Beranda blog Halaman 9

Bolehkah Shalat Sunnah Dilaksanakan Saat Safar? Begini Penjelasannya

0
ilustrasi foto: freepik

PERCIKANIMAN.iD – – Selain shalat wajib yang lima waktu ( Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya), kaum muslimin juga dianjurkan untuk memperbanyak dengan shalat sunnah, misalnya shalat Dhuha, shalat Tahajud hingga shalat sunnah rawatib yaitu shalat yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat lima waktu.

Salah satu hikmahnya shalat rawatib adalah sebagai penambal atau penyempurna kekurangan yang mungkin selalu terjadi dalam shalat fardlu

Kita tahu bahwa amal shalat fardlu adalah amal hamba yang pertama kali dihisab, sebagaimana yang dikemukakan dalam hadits riwayat Abu Hurairah berikut ini. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ، فَإِنْ أَتَمَّهَا، وَإِلَّا قِيلَ: انْظُرُوا هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتِ الْفَرِيضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ يُفْعَلُ بِسَائِرِ الْأَعْمَالِ الْمَفْرُوضَةِ مِثْلُ ذَلِكَ

Artinya: Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat fardlu. Itu pun jika sang hamba menyempurnakannya. Jika tidak, maka disampaikan, “Lihatlah oleh kalian, apakah hamba itu memiliki amalan (shalat) sunnah?” Jika ingin memiliki amalan shalat sunnah, sempurnakan amalan shalat fardlu dengan amal shalat sunnahnya. Kemudian, perlakukanlah amal-amal fardlu lainnya seperti tadi “(HR Ibnu Majah).

Lalu, bagaimana saat kita sedang safar atau bepergian? Bolehkah shalat sunnah dilaksanakan saat safar? Jika tidak boleh, amalan apa sebagai gantinya? Apakah selama safar shalat harus terus dijamak?

 

Untuk mendapatkan penjelasannya bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian bisa simak jawaban dari guru kita ustadz Aam Amiruddin dalam video berikut ini. Silakan simak:

Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

Video: tim official

987

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 / 0813-2007-1001 (Aam Amirudin Official) atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

Menag Minta Saudi Tinjau Kembali Aturan Haji Dikurangi 50 Persen

0
Para Petugas Haji bersiap melaksanakan tugas. ( ilustrasi foto: kemenagri)

PERCIKANIMAN.iD— Menteri Agama RI, Prof Nasaruddin Umar mengungkapkan adanya aturan baru terkait jumlah petugas haji atau pendamping haji dalam penyelenggaraan ibadah haji 2025. Menurut dia, pemerintah Arab Saudi mengurangi jumlah petugas haji di masing-masing negara, termasuk Indonesia.

“Memang ada peraturan baru. Pengurangan pendamping 50 persen. Ini kebijakan dari Saudi Arabia,” ujar Prof Nasar saat menghadiri acara pembukaan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) IV MUI di Jakarta Pusat, dilansir dari republika online, Selasa (17/12/2024).Pada tahun lalu, menurut dia, petugas haji yang mendampingi jamaah haji Indonesia berjumlah sekitar 2.200 orang. Namun, kata dia, tahun ini jumlahnya dikurangi setengahnya.

“Tapi saya datang khusus kemarin ketemu dengan Menteri Haji mohon ditunjau kembali, karena daftar tunggu kami 48 tahun ya. Berarti rata-rata nanti jamah haji itu adalah sudah tua-tua,” ucap Prof Nasar.

Dia menjelaskan, sebenarnya petugas haji itu justru untuk membantu Pemerintah Arab Saudi. Karena, jika pemerintah Saudi yang mengurusnya akan mengalami kesulitan saat berkomunikasi dengan jamaah haji Indonesia.

“Karena kalau pemerintah Saudi Arabia yang harus mengurus semua itu kan tidak tahu bahasa Indonesia. Kemudian tenaganya juga terbatas,” kata dia.

Sementara, tambah dia, jika pendampingnya atau petugasnya dari Indonesia, maka akan mudah membantu jamaah haji. Karena itu, dia masih berharap Pemerintah Arab Saudi akan menambah jumlah petugas haji Indonesia.

“Kalau pendampingnya dari Indonesia kan tahu bahasa Indonesia dan tahu penyakitnya yang dibimbing dan sebagainya. Kita nanti akan berharap tambahan pendampingannya itu ada,” jelas Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta ini. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

981

Antrean Haji Indonesia Capai 5,4 Juta Orang

0
ilustrasi foto: kemenag

PERCIKANIMAN.iD — Antrean calon jamaah haji Indonesia kini telah mencapai 5,4 juta orang. Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah mengatakan, ini merupakan tantangan bagi ekosistem perhajian.

Fadlul menuturkan, sejak dibentuk 2017 lalu, BPKH kini telah berkiprah selama tujuh tahun, usia yang masih belia. Namun, dia juga mengakui Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPS BPIH) telah memainkan peran strategis dalam pelayanan jamaah haji.

“Kiprah BPKH selama tujuh tahun terakhir tentu tidak lepas dari peran BPS-BPIH sebagai garda terdepan dalam menerima setoran haji jamaah indonesia, yang saat ini antreannya mencapai 5,4 orang,” ujar Fadlul saat sambutan dalam acara Annual Meeting dan Banking Award 2024 di Jakarta Selatan, dilansir dari republika.co.id, Jumat (13/12/2024) malam.

Berdasarkan data BPS tahun 2023, menurut dia, ada 17 juta dari 210 juta umat Islam Indonesia yang telah memenuhi syarat untuk menunaikan ibadah haji. Namun baru 0,31 persen yang terdaftar sebagai calon jamaah haji.

Menurut Fadlul, ini merupakan hal yang perlu dicarikan solusinya bersama-sama. Karena, di satu sisi antrean haji yang 5,4 juta itu tentu saja membuat waktu tunggu yang rata-rata dari 25-30 tahun untuk keberangkatan haji. Sementara, dari sisi bisnis ini tentu menjadi pangsa pasar yang besar untuk digarap BPS BPIH.

“Ini adalah dilematis bagi kita semua. Namun demikian kembali lagi ini adalah peluang sekaligus tantangan bagi kita untuk membantu umat Islam di Indonesia dalam rangka melaksanakan rukun kelima melalui produk dan layanan perbankan syariah,” kata Fadlul.

Dalam acara Annual Meeting dan Banking Award 2024 ini, Fadlul juga memaparkan kinerja BPKH selama tujuh tahun terakhir, sekaligus memberikan penghargaan kepada mitra perbankan syariah.

Menurut Fadlul, pertemuan tahunan ini memiliki dua tujuan utama: yakni memperkuat kolaborasi antara BPKH, lembaga keuangan syariah, dan penyedia teknologi dalam sektor keuangan haji, serta mendorong inovasi dalam layanan bagi jamaah haji.

Karenanya, salah satu agenda utama dalam acara tahunan ini adalah membahas inovasi layanan keuangan syariah dalam ekosistem haji, untuk mempermudah proses setoran awal haji.

“Peningkatan layanan kepada jemaah haji sangat penting. Karenanya BPKH berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi layanan keuangan melalui seamless process setoran awal haji agar lebih mudah, lebih cepat, lebih transparan dan aman,” jelas Fadlul.

Pada acara tersebut, BPKH juga memberikan penghargaan kepada 30 mitra perbankan syariah yang telah berkontribusi dalam meningkatkan layanan bagi jemaah haji.

“Penghargaan ini kami berikan sebagai wujud apresiasi atas dedikasi dan kontribusi mitra perbankan syariah yang terus mendukung BPKH dalam mewujudkan layanan haji yang semakin baik,” ujar Fadlul. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

894

Membawa Misi Kemanusiaan, Unisa Bandung Hadir untuk Korban Banjir di Sukabumi

0
Banir Sukabumi
Tim medis dari Unisa Bandung menuju korban banjir Sukabumi ( foto: dok.unisa bandung)

PERCIKANIMAN.iD – –  Tim Satuan Tugas (Satgas) Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Bandung menunjukkan aksi nyata dalam membantu penanganan korban bencana banjir yang melanda Kabupaten Sukabumi. Dengan dasar kemanusiaan dan peran sebagai relawan kesehatan, tim Satgas Unisa Bandung hadir di lokasi bencana untuk memberikan berbagai bantuan yang dibutuhkan oleh masyarakat terdampak.

“Kehadiran kami di sini adalah wujud komitmen terhadap kebencanaan, khususnya dalam memberikan pelayanan kesehatan pada situasi darurat serta mendukung pemuliuhan masyarakat pascabencana” ujar Nanda Fathir, S.Kep selaku koordinator Satgas Unisa Bandung, Senin (16/12/2024)

Tim yang diterjunkan terdiri dari tenaga pendidik, dosen, serta mahasiswa tingkat 1 hingga 3 yang telah terlatih dalam penanganan bencana. Dengan formasi ini, Satgas Unisa Bandung memastikan setiap bantuan yang diberikan dapat dilakukan secara profesional dan maksimal.

“Kami membawa anggota yang sudah dilatih khusus untuk menghadapi situasi bencana. Ini memastikan bahwa pelayanan yang kami berikan dapat berjalan dengan baik,” jelas Nanda.

Nanda menyampaikan bahwa kegiatan pemberian bantuan ini dimulai sejak Kamis-Minggu  12-15 Desember 2024.

“Selama empat hari, tim membuka posko layanan kesehatan di dua lokasi, yaitu Kecamatan Nyalindung dan Kecamatan Sagaranten. Pada kesempatan itu, Tim satgas memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak banjir, longsor, dan pergerakan tanah serta mendistribusikan sembako dan pakaian layak pakai. Terangnya.

Nanda juga mengatakan bahwa selain memberikan bantuan fisik, Tim Satgas juga menghadirkan kegiatan untuk memulihkan mental para korban pasca terdampak bencana, terutama bagi anak-anak.

“Hiburan seperti permainan ini penting untuk mengurangi trauma mereka akibat bencana.”

Dalam pelaksanaannya, tim Satgas Unisa Bandung juga berkoordinasi erat dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Barat. Selain itu, mereka bekerja sama dengan berbagai aparatur setempat, seperti Koramil, puskesmas, desa, hingga tingkat kecamatan, untuk memastikan kelancaran dan efektivitas bantuan.

“Kerja sama dengan MDMC dan aparatur setempat sangat penting. Dengan sinergi ini, kami dapat memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lokasi bencana,” Pungkas Nanda.

Dengan segala upaya yang dilakukan, Satgas Unisa Bandung berharap dapat membantu masyarakat Sukabumi pulih dari dampak bencana yang mereka alami. Aksi ini juga menjadi wujud nyata dari nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial yang terus ditanamkan oleh Universitas ‘Aisyiyah Bandung kepada seluruh civitas akademika. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

986

Benarkah Ada Ruh Gentayangan? Begini Penjelasannya

0
Ada alam gaib dan ada peristiwa gaib ( ilustrasi foto: freepik)

PERCIKANIMAN.iD – – Selama ini masih ada anggapan di Masyarakat bahwa ada ruh yang gentayangan. Sebagian mempercayai ruh gentayangan karena sewaktu meninggal ia belum ikhlas meninggalkan dunia atau orang yang meninggal karena bun** diri atau dibun** sehingga arwahnya “tidak diterima bumi dan langit”.

Benarkah ada ruh yang gentayangan? Benarkah kalau ada orang yang kesurupan, ia bisa dimasuki ruh yang gentayangan? Dalam buku “Menelanjangi Strategi Jin” karya Ustadz Aam Amiruddin” dijelaskan bahwa kita harus hati-hati kalau berbicara masalah ruh karena ruh merupakan ilmu Allah yang sangat misterius. Sedikit sekali ilmu yang Allah Swt. berikan pada manusia tentang roh.

Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu urusan Tuhanku. Kamu hanya diberi sedikit pengetahuan.’” (Q.S. Al-Israa’ [17]: 85). Oleh karena itu, kalau kita berbicara tentang ruh, harus selalu merujuk pada Al-Qur’an dan hadis sahih.

Tidak ada satu keterangan pun yang menjelaskan bahwa ruh orang yang keluar dari jasad itu bergentayangan selama beberapa waktu di sekitar rumah, apalagi sampai menampakkan diri.

Perhatikan keterangan berikut. Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada penularan, tidak ada mayat gentayangan menjadi hantu kuburan, tidak ada binatang tertentu yang muncul menyebabkan hujan, dan tidak ada tabu di bulan Safar.” (H.R. Muslim)

Seluruh manusia akan kembali kepada Allah setelah wafat. “Katakanlah, ‘Malaikat maut yang ditugaskan mencabut nyawamu akan mematikanmu dan mengembalikanmu kepada Tuhanmu.’”(Q.S. As-Sajdah [32]: 11).

Orang yang saleh, ketika ruhnya keluar dari jasad, akan disambut para malaikat rahmat dengan sambutan yang hangat dan penuh pengharapan sehingga ruhnya kembali pada Allah dalam keadaan tenang dan damai.

“Sesungguhnya, orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian meneguhkan pendirian mereka, maka para malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu merasa takut dan bersedih. Bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kami adalah pelindung[1]pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Di surga, kamu akan memperoleh apa yang kamu inginkan dan kamu minta.’”(Q.S.Fushshilat [41]: 30-31).

Hai, jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Masuklah ke golongan hamba-hamba-Ku, masuklah ke surga-Ku.”(Q.S. Al-Fajr [89]: 27–30)

Sementara, orang-orang yang bergelimang maksiat dan tidak pernah berbekal untuk akhirat, akan menghadapi penderitaan yang dahsyat saat menghadapi syakaratul maut.

“…Alangkah ngerinya seandainya kamu melihat orang-orang zalim berada dalam kesakitan sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata, ‘Keluarkanlah nyawamu!’ Pada hari ini, kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan karena kamu mengatakan perkataan yang tidak benar terhadap Allah dan kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (Q.S. Al-An’aam [6]: 93)

Mereka akan merasakan penyesalan yang luar biasa, sampai mereka memohon kepada Allah agar ruhnya dikembalikan ke dalam jasadnya. Namun, hal itu adalah permohonan yang mustahil dikabulkan.

Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu, hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, ia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikan aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sungguh, itu dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada barzakh sampai mereka dibangkitkan.” (Q.S. Al Mu’minuun [23]: 99 – 100)

Bertolak dari dalil-dalil tersebut, bisa ditegaskan bahwa semua ruh akan berada di alam barzah sampai terjadi hari kiamat. Tidak ada satu pun penjelasan, baik dalam Al Qur’an ataupun hadis sahih, yang menjelaskan bahwa ruh itu gentayangan, apalagi bisa masuk pada tubuh orang hidup.

Kalau kita menemukan orang yang kesurupan dengan gaya serta cara bicaranya sama dengan orang yang sudah meninggal, ruh yang masuk pada orang tersebut bukanlah ruh orang yang sudah meninggal, tetapi yang masuk pada orang itu adalah jin yang menyerupai almarhum. Sebagaimana sudah dijelaskan, jin bisa saja masuk pada tubuh manusia yang saleh maupun kafir. Wallahu a‘lam [ ]

 

5

Red: admin

Editor: iman

908

Wasekjen MUI: Boikot Produk Terafiliasi Israel Punya Dampak Positif terhadap Produk Lokal

0
Spanduk boikot produk pro Israel ( foto: roffi darwis)

PERCIKANIMAN.iD — Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai isu boikot yang tengah beredar saat ini telah menyadarkan masyarakat bahwa produk lokal lebih berkualitas dan tidak kalah saing dengan beragam produk yang dikelola oleh pihak asing.

“Alhamdulillah sekarang banyak bermunculan produk-produk baru, misalnya di bisnis air mineral. Produk lokal, yang saham mayoritasnya dimiliki orang atau perusahaan Indonesia, kualitasnya tidak kalah dengan produk asing,” kata Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Hukum Dr. KH Ikhsan Abdullah dilansir dari ihram, Kamis (12/12/2024).

Ikhsan mengatakan gerakan boikot yang dilakukan masyarakat terhadap sejumlah produk yang dinilai terafiliasi dengan Israel, justru memicu perubahan selera dan pilihan masyarakat atas produk lokal yang berdampak signifikan pada perekonomian nasional. Pola konsumsi masyarakat yang berubah dapat terlihat dari salah satu makanan yakni ayam goreng yang digemari anak-anak, dapat digantikan dengan produk lokal.

“Isu PHK massal diembuskan pihak-pihak yang sudah terbiasa menikmati keuntungan besar dari peredaran produk multinasional asing pro Israel di Indonesia. Boikot dalam setahun lebih terakhir bikin mereka merugi. Ya wajarlah, karena mereka sendiri yang memulai,” kata Ikhsan.

Ketua Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) bidang pemberdayaan perekonomian Dr. KH Eman Suryaman menambahkan gerakan boikot berhasil memicu peningkatan minat konsumen pada produk lokal.

”Efek boikot produk pro Israel itu nyata. Penjualan sejumlah perusahaan multinasional buktinya banyak terpangkas. Jadi, saya kira kita semua harus berani dalam meneruskan gerakan boikot Israel,” katanya.

Di sisi lain, gerakan boikot memunculkan banyak dampak positifnya bagi perusahaan dalam negeri setelah konsumen mulai menjauhi produk-produk tertentu yang dianggap ikut berkontribusi pada agresmi Israel atas Gaza dan Lebanon dalam setahun lebih terakhir.

Ia mengatakan Fatwa MUI terkait boikot produk Israel memainkan peran signifikan dalam geliat perekonomian nasional, yang dibuktikan dengan kian terbukanya peluang perluasan usaha bagi pebisnis di dalam negeri. Oleh karena itulah, dibanding boikot memicu PHK massal seperti yang didengungkan sebagian pihak, kegiatan bisnis dan ekonomi di dalam negeri malah bangkit dan menjamur di mana-mana.

MUI telah mengeluarkan Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina. Dalam fatwa itu MUI merekomendasikan umat Islam semaksimal mungkin menghindari transaksi dan penggunaan produk yang terafiliasi dengan Israel serta yang mendukung penjajahan dan zionisme.

MUI juga mendorong warga Muslim Indonesia ikut membangkitkan ekonomi nasional dengan mengkonsumsi produk lokal dan menghindari segala produk terafiliasi maupun diimpor langsung dari Israel lewat Fatwa MUI Nomor 14/Ijtima’ Ulama/VIII/2024 tentang Prioritas Penggunaan Produk dalam Negeri. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

986

Dana Haji Capai Rp 169 Triliun

0
Calon jamaah haji melakukan setoran ( ilustrasi foto: republika.co.id)
PERCIKANIMAN.iD – Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bekerjasama dengan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) menyelenggarakan Seminar bertajuk “Ruang Dialog BPKH: Tantangan Investasi dan Optimalisasi Pengelolaan Dana Haji” di Jakarta, Selasa (3/12/2024).

Dalam sambutannya, Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah dalam sambutannya mengajak seluruh pihak untuk bersinergi dalam mengoptimalkan pengelolaan dana haji yang terus bertumbuh. 

Saat ini, menurut dia, dana kelolaan haji BPKH telah mencapai lebih dari Rp 169 triliun. Jumlah yang besar ini membawa tanggung jawab besar bagi BPKH untuk menyeimbangkan antara prinsip syariah, tujuan investasi, dan kebutuhan jamaah haji di tengah dinamika perekonomian global yang semakin kompleks. 

“Kami harus memastikan bahwa setiap rupiah dana haji yang kita kelola diinvestasikan pada instrumen yang sesuai dengan prinsip syariah dan memberikan imbal hasil yang optimal,” ujar Fadlul dalam keterangan persnya di Jakarta, dilansir dari ihram, Rabu (3/12/2024).

Namun, kata dia, pihaknya juga harus tetap memperhatikan likuiditas dana, sehingga pada saatnya nanti dana tersebut dapat dikembalikan kepada jamaah haji. Dialog ini bertujuan memberikan konstribusi berbagai bentuk alternatif dalam pengelolaan dana haji, sehingga memberikan nilai manfaat yang optimal dan berkonstribusi dalam pembangunan nasional.

Wujudkan Bandung Asri, Unisa Bandung Gelar Aksi Tanam Pohon

0
Tanam Pohon
Mahasiwa Unisa Bandung bersiap menanam pohon ( foto: dok.unisa bandung)

PERCIKANIMAN.iD – –  Dalam upaya mendukung program pemerintah Kota Bandung bertajuk “Konservasi Bandung Berkelanjutan” yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan memperluas Ruang Terbuka Hijau (RTL) di Kota Bandung, Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Bandung menggelar kegiatan penanaman bibit pohon di Taman Kehati, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung pada hari Sabtu (07/12/2024).

Kegiatan ini melibatkan dosen, mahasiswa, dan masyarakat sekitar. Dosen Unisa Bandung yang hadir dalam kegiatan ini termasuk Haris Hidayat, M.Kom, yang memimpin pelaksanaan program, serta Hayinah Rahayu, S.Ag., M.Pd yang turut memberikan dukungan dan arahan kepada para peserta.

“Kami ingin meningkatkan kualitas udara, mengurangi polusi, mengembalikan fungsi ekosistem alami, serta menambah Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mendukung mitigasi perubahan iklim dan mengurangi risiko bencana seperti banjir dan tanah longsor,” terang Haris, Selasa (10/12/2024)

Haris juga menjelaskan alasannya mengapa memilih Taman Kehati sebagai lokasi penanaman pohon tersebut karena Taman Kehati dianggap memiliki potensi besar untuk pengembangan ekosistem perkotaan.

“Lingkungan di sini membutuhkan penguatan dan pelestarian keanekaragaman hayati. Selain itu, lokasinya strategis sebagai kawasan konservasi sekaligus ruang edukasi masyarakat, kawasan ini juga berperan penting dalam mengurangi dampak urbanisasi yang semakin meningkat di wilayah pinggiran Bandung”. Jelasnya.

Pada kegiatan tersebut, bibit pohon puspa (Schima wallichii) dan Loa (Ficus racemosa) ditanam. Kedua jenis pohon ini dipilih karena manfaat ekologisnya yang signifikan.

“Pohon puspa memiliki daya tahan terhadap polusi udara dan mampu menyerap air dengan baik sehingga efektif untuk mencegah banjir. Sementara itu, pohon Loa berperan sebagai penyerap karbon dioksida, habitat satwa seperti burung dan serangga penyerbuk, serta memiliki perakaran kuat yang membantu mencegah erosi,” jelas Haris.

Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam setiap tahap kegiatan.

Menurut Haris, keterlibatan mahasiswa bertujuan untuk memberikan edukasi tentang pentingnya pelestarian lingkungan hidup dan sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat serta penelitian lingkungan.

Haris berharap program ini dapat memberikan dampak positif bagi Kota Bandung, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang

“Kami berharap udara di Kota Bandung menjadi lebih bersih, suhu kota lebih stabil, dan ekosistem lebih sehat. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan mendorong partisipasi aktif masyarakat untuk menjaga lingkungan,”pungkasnya. [ ]

5

Red: admin

Editor: admin

986

Apa Agama Jin? Begini Penjelasannya

0
Jin dan Manusia mempunyai alam yang berbeda ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.iD – – Meski berbeda secara alam, namun manusia dan jin mempunyai persamaan yakni bertugas untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah Ta’ala.  Manusia dan jin memiliki sejumlah kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai wujud pengabdian kepada-Nya. Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah Swt dalam Al Quran,

(56) وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzaariyaat [51]: 56)

Untuk bisa beribadah atau mengabdi pada Allah Ta’ala tentu harus ada panduannya atau petunjuknya.Manusia khususnya orang Islam (muslim) jelas petunjuknya ada dalam Al Quran dan contoh atau cara ibadah kepada Allah tersebut telah diajarkan oleh Rasulullah Saw lewat hadits-hadits kemudian mendapat penjelasan dari ulama atau ahli fikih.

Lalu bagaimana dengan Jin? Apakah jin punya agama dan petunjuk seperti manusia?. Dalam buku “Menelanjangi Strategi Jin” karya Ustadz Aam Amiruddin” dijelaskan bahwa ada ayat Al Quran yang menegaskan,

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا شَهِدْنَا عَلَىٰ أَنْفُسِنَا ۖ وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

“Hai, golongan jin dan manusia! Bukankan sudah datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri? Mereka menyampaikan ayat-ayat-Ku kepadamu dan memperingatanmu tentang pertemuan pada hari ini? Mereka menjawab, ‘Ya, kami menjadi saksi atas diri kami sendiri,’ Mereka tertipu oleh kehidupan dunia dan telah bersaksi atas dirinya sendiri bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al-An’aam [6]: 130)

Kalimat dari kalanganmu sendiri pada ayat ini mengandung dua kemungkinan. Pertama, rasul bagi setiap golongan itu berasal dari golongan itu sendiri.

Artinya, rasul untuk manusia dari golongan manusia, demikian juga rasul untuk jin dari golongan jin. Kedua, rasul untuk manusia dan jin itu dipercayakan kepada satu golongan saja, yaitu kepada manusia. Imam Suyuthi menegaskan, mayoritas ulama telah sepakat bahwa belum pernah ada seorang rasul maupun nabi dari bangsa jin. Demikian riwayat dari Ibnu Abbas, Mujahid, al-Kalabiy, dan Abu Ubaid.

Allah mengutus Nabi Muhammad Saw. sebagai rahmat untuk seluruh alam, termasuk di dalamnya kepada bangsa jin. Dalam riwayat Imam Muslim, juga dalam musnad Imam Ahmad, dijelaskan bahwa Rasulullah Saw. pernah datang pada bangsa jin untuk mengajarkan Al-Qur’an dan ketauhidan.

Berikut riwayatnya,Alqamah r.a. mengatakan bahwa dirinya bertanya kepada Abdullah bin Mas‘ud r.a., “Apakah ada salah seorang di antara kalian yang menemani Rasulullah Saw. pada malam beliau mengajar para jin?” Abdullah bin Mas‘ud menjawab, “Tidak, tidak ada satu pun dari kami yang menemani beliau. Pada malam kami kehilangan jejak beliau, kami cemas dan bertanya tanya, apakah beliau diculik. Apa yang dikerjakan Rasulullah Saw?

Malam itu kami lalui dengan penuh kecemasan. Ketika fajar menyingsing, tiba-tiba kami melihat beliau datang dari arah Gua Hira. Kami menanyakan apa yang terjadi pada malam itu dan menceritakan kegelisahan kami. Rasulullah menjawab,

“Aku kedatangan da‘i (pendakwah) dari bangsa jin. Kemudian aku mendatangi mereka, lalu aku mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka.” Kemudian Rasulullah menuju suatu tempat dan menunjukkan kepada kami bekas-bekas keberadaan mereka dan juga jejak-jejak perapian mereka.” (H.R. Muslim dan Ahmad)

Ibnu Katsir ketika menjelaskan Surah Al-Ahqaaf mencantumkan sejumlah riwayat yang menunjukkan bahwa pertemuan yang dilakukan Rasulullah Saw. dengan para jin bukan satu kali saja, tetapi beberapa kali. Keterangan[1]keterangan sahih ini begitu tegas menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. pun berdakwah pada bangsa jin sehingga di antara mereka banyak yang memeluk Islam.

(1) قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

(2) يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

Katakan (Muhammad), ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan bacaan Al-Qur’an.’ Lalu, mereka berkata, ‘Kami telah mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk pada jalan yang benar, lalu kami tidak akan mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu apa pun.’” (Q.S. Jinn [72]: 1-2)

Ayat ini menjelaskan bahwa ketika Rasulullah Saw. membaca Al-Qur’an, ada sekelompok jin yang ikut mendengarkan bacaannya, lalu mereka mengimaninya. Kalau mengimani Al Qur’an berarti mereka memeluk ajaran Islam. Konsekuensinya, agama mereka adalah Islam dan cara ibadahnya pun secara Islam.

Kelompok jin ini dijelaskan lebih detail dalam Surah Al-Ahqaaf (46): 29-31, “Ingatlah, ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammdad) serombongan jin yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an, mereka menghadiri pembacanya dan berkata, ‘Simaklah dengan baik!’ Maka, setelah selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan. Mereka berkata,

‘Hai, kaum kami! Sungguh kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang diturunkan seteah Musa, membenarkan kitab-kitab yang datang sebelumnya, membimbing pada pada kebenaran dan jalan yang lurus. Hai, kaum kami! Terimalah seruan orang yang mengajak kepada Allah. Berimanlah kepada-Nya, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan membebaskanmu dari azab pedih.’”

Jin sama seperti manusia, ada yang saleh ada juga yang kufur, “Sungguh, di antara kami ada yang saleh dan ada pula yang sebaliknya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (Q.S. Jinn [72]: 11)

Merujuk pada ayat-ayat tersebut, bisa ditegaskan bahwa nabinya para jin adalah dari bangsa manusia. Belum pernah ada seorang rasul maupun nabi dari bangsa jin. Jin terbagi pada beberapa kelompok. Ada yang saleh, istiqamah, munafik, bahkan kafir. Mereka memiliki kapasitas iman yang berbeda-beda seperti halnya manusia. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

Sumber: buku

5

Red: admin

Editor: iman

907

Komnas Haji Dorong DPR Segera Tetapkan Biaya Haji 2025

0
Sejumlah calon jamaah haji melakukan pelunasan biaya ( ilustrasi foto: bsi /kemenag)

PERCIKANIMAN.iD – – Komisi Nasional Haji (Komnas Haji) mendorong Komisi VIII DPR RI untuk segera menetapkan biaya penyelenggaraan ibadah haji 1446 Hijriah/2025 Masehi mengingat waktu yang semakin mepet.

“Waktunya sudah mepet. Saya khawatir jika persiapan tidak maksimal penyelenggaraan haji bisa terganggu,” ujar Ketua Komnas Haji Mustolih Siradj.

Penyelenggaraan ibadah haji 2025 tinggal beberapa bulan lagi. Apabila merujuk pada rencana yang telah disusun Kementerian Agama (Kemenag), pada 2 Mei 2025 merupakan penerbangan kloter pertama ke Tanah Suci.

Artinya, jika menghitung dari mulai hari ini hanya tinggal lima bulan lagi. Namun sampai saat ini Komisi VIII DPR RI belum menyepakati dan menetapkan besaran biaya haji serta terkait dengan berbagai persiapan teknis lainnya, termasuk besaran kuota jamaah.

“Padahal Desember 2024 hingga Januari 2025 DPR akan memasuki masa reses. Berkaca pada musim haji tahun 2024, awal November 2023 Panja Haji sudah bekerja secara maraton dan akhir November hasil kesepakatan BPIH sudah disampaikan ke Presiden,” ujar Mustolih.

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu khawatir persiapan haji yang terlalu singkat dan mepet akan berdampak terhadap penyelenggaraan ibadah haji yang tidak maksimal.

Di sisi lain, jamaah calon haji butuh segera kepastian besaran biaya yang harus dilunasi dan jadwal keberangkatan.

“Bagi calon jamaah bisa banyak yang tidak mampu melunasi karena minim sosialisasi dan mendadak, sehingga akan banyak kuota haji yang tidak terserap,” kata dia.

Menurutnya, penyelenggaraan ibadah haji memerlukan persiapan matang karena menyangkut berbagai aspek teknis terlebih diselenggarakan di Arab Saudi, meliputi penyiapan dokumen visa, paspor, penerbangan, aspek kesehatan, konsumsi, pemondokan, transportasi, manasik, dan sebagainya.

Semua aspek tersebut membutuhkan biaya, oleh sebab itu harus dihitung dengan cermat yang nantinya masuk dalam komponen Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH).

“Dimana di dalamnya (BPIH) juga terdapat Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang harus dilunasi calon jamaah dan berapa nilai manfaat dana haji yang akan disubsidi dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH),” kata dia.

Berbagai kontrak untuk pembiayaan hotel di Makkah, Madinah, konsumsi, transportasi, kesehatan, biaya di Masya’ir termasuk pemondokan di Arafah dan Mina harus segera dilakukan dan tidak boleh terlambat.

Apabila terlambat, kata dia, maka risikonya lokasi jamaah haji ditempatkan jauh dari pusat-pusat zona/kawasan ring satu yang dekat dengan pusat penyelenggaraan ibadah haji, seperti Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan khususnya pemondokan di Mina untuk menuju pelaksanaan ibadah di Jamarat.

Jika tempatnya jauh, lanjutnya, maka jamaah butuh tenaga lebih, apalagi bagi para lansia dan yang beresiko tinggi (risti) secara kesehatan. Pendampingan para petugas juga butuh konsentrasi lebih besar. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

905