Beranda blog Halaman 386

Masyarakat Malaysia Kirim Bantuan Untuk Muslim Rohingya

0

PERCIKANIMAN.ID – – Perdana Menteri Malaysia Najib Razak meluncurkan satu kapal berisi ribuan ton makanan dan persediaan darurat untuk para Muslim Rohingya di Myanmar, Jumat (3/2/2017). Namun, Pemerintah Malaysia tidak merinci secara jelas ke mana sebagian besar bantuan tersebut akan dikirimkan.

 

Kapal membawa 2.200 ton barang, yang 500 ton di antaranya akan diturunkan di kota terbesar Myanmar, Yangon. Rencana untuk menurunkan sisanya ke negara bagian Rakhine di perbatasan dengan Bangladesh, tempat masyarakat Rohingya berada, masih belum diketahui.

 

Najib selama ini bersuara lantang menyangkut perlakuan yang dialami minoritas Muslim Rohingya di Myanmar. Ia mendesak pemerintah negara berpenduduk mayoritas pemeluk Budha itu untuk menghentikan serangan-serangan terhadap kaum Muslim Rohingya.

 

Pemerintah Myanmar, yang dipimpin oleh pemenang hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, membantah tuduhan tersebut.

 

Myanmar menegaskan bahwa banyak laporan soal kekerasan terhadap warga Rohingnya merupakan kabar palsu dan bersikeras bahwa kerusuhan di Negara Bagian Rakhine, tempat banyak warga Rohingya tinggal, merupakan masalah dalam negeri.

 

“Momen ini bersejarah, suatu upaya mulia yang menunjukkan bahwa semua kepedihan dan penderitaan warga Rohingya di Myanmar tidak akan diabaikan,” kata Najib saat berpidato di pelabuhan dekat Kuala Lumpur seperti dilaporkan antaranesw.

 

Ia menimplai, “Kami mendengar kepedihan mereka, mereka yang diperkosa, dibunuh dan dibakar hidup-hidup.”

 

Pasukan keamanan Myanmar melancarkan operasi di Rakhine pada Oktober 2016, setelah sembilan polisi tewas dalam serangan di pos-pos perbatasan. Pemerintah setempat menuding masyarakat Rohingnya, yang dibantu milisi-milisi asing, sebagai pelaku serangan.

 

Sejak itu, setidak-tidaknya ada 86 orang tewas dan sekitar 66.000 lainnya mengungsikan diri ke Bangladesh. Para pengungsi, warga dan kelompok-kelompok pejuang hak asasi manusia (HAM) mengatakan bahwa pasukan Myanmar telah melakukan kekerasan, termasuk hukuman mati tanpa peradilan serta pemerkosaan.

 

Kementerian Luar Negeri Malaysia mengatakan dalam pernyataan bahwa Bangladesh telah memutuskan untuk tidak memberikan izin bagi kapal kiriman Malaysia itu untuk merapat di pelabuhan Teknaf, Bangladesh, tempat banyak pengungsi dari Rakhine berada.

 

Oleh karena itu, Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman telah meminta Komisioner Tinggi Bangladesh untuk Malaysia mengupayakan agar keputusan itu diubah. Myanmar juga belum mengizinkan kapal tersebut berlayar menuju Sittwe, ibu kota Negara Bagian Rakhine. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Bagaimana Mengukur Ikhlas Tidaknya Sebuah Amal Perbuatan?

0

Pak Aam, saya baru saja menolong atau membantu teman dan awalnya merasa ikhlas. Namun setelah tahu bagaimana bantuan saya tersebut digunakan, saya merasa jadi tidak ikhlas karena merasa dibohongi. Bagaimana agar apa yang kita lakukan senantiasa dalam keikhlasan?  Kadang kita sering mendengar orang berkata “ikhlas” dalam berbuat, itu dibolehkan tidak?. Terima kasih ( Elisa by email)

 

Ibu Elisa dan pembaca sekalian. Rasanya kita percaya bahwa hingga hari ini belum ada orang maupun alat yang mampu mengukur tingkat keikhlasan seseorang dalam berbuat. Bahkan ikhlas sendiri tak dapat didefinisikan dalam ilmu pengetahuan, buku-buku dan lembaran-lembaran kertas sehingga apapun yang kita definisikan tentang ikhlas itu hanya kulitnya saja. Mungkin ada yang berkata bahwa ikhlas itu perbuatan tanpa pamrih dan sebagainya akan tetapi itu sulit mengukurnya.

Ikhlas adalah samudera yang kedalamannya tak pernah terukur oleh manusia maupun alat deteksi secanggih apapun. Intisari ikhlas adalah misteri yang tak terpecahkan oleh manusia.  Tak akan ada yang tahu kedalaman ikhlas   kecuali pelakunya sendiri dan Allah SWT Yang Maha Tahu, bahkan dirinya sendiri terkadang masih tertipu dengan ikhlas yang diniatkan karena masih ada niat lain yang ia sendiri tidak sadari.

Ikhlas adalah pondasi dalam beramal karena segala sesuatu yang kita kerjakan oleh Allah Swt hanya akan dinilai dari niatnya. Seseorang yang beramal hasilnya kelak oleh Allah Swt hanya akan dinilai dari niatnya, apakah ikhlas karena mengharap ridho-Nya atau ada niat lain. Bab niat ini haditsnya sering kit abaca atau dengar,

Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari )

Pentingnya niat ikhlas karena Allah harus kita jaga dalam setiap beramal dan mengerjakan kebaikan lainnya. Seluruh waktu dalam kehidupan yang kita miliki saat ini adalah kesempatan untuk mengumpulkan bekal perjalanan abadi kelak disisi Allah. Dalam Al Quran telah Allah tegaskan bahwa kita harus membuat amal terbaik,

Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian orang yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2)

Beberapa ahli tafsir (mufasirin) menafsirkan makna ‘yang terbaik amalnya’ yaitu ‘yang paling ikhlas dan paling benar’. Apabila amal itu ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Tentu saja benar disini adalah yang ada tuntunannya baik Al Quran maupun hadits.

Ada beberapa faktor yang bisa membentuk keikhlasan kita dalam beramal:

  • Lebih mengutamakan keridhoan Allah, bukan penilaian manusia.
  • Berusaha mensejajarkan amaliah lahir dengan amaliah batin.
  • Memposisikan pujian dan celaan secara sederajat.
  • Tidak memandang diri sebagai orang ikhlash. Sehingga ta’ajub kepada diri sendiri.
  • Sangat yakin akan adanya pengadilan Allah yang Maha Adil
  • Berusaha menghindarkan diri dari jiwa pamer atau riya.

 

Sebaiknya kita jangan sibuk mencari atau menilai seseorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal atau berbuat kebajikan termasuk kepada kita. Soal ikhlas itu biarlah menjadi urusan dirinya dan Allah Swt. Jika Anda yang beramal awalnya ikhlas namun setelah tahu orang yang ditolong menjadi tidak atau kurang ikhlas maka segeralah beristighfar dan kembalikan pada niat awal. Jangan berubah niat hanya karena mengetahui jati dirinya dan jangan rusak niat dan amal kita hanya karena orang lain. Wallahu’alam. [ ]

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: sly

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

2017 RZ Targetkan Bina 1200 Desa

0

PERCIKANIMAN.ID – – Memasuki tahun 2017, RZ (Rumah Zakat) menargetkan untuk membina 1200 desa di berbagai pelosok Indonesia untuk diberdayakan. Chief Marketing Officer RZ, Irvan Nugraha, mengatakan ini sebagai bentuk optimalisasi dana zakat yang disalurkan melalui RZ.

“Zakat memiliki potensi untuk menjadi bagian dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia. Salah satunya kami wujudkan dalam pembinaan desa, melalui pemberdayaan dan program-program yang ditawarkan kepada masyarakat yang tidak hanya untuk pemberdayaan ekonomi, lingkungan, dan pendidikan tetapi juga spiritualnya,” papar Irvan dalam rilisnya, Jumat (3/2/2017).

Irvan menyebutkan hingga akhir tahun 2016, RZ telah membina sekitar 800 desa yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Pembinaan diwujudkan dengan berbagai program diantaranya Senyum Sehat yang berisi program pelayanan kesehatan, Senyum Juara untuk pendidikan, Senyum Mandiri untuk membina ekonomi masyarakat desa, dan Senyum Lestari untuk lingkungan.

desa binaan rz
Warga desa mengumpulkan sampah daur ulang

“Untuk mengembangkan program ini, kami juga melibatkan dan menempatkan relawan inspirasi yang direkrut dari warga desa setempat. Hal ini untuk lebih memudah dalam pengembangan desa binaan tersebut,” tambah Irvan.

Selain program pembinaan dan pemberdayaan desa, Irvan menambahkan, RZ juga akan terus memperluas program bantuan ke lokasi bencana baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Diharapkan, melalui perluasan program tersebut, RZ dapat berkontribusi untuk membangun masyarakat yang agamis dan sejahtera. [ ]

Red: admin

Editor: iman

Foto: rz

 

Selamat Tinggal Ahok, Selamat Datang Persatuan (Kebangkitan Umat 5)

0

Oleh: Rudi Agung *

Memasuki abad ke-20, umat Islam tak hanya perang melawan Belanda, melainkan juga dengan desingan peluru penistaan agama yang beragam. Pada masa itu, kota Surakarta, pernah diguncang surat kabar Djawi Hiswara edisi 11 Januari 1918 Nomor 5. Surat kabar yang diterbitkan N.V.Mij. t/v d/z Albert Rusche&Co. dan dipimpin Martodarsono itu, memuat artikel Djojodikoro yang menistakan Rasulullah.

Karena artikel ini menistakan agama dan menghina umat Islam, maka timbul reaksi keras dan amarah terhadap penulis dan dewan redaksi Djawi Hiswara. Guncangan di Surakarta turut dirasa saudara seiman di Surabaya. Mengetahui Rasul dihina, api tauhid dalam dada umat Islam Surabaya berkobar-kobar.

Maka pada akhir Januari, Tjokroaminoto dan Hasan bin Semit-seorang pemimpin Al-Irsyad Surabaya dan juga komisaris Centraal Sarekat Islam mengadakan pertemuan maraton Sarekat Islam (SI) secara besar-besaran di Surabaya, untuk membahas penistaan agama ala Djawi Hiswara.

Abikoesno Tjokrosoejoso, adik Tjokroaminoto yang juga sekretaris SI Surabaya, lewat tulisannya di majalah Medan Moeslimin, mengecam Martodarsono dan Djodjodikoro, mendorong sunan agar menghukum keduanya, serta menggerakkan kaum Muslimin untuk membela Islam.

Masih di masa kolonial Belanda, kembali terjadi penistaan agama lewat media massa. Sekitar bulan Desember tahun 1930, surat kabar Soeara Oemoem yang diterbitkan oleh Studieclub Indonesia, memuat pelbagai tulisan yang menghina ibadah haji. Lagi-lagi api tauhid berkobar, persatuan umat Muslim bangkit. Demikian tulisan Muhammad Cheng Ho, “Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa”, yang dimuat di laman JejakIslamdotnet.

Tiga tahun setelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1948, penistaan agama meningkat menjadi ajang pembantaian. Kali ini ulama dan santri pesantren Gontor menjadi sasaran PKI. Pondok Gontor diguncang pemberontakan PKI yang dikenal dengan sebutan Madiun Affair.

Pada masa orde lama, penistaan agama masih berlanjut. Kala itu, Partai Komunis Indonesia alias PKI menyerbu Masjid Agung Kembangkuning Surabaya. Mereka lalu menginjak-injak tempat suci itu sambil bernyanyi “Genjer-genjer” dan menari-nari. Teramat panjang seharah kekejiaan PKI terhadap Islam dan bangsa ini.

Di masa Orde Baru, kebencian terhadap Islam tak berhenti. Arswendo Atmowiloto, sekitar tahun 1990 membuat polling di Tabloid Monitor, yang lagi-lagi menistakan Islam. Ia dihukum penjara.

Pascareformasi, api kebencian terhadap Islam seolah tak juga padam. Islam disudutkan, aktivisnya dibunuh, ulama dihina dina, ada yang dimasukan dalam penjara. Rentetan kebencian Islam itu dikemas dalam drama teroris yang kental dengan penyudutan Islam. Terakhir, peritstiwa Siyono seolah membuka tabir drama tersebut hingga masyarakat tak percaya lagi dengan isu teroris.

Kini, giliran Ahok menistakan Alquran. Sekaligus menistakan ulama. Seluruh masyarakat Muslim murka dan mendesak keadilan hukum. Belakangan, ulah Ahok makin dinilai keterlaluan dalam sidang kedepalan yang mengancam Kiai Ma’ruf.

Mulai tokoh bangsa sampai para ulama mengeluarkan kecaman kerasnya. Seluruh elemen Islam bangkit melawan. Terlebih Kiai Ma’ruf menjadi representasi Ulama sepuh yang sangat dihormati dan dimuliakan umat Islam Indonesia.

Sampai-sampai KH Didin Hafiduddin menyebut Ahok membahayakan. Ulah Ahok dan kuasa hukumnya tak hanya menyenggol kemarahan umat, melainkan turut mengancam ketenangan bernegara terkait kontroversi penyadapan.

Secara politik, sejak lama Ahok sudah keok. Jauh sebelum ramai kasus penistaan agama muncul, 27 September 2016. Baca: “Kisah Pak Tono dan Tamatnya Karier Ahok”, Republika Online, 14 September 2016.

Pelbagai dugaan kasus korupsinya tak pernah bisa hilang dari ingatan masyarakat. Walau media pendukung dan proses hukum berjalan amat lucu.

Ingatan masyarakat juga tak pernah hilang dengan pembelaan Jokowi terhadap Ahok yang amat telanjang dipertontonkan. Terbaru, dalam kasus ancaman terhadap Kiai Ma’ruf, Luhut sampai datang ke rumah Kiai. Jauh dari tupoksinya.

Secara sosial, tak mungkin ada lagi yang bisa menyelamatkan Ahok. Ketajaman lidah, kesombongan, keplin-planan, keangkuhan, dan kebengisannya terhadap masyarakat Jakarta, terutama penduduk yang digusur sulit dilupakan.

Secara budaya, apalagi. Betapa Ahok sangat arogan menginjak kaum Betawi, yang notabene pemilik Jakarta. Pertanyannya, bagaimana secara hukum? Walau telanjang pembelaan terhadap Ahok dibandingkan kasus serupa sebelumnya, tetap saja Ahok tak akan bisa lolos.

Penguasa boleh membelanya. Konsekuensinya, masyarakat takkan pernah lagi percaya kepada penegak hukum. Sebaliknya, semakin hukum membela, semakin bangkit persatuan umat. Semakin menguat kekuatan rakyat.

Pemerintah kini dibenturkan pada dua pilihan: mempertahankan Ahok atau kepercayaan publik.

Apa pun itu, sejarah membuktikan, siapa pun yang menistakan Islam, ia akan tenggelam. Bahkan, fakta itu selalu terjadi sejak era Kenabian. Bukan hanya dalam sejarah perjalanan Nusantara. Hanya waktu dan cara yang membedakannya.

Ahok masih berharap pilgub? Itu sama saja buang-buang waktu dan biaya. Hanya kecurangan yang sanggup memenangkannya. Dan risiko itu tak mungkin diambil bandar. Cukup sudah bangsa ini dibentur-benturkan.

Kita kembalikan lagi tatanan ajeg di Ibu Kota dan Indonesia. Semakin umat diinjak, semakin kuat persatuan. Itu adalah panggilan jiwa dari Sang Maha, sunatullah, yang takkan mampu manusia dan seluruh makhluk di Bumi mengubahnya.

Satu tugas pihak independen yang kiranya patut dilakukan: membuka kembali catatan medis dan psikologis Ahok dan perlihatkan kepada publik. Selamat tinggal Ahok, selamat datang persatuan. Shalaallahu alaa Muhammad.
*) Pemerhati sosial

(Sumber : Republika Online)

Pengurus Pusat dan 34 Pimpinan MUI Provinsi Tak Rela Ahok Temui Kiai Ma’ruf Amin

0

PERCIKANIMAN.ID – – Ketua Dewan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Muhyiddin Junaidi mengungap, pihaknya menolak upaya terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahja Purnama (Ahok) untuk menemui Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin. Penolakan itu setelah aksi Ahok yang dianggap arogan dengan mengancam Kiai Ma’ruf yang bersaksi di persidangan.

“Seluruh pengurus pusat dan 34 pengurus MUI provinsi menolak keras upaya rencana Ahok bertemu dengan Ketua Umum MUI, Kiai Ma’ruf Amin,” katanya dilansir dari okezone, Jumat (3/2/2017).

Penolakan tersebut dikarenakan akhlak Ahok yang dianggap kurang baik, bahkan dianggap dapat menimbulkan kegaduhan dan memecah belah masyarakat.

“Karena sifat Ahok labil, ceroboh dan mulutnya enggak bisa dijaga, sehingga itu membuat kemarahan semua pimpinan MUI bahkan umat Islam se-Indonesia,” tegasnya.

Meskipun marah, Muhyiddin meminta kepada seluruh elemen masyarakat, terutama yang tergabung dalam ormas keagaamaan untuk tetap menjaga diri dan tidak melakukan perbuatan melawan hukum

“Imbaun  meminta kepada semua pihak ormas Islam untuk menjaga diri tidak boleh menjadi hakim sendiri, tidak boleh melawan hukum selalu berkoordinasi dengan pimpinan MUI di manapun berada, merapatkan barisan. Menyeleksi berita ada yang benar atau tidak, kita perlu jernih dan teliti dalam membaca dan memilih (berita), sehingga tidak mudah terprovokasi,” tutupnya.

 

Warga NU Tarik Dukungan Untuk Ahok

Sementara itu Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, sebagai petahana pada gelaran Pilgub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akan mengalami kerugian yang besar lantaran bersitegang dengan Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin, yang juga Rais Aam PBNU.

Kiai Said memastikan bahwa tindakan Ahok dan kuasa hukumnya terhadap KH Ma’aruf Amin di persidangan kasus penodaan agama akan membuat warga NU menarik dukungannnya untuk calon gubernur nomor urut dua tersebut.

“Nanti yang rugi Ahok sendiri. Masyarakat NU yang di DKI tak akan memilih dia,” tegas Kiai Said di Jakarta, Kamis 2 Februari 2017.

Menurut Kiai Said, Ahok telah membuat kesalahan lantaran memojokkan KH Ma’aruf Amin yang dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan dirinya itu. Tindakan Ahok dan kuasa hukumnya itu tentu memantik kemarahan dari warga Nahdliyin.

“Semua warga NU tersinggung, malah ada yang emosi,” tandasnya.

Seperti diketahui, Ahok sendiri sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf atas tindakannya di persidangan. KH Ma’aruf Amin pun telah memaafkan Ahok. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Foto:mui.org

Keistimewaan Jaring Laba-Laba Dalam Alquran dan Sains

0

PERCIKANIMAN.ID – – Laba-laba diabadikan dalam Alquran yakni dalam surat Al Ankabut (surat ke 29) yang berarti laba-laba. tentunya memiliki keistimewaan. Buku ‘Alquran vs Sains Modern menurut Dr. Zakir Naik’ menjelaskan jaring laba-laba yang menjadi inspirasi ilmuwan. Dalam buku ini, dijelaskan bahwa ilmuwan Jelinski dan koleganya dari Cornell University, Itacha, New York, telah melakukan penelitian di laboratorium dan mengungkap rahasia dari laba-laba.

Terungkap bahwa jaring laba-laba terbuat dari molekul-molekul berbentuk serat, yang tersusun dari residu asam amino glisin 42 persen, alanin 25 persen, dan 33 persen sisinya glutamin, serin dan triosin. Laba-laba memiliki struktur yang terorganisir rapi seperti kristal, memiliki ketahanan terhadap air dan kekuatan lima kali lebih besar ketimbang baja dengan ukuran yang sama. Jaring laba-laba juga dua kali lebih lentur dibandingkan serat nilon.

Oleh karena kuatnya serat pada jaring laba-laba, sehingga dikembangkan sebagai bahan tekstil tahan peluru, bodi mobil, penguat material komposit untuk peralatan elektronik dan bahan pesawat terbang. Laba-laba juga sebagai inspirasi bagi penciptaan material baru yang berasal dari makhluk hidup. Bahkan, laba-laba menginspirasi para arsitek dari Jerman dalam mengembangkan konstruksi yang sangat kuat dan tipis. Laba-laba disebutkan dalam sebuah ayat Alquran.

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui,” (QS. Al-Ankabut : 41).

Meskipun disebutkan dalam Alquran bahwa rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, namun dalam buku Alquran vs Sains Modern disebutkan bahwa laba-laba membuat jaring jebakan yang amat kuat untuk mencari mangsa yang terperangkap. Jaring laba-laba dan rumahnya yang rapuh juga penggambaran kehidupan.

Pertahanan rumah laba-laba bisa rusak bila terkena tiupan angin kencang, atau ada tangan-tangan manusia yang merusak serta mengusiknya. Allah memberikan perumpamaan, di mana kehidupan seseorang bisa rapuh apabila dibangun tanpa dasar iman dan Islam. Cepat atau lambat pertahanan itu akan rusak, seiring besarnya angin fitnah yang bertiup dan semakin jauh dari Allah. [ ]

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Said Aqil Siroj: Warga NU Tidak Akan Pilih Pemimpin Yang Menyinggung NU

0

PERCIKANIMAN.ID – – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siroj mengungkapkan kerugian bagi orang yang menyinggung persaaan NU. Terlebih, jika orang itu hendak mengikuti pemilihan kepala daerah.

“Kalau menyinggung, orang NU nggak akan pilih,” katanya seperti dilansir republika online, Jum’at (2/2/2017).

Itu merupakan jawaban Said Aqil Siroj, saat tanggapi pertanyaan soal kerugian yang akan diterima mereka yang menyinggung perasaan NU. Hal itu bisa dibilang sangat merugikan, mengingat NU merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia.

Ia pun sempat menegaskan, bantahan terhadap tuduhan Basuki Tjahaja Purnama maupun tim pengacaranya bahwa PBNU memberikan dukungan kepada Agus Yudhoyono. Said menegaskan, tidak ada titipan apapun dari presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Sementara itu Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) menyayangkan, sikap Ahok kepada Kiai Ma’ruf Amin. Dia menilai, wajar jika warga Nahdlatul Ulama (NU) bereaksi atas sikap Ahok tersebut.

“Mungkin warga Nu yang milih Ahok harus mikir dulu,” ujar pria yang akrab disapa Gus Sholah itu .

Gus Sholah tidak cukup yakin sosok seperti Ahok bisa dipercaya untuk menjadi seorang pemimpin. Pasalnya, semua yang Ahok lakukan dengan perasaan curiga tanpa menghargai orang lain.

Sikap Ahok kepada Kiai Ma’ruf, kata Gus Sholah, membuktikan dia sudah kehilangan kendali dalam berucap. Sikap seperti itu, menurut Gus Sholah, menunjukkan bahwa dia bukan pemimpin yang baik.

“Apa orang kayak gini bisa dipercaya, bisa diandalkan,” kata Gus Sholah yang juga adik Almarhum Gus Dur ini.

 

Red: admin

Editor: iman

Foto: nuonline

 

 

Belajar Kesahajaan Dari Rumah Tangga Ali Dan Fatimah

0

 

PERCIKANIMAN.ID – – Keluarga yang sakinah mawadah warahmah adalah keluarga yang taat syariah. Keluarga yang taat syariah senantiasa diliputi dengan ketenangan, kebahagiaan, dan kasih sayang sudah pasti akan diliputi keharmonisan dan jauh dari konflik. Segala persoalan dalam rumah tangga diselesaikan dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan ketaatan kepada Allah Swt. dan bukan dengan jalan emosional, keputusasaan, dan maunya menang sendiri. Pertanyaannya, adakah keluarga semacam itu?

Ada, dan tidak lain adalah keluarga Rasulullah Saw. Tanpa mengurangi rasa kagum pada cara Rasul memimpin istri dan anak-anaknya, kita juga bisa belajar dari rumah tangga putri beliau, yaitu Fatimah Az-Sahra RA dan Ali bin Abi Thalib RA. Ya, keluarga mereka juga patut menjadi cermin keluarga harmonis yang selalu diliputi kebahagiaan dan kedamaian.

Fatimah yang Giat Beribadah

Fathimah adalah putri keempat Rasulullah Saw. dan Khadijah Al-Kubra. Dalam kehidupan berumah tangga, ia adalah seorang figur dan dalam hal beribadah kepada Allah ia juga dikenal sebagai teladan. Setelah selesai dari semua kewajiban sebagai ibu rumah tangga, Fatimah akan dengan penuh khusyuk dan rendah hati beribadah kepada Allah serta berdoa untuk kepentingan orang lain.

Imam Shadiq meriwayatkan dari kakek-kakeknya bahwa Imam Hasan bin Ali berkata, “Di setiap malam Jumat, ibuku beribadah hingga fajar menyingsing. Ketika ia mengangkat tangannya untuk berdoa, ia selalu berdoa untuk kepentingan orang lain dan ia tidak pernah berdoa untuk dirinya sendiri. Suatu hari aku bertanya kepadanya, ‘Ibu, mengapa kau tidak pernah berdoa untuk diri Anda sendiri sebagaimana kau mendoakan orang lain?’ ‘Tetangga harus didahulukan, wahai putraku,’ jawabnya singkat.”

Saling Bahu Menjalankan Tugas Suami Istri

Fatimah dan Ali senantiasa saling bahu dalam menegakkan tiang kehidupan rumah tangga yang selalu dilandaskan pada hubungan cinta kasih, tolong menolong, kerja sama, dan saling menghormati. Pada suatu hari, Fatimah jatuh sakit. Ali pun sedih. Ali menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan Fatimah dan menggantikan tugasnya selama sakit.

Beristirahatlah agar sakitmu segera hilang,” katanya kepada Fatimah.

Aku telah cukup beristirahat, sampai-sampai aku malu apabila melihatmu mengerjakan tugas-tugas seorang ibu,” jawab Fatimah dengan suara lirih.

Jangan pikirkan itu. Bagiku semua itu sangat menyenangkan. Lagipula, setelah engkau sembuh nanti, semua tugas, engkaulah yang akan mengerjakannya,” ujar Ali.

Wahai istriku, adakah engkau menginginkan sesuatu?” tanya Imam Ali dengan tiba-tiba.

Fatimah terdiam sebentar, kemudian berkata, “Sesungguhnya sudah beberapa hari ini aku menginginkan buah delima.”

“Baiklah, aku akan membawakannya untukmu dengan rezeki yang diberikan Allah kepadaku,” kata Ali sambil bersiap keluar rumah. Ali langsung menuju pasar meskipun dengan uang pas-pasan.

Kisah tersebut di atas sudah sepatutnya dapat menginspirasi suami istri untuk saling menghargai. Meski berkedudukan sebagai kepala rumah tangga, Ali tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh kaum wanita. Ini merupakan tanda bukti kecintaan Ali pada istri yang sangat disayanginya. Sebaliknya, Fatimah juga selalu memberi dukungan penuh terhadap suaminya ketika sedang menjalankan tugas negara atau segala hal yang berhubungan dengan perjuangan menegakkan ajaran Islam. Selain itu, Fatimah juga dikenal sebagai pribadi yang mau mengesampingkan kepentingan dirinya demi perjuangan Islam serta semua ajarannya.

Saat Menghadapi Krisis Ekonomi

Saat menjalani krisis ekonomi, pernah tiga hari Fatimah tidak makan dan ketika Ali melihatnya pucat, ia berkata, “Ada apa denganmu wahai Fatimah?”

Fatimah menjawab, “Selama tiga hari kami tidak ada (makan) apa-apa di rumah”.

Ali berkata, “Kenapa kamu tidak memberitahu aku?”

Fatimah menjawab, “Pada malam pertama, ayahku Rasulullah Saw. berkata kepadaku: ‘Wahai Fatimah, jika Ali datang membawa sesuatu makanlah, jika tidak jangan kamu minta.’”

Rupanya Fatimah mengerti benar posisi Ali pada saat itu. Kesibukan Ali dalam berdakwah dan berjihad membuat Fatimah tidak mau mengusiknya dengan masalah ekonomi rumah tangga agar konsentrasi suaminya tidak terpecah. Pengertian dan kesabaran Fatimah bukanlah hal yang tanpa pemahaman: mana yang termasuk kesesangsaraan dan mana yang termasuk amalan baik. Menahan lapar apabila dikerjakan karena Allah Swt. dan diniatkan agar suami tidak terbebani akan menjadi amalan yang mendapatkan pahala besar dari-Nya.

Isyarat penting dalam kisah tersebut adalah bahwa persoalan ekonomi dan tekanan kebutuhan rumah tangga tidak harus menjadi hal yang menimbulkan konflik. Segala persoalan rumah tangga apabila diselesaikan dengan penuh sakinah mawadah warahmah (ketenangan, kebahagiaan, dan kasih sayang), isnya Allah akan membuat hubungan suami istri tetap harmonis.

Pada suatu kesempatan, Ali bertanya kepada Fatimah mengenai boleh tidaknya ia mendapatkan pembantu dari Rasulullah Saw. Ketika Fatimah datang ke rumah ayahnya, banyak tamu yang datang menemui beliau sehingga Fatimah tidak bisa mengutarakan maksudnya. Keesokan harinya, Rasul datang ke rumah Ali dan Fatimah. Ketika Rasulullah Saw. bertanya kepada Fatimah tentang maksud kedatangannya kemarin, Fatimah diam saja. Karenanya, Ali pun menceritakan hal yang dimaksud namun Rasulullah Saw. tidak mengabulkan keinginan mereka untuk memiliki pembantu tersebut. Rasul Saw. bersabda, “Bertakwalah kepada Allah, tunaikanlah tugasmu terhadap-Nya, lakukan pekerjaan rumahmu seperti biasa, ucapkanlah subhanallah, alhamdulillah dan Allahu Akbar, ucapan ini akan lebih membantu kalian daripada seorang budak.”

Ketika Ali dan Fatimah Berselisih

Kehidupan harmonis Ali dan Fatimah bukannya tanpa mengalami perselisihan. Suatu ketika, Ali pernah berbuat kasar kepada Fatimah. Fatimah kemudian mengancam Ali, “Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah Saw!” Fatimah pun pergi kepada Nabi Saw. dan Ali mengikutinya.

 

Sesampainya di hadapan Rasul, Fatimah mengeluhkan tentang kekasaran Ali. Nabi Saw. pun menyabarkannya, “Wahai putriku, dengarkanlah, pasang telinga, dan pahami bahwa tidak ada kepandaian sedikit pun bagi wanita yang tidak membalas kasih sayang suaminya ketika dia tenang.”

Ali berkata, “Kalau begitu, aku akan menahan diri dari yang telah kulakukan.”

Fatimah pun berkata, “Demi Allah, aku tidak akan berbuat apapun yang tidak kamu sukai.”

Disebutkan juga dalam riwayat lain bahwa pernah terjadi pertengkaran antara Ali dan Fatimah. Lalu Rasulullah Saw. datang dan Ali menyediakan tempat untuk Rasulullah Saw. berbaring. Kemudian Fatimah datang dan berbaring di samping Nabi Saw. Ali pun berbaring di sisi lainnya. Rasulullah Saw. mengambil tangan Ali dan meletakkannya di atas perut beliau, lalu beliau mengambil tangan Fatimah dan meletakkannya di atas perut beliau. Selanjutnya beliau mendamaikan keduanya sehingga rukun kembali, Setelah itu barulah beliau keluar. Ada orang yang melihat kejadian itu lalu berkata kepada Rasulullah Saw., “Tadi engkau masuk dalam keadaan demikian (murung), lalu engkau keluar dalam keadaan berbahagia di wajahmu.” Ia menjawab, “Apa yang menahanku dari kebahagiaan, jika aku dapat mendamaikan kedua orang yang paling aku cintai?”

Istri mana yang tidak mengharapkan belaian mesra dari seorang suami. Namun bagi Fatimah, saat-saat berjauhan dengan suami adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah Swt. untuk mencari kasih-Nya dalam ibadah-ibadah yang ia lakukan. Sepanjang kepergian Ali, hanya anak-anak yang masih kecil yang menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya (Hassan, Hussein, Muhsin, Zainab, dan Umi Kalsum) diusahakannya sendiri. Untuk mendapatkan air, dia berjalan jauh dan menimba dari sumur yang 40 hasta dalamnya di tengah sinar matahari padang pasir yang terik. Kadangkala harus menahan lapar sepanjang hari. Bahkan ia sering juga berpuasa yang membuat tubuhnya kurus hingga menampakkan tulang di dadanya.

Pernah suatu hari, ketika ia sedang asyik bekerja menggiling gandum, Rasulullah datang berkunjung ke rumahnya. Fatimah yang amat keletihan ketika itu meceritakan problem rumah tangganya. Ia bercerita betapa dirinya telah bekerja keras, menyaring tepung, mengangkat air, memasak, serta melayani kebutuhan anak-anak. Ia berharap agar Rasulullah dapat menyampaikan kepada Ali agar Ali mencarikannya seorang pembantu.

Rasulullah Saw. merasa kasihan terhadap permasalahan rumah tangga anakanya itu. Namun beliau sangat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya sewaktu di dunia untuk memudahkannya di akhirat. Mereka yang rela bersusah payah dengan ujian di dunia demi mengharapkan keridhaan-Nya adalah orang yang akan mendapat tempat di sisi-Nya. Lalu dibujuknya Fatimah sambil memberi harapan dengan janji-janji Allah. Beliau mengajarkan zikir, tahmid, dan takbir yang apabila diamalkan, segala permasalahan dan beban hidup akan terasa ringan. Ketaatannya kepada Ali akan menyebabkan Allah Swt. mengangkat derajatnya. Sejak saat itu, Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarganya. Ia juga tidak meminta sesuatu yang dapat menyusahkan suaminya.

Dalam kondisi itu, kemiskinan tidak menghilangkan semangat Fatimah untuk selalu bersedekah. Ia tidak sanggup kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Ia tidak rela hidup senang di kala orang lain menderita. Bahkan ia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberi sesuatu, meskipun dirinya sendiri sering kelaparan.

Jangan Segan Meminta Maaf

Pernah suatu hari Fatimah menyebabkan Ali kesal. Menyadari kesalahannya, Fatimah segera meminta maaf berulang kali. Fatimah terngiang nasihat Rasul, “Wahai Fatimah, kalaulah di kala itu engkau mati sedang Ali tidak memaafkanmu, niscaya aku tidak akan menshalatkan jenazahmu.” Ketika dilihatnya air muka suaminya tidak juga berubah, ia pun berlari-lari seperti anak kecil mengelilingi Ali dan meminta dimaafkan. Melihat aksi istrinya tersebut, Ali tersenyumlah dan lantas memaafkan istrinya itu.

Begitulah rumah tangga Fatimah dan Ali. Sungguh sebuah potret rumah tanggal sakinah, mawadah, warahmah yang patut ditiru.[Berbagai sumber]

 

 

Red: ahmad

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Hakikat Dzikir Itu Seperti Apa?

0

 

 

 

 

Pak Aam mohon di jelaskan cara berdzikir yang benar. Apa benar dizikir itu hanya sekedar ingat kepada Allah tanpa memaksimal ibadah lainnya?. Terima kasih ( Fitria by email)

 

 

 

 

 

 

Dzikir ( الذكر ) menurut bahasa artinya “ingat”. Secara lebih luas makna dzikir atau juga disebut dengan dzikrullah adalah mengingat Allah atas dasar cinta dan rindu sehingga berupaya taqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya, dan melakukan  aktivitas yang berorientasi untuk menjadi kekasih Allah. Dalam Al Quran banyak disebut tentang dzikir ini:

 

Hai, Bani Israil! Ingatlah pada nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu. Penuhi janjimu kepada-Ku, pasti Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan hanya kepada-Ku, kamu harus tunduk (taat).”(Q.S. Al-Baqarah 2 : 40)

 

Meski secara spesifik ayat tersebut menyebut Bani Israil untuk ingat kepada Allah namun tentu makna adalah menyuruh kepada manusia atau khususnya orang-orang yang berimana. Cara berdzikir setidaknya ada tiga yakni dengan perbuatan, hati dan lisannya.

 

  • Dzikir dengan perbuatan (dzikir bil-amal), yaitu mengingat Allah dengan perilakunya, beramal shalih, shalat, silaturrahmi dan sebagainya.
  • Dzikir dengan hati (dzikir bil-qalb), yaitu : Mengingat Allah dengan hati.
  • Dzikir bil-lisan, yaitu : Mengingat Allah dengan ucapan. Dzikir bil-lisan dibagi dua, yaitu: Dzikir ma’tsurat adalah lafadz-lafadz dzikir yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw dan dzikir ghair ma’tsurat adalah lafadz-lafadz dzikir yang bersumber dari para ulama atau dari ungkapan bahasa

 

Berkenaan dengan dzikir ada situasi atau objeknya sehingga kita diminta untuk berdzikir. Para ulama setidaknya menjabarkannya dalam beberapa situasi dalam membagi objek dzikir ini antara lain:

 

  • Dzikrullah yakni berdzikir kepada Allah secara mutlak dalam keadaan apapun dan kapan pun.

Tidak satu pun kaum yang berdzikir Kepada Allah kecuali akan dikelilingi Malaikat dan dirahmati” (HR. Tirmidzi)

 

  • Dzikrul Maut ini berkenaan dengan situasi kematian atau saat kita mengingat kematia.

Perbanyaklah mengingat pemusnah kelezatan yakni Kematian (Maut).” ( H.R. Ibnu Majah)

 

  • Dzikrul Adzab. Kisah atau cerita tentang negeri atau kaum yang di adzab oleh Allah dalam Al Quran tentu membuat kita menjadi takut dan berusaha untuk dijauhkan dari adzab tersebut. Sebab bisa saja Allah juga akan mengadzab kita jika kita juga berperilaku seperti mereka.

Sesungguhnya aku takut pada adzab hari kiamat, jika aku mendurhakai Tuhanku.” (Q.S. Al-An’aam 6 : 15)

 

  • Dzikru Nikmat. Ini berkenaan dengan ribuan bahkan tak dapat kita hitung dengan angka atas nikmat yang Allah berikan kepada kita dari bangun tidur hingga tidur kembali semuanya penuh nikmat. Kita harus berdzikir kepada Allah karena hakikatnya segala nikmat tersebut datangnya dari Allah.

Hai manusia, ingatlah akan  nikmat Allah kepadamu. ..” (QS. Faathir 35:3)

 

Semoga kita menjadi ahli dzikir yang senantiasa ingat kepada Allah dimana pun dan kapan pun sehingga Allah juga ingat dan menolong kepada kita. Wallahu’alam. [ ]

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Pernyataan Ahok Kepada KH. Ma’ruf Amin Bukti Tak Memiliki Moral Kebangsaan

0

PERCIKANIMAN.ID – – Ketua Komisi VIII DPR Muhammad Ali Taher Parasong menyesalkan sikap yang ditunjukkan terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kepada Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin dalam sidang kedelapan kasus tersebut pada Selasa (31/1) lalu.

“Pernyataan itu sangat emosional, tendesius tidak memiliki nilai etika dan moral kebangsaan, menyakiti perasaan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya, yang memegang teguh kesantunan serta kepatutan dalam pergaulan sosial dan politik,” kata Ali Taher di Jakarta, seperti dilandsir dari antara, Kamis (2/2/2017).

Politikus PAN itu menilai, sikap Ahok dapat berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa yang selama ini dirawat bersama oleh setiap elemen bangsa. Ia menilai, sikap Ahok itu menunjukkan seseorang yang tidak memahami hakekat nilai persatuan dalam persaudaraan dalam konteks negara Indonesia yang beradab dan bermartabat serta menjungjung tinggi keluhuran budi pekerti sebagaimana prinsip yang ditanamkan dalam Pancasila.

“KH Ma’ruf merupakan sosok yang cukup dihormati di kalangan Nahdatul Ulama (NU). Ahok harus meminta maaf kepada Ketua MUI secara langsung dan masyarakat serta warga NU agar peristiwa ini dapat diredam,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam sidang dugaan penistaan agama pada Selasa (31/1), Ahok menilai saksi yang dihadirkan yaitu KH Ma’ruf Amin menutupi bukti tentang adanya telepon dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada Ma’ruf agar yang bersangkutan bertemu dengan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni.

Karena Ma’ruf membantah adanya telepon itu, Ahok mengatakan akan memproses secara hukum ketua MUI tersebut. Dalam perkembangannya, Ahok telah meminta maaf kepada Ma’ruf Amin dan berjanji tidak akan melaporkan Ketua Umum MUI itu ke kepolisian atas kesaksian di persidangan.

Sementara itu Panglima Lapangan Gerakan Pengawal Fatwa MUI (GNPF) Munarman menilai intimidasi yang dilakukan terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terhadap Ketua MUI KH Ma’ruf Amin bukan kekhilafan.

Dia menambahkan intimidasi oleh terdakwa dan kuasa hukumnya terhadap KH Ma’ruf Amin adalah bukti nyata bagaimana terdakwa dan kuasa hukumnya begitu arogan dan sok kuasa.

”Tentu saja, hal tersebut tidak bisa dilihat sebagai kekhilafan semata karena apa yang terjadi dipersidangan adalah sudah berulangkali terjadi dan berulang kali dilakukan terhadap saksi lainnya,” ungkap Munarman melalui pesan aplikasi daring kepada Republika.co.id, Rabu (1/2/2017).

Menurutnya, perlakuan terhadap KH Ma’ruf Amin tersebut sudah di luar batas dan sudah merupakan sikap yang merendahkan ulama. “Hal tersebut tidak bisa lagi ditoleransi karena sudah merupakan hal yang bersifat sistematis dan terencana untuk merendahkan posisi ulama,” ujar Munarman.

Dalam persidangan kasus penistaan agama di Kantor Kementerian Pertanian pada Selasa (31/1) yang menghadirkan saksi Ketua MUI Kiai Ma’ruf Amin, Ahok sempat menyatakan Kiai Ma’ruf menutupi identitas diri pernah menjadi anggota Wantimpres, bertemu dengan paslon calon Gubernur dan Wagub DKI Jakarta nomor urut satu dan menyebut Kiai Ma’ruf tidak pantas menjadi saksi karena tak objektif. Ahok mengaku memiliki bukti atas perkataannya tersebut.

Dalam persidangan pula, kuasa hukum Ahok menyebut Kiai Ma’ruf mendapat pesanan dari SBY untuk menerbitkan fatwa penistaan agama. Kuasa hukum terdakwa juga menyatakan Kiai Ma’ruf sempat ditelepon SBY untuk mengatur pertemuan dengan Agus-Sylvi. [ ]

 

 

Red: admin

Editor: amin

Foto: antara