Ketika Merasa Serba Cukup, Manusia Akan Melampaui Batas dan Berbuat Zalim

0
251
Sifat zalim adalah hal dibenci Allah ( ilustrasi foto: nu online)

Tafsir Kontemporer Juz Amma Surat Al ‘Alaq [96] ayat 6 – 7*

Oleh: Dr. Aam Amiruddin, M.Si

PERCIKANIMAN.ID – – Salah satu sifat buruk manusia itu adalah ia akan melampaui batas ketika dirinya merasa serba cukup. Ia menganggap semua didapat karena ilmu dan kerja kerasnya dengan mengesampingkan keberadaan Allah Swt. Dalam Al Quran sendiri secara jelas Allah Swt telah berfirman

iklan

(6). كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ

 [Kallaa innal insaana layathghaa.]

“Ingatlah! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas.” (QS. Al ‘Alaq [96 ]: 6)

Kata kalla yang biasa diartikan dengan “Ketahuilah! atau Hati-hatilah!” dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 33 kali. Semua ayat yang dimulai dengan kata kalla adalah Makiyyah, artinya turun saat Rasulullah Saw. masih di Mekah, belum hijrah ke Madinah, sehingga ada di antara ahli tafsir yang menyebutkan bahwa di antara ciri surah Makiyyah yaitu menggunakan kata kalla.

Kata yathghaa dengan berbagai bentuknya dalam Al-Qur’an disebut sebanyak 39 kali. Asal arti kata yathghaa yaitu air meluap hingga mencapai titik kritis. Kemudian kata ini diartikan menjadi lebih umum, yaitu segala bentuk perbuatan yang melewati batas, seperti kekufuran pada Allah Swt., kesewenang-wenangan terhadap sesama manusia, dan kezaliman.

Ayat ini mengingatkan salah satu sifat buruk manusia, yaitu melampaui batas atau berbuat sewenang-wenang.  Manusia memiliki dua tarikan yang saling berlawanan; tarikan untuk berbuat kebaikan dan keburukan,

“Maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Q.S. Asy-Syams [91]: 8-10).

Pada ayat berikutnya, Allah menjelaskan kapan manusia itu cenderung melewati batas, berlaku sewenang-wenang, melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt., ataupun zalim pada sesama manusia, yaitu pada saat manusia merasa dirinya berkecukupan.

Kemudian ayat berikutnya Allah berfirman,

(7). أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ

[Arra-aahus taghnaa.]

“Ketika melihat dirinya serbacukup.” (QS. Al ‘Alaq [96 ]: 7)

Kata istaghna diambil dari kata ghaniya, artinya tidak membutuhkan sesuatu. Yakni, manusia yang merasa memiliki kecukupan yang mengantarnya merasa tidak membutuhkan apapun, baik materi, ilmu pengetahuan, kedudukan, dan sebagainya dari pihak lain.

Ayat keenam dan ketujuh surah Al-‘Alaq ini sebagai penjelasan Allah Swt. tentang adanya potensi manusia untuk melampaui batas kewajaran serta berlaku sewenang-wenang apabila ia melihat dirinya memiliki harta yang serba cukup.

Jadi, sikap kesewenang-wenangan dilahirkan oleh anggapan superioritas seseorang yang mengantarkannya pada rasa tidak butuh. Sikap ini jelas bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Oleh karenanya, Al-Qur’an menggarisbawahi hal ini sebagai potensi negatif manusia, setelah pada ayat sebelumnya dikemukakan bahwa manusia diciptakan Allah Swt. dari al -alaq yang artinya sesuatu yang bergantung pada sesuatu, baik di dinding rahim maupun kepada orang lain; lebih-lebih kepada Allah Swt. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

*Sumber dikutip dari buku “ Tafsir Al Hikmah, Tafsir Kontemporer Juz Amma “ karya Dr. Aam Amiruddin, M.Si

Tafsir Juz Amma

5

Red: admin

Editor: iman

907