6 Fitrah Manusia Menurut Al Quran, Mana Yang Masih Tersisa Dalam Diri Kita ?

 

PERCIKANIMAN.ID – – Al-Quran dan beberapa hadits Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa setiap manusia yang lahir ke dunia ini dalam keadaan suci atau fitrah. Fitrah yang dia bawa berupa fitrah ketuhanan, yaitu memiliki kecenderungan untuk mengakui adanya kebenaran yang sifatnya hakiki. Hal ini dijelaskan lewat firman-Nya, yaitu ketika manusia berada dalam alam rahim, dia telah bersaksi bahwa Allah Swt. sebagai Tuhan yang Mahakuasa, yang telah menciptakan dirinya,

 

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anakanak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ’Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ’Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ’Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).’” (Q.S. Al-A’raaf 7: 172)

 

 

Dalam ayat di atas, jelas sekali bahwa manusia memiliki fitrah ketuhanan, yaitu adanya pengakuan terhadap Allah Swt. yang dijadikan sebagai Tuhan semesta alam. Selain fitrah ketuhanan, dalam diri manusia pun terdapat beberapa macam fitrah yang lainnya. Dikutip dari buku ” Kunci Sukses Meraih Cinta Illahi ” karangan Dr. Aam Amiruddin,M. Si , fitrah-fitrah tersebut adalah sebagai berikut.

 

  1. Fitrah Beragama

Dalam diri manusia sudah ada fitrah beragama, yaitu fitrah untuk memeluk agama Islam. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

 

 

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

 

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Q.S. Ar-Ruum [30]: 30)

 

Selain itu, fitrah beragama pun disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Tidaklah anak itu dilahirkan melainkan dalam keadaan fitrah (suci). Orangtuanyalah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani, dan Majusi.

 

Dari hadits di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa jika seorang anak ketika lahir ke dunia beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi, dapat dipastikan bahwa hal itu terjadi karena pengaruh orangtua atau lingkungannya.

 

  1. Fitrah Suci

Setiap manusia yang terlahir dari perut ibunya tidak membawa dosa turunan alias suci, walaupun anak itu terlahir dari hasil perzinaan. Dari sini dapat diketahui bahwa Islam tidak mengenal dosa turunan. Perhatikanlah hadits yang diriwayatkan Bukhari berikut ini. “Setiap manusia itu lahir dalam keadaan suci.”

 

Manusia akan dikenai kewajiban untuk beribadah kepada Allah Swt. setelah dia menginjak usia baligh (dewasa). Oleh karena itu, amal perbuatan manusia akan dicatat setelah dia dewasa. Dalam Al-Quran dinyatakan bahwa yang membuat manusia menjadi kotor adalah dosa.

 

 

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Q.S. Al-Muthaffifiin [83]: 14)

 

  1. Fitrah Berakhlak

Ajaran Islam menyatakan secara tegas bahwa Nabi Muhammad Saw. diutus oleh Allah Swt. kepada manusia untuk menyempurnakan akhlak. Maksudnya, pada mulanya manusia sudah mempunyai fitrah berakhlak sehingga mereka selalu mempertahankan harga diri untuk tetap dihormati oleh sesamanya dengan cara menampakkan akhlak yang mulia. Siti Aisyah r.a. telah mengungkapkan kepada kita tentang kemuliaan akhlak Rasulullah Saw. dengan ungkapan,

 

Adalah akhlak (kepribadian) Rasulullah Saw. itu Al-Quran.” (H.R. Muslim, Ahmad, dan Abu Daud)

 

  1. Fitrah Kebenaran

Manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui kebenaran. Dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 26 disebutkan,

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ

 

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

 

Oleh karena itu, Allah Swt. memerintahkan kepada manusia untuk membuat solusi dalam memecahkan setiap permasalahan yang dihadapinya karena manusia termasuk makhluk pencari kebenaran yang dikaruniai akal pikiran oleh Allah Swt.

 

  1. Fitrah Estetika

Manusia tetarik secara total pada keindahan, baik keindahan akhlak maupun keindahan bentuk. Tidak ada seorang manusia pun yang tidak mempunyai rasa suka pada keindahan. Pada kenyataannya, keindahan memang dibutuhkan. Misalnya, berpakaian bertujuan untuk melindungi tubuh dari panas dan dinginnya udara, sekaligus memperindah penampilan.

 

Demikian juga dengan seni, yang berarti bentuk-bentuk yang indah. Ia merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan.

 

 

Seni lahir dari sisi terdalam manusia yang didorong oleh kecenderungan seniman kepada yang indah, apa pun jenis keindahan itu. Dorongan tersebut merupakan naluri manusia, atau fitrah yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

 

 

Dikatakan bahwa inti dari segala uraian Al-Quran adalah memperkenalkan keesaan Allah Swt. lewat bahasa syair yang berarti seni. Hal ini terlihat sejak wahyu pertama Al-Quran. Wahyu tersebut memerintahkan manusia untuk membaca dengan nama Tuhan yang diperkenalkannya sebagai Maha Pencipta, Maha Pemurah, serta Maha Pengajar.

 

 

Untuk tujuan memperkenalkan-Nya, selain tujuan yang lain, Al-Quran mengajak manusia memandang ke seluruh jagat raya, antara lain dari sisi keserasian dan keindahannya, sebagaimana terdapat dalam Al-Quran Surat Qaaf (50) ayat 6, Al-An’am (6) ayat 99, An-Nahl (16) ayat 6, 14, dan Yunus (10) ayat 24.

 

BACA JUGA: 3 Sifat Baik Manusia Al Quran

 

  1. Fitrah Kreasi dan Penciptaan

Dalam diri manusia terdapat sejumlah dorongan untuk membuat sesuatu yang belum ada dan belum dibuat orang lain. Kreativitas dan daya cipta tersebut diaktualisasikan dalam bentuk yang berbeda-beda, seperti merekayasa masyarakat, mengatur negara, membangun kota, membuat perencanaan berbagai program, merancang metode dan silabus pendidikan, serta menulis buku.

 

 

Dengan demikian, kecenderungan seperti itu ada dalam diri semua orang, dan setiap orang pasti senang membuat serta menciptakan sesuatu. Dengan kreativitas, seseorang bahkan bisa membuat teori baru yang bisa mengubah peradaban.

 

 

Itulah enam macam fitrah yang dimiliki oleh manusia. Fitrah-fitrah itu harus kita gunakan secara proporsional, supaya tidak terjebak oleh kehidupan yang menjerumuskan diri kita pada kebinasaan.[ ]

 

5

Red: admin

Editor: iman

860

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 187 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment