Berhubungan Badan Saat Masa Iddah, Apakah Perceraiannya Jadi Batal?

Assalamu’alaykum. Saya seorang istri yang sedang dalam masa iddah karena prahara rumah tangga sudah tidak bisa diselamatkan lagi meski sudah diusahakan untuk adanya perbaikan dan akhirnya saya pun menggugat cerai, meskipun kami sebenarnya masih saling mencintai. Pada suatu hari, sekitar satu setengah bulan setelah perceraian, kami melakukan hubungan suami istri. Saya pernah mendengar, jika wanita yang mengajukan/menggugat (cerai), maka tidak ada masa rujuk dan masa idahnya hanya satu bulan. Tapi, saya juga pernah mendengar ada lagi pendapat yang menyatakan bahwa masa idahnya tiga setengah bulan dan jika di dalam masa idah itu melakukan hubungan suami sitri, berarti perceraiannya batal. Pertanyaannya, bagaimanakah status perceraian saya? Apakah batal atau tidak? Mohon penjelasannya pak ustadz. ( L via email)

 

 

 

Wa’alaykusama Wr Wb. Iya bapak ibu, mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Sebenarnya dalam ajaran Islam yang namanya perceraian itu dibolehkan meski pun itu suatu perbuatan yang tidak disukai Allah.

 

Ada dua istilah untuk perceraian yang dilakukan atas dasar permintaan cerai atau biasa disebut gugatan cerai dari pihak istri.

 

Pertama, fasakh atau pengajuan cerai oleh istri tanpa adanya kompensasi yang diberikan istri kepada suami dalam kondisi:  

  • suami tidak memberikan nafkah lahir dan batin selama enam bulan berturut-turut;
  • suami meninggalkan istrinya selama empat tahun berturut-turut tanpa ada kabar berita (meskipun terdapat kontroversi tentang batas waktunya);
  • suami tidak melunasi mahar (mas kawin) yang telah disebutkan dalam akad nikah, baik sebagian ataupun seluruhnya (sebelum terjadinya hubungan suami istri); atau
  • adanya perlakuan buruk oleh suami seperti penganiayaan, penghinaan, dan tindakan-tindakan lain yang membahayakan keselamatan dan keamanan istri.

 

Kedua, khulu atau perceraian antara suami-istri dengan keridoan dari keduanya dan atas permintaan istri dengan pembayaran (imbalan) sejumlah harta yang diserahkan istri kepada suaminya serta menggunakan kata khulu’ (gugat cerai).

 

Besarnya kompensasi (iwadh) tergantung kesepakatan keduanya dan disunatkan tidak melebihi jumlah mahar yang telah diberikan kepada istri. Yang berhak menjatuhkan dan mengucapkan lafazh talak adalah suami, baik dengan sepengetahuan hakim ataupun tidak.

 

Khulu’ dan fasakh merupakan cerai yang hukumnya halal tapi dibenci. Artinya, selama masih mungkin dipertahankan, sebaiknya bersabar dulu dan mempertimbangkan dengan masak serta berdoa agar diberi jalan yang terbaik.

 

Jika ternyata tiada pilihan lain, maka konsekuensi hukumnya adalah pemberlakuan talak ba’in bagi istri. Talak ba’in artinya talak yang menghilangkan kesempatan rujuk, kecuali sang isteri tersebut terlebih dahulu menikah dengan yang lain dan telah dukhul (berhubungan suami isteri). Ini menunjukkan bahwa fasakh atau khulu’ sama artinya dengan talak tiga yang berarti talak ba’in.

 

Namun, sebagian ulama mengatakan bahwa gugatan cerai itu berakibat pada talak ba’in shugra saja dan bukan talak ba’in kubro seperti yang telah dijelaskan tersebut. Talak ba’in sugro yaitu hilangnya hak rujuk pada suami selama masa ‘iddah. Artinya, mantan suami ingin kembali kepada mantan istrinya, maka ia diharuskan melamar dan menikah kembali dengan perempuan tersebut.  Sementara itu, istri wajib menunggu sampai masa ‘iddahnya berakhir apabila ingin menikah dengan laki-laki yang lain.

 

Dalam hal ini, saya lebih cenderung pada pendapat kedua karena talak yang datang dari suami atau istri pada prinsipnya sama yaitu jatuhnya talak. Ketika gugatan cerai itu terjadi untuk yang pertama, maka yang terjadi adalah talak satu, bukan talak tiga. Sementara itu, masa ‘iddah karena talak yang datang baik dari suami atau istri adalah sama yaitu tiga kali suci dari haid atau tiga bulan jika belum atau sudah tidak haid.

 

 

Lalu bagaimana jika dalam masa iddah tersebut melakukan hubungan suami istri? Dalam menjawab hal ini ada beberapa pendapat.

 

Pertama Imam Syafi’i berpendapat bahwa rujuk hanya boleh dengan ucapan yang terang, jelas, dan dimengerti. Tidak boleh dengan langsung menyetubuhinya.

 

Sementara Ibnu Hazm berpendapat, dengan menyetubuhinya, ini tidak berarti merujuknya, sebelum kata rujuk itu diucapkan dan menghadirkan saksi serta memberitahu istrinya itu terlebih dahulu sebelum masa iddahnya habis . Hal ini berdasar firman Allah,

 

“Maka, apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, rujuklah kembali kepada mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu serta hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu ( QS At-Talaq : 2)

 

Kemudian Imam Hambali berpendapat bahwa sesungguhnya masa iddah merupakan penantian untuk berpisah dengan istri yang ditalak. Ketika masa iddah selesai, maka terhalang kebolehan untuk rujuk. Karena itu, jika iddah belum selesai dan suami menggauli istrinya di masa itu, maka istri berarti kembali kepadanya dengan jalan rujuk terlebih dahulu.

 

BACA JUGA: Istri Selingkuh, Apakah Langsung Bisa Dierai?

 

Berdasarkan pada ketentuan atau pendapat para ulama tersebut juga berdasarkan Al Quran khususnya Surat At Talaq ayat 2 tersebut, maka menurut pendapat saya kasus yang Anda alami merupakan pelanggaran terhadap ketentuan syari’at.  Mengapa? Sebab dalam masa iddah tidak melakukan hubungan suami istri tanpa ada rujuk terlebih dahulu dan rujuknya sebaiknya dipersaksikan. Jadi bukan suami datang kemudian berhubungan dan batal perceraiannya tanpa ada proses rujuk dulu dan ada saksi bahwa Anda dan suami sudah rujuk.

 

Jadi dalam ketentuan syariat ada pelanggaran dalam menjalani masa iddah tersebut. Karenanya, saran saya segeralah Anda bertobat dan semoga kesalahan tersebut lebih karena keidaktahuan sehingga peluang terampuni lebih besar. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

Nah, terkait bahasan membangun rumah tangga yang sakinah,mawadah dan penuh rahmah termasuk didalamnya cara menyelesaikan persoalan rumah tangga, Anda, mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “MEMBINGKAI SURGA DALAM RUMAH TANGGA”. Didalamnya juga  ada tips dan trik bagaimana mencari solusi keluar dari kemelut atau persoalan rumah tangga dengan bimbingan syariat .Wallahu a’lam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

960

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 1,205 times, 5 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment