Beranda blog Halaman 4

MUI Nilai Pelaksanaan Haji 2025 Berjalan Baik dan Lancar

0
Jamaah haji Indonesia sebelum pandemi ( ilustrasi foto: kemenag)

PERCIKANIMAN.iD – – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai seluruh rangkaian penyelenggaraan ibadah haji 1446 Hijriah/2025 Masehi MUI telah berjalan dengan baik dan lancar, kendati ada sejumlah kekurangan yang bisa jadi evaluasi untuk tahun mendatang.

“Kami dari MUI memberikan penghargaan dan apresiasi kepada pemerintah, secara khusus Kementerian Agama sebagai penyelenggara. Apresiasi juga kami sampaikan kepada para pihak terkait yang terlibat,” ujar Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Zainut Tauhid Sa’adi di Jakarta, dikutip dariantara, Senin (16/6/2025).

Zainut memandang kelancaran penyelenggaraan ibadah haji tidak terlepas dari peran sejumlah pihak, mulai dari DPR, Kementerian Kesehatan, BPKH, BPK, BP Haji, dan lainnya.

Menurutnya, kekurangan yang terjadi pada tahun ini menjadi ruang bagi perbaikan penyelenggaraan haji di masa mendatang. Kekurangan yang ada juga tidak lepas dari transformasi penyelenggaraan yang sedang berlangsung di Arab Saudi, baik dari aspek manajemen maupun digitalisasi.

“Ke depan, perlu dilakukan penyesuaian yang lebih sistematis guna menyingkronkan seluruh tahapan persiapan penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia dan Arab Saudi. Ini mencakup skema pelunasan, pembentukan kloter, hingga rencana penempatan jamaah di Arab Saudi,” kata dia.

Dari semua rangkaian yang telah berlangsung, MUI merasa Kementerian Agama telah melaksanakan tugasnya dengan baik di tengah dinamika penyelenggaraan haji di Arab Saudi.

“Kemenag telah memberi pondasi yang kuat dan pelajaran berharga bagi BP Haji yang akan meneruskan estafet penyelenggaraan ibadah haji di masa mendatang. Semoga revisi UU dan penyiapan regulasinya bisa segera difinalisasi,” kata dia.

Secara khusus, ia menyampaikan apresiasi kepada para petugas haji Indonesia yang terus bekerja keras hingga saat ini dalam rangka melayani jamaah di tengah cuaca yang sangat ekstrem tanpa mengenal lelah.

“Tanah Suci saat ini dalam cuaca yang sangat panas. Dalam beberapa hari ini, suhu bahkan di atas 45 derajat,” kata dia.

Di tengah cuaca yang panas tersebut, MUI mengimbau jamaah terus menjaga kesehatan sembari menunggu kepulangan ke Tanah Air atau keberangkatan menuju Madinah.

“Sesuaikan aktivitas dengan kondisi kesehatan, serta jangan terlalu memaksakan diri dalam menjalani ibadah sunah,” kata dia. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

980

AMAL Salurkan Bantuan Idul Adha untuk Warga Gaza

0
Bantuan Palestina
Tim relawan AMAL ( foto: dok.aman)

PERCIKANIMAN.iD – – Dalam kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk akibat serangan bertubi-tubi, tim relawan Yayasan Amanah Kemanusiaan Global (AMAL) tetap berhasil menyalurkan bantuan pada momen Idul Adha. Melalui program Eid Adha Food & Clothes, AMAL menghadirkan secercah harapan bagi ribuan warga Gaza.

Distribusi dilakukan di Sekolah Asma dan kawasan pantai utara Jalur Gaza, daerah yang kini menjadi tempat pengungsian mendesak. Sebanyak 338 paket makanan siap santap dan 130 set pakaian anak-anak telah disalurkan kepada 1.130 penerima manfaat.

“Distribusi ini dilakukan di tengah kondisi evakuasi besar-besaran. Tapi kami tak bisa menunggu. Anak-anak tetap butuh makan, tetap butuh merasa dicintai,” ungkap Ayman Khaled, relawan lokal AMAL.

Warga Gaza kini terkonsentrasi di bagian barat kota, setelah otoritas pendudukan memerintahkan relokasi paksa. Kondisi ini memperburuk akses air bersih, makanan, dan sanitasi.

Bantuan dari masyarakat Indonesia menjadi nafas tambahan bagi para pengungsi. “Kami ingin dunia tahu bahwa rakyat Indonesia hadir untuk Gaza, bahkan ketika yang lain menjauh,” tambah Ayman.

AMAL mengajak masyarakat Indonesia untuk terus memperkuat dukungan—bukan hanya sekali, tetapi secara berkelanjutan hingga krisis ini usai. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

906

KB PII Jabar Gelar Silaturahmi Akbar Lintas Generasi

0
KB PII
H.Nono Sambas menyampaikan sambutan ( foto: iman)

PERCIKANIMAN.iD – – Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Wilayah Jabar mengggelar acara silaturahmi akbar yang diikutin lintas generasi. Acara yang cukup hangat dan meriah ini diikuti ratusan orang yang berlangsung di RM Riung Panyaungan Banjaran Kab.Bandung, Senin (9/6/2025)

Dalam kesempatan tersebut hadir sejumlah tokoh senior PII Jabar seperti H.Nono Sambas, H.Udin Koswara,Prof.Ganjar Kurnia,Prof.Sanusi Uwes, Prof. Samuh,Prof.Suganda, H.Empep dan sejumlah tokoh senior lainnya.

Salam sambutannya H.Nono Sambas selaku tuan rumah menyampaikan rasa syukur dimana pada kesempatan tersebut menjadi momen untuk berkumpul dan silaturahmi kader PII lintas generasi yang ada di Jawa Barat.

“Meski tidak semua yang kita undang dapat hadir namun ini bisa menjadi momen bersejarah sekaligus merumuskan dan merencanakan agenda yang lebih besar kedepannya,” imbuh pemilik RM Riung Panyaungan tersebut.

Dirinya berharap kedepannya acara demikian bisa diagendakan rutin dan bukan sekedar untuk bernostalgia tetap membuat kegiatan dan mengaktifkan kembali kader PII khususnya yang ada di Jawa Barat.

Sementara itu H.Udin Koswara, SH, MM selaku tokoh senior PII Jabar menyampaikan keprihatinan dimana terasa kepengurusan KB PII Jabar seperti vakum bahkan bisa dibilang tidak ada.

“Ini sebagai bentuk auto kritik untuk kita semua dan setelah acara ini saya berharap pengurus KB PII harus segera di bentuk dan aktif, bukan hanya terbentuk lalu pasif,” harapnya.

H.Udin sendiri berharap nantinya kepengurusan KB PII Jabar hendaknya bisa diisi oleh kalangan muda yang masih memiliki mobilitas tingga dan energik.

“Beberapa bulan lalu juga sudah kita bentuk koperasi yang diketuai saudara Dwi Anto Hari Prabowo. Maka keberadaannya harus kita dukung bersama untuk maju dan berkembang. Untuk itu setelah acara ini selesai silakan semua yang hadir segera daftar jadi anggota dengan membayar iuran pokok dan wajib,” ajaknya.

H.Udin juga menginformasikan bahwa saat ini sedang ditulis buku tentang sejarah PII Jawa Barat. Menurutnya ini menjadi langkah penting untuk Menyusun kembali sejarah dan perjuangan PII khususnya di Jawa Barat.

“Buku sejarah ini penting agar tidak lupa dan generasi muda tidak buta sejarah PII di Jawa Barat. Mohon dukungannya termasuk dananya agar buku ini segera selesai,” ungkapnya.

Selain itu menurut H.Udin sejarah PII yang cinta pendidikan harus juga dilanjutkan dan dilestarikan semangatnya. Ada banyak kader PII, sambungnya, yang berhasil dan sukses mengelola Lembaga Pendidikan.

Sementara dalam paparannya Prof Dr Ganjar Kurnia Ph.D menyampaikan bahwa ada hal yang membuat acara ini terlaksana dimana lintas generasi PII Jawa Barat bisa betemu dan disatukan.

“Saya sangat mendukung dan mengapresiasi ditulisnya buku sejerah PII Jawa Barat yang tadi disampaikan Haji Udin. Menurut saya penting pendidikan sejarah khususnya bagi generasi muda,” ungkap Prof.Ganjar yang juga mantan Rektor Unpad ini.

Prof. Ganjar juga menyampaikan rasa keprihatinannya akan kiprah dan eksistensi PII yang saat ini seperti antara ada dan tiada. Menurut Prof. Ganjar salah satu kemunduran dan penurunan kader PII adalah dibubarkan atau ditiadakannya PII ditingkat ranting.

“Padahal ranting merupakan posisi terdepan dan strategis untuk pengkaderan. Untuk itu saya usul untuk kembali menghidupkan ranting. Ini sebuah langkah penting,”harapnya.

Dirinya pun berharap agar pengurus PII juga menggarap siswa sekolah sebagai target pengkaderan. Sementara untuk metodenya, menurut Prof. Ganjar bisa menganut dengan membuat pola terstruktur, sistematis, dan massif (TSM).

“Juga harus disampaikan kepada para siswa bahwa menjadi anggota PII banyak manfaatnya baik dari sisi spiritualitasnya maupun intelektualitasnya. Apalagi  kalau semangat mars PII itu diimplementasikan, luar biasa,” ungkapnya.

Prof.Ganjar juga memberikan contoh dengan membuat kegiatan untuk pelajar misalnya dengan bimbingan belajar (bimbel) dimana saat ini setidaknya sudah ada 162 pelajar yang masuk PTN.

“Menjadi anggota PII itu harus menjadi kebanggaan. Untuk itu sebisa mungkin kita harus mengkongkritkan setiap diskusi menjadi karya nyata meski hanya kecil-kecilan atau hanya sedikit. Jangan berhenti hanya sampai didiskusi saja,” pungkasnya.[ ]

5

Red: admin

Editor: iman

908

 

Mahasiswa Pariwisata Unisa Bandung Sabet Prestasi Nasional dan Internasional Lewat Inovasi Bisnis Sosial dan Lingkungan

0
Mahasiswa Juara
Mahasiswa Unisa Bandung. ( foto; dok.unisa bandung)

PERCIKANIMAN.iD – – Mahasiswa Program Studi Pariwisata Universitas ‘Aisyiyah Bandung kembali menunjukkan kiprah gemilang di tingkat nasional maupun internasional. Dalam Business Pitching English Competition 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dua tim mahasiswa berhasil menorehkan prestasi membanggakan sebagai Grand Finalis tingkat nasional dan Juara 2 di tingkat internasional. Mereka berhasil mengangkat isu sosial dan keberlanjutan lingkungan melalui ide bisnis yang inovatif dan relevan.

Tim pertama yang beranggotakan Tsaaqfia Qathya Shalihah, Rindyani, dan Shaqilah Fathurrohmah memperkenalkan konsep Soulcard  sebuah kartu reflektif yang membantu generasi muda mengenali dan mengelola emosi secara ringan dan menyenangkan. Dengan afirmasi positif, pertanyaan refleksi, dan aktivitas sederhana, Soulcard hadir sebagai jembatan antara hiburan dan kesehatan mental.

“Kami menyadari banyak anak muda, termasuk kami sendiri, kerap merasa cemas dan bingung dengan diri sendiri. Tidak semua orang merasa nyaman langsung berkonsultasi dengan psikolog, maka kami ingin menyediakan media yang mudah diakses dan menyenangkan untuk mulai mengenal diri” ujar Tsaaqfia, Selasa (10/06/2025).

Tsaaqfia mengaku bahwa tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah menyelaraskan visi tim dan membagi waktu antara kuliah serta persiapan lomba.

Sementara itu, tim kedua yang terdiri dari Amalia Silvi R., Reisa Nur Hasanah, dan Revina Nurul Aini meraih Juara 2 tingkat internasional melalui proyek Trash Cash platform digital yang menghubungkan masyarakat dengan pengepul dan pengelola sampah secara efisien.

Reisa mengatakan bahwa inovasi ini lahir dari keprihatinan mereka terhadap pengelolaan sampah yang masih belum optimal, khususnya di kawasan perkotaan.

“Kami memilih tema ini karena masalah sampah sangat relevan, terutama di Kota Bandung. Trash Cash hadir sebagai solusi konkret untuk mendukung sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan efektif,”ujar Reisa,

Reisa juga mengataka bahwa pengalaman berkompetisi di tingkat internasional dan bertemu peserta dari berbagai negara menjadi pelajaran berharga bagi ia dan teman temannya.

Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis dan Ilmu Sosial yang juga merupakan dosen pembimbing tim, yaitu Rivaldi Arissaputra, S.E., M.S.M.

“Alhamdulillāhi Rabbil ‘Ālamīn, segala puji bagi Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga mahasiswa kami berhasil meraih prestasi di ajang bergengsi ini. Saya bangga dengan kerja keras dan semangat juang mereka. Semoga pencapaian ini menjadi inspirasi dan motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi.” ujarnya.

Muhammad Syakib Asqalani Rifai, M.Par., Dosen Prodi S1 Pariwisata yang juga mendampingi kedua tim, menambahkan bahwa ini merupakan sesuatu yang membanggakan karena dapat membimbing mahasiswa prodi pariwisata mengikuti kompetisi hingga level internasional.

“Prestasi ini memperlihatkan kualitas dan kreativitas mahasiswa kami yang siap bersaing di panggung global. Semoga capaian ini memacu semangat seluruh mahasiswa untuk terus berkembang dan membawa nama baik Prodi Pariwisata Universitas ‘Aisyiyah Bandung ke jenjang lebih tinggi.”Ujarnya,

Tsaaqfia berharap Soulcard bisa dikembangkan menjadi bisnis nyata ke depannya.

“Saya ingin menyampaikan kepada teman-teman mahasiswa untuk berani mulai dari ide sederhana dan jangan ragu ikut kompetisi seperti ini. Selain menambah pengalaman, banyak peluang terbuka untuk berkembang,”pungkasnya. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

903

Siswa Thailand Dapat Materi Pertolongan Pertama dari Dosen Unisa Bandung

0
Foto: dok.unisa bandung

PERCIKANIMAN.iD – –  Semangat kepahlawanan tak mengenal batas usia, profesi, ataupun negara. Inilah pesan kuat yang dibawa oleh Prof. Dr. Sitti Syabariyah, S.Kp., MS.Biomed., dosen Program Studi Keperawatan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung, dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Internasional yang digelar di salah satu sekolah menengah  Ekkapap di Krabi, Thailand, pada 20-23 Mei 2025.

Dengan mengusung tema “Be a Young Hero: Learn How to Save Lives with First Aid”, Prof. Sitti memperkenalkan keterampilan dasar pertolongan pertama pada luka kepada para siswa, sebagai bentuk nyata penanaman nilai kemanusiaan dan tanggung jawab sosial sejak usia dini.

“Anak-anak sekolah menengah adalah generasi penerus. Mereka perlu dibekali tidak hanya ilmu akademik, tetapi juga kepekaan terhadap sesama. Belajar menyelamatkan nyawa adalah pelajaran kehidupan,” ujar Prof. Sitti dalam keterangannya, Senin (2/6/2025).

Literasi Kesehatan untuk Karakter Peduli

Program ini dirancang untuk memberikan literasi kesehatan dasar melalui pendekatan yang praktis, interaktif, dan menyenangkan. Para siswa diajak mengenali berbagai jenis luka, mencuci luka dengan air bersih, membalut dengan kassa, hingga menggunakan plester. Tak hanya itu, mereka juga melakukan simulasi langsung dan permainan peran (role-play) sebagai penolong pertama dalam situasi darurat.

“Metode visual dan praktik langsung terbukti sangat efektif, apalagi dalam lingkungan lintas budaya. Bahasa mungkin berbeda, tapi empati dan semangat menolong itu universal,” tambahnya.

Antusiasme peserta pun sangat tinggi. Banyak siswa yang tertarik karena merasa kegiatan ini sangat bermanfaat dan menyenangkan. Meskipun tantangan seperti perbedaan bahasa dan istilah medis muncul, hal ini dapat diatasi melalui bantuan visualisasi dan penerjemah lokal.

 UNISA Bandung dalam Diplomasi Pendidikan Global

Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tetapi juga bagian dari upaya UNISA Bandung untuk memperkuat peran akademik Indonesia dalam panggung internasional. Prof. Sitti menegaskan bahwa universitas saat ini harus tampil sebagai agen perubahan, tak hanya di dalam negeri, tapi juga pada level global.

“Pengabdian masyarakat seperti ini adalah wujud konkret diplomasi pendidikan dan soft power Indonesia. Kita harus menunjukkan bahwa Indonesia bisa hadir dengan solusi kemanusiaan yang bermakna,” ungkapnya.

Ia berharap bahwa program ini menjadi langkah awal kerja sama internasional yang lebih luas, serta memotivasi dosen dan mahasiswa UNISA Bandung untuk aktif berkontribusi dalam pengabdian baik di dalam maupun luar negeri.

Pesan untuk Generasi Muda

Menutup kegiatan ini, Prof. Sitti menyampaikan pesan yang penuh makna:

“Jadilah pahlawan sejak muda. Belajar menyelamatkan nyawa bukan hanya untuk menjadi tenaga medis, tetapi untuk menjadi manusia yang peduli. Dunia butuh lebih banyak orang yang berani menolong.” pungkasnya. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

989

MA Al Quran Hidayatullah Bandung Sukses Gelar Ujian Tahfizh Terbuka

0
Ujian Al Quran
Para santri peserta Munaqosah Tahfizh Terbuka MA Al Quran Hidayatullah Bandung 2025

PERCIKANIMAN.iD – – Madrasah Aliyah (MA) Al Quran Hidayatullah Bandung berhasil menyelenggarakan evaluasi pembelajaran tahfizh melalui munaqosah atau ujian terbuka yang berlangsung di Rumah Quran Simaryam, Kota Bandung. Kegiatan yang diselenggarakan pada Kamis kemarin ini melibatkan sembilan santri dengan berbagai tingkat capaian hafalan Al Quran dan disaksikan langsung oleh para wali santri.

Pelaksanaan ujian tahfizh ini merupakan bagian integral dari proses evaluasi akhir pembelajaran yang dirancang untuk mengukur pencapaian target hafalan Al Quran para santri, khususnya mereka yang berada di tingkat akhir pendidikan. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai penilaian akademis, tetapi juga sebagai momentum penting dalam perjalanan spiritual para calon lulusan.

Ustadz Andi Ahmad Suhendar, yang menjabat sebagai Penanggung Jawab Rumah Quran Simaryam sekaligus Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat, menyampaikan sambutan yang memberikan konteks penting tentang makna kegiatan ini. Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa ujian ini merupakan culimasi dari proses pembelajaran yang telah dijalani para santri selama masa pendidikan mereka.

“Ini merupakan rangkaian dari pembelajaran di pesantren khususnya bagi santri kelas 12 yang sebentar lagi akan selesai dan melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” ungkap Ustadz Andi di hadapan para santri dan wali santri yang hadir menyaksikan.

Pernyataan ini mencerminkan posisi strategis ujian tahfizh sebagai jembatan transisi antara fase pendidikan di pesantren dengan persiapan menghadapi tantangan pendidikan tinggi serta kehidupan bermasyarakat yang akan mereka hadapi selanjutnya.

Dalam pesannya yang penuh makna, Ustadz Andi menekankan bahwa ujian tahfizh bukanlah titik akhir dari perjalanan menghafal Al Quran, melainkan milestone yang harus dimaknai sebagai awal dari komitmen jangka panjang. Beliau secara khusus memberikan arahan yang berbeda sesuai dengan capaian masing-masing santri.

“Bagi santri yang belum 30 juz silakan lanjutkan dan bagi yang sudah hafal 30 juz terus dipertahankan dan utamanya diamalkan,” pesannya dengan penuh harapan.

Pesan ini mengandung dimensi pedagogis yang mendalam, di mana proses menghafal Al Quran tidak dipandang sebagai target yang harus dicapai dalam waktu tertentu, tetapi sebagai komitmen berkelanjutan yang harus dipelihara seumur hidup. Bagi santri yang belum mencapai target 30 juz, mereka didorong untuk melanjutkan proses hafalan bahkan setelah menyelesaikan pendidikan formal di pesantren.

Pesantren Mahasiswa

Aspek yang tidak kalah penting dalam arahan Ustadz Andi adalah penekanan pada implementasi praktis dari hafalan Al Quran dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menekankan pentingnya menjaga dan mengamalkan akhlak Al Quran, tidak hanya selama masa pendidikan di pesantren, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat setelah lulus.

“Selain itu, sambung ustadz Andi, para santri tetap harus menjaga dan mengamalkan akhlak Al Quran baik selama di pondok dan nanti setelah selesai di pesantren atau terjun di masyarakat,” tegasnya.

 

Pesan ini kemudian diperkuat dengan harapan yang lebih komprehensif tentang peran para lulusan sebagai representasi dari nilai-nilai Al Quran di tengah masyarakat. “Meskin anti setelah lulus tidak lagi menjadi santri akan tetapi harus menunjukkan diri dengan akhlak yang mulia sebagai generasi qurani,” tandas Ustadz Andi.

 

Terminologi “generasi qurani” yang digunakan mencerminkan visi pendidikan pesantren yang tidak hanya fokus pada aspek kognitif hafalan, tetapi juga pembentukan karakter yang mencerminkan nilai-nilai Al Quran dalam seluruh aspek kehidupan.

 

Dalam kesempatan yang sama, Ustadz Andi menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mendukung proses pendidikan para santri. Ucapan terima kasih ini disampaikan baik secara personal maupun kelembagaan, mencerminkan semangat kolaboratif dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren.

 

“Secara pribadi maupun kelembagaan ijin kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak para guru dan ustadz, santri , orangtua, para donatur khususnya pak Haji Sirajuddin Mahmud atas supportnya hingga kegiatan belajar di Rumah Quran Simaryam ini dapat berjalan dengan lancar, semoga kerja sama ini terus berkelanjutan dan berharap keberkahan dari Allah Ta’ala,” pungkasnya.

 

Apresiasi khusus disampaikan kepada Haji Sirajuddin Mahmud menunjukkan peran penting para donatur dalam mendukung keberlanjutan pendidikan tahfizh Al Quran, yang memerlukan dukungan finansial yang konsisten untuk memfasilitasi proses pembelajaran yang optimal.

 

Pelaksanaan ujian tahfizh diselenggarakan dengan sistem terbuka yang memungkinkan transparansi dalam proses penilaian. Dewan penguji dipimpin oleh Ustadz Hasan Abdullah Alhafizh, yang memiliki kredibilitas dalam bidang tahfizh Al Quran. Sembilan santri yang mengikuti ujian menunjukkan variasi capaian hafalan yang cukup beragam, mencerminkan individualitas dalam proses pembelajaran.

Data capaian hafalan para santri menunjukkan spektrum yang luas: Abdul Rohim asal Pesawaran Lampung dengan 15 juz, Ali Fasya Izzuddin asal Cibiru Bandung yang telah mencapai 30 juz , Azka Muthahhari Al Akid asal Pacet Bandung dengan 5 juz, Doni Andrean asal Lampung Tengah dengan 5 juz, Febri Abdi Setia asal Soreang Bandung yang juga telah menyelesaikan 30 juz, Fahri Rahman Kota Dumai Riau dengan 5 juz, Fairuz Mubarok Rojabi asal Rancaekek Bandung dengan 15 juz, Muhammad Luthfi Ramadhan asal Cimenyan Bandung 7 juz, dan Ridwan Maulana asal Mukomuko Bengkulu dengan 2 juz.

Keberagaman capaian ini mencerminkan pendekatan pendidikan yang mengakomodasi kemampuan individual setiap santri, di mana pencapaian tidak diukur secara uniform tetapi disesuaikan dengan kapasitas dan progres masing-masing siswa.

Komponen ujian tahfizh dirancang secara komprehensif untuk menguji berbagai aspek penguasaan Al Quran. Materi ujian meliputi tes sambung ayat yang menguji kemampuan kontinuitas hafalan, kemampuan menjawab nama surat yang menguji penguasaan struktur Al Quran, tes menjawab ayat spesifik, identifikasi juz, penentuan posisi ayat dalam struktur surat, hingga kemampuan menjawab halaman tertentu.

Variasi materi ujian ini menunjukkan pendekatan holistik dalam penilaian, di mana tidak hanya aspek hafalan yang diuji, tetapi juga pemahaman struktural dan navigasi dalam Al Quran. Hal ini penting untuk memastikan bahwa hafalan yang dimiliki santri tidak hanya bersifat mekanis, tetapi juga disertai dengan pemahaman yang mendalam tentang Al Quran.

Hasil ujian menunjukkan pencapaian yang membanggakan, di mana seluruh santri yang mengikuti ujian berhasil menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh dewan penguji dan dinyatakan lulus. Pencapaian ini mencerminkan kualitas pembelajaran dan bimbingan yang telah diberikan selama proses pendidikan di MA Al Quran Hidayatullah Bandung.

Keberhasilan ini juga menunjukkan komitmen dan dedikasi para santri dalam menjalankan proses pembelajaran tahfizh Al Quran yang memerlukan disiplin tinggi dan konsistensi dalam jangka waktu yang panjang.[ ]

Dosen Unisa Bandung Bekali Santri Jiwa Wirausaha Islami dengan Pelatihan Business Model Canvas

0
Pelatihan Wirausaha
Foto bersama peserrat pelatihan wirausaha santri oleh dosen Unisa Bandung ( foto: dok.unisa bandung)

PERCIKANIMAN.iD – –  Komitmen Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Bandung untuk membangun generasi muda yang cerdas dan berkarakter terus ditunjukkan. Salah satunya melalui pelatihan bertema “Business Model Canvas (BMC) Berbasis Wirausaha Islami” oleh Dosen S1 Perdagangan Internasional sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi, Bisnis dan Ilmu Sosial Rivaldi Arissaputra, S.E., M.S.M., QMA. yang diberikan kepada para santri di ‘Aisyiyah Boarding School. Selasa (27/5/2025)

Melalui pendekatan yang menggabungkan konsep BMC dengan nilai-nilai kewirausahaan Islami, Rivaldi membekali para peserta dengan pemahaman dasar dalam merancang model bisnis yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga selaras dengan prinsip-prinsip Islam.

Dalam penyampaiannya, Rivaldi menekankan pentingnya membangun usaha yang tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, namun juga memperhatikan aspek keberkahan dan kemaslahatan.

“Wirausaha Islami bukan hanya soal strategi pasar, tetapi juga tentang tanggung jawab spiritual dan sosial,” terangnya.

Lebih lanjut, Rivaldi juga menekankan bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan dalam transaksi, keberkahan usaha, serta niat yang tulus untuk memberi manfaat menjadi landasan utama dalam pelatihan ini.

“Pada kesempatan ini, para peserta didorong untuk mulai mengembangkan ide bisnis yang inovatif, berkelanjutan, dan tetap menjunjung tinggi etika Islam” terangnya.

Melalui kegiatan pelatihan tersebut Rivaldi berharap lahir bibit-bibit wirausaha muslimah yang tangguh, berdaya saing, dan beretika dalam menjalankan usaha di masa depan.

“Kami berharap kegiatan ini mampu memberdayakan generasi muda perempuan agar siap menghadapi dunia pasca-sekolah dengan bekal ilmu dan akhlak yang seimbang,” pungkasnya. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

980

Hukum Konsultasi Pada Paranormal, Ini Yang Harus Dipahami Muslim

0
Jalan remang ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.iD – –  Ustadz, saya sudah cukup umur untuk menikah, namun sampai saat ini belum ada calon yang dirasa cocok. Bolehkah saya menanyakan jodoh pada “orang pintar” atau paranormal? ( ES by email)

 

JAWAB:

Kalau usia kita sudah cukup untuk menikah, lalu berusaha mencari calon pasangan yang kira-kira cocok, itu merupakan amal yang mulia, sebab secara sunatullah kita membutuhkan pasangan. Namun kita pun harus sadar bahwa jodoh ada di tangan Allah Swt., kita hanya diwajibkan berusaha.

 

Abu Hurairah r.a. berkata, Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa mendatangi seorang dukun kemudian mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah mengufuri apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.” (H.R. Muslim)

“Barangsiapa yang mendatangi paranormal atau dukun, kemudian mempercayai apa yang telah mereka katakan, maka ia telah mengufuri apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.” (H.R. Abu Daud)

 

Ikhtiar yang kita lakukan tentunya harus mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan. Bertanya masalah jodoh atau tentang hal-hal gaib lainnya kepada “orang pintar” (paranormal), haram hukumnya. Perhatikan keterangan berikut,

“Barangsiapa mendatangi “orang pintar” (paranormal), kemudian menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.” (H.R. Muslim)

“Tidak termasuk golonganku, yaitu orang yang meramal nasib dan minta diramal nasibnya, atau yang mempraktikkan perdukunan atau minta didukunkan, atau yang minta sihir atau disihirkan untuknya. Barangsiapa yang pergi kepada seorang dukun dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah mengufuri apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.” (H.R. Bazar)

Kesimpulannya, kita diperintahkan untuk berusaha mendapatkan jodoh yang saleh. Namun, upaya yang dilakukan harus islami. Bertanya masalah jodoh kepada “orang pintar”, dukun, peramal,  atau paranormal hukumnya haram. Demikian penjelasannya. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

Video: tim official

987

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 087722319792 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

Cara Memahami Fikh Tasamuh, Gunakan 3 Lansasan Ini

0
Silaturahmi keluarga muslim ( ilustrasi foto: freepik)

Oleh: Amin Nurdin*

PERCIKANIMAN.iD – – Istilah fiqh yang mengandung arti pemahaman yang mendalam bukanlah istilah yang baru (asing) bagi kita ataupun istilah yang baru kita kenal. Istilah tersebut sudah muncul pada awal-awal kemunculan Islam. Doa Nabi SAW  kepada Ibn Abbas oleh para fuqaha sering dijadikan sandaran asal muasal istilah fiqh dan dasar pijakan dalam pendefinsian fiqh  Pada perlembangan berikutnya istilah tersebut mewujud dalam sebuah disiplin ilmu keislaman yang terkenal dengan istilah ilmu fiqh  yang kemudian disusul oleh ilmu ushul fiqh. Secara praktis Ilmu fiqh sering kita pahami sebagai sebuah displin ilmu yang membahas tentang tata cara peribadatan ritual seperti wudlu, shalat, wirid dan terkadang memasuki ruang muamalah ataupun jinayah.

 

Jika kita mengingat masa-masa kecil terdahulu, kita akan teringat sekali bahwa ilmu fiqh tersebut merupakan ilmu yang termasuk pertama kali kita kenal dan kita pelajari. Fiqh telah kita perlajari sejak kecil hingga dewasa, sejak kita sekolah dasar, bahkan sekarang sejak Taman Kanak-Kanak hingga kita menjadi mahasiswa pun kita masih memplelajari fiqh. Hal itu menunjukan betapa pentingnya ilmu fiqh dalam kehidupan ini. Namun amat disayangkan fiqh yang kita pelajari masih berkutat pada persoalan ibadah yang kebanyakan bersifat furu’iyah-khilafiyah.

 

Sejak kecil hingga dewasa ini perspektif kita yang terbentuk tentang fiqh masih terjebak pada ibadah mahdhah an sich, yang berisi tentang seperangkat atau tata aturan tentang ibadah dari segi sah dan batal, rukun dan syarat. Tanpa memasukan unsur-unsur etika-moral di dalamnya. Oleh karena itulah kita mendapatkan fiqh hanya berkutat dalam logika benar atau salah, tanpa disertai baik atau buruk, indah atau jelek. Pada akhirnya secera tak disadari dengan berfikir seperti itu kita telah “mereduksi” makna fiqh secara khusus dan Islam secara umum. Padahal Islam tidak hanya membicarakan benar atau salah (logika), tapi juga membicarakan baik atau buruk (etika) dan indah atau jelek (estetika).

 

Dengan tereduksinya makna fiqh dan kita pun terjebak memahami fiqh hanya pada masalah fiqh ritual saja, maka ketika mendengar dan memperbincangkan fiqh dengan objek material yang berbeda agaknya kesulitan. Pewacanaan fiqh diluar wacana fiqh ibadah mungkin terdengar asing, ngawur, bahkan mungkin saja dikatakan nyeleneh atau aya-aya wae (ada-ada saja). Selain terdengar asing karena bangunan (konstruk) keilmuan tentang fiqh  tasamuh (pemahaman yang mendalam tentang toleransi) jarang sekali-kalau tidak dikatakan tidak ada-diperbincangkan terlebih lagi yang membahasnya secara sistematis dan komprehenisf. Tapi hal itu bukanlah berarti mewacanakan fiqh tasamuh sesuatu yang sulit atau mustahil.

 

Kenapa Harus Fiqh Tasamuh?

Sebagai awal dalam diskursus ini, pada kesempatan ini penulis hanya akan mengemukakan beberapa landasan yang melatarbelakangi betapa urgensnya wacana tersebut, diantaranya:

 

  1. Landasan Normantif

Dalam al-Quran, misalnya disebutkan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal dan menghargai (QS.Al-Hujurat: 13 dan lihat juga QS. Al-Mumtahanah: 9), maka kita dapat memahami bahwa pluralitas merupakan sebuah keniscayaan. Keanekaragaman, baik budaya, ras, suku dan agama merupakan sunatullah yang tak dapat dihindarkan. Penolakan terhadap pluraritas berarti penolakan terhadap sunatullah tersebut.

Hai, manusia! Sesungguhnya, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya, yang pa-ling mulia di sisi Allah ialah orang paling bertakwa. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS.Al-Hujurat: 13).

Allah hanya melarangmu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu dalam urusan agama dan mengusirmu dari kampung halamanmu serta membantu orang lain untuk mengusirmu. Siapa pun yang menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 9)

Selain itu, dalam al-Quran ataupun al-Hadits pun banyak sekali ayat-ayat ataupun hadits nabi yang menerangkan agar kita sama-sama menghargai dan menghormati sesama mansuia, tidak hanya sesama muslim, misalnya, “ Sayangilah penduduk bumi, niscaya yang di langit pun akan menyanyangi kalian.”

                                                     

  1. Landasan Sosiologis

Dengan adanya perbedaan dan keanekaragaman, baik agama, ras, suku dan bahasa sebenarnya menuntut kita semua untuk mencari titik temu universal atau persamaan yang dari keompok yang berbeda tersebut. Dalam kehidupan di dunia ini, tidak ada yang berbeda ataupun sama sepenuhnya. Oleh karena itulah, dalam upaya membangun fiqh tasamuh ini diperlukan kerja cerdas dan kerja keras. Kemudian menjadikan titik temu atau titik persamaan tersebut sebagai media atau alat untuk bersatu, misalnya kedulian agama-agama dalam memerangi kemiskinan, korupsi dan lain sebagainya.

Sebenarnya permasalahan yang muncul di negeri dan di dunia ini haruslah menjadi isu bersama dan dapat diselesaikan bersama-sama dengan cara bekerjasama antar agama-agama yang ada di dunia ini. Yang kadang menjadi permasalahan adalah apakah kita mau saling memahami (tafahum) dan saling menghargai (tasamuh) dengan orang yang berbeda dengan kita, baik ras, siku dan agama kemudian bekerjasama dalam menghadapi permasalahan yang muncul di negeri kita tercinta ini?

 

  1. Landasan Historis

Dalam lintasan perjalanan kehidupan Nabi SAW kita dapat membaca bahwa kehidupan Nabi SAW sangat menghormati orang yang ada disekelilingnya, tak terkecuali orang yang berbeda agama atau pun orang yang memusuhinya. Ketika Nabi hidup di Madinah beliau hidup berdampingan dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani, bahkan bekerjasama dalam  menghadapi orang-orang kafir Qurasy. Perbedaan agama tidak menjadikan penghalang bagi Nabi SAW untuk bekerjasa sama dengan orang-orang di luar Islam.

Jika Nabi SAW masih hidup mungkin beliau akan marah atau bersedih manakala melihat umatnya sekarang selalu bermusuhan dengan orang yang berbeda agama, bahkan yang lebih menghawatirkan lagi adalah permusuhan atau pertengkaran internal umat Islam sendiri. Karena perbedaan faham, organisasi, madzhab, keyakinan, atau pun partai politik kita rela bertengkar dan mengorbankan nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan.

Dengan beberapa landasan atau alasan tersebut, kita tidak dapat menyangkal bahwa Islam, baik sebagai doktrin ajaran atau pun dalam lintasan sejarah sangat menjungjung tinggi nilai-nilai toleransi. Apakah kita akan menolak kenyataan realita- normatif dan realita-objekytif sebagaimana tersebut di atas yang sudah benar-benar jelas terbukti dan menjadi saksi betapa Islam memiliki dan mengajarkan ajaran yang sangat luhur, tidak hanya menegatur hal-hal yang bersifat ketuhanan (ilahiyah) tapi juga yang bersifat kemanusiaan (insaniyah). Kita tidak dapat hanya mengambil nilai-nilai ketuhanan saja dengan menafikan nilai-nilai kemanusiaan, ataupun sebaliknya. Mengambil salah satunya merupakan keputusan dan pilihan yang tidaklah tepat-kalau tidak dikatkan keliru.

Menurut penulis sudah sejatinya kita sadar bahwa keanekaragaman, baik agama, ras, suku, budaya, bahasa bukanlah penghalang untuk berbuat kebaikan, kebajikan, ramah, saling memahami, mempercayai, menerima dan memberi. Kita merinduka suasana “romatis” tersebut, yang jauh dari pertengkaran, persengketaan dan perselisihan yang merupakan watak binatang (quwatun sabiy’ah ) yang ada dalam diri manusia. Kapan dunia ini damai sentosa, jauh dari pertengkaran, perkelahian dan peperangan yang mengatasnamakan Tuhan atau agama?Padahal agama tidaklah pernah mengajarkan yang demikian. Bukan agama yang salah, tapi “cara kita bergama” yang salah.

Jika pluralitas atau kenekaragaman merupakan sebuah sunatullah, maka sikap saling menghormati, menyayangi, mengahargai dan bersatu dalam keanekaragaman pun demikain adanya. Jika semua sikap itu tak dapat terwujudkan, maka dunia ini hanya akan di huni oleh manusia-mansuia yang haus akan perselisihan, pertentangan, pertengkaran, dan peperangan, baik atas nama ras, suku, bangsa atau pun agama. Jika penduduk bumi ini tak bisa hidup dalam kedamaian, maka jangan pernah berharap dunia ini damai dan kita mendapat kedamaian. Sudah hilangkah rasa kemanusiaan kita sehingga tidak mau lagi hidup berdampingan, rukun, dan damai dalam perbedaan dan keanekaragaman?. Wallahu’alam.[ ]

*Penulis adalah pendidik, pegiat dakwah dan mantan Ketua Departemen Kajian Ilmiah PW Hima Persis Jabar

5

Red: admin

Editor: Iman

897

Optimalkan Mutu dan Layanan, Perpustakaan Unisa Bandung Selesaikan Proses Reakreditasi dengan Sembilan Komponen Penilaian Baru

0
foto: dok.unisa bandung

PERCIKANIMAN.iD – –  Dalam rangka meningkatkan mutu dan layanan, Perpustakaan Universitas ‘Aisyiyah Bandung baru saja menyelesaikan proses reakreditasi yang dilaksanakan oleh asesor dari Badan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada Rabu, (21/05/2025)

Kepala UPT Perpustakaan Unisa Bandung, Rusdan Kamil, M.Hum., menuturkan bahwa proses reakreditasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan perpustakaan untuk meningkatkan mutu layanan, sarana prasarana, serta pemenuhan terhadap Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi.

“Kami melakukan banyak perbaikan, dari layanan, fasilitas, hingga menyusun dokumen bukti fisik untuk setiap komponen penilaian. Semua ini kami lakukan berdasarkan studi banding, sosialisasi akreditasi, dan pengalaman lapangan,” terang Rusdan dalam keterangan tertulis, Kamis (22/5/2025)

Rusdan juga mengatakan bahwa dalam proses reakreditasi ini, terdapat sembilan komponen penilaian yang harus dipenuhi,.

“Sembilan komponen penilaian tersbut di antaranya: koleksi perpustakaan, sarana dan prasarana, pelayanan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan, pengelolaan, inovasi dan kreativitas, tingkat kegemaran membaca, serta indeks pembangunan literasi masyarakat”. Lanjutnya.

Rusdan menambahkan bahwa perubahan struktur penilaian dari enam menjadi sembilan komponen menjadi tantangan tersendiri dalam proses kali ini. Selain adaptasi terhadap standar baru, tim perpustakaan juga menghadapi kendala waktu dan koordinasi internal. Namun, dengan semangat kolaboratif dan dukungan seluruh tim, tantangan tersebut dapat diatasi.

“Reakreditasi ini kami jadikan sebagai momentum evaluasi dan refleksi atas penyelenggaraan perpustakaan sejak akreditasi terakhir tahun 2021. Kami ingin mengetahui sejauh mana kemajuan yang telah dicapai dan aspek mana saja yang masih perlu diperbaiki,” ujarnya.

Dalam rangka reakreditasi ini, UPT Perpustakaan juga meluncurkan berbagai program inovatif, seperti I-Read Challenge, kuis Instagram, dan kegiatan Hari Kunjung Perpustakaan untuk meningkatkan kunjungan pemustaka. Selain itu, perpustakaan turut menghadirkan layanan well-being seperti pengecekan tensi, pemberian vitamin gratis, serta kegiatan seni “Melukis Bersama” yang diselenggarakan di lingkungan perpustakaan.

“Dari sisi penguatan kemitraan, perpustakaan aktif menjalin kerja sama dengan institusi lain, termasuk Al-Bukhary International University. Inovasi koleksi juga menjadi perhatian, di antaranya penambahan literatur bertema Holistik dan Komplementer Islam serta pengadaan koleksi album foto historis” terang Rusdan.

Rusdan berharap reakreditasi ini menjadi awal baru untuk langkah-langkah peningkatan yang lebih luas.

“Kami berkomitmen untuk terus menindaklanjuti rekomendasi asesor dan menjadikan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran yang mendukung catur dharma perguruan tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah serta pencapaian visi dan misi Unisa Bandung,” pungkasnya. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

983