Ingin Mendapat Cinta Illahi? Lakukan 3 Hal Ini .

PERCIKANIMAN.ID – – Setiap muslim pasti bercita-cita untuk mendapatkan cinta Allah. Sebab, jika kita sudah menjadi kekasih-Nya, seluruh kebaikan duniawi dan ukhrawi bisa dicapai dengan mudah. Persoalannya, bagaimana agar cita-cita tersebut menjadi kenyataan? Sesungguhnya, banyak cara yang bisa dilakukan kita lakukan, antara lain.

 

  1. Membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Quran.

Cara ini akan melahirkan cinta dan kerinduan kepada-Nya, syukur dan sabar, tawadhu (rendah hati) dan khusyuk, serta seluruh sifat yang bisa mengantarkan pada cinta dan ridha-Nya. (Ibnu Rajab, Ikhtiyaar Al Uula, hal. 114)

 

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami (Allah) turunkan kepadamu, yang di dalamnya penuh berkah, supaya mereka memerhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang mau menggunakan akalnya.” (Q.S. Shaad [38]: 29)

 

Al-Quran adalah kitab suci yang harus dipahami, bukan sekadar dibaca. Fakta menunjukkan, banyak yang rajin membaca Al-Quran, tetapi tidak paham isinya sehingga tidak bersemangat untuk mengamalkannya. Untuk itu, biasakan juga membaca terjemahannya untuk membantu pemahaman.

 

Mungkin pada awalnya akan terasa susah mencerna maksud terjemahan Al-Quran, namun kalau kita sering membacanya, lama-lama akan terasa mudah. Sebenarnya ini berlaku untuk semua ilmu, kalau kita tidak pernah membaca buku-buku psikologi misalnya, akan susah mencerna isinya, tapi kalau sudah sering, insya Allah kesulitan ini bisa di atasi.

 

Saat membaca Al-Quran, para sahabat mengutamakan pemahaman dan implementasi atau pengamalan. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Kebiasaan kami jika mempelajari sepuluh ayat Al-Quran, kami tidak akan melampauinya sebelum kami memahami secara benar maknanya dan mengamalkannya.” (H.R. Athabari dalam tafsirnya dengan sanad yang sahih). Sementara itu, kita lebih mengutamakan khatam (tamat) daripada paham. Alangkah indahnya kalau kita sering khatam, paham, serta implementatif.

 

Setelah paham, langsung diaplikasikan dalam kehidupan. Anas r.a. mengatakan bahwa Abu Thalhah r.a.–seorang sahabat dari kaum Anshar di Madinah—adalah orang yang banyak hartanya. Di antara harta yang paling disenanginya adalah kebun kurma yang menghadap ke masjid, bahkan Rasulullah Saw. pun pernah singgah di kebun itu. Ketika turun firman Allah yang berbunyi,

 

Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai” (Q.S. Ali Imran [3]: 92). Abu Thalhah bergegas menemui Rasulullah Saw. seraya berkata, “Ya Rasulullah, sungguh aku telah paham ayat itu, maka harta yang paling aku cintai adalah kebun kurma yang menghadap ke masjid. Untuk itu saksikanlah, demi Allah aku sedekahkan kebun itu untuk mendapatkan pahala di sisi-Nya. Maka silakan, Ya Rasulullah bagikan sebagaimana Allah telah mengajarkannya kepadamu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

2. Mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dengan amalan-amalan sunah setelah melaksanakan yang wajib. (Ibnul Qayyim, Madaarijus Saalikiin, jilid 3, hal. 13). Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

 

“…. Tidak ada amalan yang paling aku cintai dari hambaku kecuali apa yang telah diwajibkan kepadanya. Dan aku mencintai hambaku yang senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan amalan-amalan sunah….” (H.R. Bukhari)

 

Menurut riwayat ini, ada dua hal yang menyebabkan Allah Swt. mencintai kita. Pertama, konsisten melaksanakan ibadah-ibadah wajib, seperti shalat lima waktu, shaum Ramadhan, zakat, dan haji kalau sudah mampu. Kedua, melaksanakan amalan-amalan sunah, seperti shalat Rawatib, Tahajud, Dhuha, dan shaum Senin-Kamis. Ibadah-ibadah ini akan menjadi pupuk bagi hati kita sehingga tetap hidup dan subur.

 

Allah Swt. akan merespons taqarrub (pendekatan diri) kita dua kali lipat dari apa yang dilakukan.

 

“Jika manusia ber-taqarrub kepada-Ku satu jengkal, Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika dia ber-taqarrub kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepada-Nya satu depa. Dan apabila dia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari.” (H.R. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

 

Jadi, kalau kita memberi satu cinta kepada Allah, Dia akan memberi dua cinta kepada kita. Kalau kita memberi tiga cinta, Allah akan memberi empat cinta, demikian seterusnya. Oleh karena itu, dekatkanlah diri kepada-Nya dengan ibadah-ibadah sunah setelah kita melaksanakan yang wajib, Dia pasti akan mencintai kita.

 

3. Memperbanyak zikir, baik dengan lisan maupun perbuatan.

 

Allah Swt. berfirman, “…Dan zikirlah (ingatlah) Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung.” (Q.S. Al Jumuah [62]: 10)

 

Ada dua macam zikir, yaitu muqayyad dan muthlaq. Dzikir muqayyad adalah zikir yang jenis dan jumlahnya telah ditetapkan Rasulullah Saw., seperti zikir setelah shalat fardhu (wajib) membaca Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing 33 kali. Karena Rasulullah telah menetapkan jenis dan jumlahnya, kita tidak boleh menambahi atau menguranginya.

 

Dzikir muthlaq adalah zikir yang jenis dan jumlahnya tidak ditetapkan oleh Rasulullah Saw., tetapi disesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi. Misalnya saat menghadapi ujian, kita agak gelisah. Kita bisa berzikir apa saja sesuai kemauan, bisa membaca Astaghfirullah, Subhanallah, Alhamdulillah, dan zikir pendek lainnya. Jumlahnya pun terserah kita, berapa pun boleh.

 

Allah Swt. akan mencintai hamba-Nya yang selalu menyertakan zikir dalam seluruh aktivitas kesehariannya. Mendapat kebahagiaan mengucapkan Alhamdulillah, tertimpa musibah mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, melihat kemaksiatan mengucapkan Astaghfirullah, memulai perbuatan baik mengucapkan Bismillah, melihat sesuatu yang mengagumkan mengucapkan Subhanallah. Hal ini merupakan indikator bahwa kita selalu

mengingat-Nya sehingga Allah Swt. pun akan mengingat kita.

Karena itu, ingatlah kepada-Ku niscaya Aku akan ingat pula kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (Q.S. Al Baqarah [2]: 152)

 

Perpus masjid

 

Allah Swt. akan menyertai orang-orang yang selalu berzikir kepada-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Qudsi, “Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya ketika dia menyebut-Ku. Jika dia menyebut-Ku dalam dirinya, Aku menyebutnya dalam diri-Ku. Ketika dia menyebut-Ku di tengah-tengah sekelompok orang, Aku menyebutnya di tengah-tengah kelompok yang lebih baik dari mereka (kelompok malaikat).” (H.R. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

 

Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya Allah Swt. berfirman, ‘Aku bersama hamba-Ku selama dia mengingat-Ku dan selama kedua bibirnya masih bergerak menyebut nama-Ku.’” (H.R. Ahmad, Bukhari, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Hakim)

 

BACA JUGA: 4 Prinsip Tawakal Dalam Meraih Kesuksesan

 

Zikir jangan diartikan sempit (sekadar dengan lisan), tapi juga harus tecermin dalam perbuatan. Kalau kita berbisnis, bekerja, belajar, dengan berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, hal ini juga disebut zikir. Allah Swt. menyebutkan ciri-ciri orang yang dicintai-Nya, “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dalam

 

keadaan berbaring,…” (Q.S. Ali Imran [3]: 191). Inilah yang dimaksud zikir dalam perbuatan atau aktivitas.

 

Apabila ketiga hal tersebut dilaksanakan, yakni memahami Al-Quran, meningkatkan amaliah wajib dan sunah, serta selalu zikir dengan ucapan dan perbuatan, insya Allah kita akan menjadi kekasih-Nya dan akan rindu bertemu dengan-Nya, “Barangsiapa yang mendambakan bertemu dengan Allah, Dia pun mendambakan bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang benci bertemu dengan Allah, Dia pun akan merasa benci bertemu dengannya.” (H.R. Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Darimi, dan Nasa’i)

 

Realisasikan cinta dan rindu kita kepada-Nya dengan cara mengerjakan apa yang Allah cintai. Semoga kita diberi kekuatan untuk bisa meraih cinta-Nya. Amin.

 

Disadur dari buku Kunci Sukses Meraih Cinta Ilahi karya Dr. Aam Amiruddin, M.Si.

5

Red: riska

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

932

(Visited 227 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment