Beranda blog Halaman 2

Merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw, Boleh atau Terlarang? Ini Penjelasannya

0
kaligrafi Nabi Muhammad Saw ( ilustrasi foto: istimewa)

PERCIKANIMAN.iD – – Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang dirayakan setiap bulan Rabiul Awal, tepatnya pada 12 Rabiul Awal, sering disebut sebagai perilaku bid’ah yang sesat. Namun, hal tersebut ternyata sama sekali tidak benar. Justru dalam Al Qur’an, Hadits, serta pendapat para ulama, bergembira dan merayakan hari lahirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah kebaikan dan berpahala.

Dikutip dari beberapa sumber, dalil-dalil mengenai merayakan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam berikut diulas dengan sangat jelas dan dapat dipahami dengan baik.

Pendapat yang masyhur yang menerangkan arti الرحمة dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ialah karena adanya isyarat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yaitu:

“Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’:107).[Abil Fadhol Syihabuddin Al-Alusy, Ruhul Ma’ani, juz 11, halaman: 186]

Peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah acara rutin yang dilaksanakan oleh mayoritas kaum muslimin untuk mengingat, mengahayati dan memuliakan kelahiran Rasulullah.

Menurut catatan Sayyid al-Bakri, pelopor pertama kegiatan maulid adalah al-Mudzhaffar Abu Sa`id, seorang raja di daerah Irbil, Baghdad. Peringatan maulid pada saat itu dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dengan berkumpul di suatu tempat.

Mereka bersama membaca sejumlah ayat Al-Qur’an, membaca sejarah ringkas kehidupan dan perjuangan Rasulullah, melantunkan shalawat dan syair-syair kepada Rasulullah, serta diisi pula ceramah agama. [al-Bakri bin Muhammad Syatho, I`anah at-Thalibin, Juz II, hal 364]

Peringatan maulid Nabi seperti gambaran di atas tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah maupun sahabat. Karena alasan inilah, sebagian kaum muslimin tidak mau merayakan maulid Nabi, bahkan mengklaim bid`ah pelaku perayaan maulid.

Menurut kelompok ini seandainya perayaan maulid memang termasuk amal shalih yang dianjurkan agama, mestinya generasi salaf lebih peka, mengerti dan juga menyelenggarakannya. [Ibn Taimiyah, Fatawa Kubra, juz IV, halaman: 414].

Oleh karena itulah, penting kiranya untuk memperjelas hakikat perayaan maulid, dalil-dalil yang membolehkan dan tanggapan terhadap yang membid`ahkan.

Bukan Bid`ah yang Dilarang

Telah banyak terjadi kesalahan dalam memahami hadits Nabi tentang masalah bid`ah dengan mengatakan bahwa setiap perbuatan yang belum pernah dilakukan pada masa Rasulullah adalah perbuatan bid`ah yang sesat dan pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka dengan berlandaskan pada hadist berikut ini:

“Berhati-hatilah kalian dari sesuatu yang baru, karena setiap hal yang baru adalah bid`ah dan setiap bid`ah adalah sesat.” [HR Ahmad, nomor: 17184].

Pemahaman hadits ini bisa salah apabila tidak dikaitkan dengan hadits lain, yaitu:

“Siapa saja yang membuat sesuatu yang baru dalam masalah kami ini, yang tidak bersumber darinya, maka dia ditolak.” [HR al-Bukhori, nomor: 2697]   

Ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan أمرنا dalam hadits di atas adalah urusan agama, bukan urusan duniawi, karena kreasi dalam masalah dunia diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat.

Sedangkan kreasi apapun dalam masalah agama adalah tidak diperbolehkan. [Yusuf al-Qaradhawi, Bid`ah dalam Agama, halaman: 177]   Dengan demikian, maka makna hadits di atas adalah sebagai berikut:

”Barangsiapa berkreasi dengan memasukkan sesuatu yang sesungguhnya bukan agama, lalu diagamakan, maka sesuatu itu merupakan hal yang ditolak.”

Dapat dipahami bahwa bid`ah yang dhalalah (sesat) dan yang mardudah (yang tertolak) adalah bid`ah diniyah. Namun banyak orang yang tidak bisa membedakan antara amaliyah keagamaan dan instrumen keagamaan. Sama halnya dengan orang yang tidak memahami format dan isi, sarana dan tujuan. Akibat ketidakpahamannya, maka dikatakan bahwa perayaan maulid Nabi sesat, membaca Al-Qur’an bersama-sama sesat dan seterusnya.

Padahal perayaan maulid hanyalah merupakan format, sedangkan hakikatnya adalah bershalawat, membaca sejarah perjuangan Rasulullah, melantunkan ayat Al-Qur’an, berdoa bersama dan kadang diisi dengan ceramah agama yang mana perbuatan-perbuatan semacam ini sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an maupun hadits.   

Dan lafadz كل pada hadits tentang bid`ah di atas adalah lafadz umum yang ditakhsis. Dalam Al-Qur’an juga ditemukan beberapa lafadz كل yang keumumannya ditakhsis. Salah satu contohnya adalah ayat 30 Surat al-Anbiya`: 

“Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air.”(QS al-Anbiya’: 30)   

Kata segala sesuatu pada ayat ini tidak dapat diartikan bahwa semua benda yang ada di dunia ini tercipta dari air, tetapi harus diartikan sebagian benda yang ada di bumi ini tercipta dari air. Sebab ada benda-benda lain yang diciptakan tidak dari air, namun dari api, sebagaimana firman Allah dalam Surat ar-Rahman ayat 15: 

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَار    Artinya:

Dan Allah menciptakan jin dari percikan api yang menyala.   

Oleh karena itulah, tidak semua bid`ah dihukumi sesat dan pelakunya masuk neraka. Bid`ah yang sesat adalah bid`ah diniyah, yaitu meng-agamakan sesuatu yang bukan agama. Adapun perayaan maulid Nabi tidaklah termasuk bid`ah yang sesat dan dilarang karena yang baru hanyalah format dan instrumennya.   

Berkenaan dengan hukum perayaan maulid, As-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawi menyebutkan redaksi sebagai berikut:

“Hukum Asal peringatan maulid adalah bid’ah yang belum pernah dinukil dari kaum Salaf saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian peringatan maulid mengandung kebaikan dan lawannya, jadi barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid’ah hasanah.”

Al-Hafizh Ibn Hajar juga mengatakan: “Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang tsabit (shahih).”   

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, mengatakan:

“Bahwa sesungguhnya mengadakan Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan suatu tradisi dari tradisi-tradisi yang baik, yang mengandung banyak manfaat dan faidah yang kembali kepada manusia, sebab adanya karunia yang besar. Oleh karena itu dianjurkan dalam syara’ dengan serangkaian pelaksanaannya.” (Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Mafahim Yajibu An-Tushahha, halaman: 340) 

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa perayaan maulid Nabi hanya formatnya yang baru, sedangkan isinya merupakan ibadah-ibadah yang telah diatur dalam Al-Qur’an maupun hadits. Oleh karena itulah, banyak ulama yang mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi adalah bid`ah hasanah dan pelakunya mendapatkan pahala.   

Dalil Perayaan Maulid Nabi  Di antara dalil perayaan maulid Nabi Muhammad menurut sebagian ulama adalah firman Allah:

“Katakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmat-Nya (Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam) hendaklah mereka menyambut dengan senang gembira.” (QS.Yunus: 58)   

Ayat ini menganjurkan kepada umat Islam agar menyambut gembira anugerah dan rahmat Allah. Terjadi perbedaan pendapat di antara ulama dalam menafsiri الفضل dan الرحمة. Ada yang menafsiri kedua lafadz itu dengan Al-Qur’an dan ada pula yang memberikan penafsiran yang berbeda. Abu Syaikh meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa yang dimaksud dengan الفضل adalah ilmu, sedangkan الرحمة adalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.   

Pendapat yang masyhur yang menerangkan arti الرحمة dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ialah karena adanya isyarat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yaitu:

“Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’:107).[Abil Fadhol Syihabuddin Al-Alusy, Ruhul Ma’ani, juz 11, halaman: 186]  

Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani bergembira dengan adanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ialah dianjurkan berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada surat Yunus ayat 58 di atas. [Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hasani, Ikhraj wa Ta’liq fi Mukhtashar Sirah An-Nabawiyah, halaman: 6-7]   

Dalam kitab Fathul Bari karangan al- Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani diceritakan bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa tiap hari senin karena dia gembira atas kelahiran Rasulullah. Ini membuktikan bahwa bergembira dengan kelahiran Rasulullah memberikan manfaat yang sangat besar, bahkan orang kafirpun dapat merasakannya. [Ibnu hajar, Fathul Bari, juz 11, halaman: 431]   

Riwayat senada juga ditulis dalam beberapa kitab hadits di antaranya Shahih Bukhari, Sunan Baihaqi al-Kubra dan Syi`bul Iman. [Maktabah Syamilah, Shahih Bukhari, juz 7, halaman: 9, Sunan Baihaqi al-Kubra, juz 7, halaman: 9, Syi`bul Iman, juz 1, halaman: 443].

“Barang siapa yang memulai dalam Islam sebuah perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan baiknya itu, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya. tanpa berkurang sedikitpun pahala yang mereka dapatkan.” HR. Muslim.

Rasulullah ketika ditanya tentang mengapa beliau selalu berpuasa pada hari Senin, beliau menjawab:

“Hari itu merupakan hari di mana aku telah dilahirkan.” (HR. Muslim)

Hadits ini memberikan petunjuk bahwa Rasulullah selalu melakukan puasa pada hari Senin sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sayyidina Abu Bakar RA

“Barangsiapa yang membelanjakan satu dirham (uang emas) untuk keperluan mengadakan pembacan Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, maka ia akan menjadi temanku di surga.”

Sayyidina Umar Bin Khattab

“Barangsiapa yang mengagungkan Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam.”

Ali Bin Abi Thalib

“Barangsiapa memuliakan (memperingati) kelahiran Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, apabila ia pergi meninggalkan dunia, ia pergi dengan membawa iman.”

Fatwa Beberapa Ulama Mengenai Peringatan Maulid Nabi

1. Syaikh Al-Islam Khatimah Al-Huffazh Amir Al-Mu’minin Fi Al Hadits Al-Imam

Beliau menjelaskan sebagai berikut:

“Asal peringatan maulid adalah bid’ah yang belum pernah dinukil dari kaum Salaf saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi peringatan maulid mengandung kebaikan dan lawannya, barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi semua lawannya (hal buruk), maka itu adalah bid’ah hasanah.”

2. Al-Imam Al-Hafizh As-Suyuthi

Beliau mengatakan dalam risalahnya:

“Menurutku, pada dasarnya maulid diperingati dengan kumpulan orang-orang, berisi bacaan beberapa ayat dari Al-Qur’an, meriwayatkan hadits-hadits tentang permulaan sejarah Rasulullah dan tanda-tanda yang mengiringi kelahiran Rasulullah, Kemudian disajikan sebuah hidangan lalu dimakan oleh orang-orang tersebut dan kemudian mereka bubar setelah selesai, hal ini termasuk bid’ah hasanah yang pelakunya akan mendapatkan pahala. Karena perkara semacam itu merupakan perbuatan yang mengagungkan kedudukan Rasulullah dan merupakan pengungkapan rasa gembira serta suka cita dengan kelahirannya yang mulia.”

Ayat Tentang Maulid Nabi

1. Surah Yunus Ayat 58

Qul bifaḍlillāhi wa biraḥmatihī fa biżālika falyafraḥụ, huwa khairum mimmā yajma’ụn

“Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

2. Surah Al-Anbiya Ayat 107

Wa mā arsalnāka illā raḥmatal lil-‘ālamīn

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.”

3. Surah Al Hajj Ayat 32

“żālika wa may yu’aẓẓim sya’ā`irallāhi fa innahā min taqwal-qulb.”

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu timbul dalam ketakwaan hati.”

4. Surah Al-Imran Ayat 164

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika Allah mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Azhab: 56)

Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiran itu.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhori. “dikisahkan ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu lahab, paman nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang jabang bayi yang sangat mulia, Abu Lahab pun memerdekan Tsuwaibah sebagai tanda cinta dan kasih. Dan karena kegembiraannya, kelak di hari kiamat siksa atas dirinya (Abu Lahab) diringankan setiap hari Senin.”

“Tidak sempurna iman salah satu diantara kamu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhori Muslim).

Imam Sirri Saqathi Rahimahullah  berkata:

“Barang siapa menyengaja (pergi) ke suatu tempat yang dalamnya terdapat pembacaan maulid nabi, maka sungguh ia telah menyengaja (pergi) ke sebuah taman dari taman-taman surga, karena ia menuju tempat tersebut melainkan kecintaannya kepada baginda rasul. Rasulullah bersabda:  barang siapa mencintaku, maka ia akan bersamaku di syurga.

Sedangkan Imam Syafi’i Rohimahullah berkata:

“Barang siapa yang mengumpulkan saudara-saudara untuk memperingati Maulid nabi, kemudian menyediakan makanan, tempat, dan berbuat kebaikan untuk mereka serta ia menjadi sebab untuk atas dibacakannya maulid nabi, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Dan dia akan dimasukkan dalam syurga na’im.”

Banyak dalil-dalil, baik al-Qur’an, al-Sunnah, maupun perkataan ulama, yang menunjukkan dianjurkannnya memperingati Maulid Nabi. Diantaranya dalam al-Qur’an surat Yunus ayat 58 dan surat al-Abiya’ ayat 107.

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus: 58)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS al-Anbiya: 107)

Dari Abi Qotadah Ra, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ditanya mengenai puasa hari senin. Maka beliau menjawab “Di hari itu aku dilahirkan, dan di hari itu diturunkan padaku (al-Qur’an)” (HR. Imam Muslim dalam Shohih-nya pembahasa tentang puasa)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibn Asyakir, Ibn Warrahawi, dan al-Dhiya’ dari shahabat Abu Sa’id al-Khurdi disebutkan:

Jibril datang kepadaku, lalu berkata ‘Sesungguhnya Tuhanku dan Tuhanmu berkata kepadamu: Kamu tahu, bagaimana aku mengangkat sebutanmu? Lalu aku menjawab: Allahu a’lam. Jibril berkata: Aku tidak akan menyebut, kecuali engkau disebut bersamaku.” (HR. Ibnu ‘Asyakir, Ibnu Warrohawi dalam kitab al-‘Arbain, dan al-Dhiya’ dalam kitab al-Mukhtarah dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri)

Bahkan Ibnu Taimiyah yang menjadi kiblat pemikiran para tokoh Islam kanan, dan digambarkan sangat menolak peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. malah menganjurkan untuk melakukannya, bahkan dikatakan memiliki faedah pahala.

Hal tersebut tidak dijelaskan oleh siapapun, tapi oleh beliau sendiri dalam kitab beliau Iqtidla’u al-Shirati al-Mustaqim, Mukholafatu Ashhabi al-Jahim halaman 297. Berikut stetemen beliau dalam kitab tersebut:

“Mengagungkan maulid (Nabi Muhammad) dan melakukannya rutin (setiap tahun), yang kadang dilakukan oleh sebagian orang. Dan baginya dalam merayakan maulid tersebut, pahala yang agung/besar karena tujuan yang baik dan mengagungkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. dan keluarga beliau. Sebagaimana yang telah aku sampaikan padamu.” (Syaikh Ibn Taimiyah, Iqtidla’u al-Shirati al-Mustaqim, Mukholafatu Ashhabi al-Jahim: 297)

Imam Subkhi dan para pengikutnya juga menganggab baik peringatan maulid dan berkumpulnya manusia untuk merayakannya. Imam Abu Syammah Syaikh al-Nawawi mengatakan bahwa barang siapa yang melakukan kebaikan seperti hal-hal baik yang terjadi di zaman kami yang dilakukan oleh masyarakat umum di hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Di antaranya sedekah, berbuat baik, memperlihatkan hiasan dan kebahagiaan. Maka sesungguhnya dalam hari tersebut beliau menganjurkan agar umat muslim berbuat baik kepada para fakir sebagai syiar kecintaan terhadap baginda Rasul. mengangungkan beliau, dan sebagai ungkapan rasa syukur.

Menurut Imam al-Sakhawi, adanya peringatan itu sejak abad ketiga hijriyah. Sejak itu, orang-orang Islam terus mengerjakannya.

Bahkan, Ibnu al-Jauzi, yang biasanya dijadikan hujjah oleh para kaum ekstrimis kanan mengharamkan perayaan maulid, sama seperti Ibn Taimiyah, malah menukil sejarah maulid itu sendiri.

Ibn al-Jauzi mengatakan bahwa perayaan maulid dimulai pada masa Raja al-Mudhafar. Beliau menceritakan parayaan tersebut sangat besar, megah, dan penuh dengan kebahagiaan yang tidak terkira. Disediakan 5.000 kambing, 10.000 ayam, 100.000 porsi, dan 30.000 piring manisan. Dihadiri oleh para ulama dan para sufi, yang oleh Raja al-Mudhaffar diberikan setiap orang 300.000 dinar. (Is’adur Rofiq:1:26)

Demikian dalil-dalil yang menyebutkan bahwa merayakan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah sebuah perbuatan yang baik dan berpahala. [ ]

Sumber: avesiar.com

5

Red: admin

Editor: iman

908

Hidayatullah Kota Bandung Launching Pesantren Mahasiswa, Siap Lahirkan Generasi Qur’ani dari Kalangan Akademisi

0
pesantren mahasiswa
foto: hidayatullah kota bandung

PERCIKANIMAN.iD – – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota Bandung meresmikan program Pesantren Mahasiswa Daiyah (Pesmadaiyah) yang terletak di Jl. Parakan Mas, Arcamanik, Kota Bandung, Jawa Barat.

Program ini dirancang khusus untuk mahasiswi, dengan fasilitas asrama yang dilengkapi kurikulum pengajaran diniyah, bahasa Arab, dan tsaqofah Islamiyah.

Seperti halnya pesantren pada umumnya, keunikan Pesmadaiyah terletak pada para santrinya yang merupakan mahasiswi aktif dari berbagai perguruan tinggi.

Sekitar tujuh mahasantri angkatan pertama hadir dalam acara peluncuran ini, di antaranya berasal dari Jambi, Banjar, Timika, dan Bandung. Mereka juga merupakan mahasiswi baru di kampus UIN, UMB, dan STAI Sabili.

Acara peresmian ini dihadiri sekitar 50 orang di antaranya Ketua DPD Hidayatullah Kota Bandung, Ust. Uup Saefullah, Direktur Pesmadai Pusat, Ust. Ahmad Muzakky, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Barat, Ust. Andi Ahmad Suhendar, dan Direktur BMH Perwakilan Jawa Barat, Ust. Marsono.

Selain itu, hadir pula Ketua DMW Jawa Barat, Ust. Dadang Abu Hamzah, Lc, tokoh masyarakat setempat, Firman Gunawan, H. Taryana, Ketua DKM At-Taqwa, H. Irsan, serta Ust. Endang Abdul Rohman, murabbi Hidayatullah Jawa Barat.

“Pesmadaiyah adalah upaya untuk memberikan kemudahan kepada para mahasiswi agar dapat berada dalam lingkungan yang kondusif di tengah situasi di luar yang tidak mendukung, sehingga orang tua dapat merasakan ketenangan saat putri mereka menuntut ilmu,” papar Ust. Uup Saefullah dalam sambutannya.

Sementara itu, Ust. Ahmad Muzakky menekankan bahwa, “Mahasiswa harus mengedepankan adab sebelum ilmu, oleh karena itu, di Pesmadaiyah ini, adab akan diperkuat,” ujarnya.

Respons dari tokoh masyarakat sangat positif, bahkan terdapat kemungkinan besar untuk menjalin sinergi antara Pesmadaiyah dengan kegiatan-kegiatan yang ada di Masjid At-Taqwa.

Satu hal yang mengejutkan para pengurus adalah saat Firman Gunawan, selaku tokoh masyarakat dan penanggung jawab lokasi, menyampaikan sambutannya. “Tempat ini bukan sekadar dipinjamkan, melainkan akan diwakafkan, silakan diurus ikrarnya,” Firman menegaskan. Sontak, suara takbir hadirin menggema di tempat acara ini.

Alhamdulillah, acara berlangsung dengan lancar dan semakin khidmat saat Ust. Endang Abdul Rohman menyampaikan nasihatnya tentang kesabaran, syukur, dan istiqamah. Ia mengakhiri dengan doa bersama dan dilanjutkan ramah tamah serta sesi foto bersama.

Semoga program ini dapat terus berjalan dengan baik ke depannya, sehingga lebih banyak mahasiswi yang merasakan manfaat dari keberadaan Pesmadaiyah.[ ]

Red: admin

Editor: iman

Menuju World Class University, Unisa Bandung Kembali Kirim Mahasiswa KKN Ke Malaysia

0
KKN Mahasiswa
Mahasiswa Unisa Bandung bersiap melaksanakan KKN di Malaysia ( foto: dok.unisa bandung)

PERCIKANIMAN.iD – – Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung kembali menggelar kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional. Berbeda dengan tahun sebelumnya, KKN Internasional tahun ini digelar secara mandiri dengan membawa misi memperluas kiprah kampus di level global. Kegiatan ini dilaksanakan di SB Kepong, SB Kampung Baru, dan SB Kampung Pandan, Kuala Lumpur pada 24 Agustus–13 September 2025.

Kepala LPPM UNISA Bandung, Aef Herosandiana, M.Kom., menegaskan bahwa KKN Internasional 2025 memiliki nilai istimewa karena untuk pertama kalinya digelar secara mandiri, setelah sebelumnya UNISA Bandung hanya berperan sebagai co-host.

“Dengan kepercayaan diri dan kesiapan yang matang, UNISA Bandung kini mengambil peran utama sebagai penyelenggara. Hal ini menunjukkan peningkatan kapasitas institusi, baik dari sisi akademik, manajerial, maupun jaringan kerja sama internasional,” ungkapnya pada Senin (25/8/2025).

Lebih jauh, Aef menilai program ini merupakan wujud nyata internasionalisasi kampus. Menurutnya, kehadiran mahasiswa UNISA Bandung di tengah masyarakat internasional akan menjadi branding kuat bahwa UNISA Bandung adalah kampus yang siap bersaing secara global, menjunjung nilai kemanusiaan, serta berorientasi pada kolaborasi internasional.

Ia juga berpesan kepada mahasiswa delegasi agar menjadikan pengalaman lintas budaya ini sebagai kesempatan untuk belajar sekaligus berbagi.

“Pengalaman lintas budaya adalah kesempatan berharga yang tidak hanya memperkaya wawasan pribadi, tetapi juga membangun empati, kepedulian, dan keterampilan kolaborasi,” ucapnya.

Aef juga berharap mahasiswa mampu memanfaatkan setiap momen untuk memahami kearifan lokal dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat setempat.

Sejalan dengan harapan tersebut, para mahasiswa delegasi pun menyambut kesempatan ini dengan penuh semangat. Bagi mereka, KKN Internasional bukan hanya sebuah kebanggaan, tetapi juga motivasi untuk terus berkembang.

Annisa Rahma Fadlillah, mahasiswi Prodi Sarjana Kebidanan, mengungkapkan motivasi terbesarnya mengikuti KKN Internasional UNISA Bandung adalah memperluas wawasan dan pengalaman lintas budaya, khususnya dalam bidang kesehatan masyarakat.

“Saya berharap dapat belajar bagaimana penerapan ilmu kesehatan disesuaikan dengan kondisi masyarakat di negara lain, sekaligus melatih komunikasi, adaptasi, dan kerja sama tim,” ungkapnya (25/8/2025).

Hal senada disampaikan oleh Shofia Asri Nur’aini, mahasiswi Prodi S1 Kebidanan, yang termotivasi mencoba pengalaman baru dan menantang diri sendiri.

“Saya juga berharap secara akademik dapat mengasah keterampilan mengajar dan komunikasi, sementara secara nonakademik ingin memahami budaya Malaysia, memperluas jejaring, serta melatih kerja sama tim dan problem solving,” tuturnya.

Sementara itu, Muhammad Insan Jawwad Haifa, mahasiswa Prodi S1 Keperawatan, mengaku motivasi utamanya adalah karena program KKN Internasional dapat dikonversi menjadi publikasi jurnal.

Menurutnya, kebermanfaatan jurnal lebih luas dibandingkan skripsi. Ia pun berharap mendapatkan pengalaman langka dengan mendampingi anak-anak dari latar belakang berbeda dan menjadikan mereka sebagai responden penelitian.

Ristina Putri Rahmayanti, mahasiswi Prodi Sarjana Keperawatan, menyampaikan ketertarikannya mengikuti KKN Internasional untuk memperoleh pengalaman lintas budaya serta memperluas wawasan tentang pengabdian masyarakat di tingkat global.

“Saya berharap program ini menjadi peluang untuk beradaptasi sekaligus membangun kerja sama dengan masyarakat internasional,” ujarnya.

Muhammad Iqbal, mahasiswa Prodi Desain Komunikasi Visual, menuturkan motivasinya adalah membangun relasi dan kemandirian diri. Ia berharap keikutsertaannya dapat memberi manfaat, tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi program studi, universitas, serta rekan-rekannya.

Adapun Wike Widia Nengsih, mahasiswi Prodi S1 Keperawatan, mengatakan bahwa keikutsertaannya dilandasi keinginan menambah pengalaman dan memperluas jaringan antarnegara.

“Saya percaya program ini sangat bermanfaat karena memberi kesempatan untuk berkembang, memperkaya wawasan, dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan global,” ungkapnya.

 Ia berharap dapat mengaplikasikan ilmu dalam konteks internasional, mengenal budaya baru, serta memperluas jaringan yang mendukung pengembangan diri dan karier di masa depan. [ ]

Red: admin

Editor: iman

Adaptasi Di Awal Pernikahan, Hal Ini Yang Harus Dilakukan

0
Suami Istri
Suami dan istri sedang bercengkrama ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Pada hakikatnya hidup bersama dalam bingkai keluarga sebagai suami istri bukan hanya menghimpun dua jenis manusia yang berbeda yang berlawanan jenis kelamin, namun juga dua hati, dua perasaan, dua jiwa bahkan dua keinginan dan harapan yang berbeda. Untuk itu diperlukannya sebuah proses penyesuaian diri (adaptasi) harus terus diusahakan untuk meminimalisir dampak adanya perbedaan tersebut. Ada sejumlah usaha adaptasi pernikahan yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri:

  1. Mendiskusikan cita-cita atau harapan.

Baik suami atau istri pastinya mempunyai harapan atau cita-cita dalam kehidupan setelah berkeluarga. Masing-masing dari suami dan istri tentu memiliki sejumlah ekspektasi dan harapan dalam kehidupan pernikahan yang telah dijalaninya. Mereka memiliki gambaran ideal tentang pasangan dan kehidupan keluarga, yang perlu ditemukan dan diambil kesepakatan bersama.

Meski sebelum menikah sudah ada gambaran tentang keinginan atau cita-cita yang pernah diungkapkan masing-masing namun ada baiknya hal itu didiskusikan kembali. Hal ini diperlukan agar suami istri kembali teringat dan komitmen untuk mewujudkan impian bersama sebelumnya setelah menikah.

  • Saling memberikan dukungan emosional.

Biasanya sebelum menikah masing-masing akan sangat menjaga luapan emosinya. Namun setelah menikah masing-masing pasangan akan secara tidak sadar menunjukkan emosi aslinya. Jika ini terjadi maka masing-masing pasangan harus memahami lebih dulu sebelum menyalahkan.

Hal ini perlu didialogkan agar bisa dimengerti oleh pasangannya. Apabila dukungan emosional dan curahan kasih sayang sesuai dengan keinginan pasangan, pasti akan memberikan nilai kepuasan yang sangat tinggi dalam kehidupan berumah tangga mereka.

  • Menyesuaikan kebiasaan pribadi dengan pasangan.

Sebelum menikah, biasanya masing-masing pasangan merasa mempunyai banyak persamaan atau kecocokan,misalnya makanan, hobby, atau kegemaran lainnya. Namun setelah menikah akan terasa bahwa perbedaan justru sepertinya lebih banyak terlihat dari pada persamaannya. Demikian juga awalnya, suami dan istri tumbuh dari pembiasaan keluarga serta lingkungan yang berbeda, sebelum mereka menikah. Mereka memiliki kebiasaan pribadi yang khas sesuai dengan pembawaan karakter serta kebiasaan yang didapatkan dari keluarga masing-masing. Setelah menikah, harus ada upaya adaptasi untuk menyesuaikan dua kebiasaan yang berbeda tersebut.

  • Pembagian peran dan tanggung jawab suami istri

Sesuai dengan syariat bahwa suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda. Pada intinya hak istri adalah kewajiban suami, demikian sebaliknya. Namun ada peran dan tanggung jawab teknis yang tidak diatur dengan detail dalam syariah agama, maka harus didiskusikan berdua agar mencapai kesepahaman tentang peran yang mampu merefleksikan kepribadian, keterampilan, minat dan kebutuhan pribadi.

  • Penyesuaian antara aktivitas, karir dan keluarga

Bisa jadi sebelum menikah suami dan istri mempunyai aktivitas dan  pekerjaan yang sama dan setekah menikah sudah ada kesepakatan untuk mengurangi bahkan berhenti sama sekali. Namun ada baiknya suami dan istri kembali harus menyepakati bersama hal yang terkait dengan kesibukan masing-masing, terutama yang di luar rumah. Hal ini menyangkut aktivitas pekerjaan, organisasi, karir, bisnis, hobi dan lain sebagainya, agar bisa diseimbangkan dengan peran mendidik anak serta mengurus keluarga. Jika suami dan istri sama-sama sibuk, harus ada format penyesuaian dan kesepakatan agar semua bisa berjalan dengan baik tanpa ada yang terabaikan.

  • Mengembangkan keterampilan komunikasi

Pola, gaya dan corak komunikasi setiap orang tidaklah sama, karena pengaruh kebiasaan dan kulturnya. Untuk itu suami dan istri harus berusaha beradaptasi dalam kemampuan berkomunikasi, kemampuan berbagi ide, dan perasaan persahabatan yang lekat satu sama lain, ketrampilan mengutarakan masalahyang dihadapi, berbagi suka dan duka, membangun aturan berkomunikasi, dan belajar bagaimana menegosiasikan perbedaan untuk memperkuat jalinan pernikahan.

  • Mengatur masalah keuangan dan anggaran keluarga

Diawal pernikahan semuanya akan terasa menyenangkan dan bahagia adanya, bahkan termasuk masalah keuangan karena adanya “prinsip” harta bersama sehingga bisa jadi masing-masing akan “rela” mengeluarkan tabungannya yang dikumpulkan sebelum menikah. Apalagi jika belum mempunyai atau belum lahir anak.

Namun demikian hal ini tidak boleh berlarut. Persoalan keuangan perlu mendapatkan porsi tersendiri dalam usaha adaptasi suami istri. Hal ini menyangkut persoalan yang sensitif, maka harus berhati-hati dalam membicarakannya. Bagaimana pola keuangan dan anggaran keluarga yang paling nyaman dan paling tepat bagi mereka berdua, harus ditemukan format kesepakatannya. Hal ini bisa berbeda-beda antara keluarga yang satu dengan yang lain.

  • Membangun dan mengatur pola hubungan dengan keluarga besar

Pernikahan bukan saja urusan dua individu, lelaki dan perempuan. Namun juga menyangkut dua keluarga besar yang harus didekatkan. Perlakuan kepada pihak keluarga besar suami dan pihak keluarga besar istri bisa menjadi persoalan apabila tidak ada pola yang disepakati bersama. Keseimbangan dan keadilan dalam memberikan perhatian dan hubungan kepada kedua belah keluarga besar tersebut menjadi bagian tersendiri untuk dilakukan penyesuaian.

  • Berpartisipasi dalam masyarakat

Ada beberapa pasangan suami istri yang masih serumah dengan orangtua (mertua) meski telah memiki anak sehingga ada anggapan mereka belum menjadi kepala rumah tangga. Apa pun yang berhubungan lingkungan atau warga masyarakat masih menjadi urusan orangtua. Namun hal ini sebaiknya tidak boleh terjadi.

Pada hakikatnya setelah menikah, suami dan istri menjadi keluarga mandiri yang hidup di tengah masyarakat. Mereka memiliki tetangga dan lingkungan sekitar, dan terikat oleh sejumlah hak serta kewajiban. Maka keduanya harus menentukan pola partisipasi di tengah masyarakat agar bisa berbagi dan saling mengerti tingkat kesibukannya.

Hal ini akan semakin komplek jika pasangan suami istri sejak awal menikah sudah betul-betul pindah rumah atau hidup mandiri dan terpisah dengan orangtua. Untuk itu suami istri juga harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya sebagai sebuah keluarga yang hidup ditengah-tengah masyarakat.

Sumber: dikutip dari buku “ Membingkai Surga Dalam Rumah Tangga “ karya Dr.H.Aam Amiruddin, M.Si

4

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

931

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

MUI Jabar Kecam Keras Pembagian Bir di Event Bandung Pocari Run: “Sangat Merusak Kesadaran Keagamaan Kaum Muslimin”

0
MUI Jabar
Kantor MUI Jabar ( foto: salam online)

PERCIKANIMAN.iD – – Kontroversi pembagian minuman beralkohol kepada peserta ajang lari Pocari Run 2025 di Kota Bandung mendapat respons keras dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat. Organisasi keagamaan tersebut menganggap insiden yang terjadi beberapa hari lalu bukan sekadar kesalahan prosedural, melainkan persoalan fundamental yang berkaitan dengan nilai-nilai keagamaan.

 

Sekretaris MUI Jawa Barat, KH Rafani Achyar, menyuarakan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut. Menurutnya, pembagian bir dalam event olahraga nasional ini tidak hanya bertentangan dengan norma agama, tetapi juga menciptakan kebingungan di tengah masyarakat, khususnya umat Islam yang menjadi mayoritas peserta.

 

“Kalau soal membagikan bir, itu satu tindakan yang salah menurut saya. Itu tidak boleh terjadi sebetulnya, walaupun ada yang mengklaim bir itu di bawah 20 persen kadar alkoholnya,” tegas Kyai Rafani dalam keterangannya.

 

Ulama senior ini menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, konotasi dan persepsi masyarakat terhadap suatu produk sangat penting diperhatikan. Meskipun kadar alkohol dalam bir mungkin rendah, namun produk tersebut tetap memiliki stigma sebagai minuman keras yang diharamkan.

 

“Tapi tetap aja bir itu sudah punya konotasi minuman keras, jadi nggak boleh. Dalam Islam, sesuatu yang sudah punya konotasi yang diharamkan itu nggak boleh,” lanjutnya dengan tegas.

 

Rafani menjelaskan konsep syubhat dalam hukum Islam, yaitu hal-hal yang masih abu-abu atau meragukan secara hukum. Menurutnya, umat Islam diajarkan untuk menjauhi perkara-perkara semacam ini sebagai bentuk kehati-hatian dalam beragama. Ia memberikan contoh konkret mengenai produk makanan dengan nama-nama ekstrem yang pernah populer di masyarakat.

MUI Jabar
Sekretaris Umum MUI Jabar, KH Rafani Achyar ( foto: tribun jabar)

“Baksonya mungkin halal, tapi kalau namanya pakai setan, itu sudah jelas musuh. Dalam Al-Qur’an setan itu musuh yang nyata, dan perlakukanlah sebagai musuh. Sama halnya dengan bir, meskipun mungkin kadar alkoholnya rendah, tetap aja haram diminum itu karena sudah punya konotasi haram,” jelasnya.

 

Kritik MUI Jabar tidak hanya terhenti pada isu pembagian bir, tetapi meluas pada konsep penyelenggaraan event yang dinilai terlalu komersial. Rafani menyayangkan dominasi nama brand perusahaan dalam acara tersebut, yang menurutnya mengaburkan identitas lokal sebagai tuan rumah.

 

“Mestinya acara lari itu bukan mengatasnamakan perusahaan. Namanya kan Pocari Run, seharusnya yang dikedepankan itu nama kota, misalnya Bandung Run atau Jawa Barat Run. Di mana-mana juga gitu, seperti Borobudur Marathon,” ujar Kyai Rafani.

 

Ia menilai pemerintah daerah perlu lebih assertif dalam menjaga marwah dan identitas regional dalam event-event berskala besar. Kondisi saat ini dinilai seolah-olah pemerintah daerah dimanfaatkan oleh korporasi untuk kepentingan branding semata.

 

“Ini kan seolah-olah perusahaan mengeksploitasi pemerintah daerah. Fasilitas pemerintah dipakai, tapi malah dominasi brand,” ungkapnya dengan nada kritis.

 

Keprihatinan lain yang disampaikan Rafani berkaitan dengan aspek spiritual dalam pelaksanaan event olahraga. Ia menyoroti waktu penyelenggaraan yang dimulai menjelang subuh, dimana seharusnya umat Islam sedang mempersiapkan diri untuk menunaikan salat subuh.

 

“Saya prihatin, menjelang subuh orang sudah berbondong-bondong di jalan untuk ikut lari. Saya tidak tahu apakah mereka salat dulu atau tidak. Tapi kenyataannya seperti itu, dan mayoritas peserta itu kan muslim. Olahraga itu boleh, tapi kalau sampai mengorbankan salat, jelas tidak boleh,” kata Kyai Rafani.

 

Merespons pernyataan Wali Kota Bandung Farhan yang menilai insiden pembagian bir tidak menimbulkan dampak signifikan, Rafani memberikan pandangan yang berbeda. Menurutnya, sudut pandang semacam itu terlalu menyederhanakan persoalan dan mengabaikan dimensi keagamaan yang lebih substansial.

 

“Iya mungkin dampak langsung sih tidak ada. Tapi kalau sampai ada pembagian bir segala macam itu, ya menurut saya dampaknya sangat prinsipil. Orang awam nanti bisa menganggap bir itu sebagai minuman biasa. Padahal dari sisi kesadaran keagamaan, ini merusak,” jelasnya.

 

Rafani mengakhiri pernyataannya dengan peringatan tentang kondisi keberagamaan masyarakat yang menurutnya semakin mengkhawatirkan. Ia melihat adanya kecenderungan pencampuradukan dalam berbagai aspek kehidupan beragama yang dapat mengikis kesadaran spiritual masyarakat.

 

“Pola pikir keagamaan masyarakat sekarang ini sudah pabaliut, sudah kusut, sudah campur-campur. Makanan dicampur-campur, minuman dicampur-campur, pandangan keagamaan juga campur-camur. Hari ini mau dibawa ke mana?,” tutup Kyai Rafani dengan nada prihatin.

 

Kontroversi ini menunjukkan pentingnya dialog antara penyelenggara event, pemerintah daerah, dan tokoh agama dalam merancang kegiatan publik yang dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah dengan mayoritas muslim seperti Jawa Barat.[ ]

5

Red: admin

Editor: iman

908

 

 

 

Komitmen Terhadap Mutu Layanan,Perpustakaan Unisa Bandung Raih Akreditasi A

0
Unisa Bandung
foto: dok.unisa bandung

PERCIKANIMAN.iD – –  Di tengah transformasi pendidikan tinggi yang kian dinamis, Universitas ‘Aisyiyah Bandung kembali membuktikan komitmennya terhadap mutu layanan akademik. Perpustakaan UNISA Bandung sukses meraih Akreditasi A (Unggul) dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sebuah pengakuan bergengsi yang menandai keberhasilan institusi ini dalam menghadirkan layanan informasi yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan zaman.

 

Plt. Kepala UPT Perpustakaan, Rizal Zaenal, S.S.I, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas capaian tersebut.

 

“Alhamdulillah, saya merasa sangat bangga dengan pencapaian luar biasa ini. Akreditasi A yang diraih perpustakaan UNISA Bandung menunjukkan bahwa kampus ini tidak hanya unggul di bidang akademik, tapi juga memiliki komitmen tinggi dalam menyediakan akses informasi dan literasi yang berkualitas,” ungkapnya, Jumat (25/07/2025)

 

Ia menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja keras tim pustakawan, dukungan seluruh sivitas akademika, serta upaya kolektif dalam menjaga kualitas layanan.

 

“Fasilitas, koleksi, teknologi, hingga layanan kepada pemustaka harus memenuhi standar tinggi, dan akreditasi ini menegaskan bahwa kampus Universitas ‘Aisyiyah Bandung serius dalam hal itu.” Tuturnya.

 

Melihat posisi strategis UNISA Bandung saat ini, Rizal menilai sinergi antara tata kelola kampus yang baik, mutu akademik, dan pemanfaatan teknologi informasi menjadi kekuatan utama institusi.

 

“Dari sisi perpustakaan, kami mendukung penuh melalui layanan berbasis digital, koleksi yang relevan, serta program literasi informasi yang mendukung capaian akademik mahasiswa dan dosen,” jelasnya.

 

Rizal juga menuturkan bahwa sebagai upaya untuk menjaga mutu ke depan, tim perpustakaan akan memperkuat layanan digital, memperkaya koleksi, meningkatkan kompetensi pustakawan, serta menjalin kerja sama strategis lintas institusi.

 

“Kami tengah menyiapkan beberapa inovasi layanan, seperti pengembangan portal e-library yang lebih interaktif, layanan referensi daring, serta integrasi sistem peminjaman berbasis mobile. Kami juga sedang merancang program literasi digital yang lebih aplikatif untuk mendukung keterampilan informasi mahasiswa di era AI,” tambah Rizal.

 

Menutup pernyataannya, Rizal Zaenal menyampaikan harapannya agar perpustakaan dapat terus menjadi bagian strategis dari visi besar universitas.

 

“Kami berharap perpustakaan dapat menjadi mitra strategis dalam mendukung pencapaian visi Universitas ‘Aisyiyah Bandung sebagai kampus yang unggul dan Islami,” pungkasnya. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

907

 

BMH dan Askrindo Syariah Wujudkan Kebahagiaan 50 Santri Tahfidz Yatim Dhuafa

0
BMH
Foto: dok.bmh

PERCIKANIMAN.iD – Suasana penuh kebahagiaan dan syukur terpancar dari wajah-wajah para santri penghafal Al-Qur’an di Pesantren Tahfidz Yayasan Aqshol Madinah Cirebon. Mereka menerima bantuan dan santunan dalam program “Muharam Bangkit” yang diselenggarakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BMH) bekerja sama dengan PT Askrindo Syariah.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, (24/7/2025) bertepatan dengan 28 Muharram 1447 H ini digelar di lokasi pesantren yang beralamat di Jalan Surapandan II Argasunya Harjamukti, Kota Cirebon. Acara tersebut dihadiri oleh 50 santri tahfidz dari kalangan yatim dan dhuafa, beserta pengurus yayasan, amil BMH, mahasiswa yang berperan sebagai agen kebaikan, serta Ketua DPD Hidayatullah Kota Cirebon.

 

Asep Juhana, Ketua BMH Gerai Cirebon, menjelaskan bahwa program Muharam Bangkit ini merupakan inisiatif kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak. Kegiatan ini dilaksanakan bersama Kang Gemilang selaku Founder Agen Kebaikan dan Koordinator Program BMH Cirebon.

 

“Kegiatan Muharam bangkit ini di lakukan Bersama Kang Gemilang selaku Founder Agen Kebaikan dan Kordinator Program BMH Cirebon yang ke 3 kalinya ditempat yang berbeda dengan jumlah penerima manfaat sebanyak + 250 orang, mulai dari santri di Yayasan Hidayatul Falah – Kuningan, Yayasan Manarusalam Kota Cirebon dan Yayasan Aqshol Madinah Kota Cirebon,” ungkap Asep Juhana.

 

Menurutnya, program bantuan untuk ketiga yayasan tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai komunitas melalui pengumpulan donasi berupa Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) dari para donatur. Pendekatan kolaboratif ini memungkinkan jangkauan bantuan yang lebih luas dan berkelanjutan.

 

Dukungan signifikan dalam program ini datang dari PT Jaminan Pembiayaan Askrindo Syariah Pusat Jakarta melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang dipimpin oleh Farid Datul Rohman. Kontribusi perusahaan asuransi syariah ini memperkuat komitmen sektor korporat dalam program pemberdayaan masyarakat, khususnya santri yatim dan dhuafa.

 

“Pada kesempatan ini dukungan penuh yang di berikan oleh Bapak Farid Datul Rohman sebagai ketua UPZ PT. Jaminan Pembiayaan Askrindo Syariah Pusat yang berada di Jakarta, melalu program Muharam Bangkit dengan memberikan santunan untuk Yatim dan Dhuafa ini diharapkan bisa lebih memberi manfaat dan keberkahan untuk semua,” jelas Asep Juhana.

 

Antusiasme dan rasa syukur mendalam disampaikan oleh Ustadz Busro, salah satu pengurus Yayasan Aqshol Madinah. Dalam sambutannya, ia menyatakan kebahagiaan yang luar biasa atas kepedulian BMH dan PT Askrindo Syariah terhadap para santri yang dibinanya.

 

“Sementara dalam sambutannya Ust Busro salah satu pengurus Yayasan mengaku sangat Bahagia dan berterima kasih kepada BMH dan PT Askrindo atas dukungannya dalam memberikan santunan Yatim dan Bingkisan kepada para santri yang beliau bina selama ini, beliau mendo’akan agar para karyawan di PT Askrindo Syariah diberikan sehat wal afiat serta rezeki yang berkah dan berlimpah,” ungkapnya.

 

Ucapan terima kasih ini disertai dengan doa tulus agar seluruh karyawan PT Askrindo Syariah senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, serta rezeki yang berkah dan melimpah sebagai balasan atas kebaikan yang telah mereka berikan.

 

Kegembiraan yang tulus juga terpancar dari para santri penerima manfaat. Gibran dan Rizki, dua santri yatim yang menerima bingkisan dan uang pembinaan, tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan mereka. Kedua santri ini mengaku sangat tersentuh dengan perhatian dan kepedulian yang diberikan BMH.

 

“Salah seorang santri yatim yang bernama Gibran dan Rizki Ketika mendapat bingkisan dan uang pembinaan mengaku sangat bahagia atas perhatian dan kepedulian dari BMH yang secara rutin terus mensuport dirinya, harapannya semakin banyak lagi penerima manfaat yang di lakukan oleh BMH,” kata mereka.

 

Harapan kedua santri tersebut mencerminkan dampak positif program ini, tidak hanya dalam bentuk bantuan material tetapi juga motivasi spiritual untuk terus menghafal Al-Qur’an dan mengembangkan diri.

 

Program Muharam Bangkit ini menunjukkan model kolaborasi yang efektif antara lembaga amil zakat, perusahaan swasta, dan komunitas masyarakat dalam memberdayakan santri yatim dan dhuafa. Pendekatan holistik ini tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga membangun jaringan dukungan sosial yang berkelanjutan.

 

Puncak acara ditutup dengan ritual keagamaan yang khidmat. Ustadz Fahrur Rozi, yang berperan sebagai Da’i BMH sekaligus Ketua DPD Hidayatullah Cirebon, memimpin doa bersama dan acara buka puasa. Suasana spiritual yang tercipta semakin memperkuat makna kebersamaan dan keberkahan dari program ini.

 

“Acara yang di akhiri dengan do’a dan buka puasa yang dipimpin oleh Ust Fahrur Rozi sebagai Da’I BMH juga Ketua DPD Hidayatullah Cirebon berjalan dengan hidmat dan penuh keberkahan serta kebahagiaan,” demikian suasana penutupan acara yang meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta.

 

Keberhasilan program Muharam Bangkit di tiga lokasi berbeda dengan total 250 penerima manfaat menunjukkan potensi besar pengembangan program serupa di masa mendatang. Kolaborasi antara BMH, Askrindo Syariah, dan berbagai komunitas ini diharapkan dapat menjadi model replikasi untuk daerah lain dalam mendukung pendidikan dan pembinaan santri tahfidz dari kalangan kurang mampu.[ ]

5

Red: admin

Editor: iman

987

MUI Jatim Fatwa Haram Sound Horeg, Pemprov Diminta Buat Regulasi

0
Sound Horeg
Sound Horeg ( foto: radar jatim)

PERCIKANIMAN.iD – – MUI Jawa Timur resmi mengeluarkan fatwa haram terhadap penggunaan sound horeg. Sound horeg dinilai sangat meresahkan karena penggunaannya yang berlebihan kerap mengganggu kenyamanan, kesehatan, bahkan merusak fasilitas umum.

Fatwa ini ditetapkan usai Komisi Fatwa MUI Jatim menggelar rapat khusus dan forum dengar pendapat dengan berbagai pihak, termasuk pakar kesehatan THT, Pemprov Jatim, polisi, tokoh masyarakat, hingga perwakilan Paguyuban Sound Horeg Jatim.⁠

Penggunaan sound horeg yang menimbulkan kemaksiatan, seperti joget campur laki-laki dan perempuan, buka aurat, serta kegiatan negatif lainnya, dinyatakan haram.

