Beranda blog Halaman 383

Yusril Nilai Pemunculan Simbol Komunis Seperti Sengaja dan Sistematis

0

PERCIKANIMAN.ID – – Mantan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yusril Ihza Mahendra mengingatkan umat Islam agar mewaspadai munculnya simbol palu arit di berbagai tempat. Pemunculan simbol komunis itu tampak seperti sengaja, sistematis, dan makin hari makin meluas.

“Saya menyerukan kepada warga, simpatisan dan pendukung Partai Bulan Bintang khususnya dan umat Islam umumnya agar  berhati-hati dan waspada,” kata Yusril yang juga Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) ini seperti dilansir republika.co.id, Jumat (10/2/2017).

Simbol palu arit yang merupakan lambang komunis dan Partai Komunis Indonesia (PKI), belum lama ini secara tiba-tiba muncul di Madura, dekat pondok pesantren yang besar dan berpengaruh, Pesantren Banyu Anyar dan Darut Tauhid.

Di daerah-daerah lain, kata Yusril, simbol komunis itu sering pula dimunculkan dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Yusril mengatakan, Munculnya simbol komunis itu bisa benar-benar dilakukan oleh anak cucu dan simpatisan PKI zaman dahulu. Namun, kata dia, bisa pula aksi pancingan agar ada keresahan dan kemudian reaksi  dari umat Islam.

“Dalam sejarah politik di negeri kita, warga Bulan Bintang atau keluarga Masyumi adalah sasaran utama PKI untuk dihabisi,” katanya.

Pembunuhan dan pembantaian terhadap keluarga Masyumi, kata dia, mulai terjadi sejak Peristiwa Madiun tahun 1948. Pembunuhan terus berlanjut secara sporadis sampai Masyumi dibubarkan tahun 1960, yang salah satu penyebabnya adalah sikap anti-komunis dan anti-nasakom yang dipaksakan untuk diterima di zaman itu.

Bangsa Indonesia, kata dia, sedang diuji dan diobok-obok dimulai dengan keresahan dan menumbuhkan rasa curiga satu sama lain. Kecurigaan ini nilainya, lama kelamaan bisa memancing bentrokan.

“Inilah yang dinamakan konflik sosial yang mendorong terjadinya perang saudara. Kalau bangsa ini terpecah belah, dengan mudah negara ini jatuh pada kekuatan-kekuatan asing,” katanya.

Sejalan dengan amanat ketetapan MPRS tahun 1966 yang hingga kini masih berlaku, kata Yusril, pemerintah seharusnya bersikap tegas menindak penyebar simbol-simbol komunisme yang meresahkan masyarakat.

Arahan seperti itu, kata Yusril, seharusnya datang dari Presiden dan dilaksanakan secara konsisten oleh aparat penegak hukum di seluruh Tanah Air. “Jangan keadaan seperti ini dibiarkan berkembang dalam masyarakat kita,” katanya.

Kepada segenap warga, pendukung, dan simpatisan Bulan Bintang, Yusril menyerukan, agar meningkatkan kewaspadaan. Selain itu, warga PBB dan keluarga besar Masyumi diimbau tetap sabar dan berhati-hati, serta mewaspadai ancaman yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Yusril menyebut, dengan memperkuat keimanan dan ketakwaan serta keyakinan kepada ajaran Islam, umat Islam dapat menghindari provokasi yang bertujuan memecah belah masyarakat. Begitu juga, dengan pemahaman yang sungguh terhadap makna Pancasila, bangsa Indonesia akan terhindar dari provokasi PKI.

“Pancasila dapat menyatukan seluruh komponen bangsa, sebaliknya komunisme tidak mendapat tempat di negara yang berlandaskan kepada Pancasila,” katanya. [ ]

 

 

Red: admin

Editor: iman

Foto: antara

 

Pernyataan JITU di Hari Pers Nasional

0

 

PERCIKANIMAN.ID – – Organisasi profesi wartawan muslim, Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menyatakan rasa syukur atas peringatan Hari Pers Nasional yang digelar di Ambon pada tahun 2017 ini. Namun, JITU juga menilai masih banyak persoalan terkait persoalan media yang perlu diselesaikan seperti mengenai PR masih adanya pemblokiran terhadap pers, khususnya pers Islam. Berikut pernyataan lengkap JITU yang diterima oleh redaksi

Assalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh

Sehubungan dengan peringatan Hari Pers Nasional 2017 dan rencana Dewan Pers untuk meluncurkan inovasi barcode media di acara tersebut, maka kami Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menyampaikan sikap:

Hari Pers Nasional (HPN) pada tahun 2017 digelar di Kota Ambon. Kegiatan HPN yang rutin dilakukan setahun sekali ini menandai era baru pers yang bermartabat. Pers sebagai pengawal jati diri bangsa memang sudah seharusnya menjadi perhatian banyak pihak. Namun di tengah hiruk pikuk kebebasan pers yang lahir atas buah reformasi, masih banyak persoalan yang melingkupi, utamanya masih terjadinya upaya pembredelan/pemblokiran terhadap sejumlah media, dan yang terbaru. Karena itu, di tengah HPN, Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menyatakan sikap:

  1. Pemerintah telah menetapkan bahwa hari ini adalah Hari Pers Nasional. Peringatan hari pers tahun ini dipusatkan di Ambon dan dihadiri Presiden Jokowi. Ini semua adalah bentuk pengakuan negara akan keberadaan pers di Indonesia. Kita bersyukur akan hal ini.
  2. Namun sayangnya, pengakuan pemerintah akan keberadaan pers di Indonesia masih terasa setengah hati. Pemerintah hanya ingin mengakui sebagian saja dari insan media, sedang sebagian yang lain tidak. Ini terlihat jelas dari rencana pemerintah menerbitkan barcode kepada sebagian produk pers, sedang sebagian yang lain tidak. Juga aksi pemblokiran media-media Islam yang telah berulang kali dilakukan sejak pemblokiran pertama tahun 2015 lalu.
  3. Kami, Jurnalis Islam Bersatu, sangat mendukung segala upaya menjadikan seluruh insan pers di negeri ini agar bekerja sesuai kaidah profesi jurnalistik. Kami bahkan ikut menerbitkan kode etik jurnalis Muslim yang prinsipnya mengajak seluruh jurnalis Muslim untuk bekerja secara profesional sesuai kaidah jurnalistik yang berlaku umum berlandaskan pada Al-Qur’an, sunnah Rasulullah SAW, dan ijma’ ulama.
  4. Namun kami merasa sangat keberatan jika insan pers di negara ini tidak diberi peluang memiliki sudut pandang dalam melihat segala peristiwa di negeri yang kita cintai ini. Kami, sebagai jurnalis Muslim, tentu saja memiliki sudut pandang sebagaimana ulama memandang segala persoalan di negeri ini. Kami tidak mungkin mengharamkan apa yang diperbolehkan dalam Islam, dan membolehkan apa yang dilarang dalam Islam. Lagi pula, apa yang kami lakukan tersebut, tentu tak bertentangan dengan Pancasila yang jelas-jelas mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Sekali lagi, di Hari Pers ini, kami Jurnalis Islam Bersatu, mengajak kepada seluruh insan pers di negara ini untuk bekerja profesional. Semoga kiprah kita didunia jurnalistik bisa membuat negara ini menjadi lebih baik. Amin.
    Wassalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh

Jakarta, Kamis 9 Februari 2017

Tertanda
AgusAbdullah
Ketua Umum JITU

 

Islam Belum Diakui Agama Resmi di Italia

0

PERCIKANIMAN.ID – – Gelombang ketakutan pada kaum muslimin ( islamphobia) nampaknya masih menghantua masyarakat Eropa tak terkecuali negeri yang terkenal dengan pizza yakni Italia. Setidaknya terdapat 1,4 juta umat Islam yang tinggal di negeri para pecinta sepak bola dengan gelaran Serie A ini. Jumlah populasi ini membuat Islam menjadi agama terbesar kedua secara de facto. Tapi sayangnya, secara negara Islam belum menjadi agama resmi di Italia, tidak seperti Kristen dan Yahudi.

Belum adanya pengakuan ini membuat masjid di Italia tidak dapat menerima bantuan dana dari publik. Pernikahan Islam tidak memiliki nilai hukum dan pekerja Muslim tidak berhak untuk mengambil hari libur perayaan keagamaan.

Namun, saat ini, pemerintah dan asosiasi muslim setempat berusaha mencari jalan keluar agar Islam dapat segera diakui sebagai agama resmi di Italia. Bulan ini, Kementerian Dalam Negeri Italia dan sembilan asosiasi Islam menandatangani kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Organisasi Muslim sepakat untuk membuat data imam mereka dan meminta imam tersebut untuk berkhatbah di Italia menggunakan bahasa Italia. Sebagai imbalannya, pemerintah berjanji untuk memfasilitasi umat Islam agar memperoleh pengakuan resmi dari negara.

Kesepakatan yang diberi nama National Pact for an Italian Islam ini telah dipuji sebagai langkah pertama untuk normalisasi Islam di Italia. Namun pihak lain juga mengkritik bahwa kesepakatan tersebut  telah menciptakan standar ganda.

Ini dikarenakan, pemerintah tidak pernah meminta kelompok agama lain untuk menyampaikan khotbah dalam bahasa Italia. Gereja Katolik Roma secara teratur menyampaikan khotbahnya dalam  bahasa asing untuk memenuhi audiens internasional.

“Ini sebuah dokumen yang harus ditaati oleh Muslim. Kita harus membuktikan bahwa muslim adalah warga negara yang baik dan bukan orang jahat,” ujar  seorang sarjana Muslim yang berbasis di Milan, Yahya Pallavicini seperti dilansir washingtonpost dan dikutip republikaonline, Jumat (10/2/2017).

Saat ini, umat Islam Italia masih sering menerima perlakuan diskriminatif . Menurut survei Pew baru-baru ini, 69 persen warga Italia memiliki opini negatif tentang Muslim. Angka ini menjadi tertinggi di antara negara-negara Eropa yang disurvei. Media lokal juga sering mengkaitkan Islam secara keseluruhan dengan terorisme.

Untuk menghadapi pemilu yang akan datang, pemerintah juga membuat  perjanjian yang berkaitan dengan masalah keamanan. Menteri Dalam Negeri Marco Minniti menyiapkan, dokumen untuk perlindungan terhadap segala bentuk kekerasan dan terorisme selama pemilu berlangsung.

Sosiolog Muslim di Milan yang juga merupakan anggota dewan kota,  Sumaya Abdel Qader mengatakan, bahwa perjanjian merupakan langkah positif. Perjanjian menjadi sangat penting karena terjadi dialog antara pemerintah dan lembaga-lembaga Islam. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Hubungan Antara Ibadah dan Rezeki serta Kewajiban Atas Harta

0

PERCIKANIMAN.ID – – Bekerja adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan orang dewasa khususnya bagi para kaum bapak (suami) sebagai salah satu ikhtiar untuk memenuhi hajatnya. Bekerja dan rezeki adalah saling bekerkaitan, untuk menjemput atau meraih rezeki yang Allah anugerahkan orang harus berikhtiar dengan bekerja.  Namun dalam ajaran Islam ternyata hubungan rezeki bukan sebatas dengan bekerja saja, melainkan bersanding erat dengan ibadah. Mengapa demikian? Sebab dalam Islam rezeki tak selamanya berkaitan dengan banyak atau berlimpahnya harta, melainkan ada keberkahan dan halal haramnya dalam memperolehnya.

Untuk itu sesibuk apa pun aktivitas kita dalam menjemput rezeki dengan bekerja jangan lupa dan sempatkan untuk ibadah. Jangan khawatir dengan “istirahat” untuk ibadah rezeki kita akan beralahi kepada orang lain, sebab Allah Swt telaj menjamin rezeki semua makhluk-Nya. Sejumlah ayat Al-Quran dan hadits berikut ini melengkapi dan mempertegas hal itu. Ada kaitan antara iman, takwa, ibadah, shalat, dan rezeki. Jika rezeki seret, mari introspeksi, istighfar, dan segera menuju ampunan Allah Swt.

Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS Al-A’raf : 96).

Dan sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka.” (QS Al-Ma-idah:65-66).

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq:2-3)

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaha: 132).

Mempunyai harapan (raja’) adalah kekuatan batin orang beriman. Dengan beriman, takwa, ibadah, terutama sholat, Allah Swt sesuai dengan janji-Nya, tidak akan menahan rezeki kita. Jika rezeki seret, pailit, omzet menurun, bisnis lesu, dan sejenisnya, mari introspeksi diri: apakah ibadah kita menurun, sedekah menurun, zakatnya gak dibayar? Jika merasa sudah semua, apakah ikhlas?

Lalu bagaimana jika sudah mendapatkan harta dengan bekerja?. Bagi sebagian orang bekerja adalah cara untuk memperoleh harta dan menggunakannya dalam memenuhi semua hajatnya. Untuk itu tidak sedikit orang yang menjadikan harta sebagai alat untuk memenuhi segala kebutuhan untuk sekedar mendapa atau memperoleh kebahagian. Namun sebagai seorang yang beriman ada kewajiban yang harus dipenuhi atas harta yang telah Allah ‘titipkan’ kepada kita. Berikut kewajiban yang harus ditunaikan atas harta yang kita dapatkan atau miliki:

 

  • Pertama adalah mengeluarkan zakatnya.

Kebenaran akan eksistensi kewajiban ini sebagaimana ditegaskan Allah Swt sebagai berikut :

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku “(QS. Al Baqarah: 43)

Sebagai muslim harus mengerti dan meyakini bahwasanya zakat adalah termasuk kewajiban yang paling penting bagi kaum muslimin karena manjadi rukun Islam. Tetapi dalam kenyataannya masih banyak yang belum menunaikannya secara konsekuen dan disiplin. Sekiranya harta belum masuk waktu (haul) maupun jumlahnya (nisab) untuk berzakat maka masih ada kewajiban yang harus ditunaikan yakni infaq atau sedekah. Jika zakat ada takarannya maka tidak demikian dengan infaq atau sedekah.

  • Kedua, memberikan nafkah kepada istri, anak, maupun orang tua.

Lewat perantara orang tua, kita lahir ke dunia ini. Karena jerih payah dan jasa-jasa beliau berdua, agama mewajibkan anak-anak berbakti kepada dua orang tua yang populer dengan sebutan birr al-walidain. Manifestasi dari perintah ini bisa bermacam-macam seperti menghormati, menyayangi dan mencukupi kebutuhan hidup (nafkah) bila memerlukan. Anak yang belum dewasa menjadi tanggungan orang tuanya karena belum mampu menghidupi dirinya sendiri.

  • Ketiga, mencukupi kebutuhan pokok kaum dhuafa.

Keberadaan kaum dhuafa, fakir dan miskin adalah sunatullah sehingga dengan keberadaannya menjadikan kita berkesempatan untuk beramal. Kaum dhuafa tersebut kebutuhannya harus terpenuhi berupa sandang pangan dan papan (SPP) supaya dapat hidup secara manusiawi. Menurut para ulama, hal itu hukumnya fardhu kifayah atas orang-orang kaya (al-aghnya) yang mempunyai kekayaan melebihi jumlah yang mencukupi untuk hidup selama satu tahun beserta seluruh anggota keluarga dan kerabat yang wajib dinafkahi.

Sedekah dan menyantuni kaum dhuafa, fakir dan miskin adalah ibadah social yang yang ditunaikan baik secara kemanusiaan maupun dalam ikatan persaudaraan muslim.

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujarat: 10)

Dianjurkan pula memperbanyak sedekah sunnah dengan mengutamakan kerabat, tetangga dan pihak-pihak yang lebih membutuhkan. Karena sikap dermawan sangat dianjurkan dalam Al-Quran sebagaimana termaktub dalam ayat ini :

Dan siapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Dan sebaliknya, kebakhilan merupakan perilaku yang dicela. Perhatikan ayat yang melarang akan perilaku itu :

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dan karunia-Nya menyangka hahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. “(QS. Ali Imran: 180)

Demikian pentingnya kita bekerja, beribadah dan kaitannya dengan kewajiban dalam menunaikan kewajibannya atas harta. Ingat, bahwa dalam harta kita ada hak orang lain yang harus dipenuhi. Allah Swt sengaja ‘menitipkan’ orang lain tersebut untuk kita tunaikan. Bekerja dalam rangka menjemput rezeki Allah adalah bagian dari ibadah, menunaikan kewajiban atas harta kita adalah bagian dari ibdah pula. [ Berbagai sumber]

 

Red: ahmad

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

 

 

Olahraga Yoga Haram ?

0

Assalamu’alaikum. Wr.Wb.  Pak Aam mohon penjelasannya, saya aktif berolah raga dan suka mencoba beberapa olahraga baru termasuk yoga. Namun saya mendengar kalau olahraga ini (yoga) haram dilakukan umat Islam bahkan kabarnya sudah keluar fatwa dari MUI. Mohon dijelaskan pak ustadz. Terima kasih ( Eliza by email)

 

 

Wa’alaikumsalam.Wr.Wb. Ibu Eliza dan pembaca sekalian, pertanyan ini sering ditanyakan dan kalau tidak salah saya juga sudah menjawabnya beberapa kali. Namun kita akan coba bahas lagi, mudah-mudahan menjadi lebih jelas dan paham. Secara umum, yoga adalah salah satu sejenis olah raga yang tujuannya untuk menyehatkan baik fisik (raga) maupun jiwa untuk membuat kebugaran tubuh. Beberapa orang menyebut olah raga Yoga berasal dan dikembangkan dari luar Indonesia yang konon katanya berawal dari aktivitas do’a atau ritual agama non Islam.

Terkait dengan fatwa MUI yang mengharamkan olah raga yoga, maka harus dibaca secara utuh bahwa setelah saya membacanya dengan rinci dan diskusi dengan para ahli baik ahli fiqh maupun ahli kesehatan maka Yoga ada yang diterkategorikan sebagai aktivitas olah raga dan ada unsur ibadah atau ritual keagamaan. Dalam fatwa MUI tersebut, maka Yoga yang diharamkan adalah Yoga yang di dalamnya ada ritual agama lain. Ritual agama lain itu misalnya ada doa-doa khusus atau mantra-mantra yang dilafalkan baik sebelum maupun sesudah melakukan aktivitas Yoga dengan tujuan sebagai salah satu dari bagian ibadah agama lain tersebut.

Untuk Yoga yang demikian jelas MUI telah mengeluarkan fatwa haramnya melakukan Yoga jenis ini. Mengapa demikian? Karena dasarnya jelas kita tidak boleh mengikuti ritual ibadah agama lain baik sekedar lisan (doa/mantra) maupun dengan perbuatannya. Dalam Al Quran sudah ditegaskan:

dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, untukku agamaku.” (QS.Al-Kafirun: 4-6)

Dengan demikian jelas hukum haramnya mengikuti atau berolah raga Yoga jika ada unsur atau ritual agama lain dan itu diniatkan atau dimaksudkan sebagai salah satu ibadah. Sementara itu para ulama juga membolehkan Yoga sebagai olah raga untuk kesehatan saja dimana dalam beryoga tersebut tidak ada unsur atau diselipi ritual agama lain.

Jadi yang dimaksud dengan haramnya olah raga Yoga tidak semua. Adanya informasi bahwa Yoga haram hal itu karena cara penyampaiannya atau membaca penjelasannya fatwa MUI tidak secara utuh dan lengkap sehingga masyarakat khususnya kaum muslimin menganggap Yoga haram mutlak.

Secara keumuman Yoga adalah bagian dari olah raga yang bertujuan untuk membuat raga dan jiwanya sehat. Dalam ajaran Islam sendiri juga dituntut bahwa kaum muslimin itu harus sehat. Salah satu ikhtiar untuk sehat adalah dengan berolah raga apa pun, sepanjang yang disebutkan diatas yakni  tidak boleh ada dicampur dengan ritual ibadah agama lain. Terkait dengan gerakan sedekap tangan dalam Yoga selama itu hanya dimaksudkan untuk melatih konsentrasi atau relaksasi saja maka boleh dilakukan. Namun jika gerakan sedekap tersebut diikuti dengan membaca doa-doa atau mantra-mantra dalam agama lain yang dikaitkan dengan ritual ibadah maka haram untuk dilakukan. Sebab dalam akidah kita tidak boleh tercampur dengan keyakinan agama lain. Sementara ritual doa jika itu bagian dari ritual ibadah agama lain maka itu termasuk dari akidah agama lain.

Teladan kita yakni Rasulullah Saw adalah manusia paling sehat selama hidupnya. Beliau hanya sakit beberapa hari saja, itu pun menjelang beliau wafat saja. Ikhtiar untu tetap sehat dan fit salah satunya dengan rajin berolah raga. Dalam sebuah haditsnya Rasulullah bersabda mukmin yang sehat dan kuat lebih Allah sukai daripada mukmin yang lemah dan sakit.

Kalau kita baca dalam beberapa haditsnya Rasulullah aktif berolah raga, seperti berlari, naik kuda, memanah, bela diri, bermain pedang hingga berenang. Kita juga disunnahkan untuk berolah yang Rasulullah Saw sukai yakni berkuda, memanah dan berenang. Namun demikian tentu tidak semua harus kita lakukan setiap hari. Intinya bahwa seorang muslim itu harus sehat dan salah satu ikhtiar dari usaha untuk sehat adalah dengan berolah raga. Wallahu’alam. [ ]

Editor: iman

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

FUI Pastikan Aksi 112 Tetap Digelar

0

PERCIKANIMAN.ID – – Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath megatakan aksi long march yang akan digelar pada Sabtu 11 Februari 2017 atau Aksi 112 dipastikan tak jadi dilaksanakan. Al Khaththath memutuskan untuk memodifikasi aksi tersebut menjadi dzikir dan tausiyah nasional.

Modifikasi aksi ini juga diikuti dengan penggeseran lokasi aksi yang sebelumnya bakal berpusat di Monumen Nasional (Monas) dipindahkan ke Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

“Untuk itu kami juga menggeser pusat Aksi 112 dari Monas-HI ke Masjid Istiqlal. Hal ini merupakan inisiatif dan kearifan para ulama dan habaib serta pimpinan ormas Islam yang tergabung di dalam FUI untuk menjaga kemurnian dan keselamatan perjuangan umat Islam,” kata Al Khaththath kepada media, di Jakarta, Kamis (9/2/2017).

Ia menerangkan, tujuan Aksi 112 ini tetap seperti semula, yakni menolak penodaan Alquran, menolak kriminalisasi ulama dan penghinaan terhadap ulama, menjaga Pilkada DKI yang jujur dan adil serta mewajibkan umat untuk memilih gubernur Muslim.

Berkaitan dengan penggeseran lokasi aksi yang akhirnya bakal dilaksanakan di Masjid Istiqlal, Al Khaththath menjelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Badan Pengelola Masjid tersebut. Ia juga mengimbau agar peserta Aksi 112 menjaga ketertiban dan keamanan bersama-sama.

“Setelah berkoordinasi dengan Badan Pengelola Masjid Istiqlal maka kami menyerukan kepada para peserta aksi 112 untuk ikut serta menjaga keamanan dan ketertiban serta kebersihan lokasi aksi di Masjid Istiqlal dan sekitarnya,” tutup dia.

Dalam konferensi pers ini, turut hadir Ketua DPP FPI Sobri Lubis, perwakilan dari Korps Mubaligh DKI Jakarta serta Koordinator Gerakan Nasional Komando Kawal Al Maidah (Kokam) Mashuri Masyhuda.

Sementara itu Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan mengatakan, ada sekira 28 ribu personel gabungan yang disiapkan untuk mengamankan jalannya aksi yang bakal digelar Forum Umat Islam (FUI) pada 11, 12, dan 15 Februari 2017.

“Cukup banyak, kami ada 23.450, dari Kodam Jaya ada 4.700. Jadi sekira 28.000. Itu tanggal 11, 12, 15 (Februari),” ungkap Iriawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, dilansir dari okezone, Kamis (9/2/2017).

Seperti diketahui, beredar informasi ada sejumlah masyarakat yang tergabung dalam FUI akan melakukan aksi long march dari Masjid Istiqlal ke Jalan Jenderal Sudirman dan MH Thamrin pada 11 Februari.

Kemudian pada 12 Februari akan menggelar khataman Alquran di Masjid Istiqlal. Sementara pada 15 Februari mereka akan menggelar aksi Salat Subuh dan dilanjutkan ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk mencoblos sekaligus mengawasi proses pemungutan suara.

Namun, Polda Metro Jaya sudah sepakat dengan FUI bahwa aksi pada 11 Februari diganti dengan kegiatan keagamaan yang berlangsung di Masjid Istiqlal yang akan dihadiri sejumlah tokoh Islam. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

5 Langkah Melatih Anak Agar Rajin Salat

0

 

PERCIKANIMAN.ID – – Sudah menjadi keumuman jika orangtua lebih banyak menuntut anak memenuhi kewajibannya, seperti wajib taat, wajib berbakti dan sebagainya. Namun orangtua khususnya ayah jarang yang sadar dan ingat bahwa anak juga mempunyai hak alias kewajiban orangtua yang harus dipenuhi kepada anak-anaknya. Umar bin Khattab mengungkapkan bahwa hak anak yang harus dipenuhi ayahnya itu ada 3, yaitu memilihkan ibu yang baik, memberi nama yang baik, dan mengajarkan Al Quran.

 

Terkait yang terakhir tengtang mengajarkan Al Quran bahwa mengajarkan shalat adalah salah satu perintah dalam Al Quran. Itulah mengapa mengajarkan shalat pada anak harus jadi prioritas utama setiap ayah. Masalahnya, bagaimanakah cara terbaik mengajarkan shalat pada anak-anak? Tentu Rasulullah Saw yang punya jawaban dan cara terbaik.  Seperti dilansir dari mosleemfamily, berikut ini langkah-langkah agar anak menjadi rajin dan istiqumah dalam mengerjakan shalat:

 

  1. Menjadi teladan kedispilinan shalat

 

Sejak usia masih sangat dini, anak sudah begitu lekat memperhatikan seluruh perilaku orangtuanya. Begitulah otaknya bekerja di usia tersebut : mengamati dan meniru. Dan anak adalah peniru yang sangat ulung. Maka saat ia menyaksikan sang Ayah selalu melakukan sesuatu yang sama sekian kali dalam sehari, secara alami anak akan tergerak untuk meniru.

 

Para Ayah pasti sudah pernah melihat bagaimana anak usia dua atau tiga tahun mulai berdiri, membungkuk, lalu duduk menungging untuk meniru gerakan shalat ayahnya. Ini sebuah pemandangan dan pengalaman yang sangat indah.

 

  1. Mulai mengajak anak untuk shalat

 

Kapankah mulai mengajak anak untuk shalat? Abdullah bin Habib menyampaikan bahwa Rasulullah Saw bersabda,

 

Apabila  seorang anak dapat membedakan mana kanan dan kiri, maka perintahkanlah dia untuk mengerjakan shalat.” (HR Ath-Thabari)

 

Anak bisa membedakan kanan dan kiri menandakan otaknya sudah cukup berkembang. Pada masa ini, anak sudah mampu mengerti bahwa ibadah itu untuk mendekatkan diri dengan Rabb-nya.

 

  1. Mengajarkan anak tentang shalat saat usia 7 tahun

 

Dibeberapa negara usia 7 tahun adalah waktu anak mulai memasuki bangkau sekolah maka sebagian psikolog menyarankan pada usia ini mulai diajarkan untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri termasuk shalat. Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Perintahkanlah anak kecil untuk shalat apabila sudah berusia tujuh tahun…” (HR Abu Dawud dan al-Hakim)

 

Dalam praktiknya pada usia ini, kedua orang tua mulai mengajarkan rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajiban shalat, dan pembatal-pembatal shalat.

 

  1. Mulai menghukum anak jika ia lalai saat usia 10 tahun

 

Tahapan ini dimulai pada usia 10 tahun, beberapa tahun sebelum anak baligh. Sesuai kelanjutan dari hadits riwayat Abu Dawud dan al Hakim dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash sebelumnya,

 

Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat pada usia 7 tahun dan pukullah mereka untuk shalat pada usia 10 tahun serta pisahkanlah tempat tidur mereka.

 

Oleh karena itu, pertanda seorang ayah cinta pada anaknya adalah memastikan kalau anaknya menjalankan kewajiban shalat saat anaknya baligh. Tahapan menghukum jika anak lalai dalam shalat tentunya diperlukan agar anak benar-benar memahami hal ini baik secara sadar maupun di alam bawah sadarnya.

 

  1. Melatih anak untuk ikut shalat berjamaah

 

Pekerjaan jika dilakukan sendiri maka akan terasa berat demikian juga shalat. Meski shalat adalah hukumnya fardlu ain (wajib bagi setiap muslim) namun jika dilakukan bersama-sama (berjamaah) maka akan menjadi semangat tersendiri. Demikian juga dalam shalat jika dikerjakan sendiri mungkin akan timbul perasaan malas maka dengan shalat berjamaah apalagi bersama teman-temannya akan tambah semangat.

 

Salah satunya maka ajaknya anak-anak khususnya yang laki-laki untuk shalat di masjid. Shalat Jumat itu wajib yang pelaksanaannya seminggu sekali pada siang hari. Selain itu pada bulan Ramadhan dengan adanya shalat Tarawih maka bisa menjadi sarana mengajak sekaligus mengajarkan pentingnya shalat berjamaah di masjid. [ ]

 

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Pengamat: Aksi 112 Dilarang, Lama-Lama Shalat Subuh Berjamaah Dilarang Juga

0

 

PERCIKANIMAN.ID – – Rencananya Ummat Islam akan mengadakan aksi damai pada Sabtu lusa, (11/2/2017) di Jakarta. Dihimpun dari berbagai sumber aksi tersebut hanya akan diisi dengan Shalat Subuh berjamaah di Masjid Istiqlal dilanjutkan dengan mendengarkan ceramah dan diakhiri dengan jalan sehat menuju Monal dan Bunderan HI. Namun seperti banyak diberitakan media Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan melarang kegiatan tersebut.

Pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar menanggapi terkait Polda Metro Jaya yang melarang aksi 11 Februari atau 112. Menurut Bambang, aksi yang diinisiasi oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI tak seharusnya dilarang karena memberitahukan secara resmi.

“Tampak ada kecenderungan politis tidak sejalan dengan aktivitas GNPF MUI. Nanti lama-lama shalat Subuh bersama pun dilarang,” ujar Bambang  seperti dilansir republika.co.id, Kamis (8/2/2017).

Bambang mengatakan, dirinya hanya ingin mengingatkan supaya polisi kembali pada jati dirinya sebagai pangayom masyarakat. Bambang berharap polisi tak membeda-bedakan perlakukan kepada pihak tertentu.

Polda Metro Jaya melarang aksi tersebut dengan alasan menjaga situasi kondusif menjelang pencoblosan. Polda pun akan menindak tegas apabila aksi tersebut tetap digelar. Bambang menilai, sikap yang ditunjukan Polda Metro Jaya tersebut menandakan mereka menaruh curiga terhadap rencana aksi tersebut yaitu akan memunculkan ketidakamanan.

“Lho tugas polisi kan menjaga keamanan, bukan menjaga yang aman-aman,” kata Bambang.

Untuk diketahui, GNPF MUI berencana menggelar aksi 112. Mereka akan berkumpul di Masjid Istiqlal menuju Monas, berjalan ke Bundaran HI dan kembali ke Monas untuk membubarkan diri. Tujuan aksi tersebut tetap menuntut proses hukum terhadap terdakwa dugaan penistaan agama Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dan dukungan terhadap MUI. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: INA

Apa Saja Ciri Orang Yang Mendapat Hidup Berkah ?

0

 

Assalamu’alaykum Wr.Wb, Pak Aam bagaimana kita bisa merasakan hidup kita mendapat keberkahan? Mungkin lebih luas lagi kita sebagai warga Indonesia yang kekayaannya melimpah ini juga merasakan keberkahan. Terima kasih. ( Sari by email)

 

 

 

 

Wa’alaykumsalam Wr.Wb. iya ibu Sari dan pembaca sekalian kata  ‘berkah’ berasal dari bahasa Arab: barokah (البركة), artinya nikmat . Dalam istilah lain berkah dalam bahasa Arab adalah mubarak dan tabaruk yang berarti nikmat. Jadi ternyata dalam bahasa Indonesia kita banyak juga menyerap bahasa Arab juga dalam khazanah perbahasaan. Untuk itu sayang kalau ada orang yang anti Arab padahal dalam keseharian sering menggunakan bahasa Arab contoh kata berkah atau barokah tersebut.

Menurut Imam Al-Ghazali istilah, berkah (barokah) artinya “bertambahnya kebaikan”. Sementara para ulama juga menjelaskan makna berkah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah-berkah material dan spiritual, seperti keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, anak, dan usia. Dalam keseharian kita sering mendengar kata “mencari berkah”, bermaksud mencari kebaikan atau tambahan kebaikan, baik kebaikan berupa bertambahnya harta, rezeki, maupun berupa kesehatan, ilmu, dan amal kebaikan (pahala).

Dalam Al-Qur`an kata berkah (barakah) hadir dengan beberapa makna, di antaranya: kelanggengan kebaikan, banyak, dan bertambahnya kebaikan. Al-Quran sendiri merupakan berkah bagi manusia sebagaimana firman-Nya:

Ini (Al-Quran) adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran.” (QS. Shaad: 29).

Sementara berkah atau barakah dalam arti yang luas menyangkut masyarakat atau kaum bermakna sebagai  kebaikan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi seluruh kaum dalam suatu wilayah. Hal ini tercantum dalam ayatAl Quran:

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96).

Setidaknya dari kedua ayat tersebut dapat kita pahami bahwa sumber dan Al Quran adalah keberkahan bagi orang-orang yang beriman dan keberkahan itu datangnya dari Allah Swt. Sementara syarat untuk datangnya berkah dari Allah adalah dengan beriman dan bertakwa. Ini berlaku baik secara individu maupun bermasyarakat (jama’i) sehingga keberkahan dapat kita rasakan sebagai pribadi muslim maupun dalam kontek kehidupan bermasyarakat.

Sebagai pribadi keberkahan dapat kita rasakan misalnya hidup yang tenang, bahagia, sehat, rezeki yang cukup, anak shalih shalihah, tetangga yang baik dan sebagainya. Dalam konteks hidup bermasyarakat keberkahan itu seperti lingkungan aman, damai, tidak ada bencana, bahan makanan yang melimpah dan murah dan sebagainya.

Lalu bagaimana ciri orang yang merasakan hidupnya penuh berkah? Kita kembali mengacu pada Al Quran maupun hadits Rasulullah Saw. Ada beberapa indikator orang-orang yang mendapat berkah dalam hidupnya sesuai dengan kriteria Al Quran antara lain:

  1. Merasa nikmat  dalam beramal shaleh (Al-An’am 6 : 125)
  2. Konsisten (istiqamah) dalam kebaikan (QS. Ali Imran 3:101)
  3. Merasakan kerinduan kepada Allah (QS. Al-Anfal 8 : 2-3)
  4. Pandai menggunakan indra, akal & fitrah untuk memilih yang terbaik (QS. An-Nahl:78)
  5. Pandai bersyukur (QS. Ibrahim 14:7, QS. Luqman 31:12)
  6. Selalu Shabar menghadapi ujian (QS. Ali Imran 3:200)
  7. Sabar menghadapi penderitaan: (-Sabar menghadapi kesuksesan,-Sabar dalam menyampaikan kebenara, -Sabar dalam beribadah, – Sabar menghadapi berbagai karakter orang)

Setidaknya jika kita dapat merasakan indikator tersebut maka secara pribadi atau individu boleh disebut hidupnya penuh keberkahan. Namun demikian setiap pribadi tentu akan merasakan keberkahan hidupnya yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Meski demikian acuannya tetap sama yakni beriman dan bertakwa sehingga orang yang hidup gelimang harta dan serba kecukupan hidupnya belum tentu berkah selama dia tidak beriman dan bertakwa. Wallahu’alam. [ ]

 

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .