Lepas Pakai Jilbab, Bagaimana Hukumnya?

 

Asslamu’alaykum. Bagaimana menurut Ustadz, lebih baik yang mana, memakai jilbab tapi setengah-setengah (pakaian ketat dan masih suka clubbing/dugem) atau tidak memakai jilbab tetapi berkelakuan baik. Secara pribadi, saya lebih memilih tidak memakai jilbab dulu kalau belum benar-benar yakin bisa menjaga citra wanita berjilbab.Kasusnya teman saya bahkan ada yang suka membuka jilbab kalau imannya sedang  tidak stabil. Menurut saya baju khususnya jilbab adalah salah satu simbol atau ciri ketakwaan seorang muslim. Mohon nasihatnya ustadz dan terima kasih. ( Gladys via email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya teteh, mojang bujang dan sahabat-sahabat sekalian. Apa yang Anda sampaikan ada benarnya bahwa busana muslimah merupakan salah satu identitas takwa dan harus bisa menggambarkan keshalihan serta keimanan seseorang. Berjilbab atau menutup aurat bagi seorang muslimah adalah sebuah kewajiban yang harus ditaati sebagaimana diperintahkan Allah melalui ayat berikut,

 

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab:59)

Citra muslimah yang berjilbab hendaknya jangan sampai menjadi buruk hanya karena kelakukan segelintir orang yang tidak bertanggung jawab. Seharuasnya atau idealnya, seorang wanita yang berbusana muslimah itu mencerminkan nilai dan sikap takwa. Seorang muslimah apalagi sudah berjilbab hendaknya dibarengi sikap, akhlak, kelakuan, perbuatan, omongan, dan perilakunya mencerminkan orang yang bertakwa atau minimal lebih baik dari yang tidak atau belum dijilbab.

Menurut hemat saya, sikap Anda sudah bagus karena tidak mau merusak citra muslimah dengan pakaian muslimah. Saya menghargai ikhtiar Anda yang belum berjilbab secara total dan sesuai syariah sebagai salah satu acara untuk menjaga citra muslimah berjilbab. Namun saya perlu ingatkan bahwa sikap demikian tidak perlu berlama-lama. Anda harus punya target kapan berjilbab dan menutup aurat sambil terus berusaha memantapkan diri menjadi seorang muslimah yang taat pada syariat. Anda bisa mengaji dan ikut kajian sehingga keimanan Anda terus meningkat. Anda jangan menunda-nunda keinginan untuk berjilab hanya karena belum siap 100%. Anda harus ingat bahwa hidup ini tidak selamanya sementara berjilbab adalah tuntutan dan kewajiban yang harus ditunaikan. Bagaimana jika kematian terlebih dahulu menjemput sebelum Anda benar-benar melaksanakan niat berjilbab? Tentu Anda akan menyesalinya, bukan?

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (H.R. Bukhari)

Oleh sebab itu, alangkah lebih baiknya kalau akselerasi niat berjilbab tersebut dipercepat. Hendaknya kaum wanita tidak menunggu menjadi shalihah terlebih dahulu untuk memakai jilbab, tetapi sebaliknya, memakai jilbab supaya menjadi wanita yang shalihah. Ya, kalau boleh saya bersaran, sebaiknya paradigma berpikir Anda diubah. Katakan pada diri sendiri, “Saya akan berjilbab supaya jilbab itu membimbing dan mendorong saya menjadi lebih shalehah dan saya harus mampu menjaga citra wanita berjilbab.” Dengan kerangka fikir seperti ini, kita berharap agar ajaran-ajaran Islam khususnya berjilbab semakin membawa pada perubahan hidup yang lebih baik.

Adapun mengenai perilaku teman Anda yang melepas jilbab dengan alasan kondisi keimanannya sedang tidak stabil, menurut hemat saya ini adalah perilaku dan cara berfikir yang  kurang tepat. Justru perilaku ini akan semakin menurunkan kadar keimanan orang yang bersangkutan. Kalau kondisi keimanan menurun, hal tersebut justru harus dilawan dengan semakin meningkatkan keshalihan. Ibaratnya begini, orang yang sedang sakit tapi malas makan atau minum obat. Kalau ingin cepat sembuh maka ia harus memaksakan diri untuk makan dan minum obat sehingga daya tahan tubuhnya meningka. Bukan sebaliknya, malah meninggalkan makan yang justru akan semakin menurunkan daya tahan tubuhnya dan sakitnya bertambah parah.

BACA JUGA: Rajin Ibadah Tapi Tidak Berjilbab,Apa Hukumnya?

Jadi, bagi Anda yang sedang mencoba untuk istiqomah berjilbab, kalau merasa iman sedang menurun justru harus semakin rajin memakainya sehingga diharapkan kondisi keimanan menjadi semakin meningkat dan semangat kembali. Bergaul dan berkumpullah dengan teman-teman yang berjilbab dan minta mereka memotivasi Anda untuk terus berjilbab. Kalau Anda sedang futur atau keimanan lemah kemudian kumpul dengan teman-teman yang tidak berjilbab apalagi kalau sampai Anda menyengaja melepas jilbab dengan alasan iman sedang turun maka perilaku ini justru akan membuat keimananan Anda semakin rapuh.

Tentu saja yang namanya ujian, cobaan atau tantangan keimanan itu selalu ada. Untuk itu Anda insya Allah akan merasakan kenikmatan dan lezatnya keimanan itu kalau bisa melewati ujian dan cobaan tersebut. Saat itu Anda akan merasakan kebahagian yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Jadi menurut hemat saya, niat Anda untuk berjilbab sudah bagus, tinggal Anda memupuhnya untuk semakin kuat sehingga insya Allah, Anda akan menjadi muslihah yang sejati dengan istiqomah berjilbab. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam. [ ]

5

BACA JUGA: Bolehkah Wanita Monopouse Tidak Berjilbab?

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

962

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 775 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment