Penciptaan Alam Semesta Menurut Astronomi dan Al Quran

PERCIKANIMAN.ID – – Teori yang kini banyak pendukungnya menyatakan bahwa alam semesta ini bermula dari ledakan besar (Big Bang) sekitar 10-20 miliar tahun yang lalu. Semua materi dan energi yang kini ada di alam terkumpul dalam satu titik tak berdimensi yang berkerapatan tak berhingga.

 

 

Janganlah dibayangkan seolaholah titik ini berada di suatu tempat di alam yang kita kenal sekarang ini. Yang benar adalah materi, energi, dan ruang yang ditempati seluruhnya bervolume amat kecil, hanya satu titik tak berdimensi. Tidak ada suatu titik pun di alam semesta yang dapat dianggap sebagai pusat ledakan.

 

 

 

Dengan kata lain, ledakan besar alam semesta tidak seperti ledakan bom yang meledak dari satu titik ke segenap penjuru. Hal ini karena pada hakikatnya seluruh alam turut serta dalam ledakan itu. Lebih tepatnya, seluruh alam semesta mengembang tiba-tiba secara serentak. Ketika itulah mulainya terbentuk ruang dan waktu.

 

 

Radiasi yang terpancar pada awal pembentukan itu masih berupa cahaya. Namun, karena alam semesta terus mengembang, panjang gelombang radiasi itu pun makin panjang, sesuai dengan efek Doppler, menjadi gelombang radio.

 

 

 

Kini radiasi awal itu –yang dikenal sebagai radiasi latar belakang kosmik (cosmic background radiation)— dapat dideteksi dengan teleskop radio. Peristiwa serupa diisyaratkan juga di dalam Al Quran bahwa seluruh materi dan energi di langit dan bumi berasal dari satu kesatuan pada awal penciptaannya.

 

 

() أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

 

 

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al Anbiya: 30)

 

 

 

Seperti telah dibahas terdahulu, langit yang dimaksud di sini adalah seluruh benda-benda luar angkasa. Semuanya berasal dari satu materi dasar yang berupa hidrogen. Dari reaksi nuklir (fusi) di dalam bintang, terbentuklah unsur-unsur berat mulai dari karbon sampai besi. Kandungan unsur-unsur berat dalam komposisi materi bintang merupakan salah satu “akte” lahirnya bintang.

 

 

 

Bintang-bintang yang mengandung banyak unsur berat adalah “generasi muda” yang memanfaatkan materi-materi sisa ledakan bintang-bintang tua. Materi pembentuk bumi pun diyakini berasal dari debu dan gas antarbintang yang berasal dari ledakan bintang di masa lalu.

 

 

Jadi, seisi alam ini memang berasal dari satu kesatuan. Walaupun tidak terlalu banyak pendukungnya, beberapa pakar kosmologi dan fisikawan teoretis “menggugat” bahwa alam ada awalnya.

 

 

 

Beberapa teori lain menyatakan bahwa tidak ada batas dalam waktu, tidak ada singularitas Big Bang. Ini misalnya dikemukakan oleh Maddox (1989), Levy-Leblond (1989), serta dalam buku populer Hawking (1989). Mereka berpendapat bahwa tidak ada batas waktu yang dapat disebut sebagai awal penciptaan alam semesta. Hawking dalam buku A Brief History of Time menyebutnya No-boundary conditions.

 

 

Model matematis itu menyatakan bahwa alam semesta berhingga ukurannya tetapi tanpa batas dalam ruang dan waktu. Dengan menggunakan keadaan tak berbatas (no-boundary conditions) ini, Hawking menyatakan bahwa alam semesta mulai hanya dengan keacakan minimum yang memenuhi Prinsip Ketidakpastian.

 

 

 

Kemudian alam semesta mulai mengembang dengan pesat. Dengan Prinsip Ketidakpastian ini, dinyatakan bahwa alam semesta tak mungkin sepenuhnya seragam karena di sana-sini pasti didapati ketidakpastian posisi dan kecepatan partikel-partikel.

 

 

 

Dalam alam semesta yang sedang mengembang ini, kerapatan (density) suatu tempat akan berbeda dengan tempat lainnya. Gravitasi menyebabkan daerah yang berkerapatan tinggi makin lambat mengembang dan mulai memampat (berkontraksi).

 

 

 

Pemampatan inilah yang akhirnya membentuk galaksi-galaksi, bintang-bintang, dan semua benda-benda langit. Berdasarkan model tersebut, Hawking menyatakan, “Sejauh anggapan bahwa alam semesta bermula, kita mengganggap ada Sang Pencipta.

 

 

Tetapi jika alam semesta sesungguhnya ada dengan sendirinya, tak berbatas tak bertepi, tanpa awal dan akhir, lalu di manakah peran Sang Pencipta?” Tentunya bagi ilmuwan muslim yang penalarannya berdasarkan iman, tak mungkin mempertanyakan peran Allah Rabbul’alamin.

 

 

Kita meyakini bahwa Dia adalah Pencipta semesta ini. Tetapi cara Allah menciptakan semesta ini tak mungkin sama dengan apa yang manusia gambarkan sebagai pencipta. Dalam Al Quran disebutkan,

 

() وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

 

Tak ada suatu pun yang menyamai-Nya.” (Q.S. Al Ikhlas : 4)

 

 

Kalau kita cermati penalaran Hawking yang menyatakan bahwa alam mulai hanya dengan “keacakan minimum”, sebenarnya adanya syarat “keacakan” itu dan berbagai hukum dalam sains (termasuk “Prinsip Ketidakpastian” yang menjadi asal “keacakan”) cukup menjadi bukti bahwa semua itu ada penciptanya, Allah Rabbul’alamin. Allah “bekerja” dengan cara-Nya.  Cara ini mungkin tak bisa ditelusuri dengan sains. [ ]

 

Disarikan dari buku “ Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman Al Quran “ karangan T. Djamaluddin

 

 

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

890

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 81 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment