Pahala Puasa Ramadhan, Ini 6 Kebahagian Yang Akan Didapat

Oleh:  Tate Qomaruddin*

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Rasulullah Saw. bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh barokah. Allah Yang Mahagagah lagi Mahamulia telah mewajibkan atas kalian shaum pada bulan itu. Pada bulan itu dibukakan pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu Neraka Jahim, dan dibelenggu setan-setan pembangkang. Pada bulan itu, Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang terhalang dari kebaikan bulan itu, maka sungguh dia telah terhalang (dari segala kebaikan).” (H.R. Nasai, Baihaqi, dan Ahmad)

 

Dari Abu Hurairah–semoga Allah meridhoinya–dia berkata, “Telah bersabda Rasulullah Saw. bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Seluruh amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum. Sesungguhnya, shaum itu untuk-Ku dan Aku-lah yang membalasnya.  Shaum adalah tameng. Maka, pada hari seseorang melakukan shaum janganlah dia melakukan rafats dan janganlah bertengkar (berteriak). Jika seseorang mencacinya atau menantangnya berkelahi maka hendaklah dia katakan, ‘Sesungguhnya aku sedang shaum.’ Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, bau mulut orang yang shaum lebih baik di sisi Allah daripada wangi minyak kesturi. Orang yang shaum mendapat dua kebahagiaan. Jika dia berbuka, dia bahagia dengan bukanya. Dan, jika dia berjumpa dengan Tuhannya, dia berbahagia dengan shaumnya.” (Muttafaq ‘alaih, dan lafaz ini riwayat Bukhari)

 

Minimal ada tiga keutamaan tekait dengan shaum Ramadhan. Pertama, keutamaan bulan Ramadhan itu sendiri. Kedua, keutamaan nilai shaum. Ketiga, keistimewaan pengaruh dan kekuatan shaum terhadap perilaku manusia dalam kehidupan.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Hadits pertama tadi menyebutkan Ramadhan sebagai syahrun mubarak (bulan yang penuh barokah).
Barokah adalah kebaikan yang melimpah dan mendatangkan atau mengundang kebaikan lain. Barokah apakah yang terkandung pada bulan Ramadhan?

 

Diturunkannya Al-Quran pada bulan Ramadhan adalah barokah yang luar biasa. “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, serta sebagai pembeda antara yang benar dan yang batil…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 185)

 

Pada bulan Ramadhan juga, pintu-pintu langit (surga) dibuka dan pintu-pintu neraka dikunci rapat. Pada bulan Ramadhan, kita yang melaksanakan shaum dengan memelihara segala rukun syaratnya didorong dan dipermudah untuk mendapatkan surga serta diberi pasokan kekuatan yang luar biasa untuk menapaki jalan menuju surga. Dan, itu berarti pula kita didorong, dipermudah, dan diberi kekuatan untuk menjauhi neraka serta jalan ke neraka.

 

Lalu, adakah kebaikan yang lebih indah atau keindahan yang lebih baik dari kemudahan, dorongan, dan kekuatan untuk menapaki jalan menuju surga? Adakah sukses yang lebih hebat dari dimasukkan ke surga dan dijauhkan dari neraka?

 

“...Siapa pun yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia memperoleh kemenangan...” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 185)

 

Pada bulan mulia ini, setan-setan dibelenggu. Ketika seorang hamba mengoptimalkan ibadah pada bulan Ramadhan, terutama shaum, ruang gerak setan dalam menggoda dan menyesatkan manusia dipersempit. Mereka tidak lagi leluasa memperdaya orang-orang beriman yang melaksanakan shaum. Karena, dengan shaum, seseorang diarahkan untuk mengikhlaskan hatinya dan menjadikan Allah sebagai tujuannya dalam beribadah. Pada saat keikhlasan memenuhi relung jiwa seorang mukmin, setan tidak akan sanggup menggodanya.

 

Allah Swt. menginformasikan tentang sikap iblis yang berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali, hamba-hamba Engkau yang dibersihkan (ikhlas).”

 

Yang tidak kalah pentingnya, bulan Ramadhan diistimewakan oleh Allah Swt. dengan adaya malam kemuliaan (lailatul-qadr). Orang yang menjalani ibadah pada malam itu, maka nilainya lebih baik dibandingkan dengan ibadah selama seribu bulan.

 

Keutamaan Shaum

Jika yang dijelaskan tadi adalah beberapa keutamaan bulan Ramadhan, maka shaum pada bulan Ramadhan mempunyai keutamaan tersendiri. Sejauh yang dijelaskan dalam hadits-hadits Rasulullah Saw., keutamaan ibadah shaum dibandingkan dengan ibadah lainnya adalah:

Pertama, “Seluruh amal anak Adam adalah untuk dirinya kecuali shaum. Sesungguhnya, shaum itu untuk Allah.” Apa maknanya? Berikut beberapa penafsiran yang dihimpun oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam kitabnya, Fathul-Bari.

 

Abu ‘Ubaid, “Kita tahu bahwa seluruh al-birr (kebajikan) adalah untuk Allah dan Dia-lah yang membalasnya. Maka, kami berpendapat, shaum mendapat kekhususan karena ia tidak tampak pada manusia dengan melakukannya. Shaum tidak lain adalah sesuatu yang ada dalam hati orang itu.”

 

Artinya, ketika seseorang yang berpuasa duduk berdampingan dengan orang yang tidak puasa, baik karena dia makan dan minum di siang hari ataupun tidak makan maupun minum namun tidak berniat puasa, tidak ada yang membedakan antara keduanya. Yang tidak puasa itu bisa tampil lemas dan yang berpuasa bisa tampil segar. Hampir tidak dapat dibedakan. Lalu, apa yang membedakan? Di hatinya. Hatinya tahu bahwa dirinya shaum atau tidak. Dan, hanyalah Allah-lah Yang mengetahui hal itu.

 

Sedangkan, Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Seluruh amal dapat disusupi riya sedangkan shaum tidak ada yang mengetahuinya dengan semata-mata melakukannya selain Allah, maka Dia menisbatkan shaum kepada Dirinya. Oleh karena itu disebutkan dalam hadits, ‘Dia meninggalkan syahwatnya karena Aku.’”
Setelah memaparkan beberapa pendapat ulama tentang kalimat itu, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani kemudian mengulas dan mengatakan,

 

“Seluruh amal anak Adam, ketika berpeluang disusupi riya maka dinisbatkan pada diri mereka. Berbeda halnya dengan shaum, orang yang menahan diri (dari makan-minum) karena kenyang sama belaka dengan orang yang menahan diri dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dalah hal tampilan lahiriah. Shaum tidak dapat disusupi riya dengan semata-mata mengamalkannya. Tapi, ia bisa disusupi riya dengan pemberitaan (publikasi). Misalnya, dengan publikasi bahwa dirinya shaum. Dengan cara-cara semacam itulah riya dapat masuk ke dalam shaum. Jadi, masuknya riya ke dalam shaum hanya datang dari sisi (cara) publikasi. Sedangkan, ibadah-ibadah selain shaum bisa disusupi riya dengan semata-mata melaksanakannya.”

 

Kedua, Allah-lah yang membalas shaum. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengatakan, “Aku (Allah) sendiri yang mengetahui ukuran (kadar) pahalanya dan pelipatgandaan kebaikannya. Ada pun ibadah lain, sebagian manusia dapat mengetahuinya.” Dia kemudian memaparkan hasil kajian para ulama lainnya, antara lain.
Mufassir Al-Qurthubi, “

 

Maknanya bahwa amal-amal telah dibuka (dipaparkan) ukuran pahalanya kepada manusia dan bahwa pahalanya itu dilipatgandakan dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, hingga (sebanyak) yang Allah kehendaki, kecuali shaum. Sesungguhnya, Allah memberi pahala shaum tanpa ukuran.”

 

Pemahaman itu didukung oleh riwayat lain dalam Kitab Al-Muwaththa, sabda Rasulullah Saw., “Setiap amal anak Adam dilipatgandakan kebaikannya menjadi sepuluh kali lipat, sampai tujuh ratus kali lipat, sampai sebanyak yang Allah kehendaki.” Allah berfirman, “Kecuali shaum, sesungguhnya shaum itu untuk-Ku dan Aku-lah yang membalasnya.”

 

Ini sejalan dengan makna ayat, “…Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (Q.S. Az-Zumar [39]: 10). Di antara penafsiran kata ash-shabiruun (orang-orang sabar) dalam ayat itu adalah ash-shaimun yakni orang-orang yang shaum.

 

Ketiga, shaum adalah tameng. Di dunia, shaum adalah tameng dari syahwat. Rasulullah Saw. bersabda,

Wahai segenap pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu (untuk menikah) maka menikahlah. Karena menikah itu lebih mempu menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan, barangsiapa yang belum mampu, hendaklah dia shaum karena shaum itu merupakan tameng.” (H.R. Muslim)

Dan, di akhirat shaum adalah tameng dari api neraka. Rasulullah saw. bersabda,

Barangsiapa shaum satu hari saja di jalan Allah maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh (perjalanan) satu tahun.” (H.R. Muslim)

 

Keempat, “Bau mulut orang yang shaum lebih baik di sisi Allah daripada wangi minyak kesturi.” Ini menegaskan keutamaan shaum dan orang yang melakukannya. Ketika seseorang melakukan shaum dan secara alamiah akibat kekosongan lambung menimbulkan bau yang tidak sedap yang rata-rata manusia tidak munyukainya, Allah justru menyukainya. Namun, jangan pula hal ini dipahami sebagai anjuran kejorokan dan tidak memelihara kebersihan. Sebab, yang diperintahkan itu shaumnya, bukan baunya.

 

Kelima, orang yang shaum akan merasakan dua kebahagiaan. Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang shaum mendapat dua kebahagiaan. Jika dia berbuka, dia bahagia dengan bukanya. Dan, jika dia berjumpa dengan Tuhannya, dia berbahagia dengan shaumnya.”

 

Kebahagiaan yang tidak mungkin dirasakan oleh orang yang melaksanakan shaum, meskipun dia berpura-pura lapar dan menampakkan badan yang lemas. Jika di dunia tidak mendapat kebahagiaan, apatah lagi di akhirat kelak.

 

Keenam, orang yang melaksanakan shaum akan masuk surga dari pintu khusus yang disebut Rayyan. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya, di surga ada satu pintu yang bernama Rayyan, melalui pintu itulah orang yang shaum masuk. Dan, tidak ada yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Lalu dipanggil, ‘Siapakah yang shaum?’ maka mereka berdiri dan tidak ada yang memasukinya selain mereka. Ketika mereka sudah masuk maka dikuncilah pintu itu.” (H.R. Bukhari)

 

Keistimewaan Pengaruh dan Kekuatan Shaum Terhadap Perilaku Manusia dalam Kehidupan

 

Dengan jelas Allah Swt. menegaskan bahwa diwajibkannya shaum adalah agar manusia-manusia menjadi orang yang bertakwa. “La’allakum tattaqun (mudah-mudahan kalian bertakwa).” Artinya, orang yang menjalankan ibadah shaum adalah orang yang mempunyai energi dan kekuatan untuk menjalankan perbuatan-perbuatan takwa. Apa saja perbuatan-perbuatan takwa yang disebutkan dalam Al-Quran?

 

yaitu orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan, dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu dan mereka mengetahui.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 134-135)

 

Semua perbuatan yang diperintahkan dalam ayat-ayat tersebut adalah perbuatan takwa. Yang akan mampu melakukan semuanya itu hanyalah orang yang bertakwa dengan sebenar-benar takwa. Dan, shaum Ramadhan memampukan orang-orang beriman untuk memiliki kekuatan itu. Karena, Ramadhan memang menggalang segala kebaikan untuk orang yang mau melakukannya. Wallaahu a‘lam bishshawab. [ ]

 

5

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

970

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

(Visited 103 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment