Hukum Shalat Kafarat Ramadhan. Adakah Dalilnya?

Assalamu’alaykum. Pak Aam,  saya pernah mendengar ceramah ada yang namanya sholat kifarat, yaitu kita melakukan sholat di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, sholat terus menerus sebagai upaya membayar sholat yang telah kita lalaikan di masa lalu. Katanya shalat ini sebagai penebus dosa atas shalat yang ditinggalkan di masa lalu. Apakah ini ada contohnya? Mohon penjelasannya ( Reza via fb)

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Apa yang Anda tanyakan itu sampai saat ini saya belum menemukan dalilnya kalau ada yang namanya sholat kifarat. Apalagi menurut informasi yang Anda dengar harus dilakukan di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan dengan memperbanyak sholat atau shalat terus menerus.

 

 

Justru yang kita pahami selama ini dan ada dalilnya ketika memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan itu dengan meningkatkan amal shalih termasuk melakukan i’tikaf.

 

 

Sebab, mayoritas umat Islam meyakini pada 10 hari terakhir khususnya di malam ganjil akan turun lailatul qadr atau malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Kemulian malam lailatul qadr tersebut seperti dijelakan Allah berfirman,

 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar [97] : 1)

 

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,

 

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)

 

 

Sementara dalil atau anjuran untuk meningkatkan ibadah di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan itu dijelaskan dalam keterangan dalam hadits yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Bulughul Marom, yaitu hadits  yang berbunyi.

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

 

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

 

Ini lah dalil yang sangat disunnahkan ketika kita memasuki 10 hari terakhir dibulan Ramadhan, antara tanggal 20 hingga 29 atau 30 Ramadhan.

 

 

Sementara yang Anda tanyakan terkait shalat kifarat yang dilakukan terus menerus di 10 terakhir Ramadhan itu tidak ada dalilnya. Sebenarnya kalau kita pernah melalaikan ibadah, kalau Anda lihat dalam surat Al-Furqan ayat 69-71

 

 

“Akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”

 

Kalau kita merasa pernah melakukan maksiat, kesalahan, melalaikan perintahnya sebagai hamba-Nya kan jelas pada surat tersebut, maka bertaubat lah. Tingkatkan amal soleh, maka Allah akan gantikan keburukkannya itu denga kebaikkan.

 

Jadi yang dianjurkan itu amal sholeh. Tadinya gak pernah tahajud, jadi rajin tahajud. Tadinya gak pernah dateng ke majelis, jadi rutin mnengikuti majelis. Tadinya gak pernah Rawatib, jadi mengerjakan rawatib. Maka sesungguhnya orang itu telah bertaubat dengan sungguh-sungguh.

 

Jadi yang saya ketahui itu bukan menggantinya dengan sholat kifarat, dengan melaksanakan sholat terus menerus di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Bukan begitu caranya. Yang penting, Anda tingkatkan amal sholeh yang belum dilakukan jadi rajin dilakukan. Karena kan Allah itu melihat ikhtiar kita ke depannya seperti apa. Makanya di dalam surat Az-Zumar ayat 53:

 

 

 

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

 

Jadi ini isyarat bahwa kita harus khusnudzon atau berbaik sangka kepada Allah bahwa taubat kita diterima. Kemudian tingkatkan keimanan kita dengan amal shaleh, berusaha tidak mengulangi perbuatan dosa di masa lampau.

 

Misalnya dulu Anda melalaikan sholat, atau shalat wajibnya tidak genap lima waktu, lalu sekarang Anda jadi tidak pernah meniggalkan sholat malah ditambah sholat sunnah nya. Itu yang perlu Anda lakukan, bukan dengan sholat kifarat yang tidak ada dalilnya.

 

 

Jadi yang namanya ibadah apalagi shalat maka harus ada contoh dari Rasul atau Rasul pernah mencontohkan kepada umatnya, baik waktunya maupun jumlah rakaatnya. Untuk itu saran saya kalau ikut ceramah atau kajian yang jelas baik ustadznya maupun sumber rujukkan. Bukan sekedar bisa menerjemahkan Alquran dan hadits kemudian ditafsirkan sendiri tanpa dalil atau dasar yang shahih.

 

BACA JUGA: Lebih Baik Shalat Tahajud atau Melayani Suami ? Ini Penjelasannya

 

Demikian juga kalau Anda baca buku atau sumber tulisan termasuk di online juga harus dicek atau ditanyakan kembali kepada ahlinya sekiranya ada dalil atau pendapat yang meragukan sehingga Anda beramal dengan dalil yang shahih bukan sekedar katanya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, terkait pembahasan bab shalat ini lebih detail berikut dalilnya, Anda, bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU?“. Didalamnya ada pembahasan bab praktik shalat berikut contoh-contohnya. Wallahu’alam bishawab. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: fikihshalat.com

970

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 147 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment