Berjanji Membangun Kuburan Orangtua, Apakah Harus Dipenuhi ?

 

Assalamua’alaykum. Pak Aam, mohon maaf ceritanya agak panjang. Ayah saya dipanggil (meninggal) lebih awal. Karena belum paham kuburannya kita ( anak-anaknya) membuatnya bagus bahkan terkesan mewah. Suatu hari saya dan ibu ziarah ke makam almarhum ayah, waktu itu ibu terlihat sedih.Kemudian kami berjanji kalau ibu sudah meninggal makamnya juga bagus seperti almarhum ayah. Sekarang saya baru tahu kalau membangun kuburan itu tidak boleh dan terlarang. Sementara ibu saya sudah meninggal sebulan yang lalu. Saya merasa bingung antara memenuhi janji ( membuat kuburan ibu jadi bagus) atau membatalkannya. Saya takut disebut anak yang durhaka jika tidak memuliakan almarhum ibu.   Apakah menembok sama dengan membangun kuburan? Mohon penjelasannya dan terima kasih. (Gerry via email)

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan  sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Sebenarnya persoalan ini sudah sering ditanyakan dan kita bahas, baik online maupun saat kajian. Namun tentu tidak ada salahnya jika kita bahas kembali agar yang sudah tahu menjadi ingat kembali dan yang belum tahu menjadi paham.

 

 

Tentu kita sepakat bahwa salah satu ciri atau akhlak seorang muslim yang mulia itu ia selalu menepati janjinya, dan sebaliknya muslim yang buruk itu yang ingkar atau menyepelekan janjinya.  Bahkan salah satu ciri orang munafik adalah ketika berjanji maka ia akan mengingkari.

 

 

Itulah hakikatnya betapa janji itu berat pertanggungjawabannya. Untuk itu hendaknya kita tidak mudah memberikan janji-janji atau harapan-harapan kepada orang lain dalam berbagai lingkupnya. Janji kepada anak,keluarga, masyarakat bahkan janji kepada dunia.

 

 

Janji memang harus ditepati selama ia berada dalam koridor kebaikan dan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentu juga harus disesuaikan dengan kemampuan dan kesanggupannya menunaikan janji tersebut khususnya jika berkaitan dengan fisik dan finansial atau materi.

 

 

Meski demikian, pada dasarnya ada dua jenis janji, yang wajib dilaksanakan dan janji yang tidak boleh dilakukan. Janji yang baik dan mulia harus diusahakan untuk dipenuhi sementara janji yang buruk atau membawa mudharat maka tidak perlu ditunaikan.

 

 

Misalnya begini, Anda diwaktu muda pernah berjanji untuk membangun masjid tentu harus kita laksanakan karena ia adalah salah satu bentuk realisasi ketakwaan kita kepada Allah Swt. Jika Anda mampu secara finansial atau harta maka wajib melaksanakannya.

 

 

Namun, jika janji yang Anda ucapkan saat muda disebabkan masih lemah dan minim pemahaman agamanya, Anda berjanji untuk membangun diskotik dan tempat hura-hura kalau sudah menjadi orang yang sukses. Tentu ini termasuk ke dalam janji yang tidak perlu direalisasikan. Sebab, jika Anda realisasikan justru Anda akan berdosa.

 

 

Mengenai janji Anda untuk membangun kuburan orangtua, Islam memandangnya sebagai sesuatu yang tidak diperbolehkan karena bukanlah ajaran atau syariat dalam Islam. Adapun, kuburan yang sekedar diberi tanda semisal berupa kayu atau batu yang dimaksudkan agar orang tahu bahwa ditempat itu ada kuburan dan tidak menginjak-injaknya, tentu saja diperbolehkan.  Salah satu dalil yang dijadikan larangan adalah seperti yang disampaikan Ibnu Jabir,

 

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang kuburan dikapur, diduduki, dan dibangun” (HR.Muslim dan muttafaqun alaih)

 

 

Membangun lebih dari itu, tentu saja tidak dianjurkan apalagi sampai membuat bangunan khusus yang terbuat dari marmer atau semacamnya. Itu termasuk ke dalam perbuatan yang berlebihan dan tidak disukai dalam Islam.

 

 

Jika hendak membangun kuburan, cukup dengan membuat tanda untuk pembeda saja. Kita juga diperbolehkan untuk membersihkan kuburan dan mengamankan kuburan. Maksud ‘membangun’ dengan mengamankan kuburan tentu berbeda arti dan tujuan. Contoh kuburan di Baqi Arab Saudi juga seperti itu hanya sekedar tanda saja, bahkan kuburan seorang raja pun demikian.

 

 

Di zaman sekarang yang lahannya semakin sempit, sangatlah wajar bila kita mengamankan kuburan sanak famili kita yang telah meninggal agar lahannya tidak dipakai oleh orang lain. Adapun, membangun dengan maksud untuk bermegah-megah tentu itu tidak baik.

 

 

Jadi, jika Anda sudah terlanjur janji membangun kuburan untuk orangtua, ya tentu tidak apa-apa bila tidak dilaksanakan karena memang membangun kuburan itu tidak dibenarkan dalam Islam. Hal ini sama seperti wasiat. Terkadang kita selalu terjebak dengan istilah bahwa wasiat harus selalu dilaksanakan. Padahal, bila wasiat itu bertentangan dengan ajaran dan syariat Islam, tentu tidak apa-apa bila tidak dilaksanakan juga.

 

Lalu apakah jika tidak melaksanakan janji tersebut dianggap anak yang durhaka? Tentu saja tidak demikian. Sebab kriteria anak yang durhaka khususnya kepada orangtua itu ada kriterianya. Anda diperintahkan orangtua untuk berbuat syirik atau musyrik maka ketika Anda menolak itu bukanlah sebuah kedurhakaan. Dalam Al Quran Allah Swt menerangkan,

 

 

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ * وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

 

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS. Luqman: 14-15)

 

Kemudian bagaimana cara berbakti atau berbuat baik kepada orangtua yang sudah meninggal? Tentu banyak hal yang bisa Anda lakukan. Salah satunya adalah mendoakannya kepada almarhum ayah dan ibu Anda. Doakan setiap selesai shalat.

 

 

Lalu Anda tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga besar, menjaga nama baik ayah dan ibu Anda, menjadi anak yang shalih dan sebagainya maka itu juga salah satu cara berbakti kepada orangtua yang sudah meninggal.

 

BACA JUGA: Cara Berbakti Pada Orangtua Yang Sudah Meninggal

 

Anda menjadi anak shalih karena didikan orangtua maka insya Allah pahalanya akan mengalir kepada orangtua meski keduanya sudah tidak ada. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, bagi Anda atau mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian yang ingin tahu cara berbakti kepada orangtua khususnya ibu, silakan baca saya yang berjudul “MULIAKAN IBUMU“. Didalamnya ada beberapa contoh cara berbakti berikut dalilnya. Insya Allah buku ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi baik bagi anak maupun para orangtua. Wallahu’alam bishawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

804

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 422 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment