Taaruf Itu Bukan Pacaran, Ini Aturannya Dalam Islam

0
323

PERCIKANIMAN.ID – – Apa yang dimaksud dengan taaruf? Taaruf berasal dari kata ‘arafa yang artinya mengetahui atau mengenal. Taaruf bermakna saling  mengenal. Kata ‘arafa terdapat dalam Al-Quran yang bunyinya,

 

(13).يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai, manusia! Sesungguhnya, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya, yang pa-ling mulia di sisi Allah ialah orang paling bertakwa. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”  (Q.S. Al-Hujuurat [49]: 13)

 

Lalu bagaimana proses atau cara taaru yang diajarkan dalam Islam? Taaruf yang dibenarkan oleh Islam adalah yang mematuhi rambu-rambu sebagai berikut.

 

1.Menjaga Pandangan Mata Dan Hati Dari Hal-Hal Yang Diharamkan

(30). قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

(31)……..وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Katakan kepada laki-laki beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Hal itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakan kepada para perempuan beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Janganlah menampakkan auratnya, kecuali yang biasa terlihat…’” (Q.S. An-Nuur [24]: 30-31)

  1. Materi Pembicaraan Tidak Mengandung Dosa Dan Tidak Bermuatan Berahi

 لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh orang lain bersedekah, berbuat kebaikan, atau mendamaikan antarmanusia. Siapa pun yang berbuat demikian karena mencari keridhoan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala besar.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 114)

 

  1. Menghindari Khalwat (Mojok)

 

Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menyendiri dengan perempuan yang tidak halal baginya karena yang ketiganya adalah setan, kecuali ada mahramnya.” (H.R. Ahmad)

 

  1. Menghindari Persentuhan Fisik

 

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku tidak pernah bersalaman dengan wanita (bukan muhrim).” (H.R. Bukhari)

  1. Menjaga Aurat Masing-Masing Sesuai Aturan Syar‘I (Islam)

Batasan aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka, punggung tangan, dan telapak tangan. Sedangkan untuk aurat laki-laki, para ulama berbeda pendapat.

Pertama, sebagian ulama menyatakan aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut. Dengan demikian, bagian tubuh di bawah pusar dan paha termasuk aurat.

Hal ini didasarkan sebuah hadits ketika Rasulullah Saw. bersabda kepada Ma’mur (sedang kedua pahanya terbuka), “Wahai Ma’mur, tutuplah kedua pahamu itu karena kedua paha itu aurat.”

Kedua, aurat laki-laki hanyalah qubul dan dubur (kelamin dan tempat keluarnya kotoran). Hal ini didasari hadits dari Anas r.a. yang berkata,

Pada hari Khaibar Nabi Muhammad Saw. menyingkapkan sarung dari pahanya hingga aku betul-betul melihat warna putih pahanya.” (H.R. Bukhari).

Kalaulah paha termasuk aurat, tentunya Rasulullah tidak akan menyingkap sarung sampai terlihat pahanya. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

Sumber: dikutip dari buku  “ Membingkai Surga Dalam Rumah Tangga ” karya Dr. Aam Amiruddin & Ayat Priyatna Muhlis

5

Red: admin

Editor: iman

902

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .