mengunjungi Gedung Parlemen Lebanon dan bertemu dengan sejumlah anggota parlemen. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Foto: reuters

Bagaimana Memuliakan Orangtua Yang Non Muslim?

0

 

Assalamu’alaykum. Wr.Wb

Saya terlahir dan di besarkan dari keluarga yang non muslim. Sampai saat ini kedua orangtua masih dalam keyakinannya meski Alhamdulillah saya dan kakak saya sudah menjadi seorang muslim namun hubungan dengan orangtua tetap baik. Bagaimana cara berbakti kepada orangtua yang non muslim dan bolehkah kita mendokannya?. Mohon penjelasannya. Terima kasih. ( Diana by email)

 

 

 

 

Wa’alaykumsalam.Wr.Wb.

Kita harus menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa Allah Swt menghadirkan kita semua ke dunia ini karena sebab adanya orangtua. Untuk itu sudah sepantasnya jika Allah mewajibkan kita untuk berbakti kepada keduanya. Bagaimana perintah dan cara berbakti kepada orangtua ini dapat kita simak dalam Al Quran dimana Allah Swt telah mewasiatkan kepada kita:

 

Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain kepada Allah dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam perawatanmu, maka janganlah kamu berkata yang menyakitkan, janganlah  membentaknya namun ucapkanlah perkataan mulia, rendahkanlah dirimu terhadap mereka dengan penuh kasih sayang dan doakanlah: ”Ya Tuhanku, sayangi  kedua orang tuaku, sebagaimana mereka telah mendidikku dengan kasih sayang  waktu kecil“.     (QS. Al Isra’17: 23 – 24)

 

Dari ayat tersebut dapat kita pahami salah satu cara berbakti kepada orangtua adalah dengan merawatnya sekiranya mereka telah tua bahkan jompo. Selain itu selama merawat tentu harus bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang. Kita harus ingat bahwa demikianlah kita dulu sewaktu kecil, merepotkan, menyita waktu dan sebagainya namun orangtua tidak pernah mengeluh dalam merawat kita. Sikap demikian juga yang saharusnya kita tunjukkan kepada orangtua. Termasuk mendoakan meskipun mereka non muslim, selama mereka masih hidup boleh kita doakan,misal semoga tetap sehat, kalau sakit semoga lekas sembuh termasuk didoakan sebelum ajal menjemput mereka atau Allah memberikan hidayah-Nya sehingga dapat seiman dan seakidah dengan Anda.

 

Yang tidak boleh didoakan adalah ketika mereka sudah meninggal dunia. Selama mereka meninggal masih dalam keyakinan lama (non muslim) maka mereka tidak berhak atau anak tidak memiliki kewajiban mendoakan sebab tidak mungkin hidayah Allah diberikan kepada orang yang telah meninggal. Itu bukan wilayah kita lagi biarkan Allah yang memberi keputusan atas perbuatan selama hidupnya.

Sepanjang ajakannya menuju kebaikan sesuai dengan tuntunan syariat Islam maka boleh perintahnya kita turuti meski non muslim, misal orangtua memerintahkan Anda untuk belajar sungguh-sungguh, berhemat, berbuat jujur, tidak sombong dan sebagainya. Namun jika ajakannya atau perintahnya kepada keburukan apalagi kemusyrikan yang bisa berujung kepada kekafiran maka ajakannya atau perintahnya boleh bahkan wajib Anda tolak, misal orangtua masih suka mengajak Anda ke tempat peribadatan untuk ikut berdoa maka itu wajib Anda tolak. Perintah Allah Swt menolak ajakan yang salah dan berpotensi kepada kemusyrikan ada dalam Al Quran:

 

Jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah tempat kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Lukman 31: 15)

 

Lalu bagaimana sikap kepada orangtua yang berbeda agama?. Sekali lagi Anda boleh berbuat baik kepada keduanya sepanjang tidak mengajak kepada kemusyrikan maka dipersilakan. Hal ini pun pernah terjadi di zaman Nabi yang kisahnya dapat kita simak,

 

Asma’ binti Abi Bakar r.a. berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saw.: “Ibuku mendatangi­ku dan ia menginginkan aku berbuat baik kepadanya padahal ia masih musyrik. Apakah aku boleh menjalin hubungan baik dengannya ?” Beliau bersabda: “Ya, kamu harus berbuat baik kepadanya” (H.R.Bukhari dan Muslim)

 

Meski orangtua non muslim Anda tetap harus berbuat baik jangan sampai durhaka pada orangtua. Selama mereka ada maka kewajiban Anda berbuat baik itu tetap adan, terkecuali mereka sudah tiada. Namun tetap saja Anda harus menjaga nama baiknya.

 

Rasulullah Saw bersabda: “Ada dua dosa yang akan ditampakkan  siksanya oleh Allah di dunia, yaitu berlaku zalim terhadap orang lain dan durhaka  pada orang tua”. (HR. Thabrani).

 

Ada banyak keutamaan berberbuat baik atau memuliakan orangtua. Untuk lebih lengkapnya saya sudah merangkum atau menulisnya dalam sebuah buku. Dalam buku tersebut pembahasannya lebih rinci dan detail yang sertai dengan contoh maupun dalil. Bukunya “Muliakan Ibumu”, insya Allah anda dapat lebih mudah dalam memuliakan orangtua. Wallahu’alam. [ ]

 

Buku Muliakan Ibumu 1

 

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

 

 

Komite Nasional Keuangan Syariah Belum Beroperasi, Ini Alasannya

0

PERCIKANIMAN.ID – – Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) sejauh ini belum dapat beroperasi. Hal ini dikarenakan pihak KNKS masih menunggu persetujuan anggaran dari Kementerian Keuangan.

 

Staf Ahli Bidang Pembangunan Sektor Unggulan dan Infrastruktur Kementerian Perencanaan Pembangunan (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Pungky Sumadi menjelaskan, selama anggaran belum ditetapkan, KNKS belum bisa menerbitkan kebijakan keuangan syariah dengan atas nama KNKS.

 

“Jadi belum ada yang bisa diterbitkan atas nama KNKS. Tapi kebijakan keuangan syariah yang dijalankan oleh masing-masing regulator tetap berjalan,”ujar Pungky dilansir Republika.co.id, Senin (20/2/2017).

 

Menurut Pungky, usulan anggaran KNKS saat ini sedang dalam proses pengkajian oleh Kementerian Keuangan. Terkait nilainya, ia belum dapat mengungkapkannya sebelum disetujui oleh pemerintah.

 

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Askolani mengungkapkan, pihaknya masih mengkaji usulan anggaran dari KNKS. Setelah selesai dikaji, nantinya anggaran tersebut akan diusulkan kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan arahan dan penetapannya.

 

Sejauh ini ia belum bisa menyebut apakah anggaran KNKS akan masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 atau APBN Perubahan. “Secepatnya (selesai dikaji), tergantung kelengkapan dokumen dan sesuai mekanisme,” kata Askolani.

 

Pembentukan KNKS diharapkan dapat membuat pangsa pasar keuangan syariah nasional bisa lebih dari lima persen dalam lima tahun ke depan. KNKS bertugas mengembangkan industri keuangan syariah, termasuk tata kelola, SDM, optimalisasi zakat wakaf dan hal lain yang berhubungan dengan keuangan syariah. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: sly

 

Mantan PM Australia Meminta Negaranya Segera Mengakui Kemerdekaan Palestina

0

 

PERCIKANIMAN.ID – – Dukungan agar Negara Palestina segera mendapat pengakuan merdeka semakin menguat. Selain Negara-negara muslim dukungan datang juga dari Negara barat. Seperti yang diungkapkan mantan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd pada Senin waktu setempat mengatakan, waktunya sudah tiba bagi Australia untuk secara resmi mengakui negara Palestina.  Ia khawatir pupusnya Negara Palestina Merdeka hanya akan menambah ketegangan di Timur Tengah.

 

Rudd mengeluarkan pernyataan tersebut menyusul sikap Presiden AS Donald Trump yang memberikan opsi penyelesaian satu negara antara Israel dan Palestina.

 

Rudd menyeru Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull agar menolak solusi satu negara. Rencananya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan menjadi pemimpin pertama Israel yang akan mengunjungi Australia. Ia akan bertemu dengan PM Turnbull pada Rabu (22/2/2017) mendatang.

 

“Sekarang penting buat sekutu dan teman terdekat Israel untuk mengirim pesan yang sangat jelas kepada Tel Aviv dan Washington bahwa ditinggalkannya penyelesaian dua-negara tak bisa diterima baik,” kata Rudd kepada Fairfax Media, Senin (20/2/2017).

 

Sementara dilansir Xinhua, Rudd kembali menekankan Negara agar dapat memerankan posisinya sebagai Negara yang dekat dengan barat untuk memulai langkah besarnya dengan mengakui kemerdekaan Palestina.

 

“Australia adalah salah satu sekutu dan teman dekat. Jadi itu tak bisa diterima, buat Australia untuk menggunakan kata-kata terselubung,”ungkap.

 

Sudah tiba waktunya buat Australia untuk menarik garis mengenai masalah ini, seperti sudah dilakukan oleh 137 negara. Pernyataan Rudd dikeluarkan saat Israel terus bertindak dengan membangun lebih dari 4.000 rumah di tanah Palestina di Tepi Barat Sungai Jordan dan di Yerusalem Timur.

 

Seperti diberitakan persoalan Palestina kembali menghangat setelah pemerintah Israel dibawah PM Benyamin Netanyahu bersikuh meneruskan kebijakannya untuk membangun ribuan rumah bagi warga Israel di wilayah Tepi Barat. Uni Eropa sendiri telah secara tegas menolak rencana “gila” tersebut yang akan kembali menyulut persoalan sensitif di wilayah Timur Tengah dan dunia. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Mengenang Tragedi Sukamanah Berdarah 25 Februari 1944 (Asy-Syahid KH. Zainal Musthafa Sang Singa Singaparna)

0

Oleh : Tatang Hidayat*

Dada ini bergetar ketika mendengar kisah perlawanan Asy-Syahid KH. Zainal Musthafa terhadap penjajah yang dilakukan oleh orang-orang kafir Belanda dan Jepang pada masa itu, beliau seorang ulama yang berasal dari tanah priangan yakni Tasikmalaya.

Dengan keberanian dan kegigihan dalam mempertahankan ajaran Islam, dengan jalan itu pula mengantarkan beliau untuk bertemu Allah Swt dengan gelar sebagai seorang syuhada. Ada suasana yang berbeda ketika penulis silaturahim ke Pondok Pesantren KH. Zainal Musthafa Sukamanah Tasikmalaya, dada ini bergetar dan sontak bibir ini spontan mengucapkan kalimat takbir, seolah-olah suasana pertempuran KH. Zainal Musthafa bersama santrinya masih terasa hingga saat ini.

Zainal Musthafa dilahirkan di Kampung Bageur Desa Cimerah Kecamatan/Kewedanaan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya (sekarang Desa Sukarapih Kec. Sukarame Kab. Tasikmalaya) pada tahun1901. Ibunya bernama Ratmah dan ayahnya bernama Nawapi. Beliau dikenal dengan nama kecilnya Umri dan Hudaemi. Beliau dibesarkan dalam lingkungan keluarga petani yang taat beragama. Setelah Zainal Musthafa kecil lulus dari Sekolah Rakyat, beliau menimba ilmu di beberapa pesantren, di antaranya:

Pesantren Gunung Pari, Cilenga Leuwisari, Sukaraja Garut, Sukamiskin Bandung dan Jamanis Rajapolah. Di Pesantren Gunung Pari beliau dibimbing oleh kakak misannya yang bernama Dimyati yang kemudian dikenal dengan nama K.H. Zainal Muhsin.

Pada tahun 1927 Zainal Musthafa muda mendirikan sebuah pesantren di Kampung Cikembang dengan nama Pesantren Sukamanah. Nama kampung Cikembang berganti Nama menjadi kampung Sukamanah. Pesantren Sukamanah didirikan di atas tanah wakaf untuk rumah dan mesjid dari seorang janda dermawan bernama Hj. Juariyah. Sebelumnya, pada tahun 1922 Hj. Juariyah memberikan tanah wakaf yang sama kepada K.H.Zainal Muhsin (pendiri pesantren Sukahideng) di Kampung Bageur. Dalam usia 26 tahun, usia yang sangat muda Zainal Musthafa telah mendirikan pesantren dan menunaikan ibadah haji pada tahun 1928 yang dibiayai pula oleh Hj. Juariyah.

Sebagai seorang ulama yang memiliki sifat ta’at, tabah, qona’at, syaja’ah dan menjunjung tinggi nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan, maka tak bisa dipungkiri bila beliau menjadi seorang pemimpin dan panutan umat yang kharismatik, patriotik, berbudi luhur serta berpandangan jauh ke depan. Hal ini terbukti dengan bergabungnya beliau dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1933. Beliau pun tercatat sebagai wakil rois Syuriyah cabang Tasikmalaya. Sementara pada saat itu mayoritas ulama menjadi anggota organisasi Izdhar yang dianggap kooperatif terhadap Penjajah Jepang.

Pesantren Sukamanah hadir menjadi pesantren yang memiliki santri ± 600-700 orang. Hal ini menimbulkan kecurigaan yang sangat besar bagi pemerintah Belanda pada saat itu, mereka menganggap bahwa pengajian tersebut adalah perkumpulan yang dimaksudkan untuk menyusun kekuatan rakyat Indonesia melawan penjajah. K.H. Zainal Musthafa sering diturunkan dari mimbar oleh kaki tangan pemerintah Belanda dan ditahan di penjara Tasikmalaya bersama K.H. Ruhiyat (Pimpinan Pesantren Cipasung) pada tanggal 17 Nopember 1941/27 Syawal 1362 atas tuduhan menghasut rakyat. Sehari kemudian mereka dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung dan dibebaskan pada tanggal 10 Januari 1942. K.H. Zainal Musthafa ditangkap kembali dan ditahan di penjara Ciamis pada akhir Februari 1942 menjelang penyerbuan Jepang ke Jawa, dan dibebaskan oleh seorang kolonel Jepang pada tanggal 31 Maret 1942.

Meskipun kekuasaan telah berpindah tangan dari kolonial Belanda kepada tentara Jepang, sikap dan pandangan beliau terhadap penjajah baru tidak berubah. Kebencian beliau semakin memuncak setelah menyaksikan sendiri kezaliman hamba-hamba Tennohaika Jepang. Beribu-ribu rakyat Indonesia dijadikan romusha, penjualan padi kepada Pemerintah Jepang secara paksa, pemerkosaan terhadap gadis-gadis merajalela, segala partai, ormas dan organisasi nasional dilarang dan setiap pagi rakyat Indonesia diwajibkan saikeirei atau ruku ke arah istana Kaisar Jepang Tokyo. Keteguhan iman beliau tidak akan tergoyahkan dengan perbuatan saikeirei tersebut, maka beliau bertekad untuk menegakkan kalimatullah dan berjuang menentang kezaliman Jepang meskipun nyawa menjadi taruhannya.

Setelah pemerintah Jepang mengetahui sikap K.H. Zainal Musthafa, mereka mengirimkan satu regu pasukan bersenjata untuk menangkap beliau dan para santrinya. Namun, mereka gagal dan menjadi tawanan pihak Sukamanah. Keesokan harinya, hari Jumat 25 Februari 1944 semua tawanan dibebaskan, tetapi senjata tetap menjadi rampasan. Kira-kira pukul 13.00 datang 4 orang kenpeitai (polisi militer) dan salah satunya merupakan juru bahasa. Mereka dengan congkaknya meminta agar K.H. Zainal Musthafa menyerah dan senjata milik mereka dikembalikan yang terdiri dari 12 buah senapan, 3 buah pistol, 25 senjata tajam.  Santri Sukamanah dan masyarakat sekitarnya yang telah RELA MATI BERKALANG TANAH DARIPADA HIDUP BERCERMIN BANGKAI menjawabnya dengan pekikan takbir dan langsung menyerang mereka. Tiga orang kenpeitai (polisi militer) dan seorang juru bahasanya lari ke arah sawah dan meninggal di sana, sedangkan yang satu orang lagi berhasil menyelamatkan diri.

Menjelang ashar datang enam kompi polisi istimewa yang didatangkan dari seluruh Jawa Barat. Ternyata mereka adalah tentara bangsa Indonesia sendiri yang langsung membuka salvo dan menghujani barisan santri yang hanya bersenjatakan bambu runcing, pedang bambu, dan senjata sederhana lainnya. Menyadari yang datang adalah bangsa sendiri, K.H. Zainal Musthafa memberikan komando agar tidak melakukan perlawanan sebelum musuh memasuki jarak perkelahian. Setelah mereka mendekat, barulah bambu runcing, pedang bambu dan golok menjawab serangan tersebut. Akhirnya, dengan kekuatan yang begitu besar, strategi perang yang hebat dan dilengkapi dengan persenjataan yang canggih, pasukan Jepang berhasil menerobos dan memporak-porandakan pertahanan pasukan Sukamanah dan menangkap K.H. Zainal Musthafa.

Peristiwa pertempuran Sukamanah terjadi pada hari Jum’at tanggal 25 Februari 1944/1 Rabi’ul Awwal 1365 H. Para syuhada yang gugur sebanyak 86 orang dan dikebumikan dalam satu lubang. K.H. Zainal Musthafa ditahan di penjara Tasikmalaya, kemudian dipindahkan ke Bandung, selanjutnya dipindahkan lagi ke penjara Cipinang dan setelah itu tidak diketahui di mana beliau berada. Alhamdulillah, atas usaha Kol. Drs. Nugraha Natosusanto, Kepala Pusat Sejarah ABRI, pada tanggal 23 Maret 1970 telah ditemukan data dari kepala kantor Ereveld (Taman Pahlawan) Belanda bahwa K.H. Zainal Musthafa telah menjalani hukuman mati pada tanggal 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol Jakarta.

K.H. Zainal Musthafa dianugerahi gelar “Pahlawan Nasional” dengan SK. Presiden RI Nomor:064/TK tahun 1972 tanggal 20 Nopember 1972, diserahkan oleh Mintareja SH, menteri sosial kepada keluarga K.H. Zainal Musthafa pada tanggal 9 Januari 1973. Kerangka jenazah Assyahid K.H. Zainal Musthafa beserta 17 orang santrinya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Sukamanah pada tanggal 25 Agustus 1973.

Peristiwa ‘Pertempuran Sukamanah berdarah’ telah berlalu, KH. Zainal Musthafa telah berpulang ke Rahmatullah, tinggallah Pesantren Sukamanah yang porak poranda. Tetapi, kisah perlawanan KH. Zainal Musthafa akan terus melekat dalam dada-dada kaum Muslimin dan bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua yang hidup di zaman ini, karena sejarah telah berulang. Keadaan negeri kita saat ini layaknya keadaan pada masa KH. Zainal Musthafa masih hidup. Begitu banyak upaya adu domba antar elemen bangsa yang dapat menyulut disintegrasi bangsa Indonesia dan sikap intoleransi antar umat beragama seperti kasus penistaan agama, jika ada yang kritis terhadap segala bentuk kedzaliman rezim yang dilakukan oleh para ulama pewaris nabi, justru para ulama pewaris nabi tersebut di kriminalkan.

Sudah sepantasnya kita meneladani perlawanan KH. Zainal Musthafa pada masa ini dengan melawan hegemoni neoliberalisme serta tajam melakukan kritik terhadap penguasa yang menjual ASET NEGARA kepada ASING dan ASENG, bukan malah menjadi kepanjangan tangan para komprador. Rezim hari ini justru mencoba melakukan kriminalisasi terhadap Islam, ulama dan para aktivisnya, padahal sesungguhnya sosuli atas rusaknya negeri ini ada pada Islam yang diperjuangkan oleh ulama dan para aktivisnya.

Sikap permusuhan terhadap ulama pewaris nabi merupakan salah satu ciri khas gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI), sehingga ini merupakan salah satu bukti kebangkitan PKI yang merupakan bahaya laten bagi Indonesia. Maka sepantasnya bagi kita untuk terus melakukan perlawanan terhadap kedzaliman demi tegaknya Syariat Allah yang akan mewujudkan keadilan bagi negeri ini, menjaga Indonesia dari berbagai ancaman dan gangguan berbagai macam paham yang dapat merusak Aqidah Islamiyyah dan keutuhan Indonesia, serta bahu membahu memperjuangkan tegaknya Syariah secara Kaafah sebagai solusi atas bobroknya neoliberalisme dan rezim yang mengkhianati rakyatnya. Wallahu ‘alam bi ash-Shawab

*) Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia

Sumber :
– Naskah asli sejarah ditulis oleh KH. Moh. Fuad Muhsin (Alm.) tahun 1996
– Direvisi oleh Hirni Kifa Hazefa, S. Pd (Salah seorang cucu KHZ.Musthafa, Bidang Litbang PW.Fatayat NU – Prov.Jawa Barat) pada tanggal 16 Maret 2010.
– Disahkan oleh Musyawarah Keluarga Besar Asy-Syahid KH. Zainal Musthafa pada hari Jumat tanggal 2 April 2010M / 17 Rabiul akhir 1431 H.

Waspadai Ini Sebagai Pemicu KDRT

0

PERCIKANIMAN.ID – – Keharmonisan dalam rumah tangga adalah impian dan niat awal semua pasangan. Namun semua menyadari bahwa rumah tangga dibangun bukan oleh satu karakter sama. Pada sebagian pasangan dalam rumah tangga mempunyai sifat dan kegemaran yang berbeda namun demikian hal ini bukan suatu alasan untuk membuat rumah tangga menjadi tidak harmonis.

Perbedaan kadangkala menjadi pemicu perselisihan dalam rumah tangga bahkan tidak sedikit yang disertai dengan tindakan kekerasan kepada pasangan. Sebuah penelitian menyebutkan satu dari empat wanita mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hal ini tentu bukanlah kabar baik. Dari hasil tersebut terungkap betapa besar potensi KDRT saat ini. Tak jarang alas an sepele bisa menjadi penyebab munculnya tindakan KDRT. Keluraga muslim khususnya kaum muslimah diharapkan tidak menyepelekan hal ini dan membiarkannya begitu saja.

Dalam mengarungi mahligai rumah tangga tentu tidak sama dengan melewati jalan bebas hambatan. Ibarat biduk dilautan tentu saja ombak dan badai siap menerjangnya dalam perjalanan menuju dergama kebahagian rumah tangga. Untuk itu sebagai muslim harus berpegang ajaran Islam yang terbukti menjadi jaminan meniti kebahagian dunia akhirat. Terkait dengan rumah tangga ini, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda,

Aku katakan bahwa kamu harus memperlakukan wanita dengan baik. Yang terbaik darimu adalah yang memperlakukan istri-istri mereka dengan sebaik-baiknya.”

Hadist tersebut sering diasumsikan bagi umat muslim bahwa boleh melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Padahal itu salah, bahkan Nabi mengatakan, “Jangan memukul perempuan”.

Ini tidak hanya istri, tetapi semua wanita seperti anak dan saudara. Nabi juga mengatakan, ketika ditanya tentang kewajiban seorang suami terhadap istrinya,

Siapkan istri ketika kamu makan, dan sediakan pakaian seperti engkau yang juga berpakaian. Jangan memukul wajahnya dan gunakan bahasa sopan saat berbicara padanya.”

Dari kutipan di atas jelas bahwa tak boleh melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun kepada istri. Melansir dari Soundvision,Minggu (19/2/2017) berikut beberapa penyebab utama terjadi kekerasan terhadap perempuan.

  • Ekonomi

Faktor sosial dan ekonomi membuat pria mudah marah dan emosi yang tidak stabil. Kemarahan pun akhirnya dilampiaskan kepada istri. Entah dalam bentuk verbal mau pun fisik.

  • Cemburu

Entah cemburu kepada teman pria istri atau karier istri yang lebih sukses. Kedua hal itu membuat suami cemburu dan terpancing amarah hingga melakukan kekerasan kepada istri.

  • Karier

Perbedaan penghasilan dan karier suami istri bisa menjadi boomerang jika tidak pandai mengkomunikasikan. Karier istri yang melesat dan mendapat posisi top di tempat kerjanya bisa jadi malah membuat suami tidak senang. Posisi tinggi yang diraih istri akan membuatnya semakin sibuk dengan tuntutan beban kerja. Dengan demikian waktu bersama keluarga (suami) akan semakin berkurang.

Hendaknya masing-masing pasangan menyadari posisi dan perannya sendiri. Kebahagian dalam keluarga bukanlah karena berlimpahnya materi. Keharmonisan rumah tangga bukan ditentukan oleh jumlah waktu yang tersedia namun waktu tersebut harus berkualitas.[ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

 

Merasa Banyak Dosa, Bagaimana Cara Bertaubat ?

0

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Pak Ustadz mohon pencerahan dan nasihatnya. Saya merasa hidup yang saya jalani selama ini penuh dengan maksiat dan dosa, sepertinya tiada hari terlewati tanpa dosa. Saya sadar dan ingin segera bertaubat serta membersihkan diri. Bagaimana agar taubat kita di terima Allah dan tidak terjerumus lagi?. Terima kasih ( NN by email)

 

 

 

 

Wa’alaikumsalam Wr.Wb.

Iya saudari NN dan pembaca sekalian, perlu kita sadari bahwa tidak manusia yang steril dari dosa. Mengapa?, karena manusia hidup dalam suasana tidak statis atau ajeg. Sekecil apa pun yang namanya manusia pasti mempunyai dosa. Manusia yang baik bukan berarti yang tidak pernah melakukan kesalahan tetapi manusia yang baik adalah ketika ia melakukan kesalahan ia segera sadar dan bertaubat serta berusaha untuk mengulangi kesalahannya tersebut. Ia akan senantiasa menjaga diri ajar tidak lagi terjerumus.

 

Apa yang Anda niatkan sudah baik atau sebagai modal untuk memperbaiki diri. Anda menyadari apa yang Anda lakukan itu dosa lalu menyadari dan berniat untuk bertaubat. Menurut saya, ini sudah menjadi poin tersendiri untuk menjadi lebih baik lagi dan berusaha membersihkan diri sebelum menghadap-Nya. Manusia terdiri dari unsur tanah dan ruh, sebagaimana Allah telah firmankan:

 

ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya“. (QS. Shaad :72)

 

Sementara dalam diri manusia ada dua sifat atau berada diantara dua kutub yakni sifat hayawaniyyah (sifat kebinatangan) dan sifat ruhiyyah (halus dan lembut). Sifat-sifat kebinatangan itu terlihat dari perilaku  yang buruk bahkan jahat pada diri manusia seperti melukai, serakah bahkan sampai membunuh. Sementara sifat ruhiyyah manusia itu lebih lembut dan penuh kasih sayang. Manusia dalam melakukan keburukan lebih berbahaya dari binatang. Mengapa?. Manusia dibekali akal, sehingga modus operandinya sistemik bahkan ada yang direncanakan segala sementara binatang dibekali instink, sehingga modus operandinya monoton (mudah diprediksi).

 

Apa itu taubat? Taubat artinya “kembali ke jalan yang benar”. Taubat muncul karena adanya Yaqdhah yaitu “kesadaran bahwa perbuatan tersebut salah, melanggar dan dimurkai Allah ”, seperti yang Anda rasakan tersebut.

Tipe-tipe Pendosa

  • Orang yang suka meremehkan dosa sehingga tidak merasa bersalah kalau melakukan dosa. Rasulullah saw bersabda :“Janganlah meremehkan dosa, karena dosa tersebut akan berkumpul dan mencelakakannya”. (HR. Thabrani dan Baihaqi)
  • Orang yang suka menunda taubat atau taubat hanya sebatas niat (QS. Al-Munafiqun 63:10-11)
  • Orang yang mau bertaubat kalau sedang susah (QS. Fushshilat 41:51)
  • Orang yang putus asa dari ampunan Allah sehingga tidak mau bertobat (QS. Azzumar 39:53)
  • Orang yang sungguh-sungguh dalam bertobat karena yakin Allah Maha Pengampun (QS. Attahrim 66:8)

 

Keutamaan Taubat

  • Dosa yang Terampuni. “Dialah Allah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan Maha Mengampuni berbagai kesalahan.” (QS. Asy-Syuura 42 : 25)
  • Masuk Surga. “Sesudah para nabi, maka datanglah suatu generasi yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, niscaya mereka  akan dilemparkan ke dalam kebinasaan. Kecuali orang-orang yang bertaubat di antara mereka, dan beriman serta beramal saleh maka mereka itulah orang-orang yang akan masuk ke dalam surga dan mereka tidaklah dianiaya barang sedikit pun.” (QS. Maryam 19 : 59 – 60)
  • Mendapat Rahmat. “Katakan, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang pernah terjerumus dosa. Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang’.” (Q.S. Az-Zumar 39 : 53)
  • Keburukan akan Diganti dengan Kabaikan. “Barang siapa melakukan dosa-dosa, niscaya akan menemui pembalasannya. Akan dilipatgandakan siksa mereka pada hari kiamat dan mereka akan kekal di dalamnya dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman serta beramal shaleh, maka mereka itulah orang-orang yang digantikan oleh Allah keburukan-keburukan mereka dengan berbagai kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 25: 68 – 70)

 

Syarat Taubat

  • Ikhlas dalam Bertaubat. “Kecuali orang-orang yang taubat dan melakukan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas mengamalkan agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (Q.S An Nisaa’ 4 : 146)
  • Ada Kesadaran dan Kemauan. Kesadaran: ”Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah (sadar dengan kesalahannya), lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran 3 : 135). Kemauan: “Keduanya (Adam dan Hawa) berdo’a: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi”. (Q.S. Al-A’raf 7 : 23)
  • Menyesali Kesalahan. “Penyesalan adalah suatu bentuk taubat.” (H.R. Abu Dawud dan Al-Hakim).

 

Tangga Menuju Taubat

  • Bersihkan Jiwa. “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya” (Q.S. Asy-Sams 91:9-10)
  • Ber-Istighfar. Pengertian istighfar: Istighfar artinya ”meminta kepada Allah agar kita ditutupi atau dihindarkan dari akibat dosa yang pernah kita lakukan”.. (Q.S. Al-Anfaal 8 : 33) Rasulullah saw bersabda :“Sesungguhnya  hati itu ada karatnya bagaikan karat pada logam, maka bersihkanlah dengan istighfar.” (H.R. Baihaqi).
  • Ganti Perbuatan Buruk dengan Perbuatan Baik. “Dirikan shalat itu pada pagi dan petang dan pada bagian dari permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud 11 : 114) “Bertakwalah di manapun engkau berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya Allah akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad)

 

Agar Anda tidak senantiasa tidak terjerumus lagi maka saran saya tinggalkan lingkungan lama dan bergaullah dengan orang-orang shalih serta sibukkan diri dalam suasana yang lebih baik untuk selalu mendekatkan dan ingat kepada Allah,seperti baca buku keagamaan, baca Al Quran, kalau belum bisa belajar dan aktif dipengajian sehingga hati Anda akan tenang. Wallahu’alam. [ ]

 

Editor: iman

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/