Namun, penggunaan sound horeg tetap diperbolehkan bila volumenya wajar, digunakan untuk kegiatan positif, dan tidak mengandung unsur maksiat.⁠

Dikutip dari kumparan, MUI Jatim kini mendesak Pemprov Jatim agar segera memberikan instruksi kepada pemkab dan pemkot untuk membuat aturan khusus. Aturan tersebut diharapkan mengatur perizinan, standar penggunaan sound horeg, hingga sanksi bagi pelanggar.⁠

Sound Horeg Haram
Keputusan MUI Jawa Timur

 

[ ]

5

Red: admin

Editor: iman

983

Mahasiswa UNISA Bandung Raih Dua Prestasi Di Tingkat Nasional Dalam Midvent 2025

0
Unisa Bandung
Foto: Dok.Unisa Bandung

PERCIKANIMAN.iD – – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Bandung pada ajang Midwifery Event (Midvent) 2025 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Kebidanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Dalam kompetisi yang berskala nasional ini, mahasiswa Prodi S1 Kebidanan UNISA Bandung berhasil membawa pulang dua gelar juara sekaligus, yakni Juara I Lomba Poster Edukasi dan Juara II Lomba Short Movie.

Pada kategori Poster Edukasi, tim yang terdiri dari Zhillan Nurul Bayani dan Silvia Bianiah sukses menyabet juara pertama dengan karya yang mengangkat tema edukasi reproduksi bagi remaja Gen-Z.

“Alasan kami mengikuti lomba selain untuk mengambil pengalaman, juga ingin membantu menyukseskan event HIMA Kebidanan Purwokerto dan mengenalkan karya UNISA Bandung kepada jajaran Universitas Muhammadiyah Purwokerto,”ujar Zhillan, Kamis (10/07/2025).

Zhillan menuturkan bahwa poster yang mereka buat berisi pesan edukatif mengenai pentingnya menjaga pergaulan agar terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan, terutama di kalangan remaja.

“Pesan dari poster kami adalah edukasi kepada remaja, terutama Gen-Z, tentang pentingnya menjaga pergaulan dengan lawan jenis agar terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan,” tuturnya.

Zhillan dan Silvia juga mengaku meski proses pengerjaannya sempat terkendala waktu, semangat dan kolaborasi membuat mereka berhasil menuntaskan karya dengan baik.

“Kami mengerjakan posternya H-1 dari deadline lomba. Untuk kontennya sudah dirancang kasar sebelumnya, tapi desain finalnya baru kami kirimkan dua menit sebelum deadline. Bahkan sempat salah kirim file, tapi alhamdulillah panitia memberi pengertian dan kami bisa mengirim ulang,” ungkap Zhillan dan Silvia.

Diakhir, Silvia juga berharap agar dirinya dan teman temannya tidak cepat puas serta bisa terus berkarya.

“Alhamdulillah, semoga kami tidak cepat puas dan terus berkarya. Semoga ini bisa menjadi pengharum nama UNISA Bandung dan membawa keberkahan. Tapi yang paling utama adalah agar pesan dari poster ini dapat dimengerti dan diterima oleh banyak kalangan, khususnya Gen-Z,”tutup Silvia.

Tak hanya berhenti di sana, UNISA Bandung juga mengukir prestasi dalam kategori Short Movie, yang berhasil meraih Juara II. Tim ini terdiri dari tiga mahasiswa Prodi Kebidanan yaitu Raisa Rahma, Aliyya Zahra, dan Amelia Sri Rahayu.  [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

893

Cara Shalat Istikharoh, Bolehkan Diwakilkah Orang Lain ? Ini Penjelasannya

0
Sujud
Seorang muslimah sedang shalat ( ilustrasi foto: pixabay )

PERCIKANIMAN.iD – – Assalamu’alaykum. Ustadz saya pernah dengar katanya shalat istikharah itu boleh atau bisa diwakilkan oleh orang lain, misalnya ayah atau ibu. Benarkah demikian ?. Apakah jawaban shalat istikharah itu lewat mimpi? Kapan sebaiknya dilakukan?. Mohon penjelasannya. ( Ade by email)

 

Wa’alaykumsalam wr wb, saudara Ade dan pembaca sekalian shalat istikharah adalah shalat dua rakaat  yang dilakukan karena kita akan mengambil keputusan yang dinilai penting dalam kehidupan. Jabir r.a. berkata, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. mengajarkan kepada kami cara shalat istikharah   seperti juga beliau mengajarkan Al Quran.

Beliau bersabda, “Jika salah seorang ber-azam (hendak melakukan sesuatu yang dinilai penting) maka hendaklah shalat dua rakaat yang bukan wajib (shalat istikharah) dan setelah shalat selesai, berdoalah,

‘Ya Allah saya memohonkan pilihan menurut pengetahuan-Mu dan memohonkan penetapan-Mu dengan kekuasaan-Mu, juga saya memohonkan karunia-Mu yang besar, sebab sesungguhnya Engkaulah yang Maha berkuasa dan saya tidak mengetahui apa-apa. Engkau Maha Mengetahui segala gaib. Ya Allah, jikalau Engkau mengetahui bahwa urusanku ini (kita sebutkan apa urusan tersebut), baik untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku, maka takdirkanlah untukku dan mudahkanlah serta berikanlah berkah kepadaku di dalamnya. Sebaliknya jikalau Engkau mengetahui bahwa urusanku ini (kita sebutkan apa urusannya) jelek untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku, maka jauhkanlah hal itu dariku dan jauhkanlah aku darinya. Serta takdirkanlah untukku yang baik-baik saja di mana saja berada, kemudian puaskanlah hatiku dengan takdirmu itu.” (HR. Bukhari)   

Mencermati hadis sahih ini cukup jelas bahwa  doa istikharah ditujukan untuk pribadi, jadi tidak tepat apabila diwakilkan kepada orang lain. Mengapa?  Karena yang paling tahu urgensi kebutuhan tersebut adalah kita. Maka tentu saja kita sendiri yang paling kompeten untuk melakukannya.

Kita boleh minta didoakan ayah, ibu, atau siapa saja yang kita nilai saleh dengan harapan Allah memberikan keputusan yang terbaik untuk diri kita. Jadi bukan minta dishalat-istikharahkan, tetapi minta didoakan.

Apakah jawaban istikharah itu mimpi? Memang ada sebagian masyarakat  yang beranggapan bahwa jawaban istikharah adalah lewat mimpi. Artinya, kalau apa yang kita istikharah-kan itu belum muncul dalam mimpi, itu isyarat belum  terkabulkan.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada yang berpendapat demikian, penulis  berpendapat bahwa tidak ada dalil sahih yang menjelaskan bahwa jawaban istikharah itu harus lewat mimpi.

Jadi, walaupun Anda belum memimpikan apa yang Anda istikharah-kan, bukan berarti istikharah Anda tidak terkabulkan. Jawaban istikharah itu adanya  kemantapan hati. Maksudnya, walaupun Anda belum mimpi tapi kalau hati Anda sudah mantap untuk mengambil keputusan, itulah jawaban istikharah.

Apabila Anda sudah  istikharah, tapi hati Anda menjadi ragu. Ini isyarat bahwa Anda harus meninggalkannya, alias tidak akan baik kalau Anda ambil. Hal ini merujuk pada keterangan berikut. ”Da’ maa yuriibuka ilaa maa laa yuriibuka” (Tinggalkan yang ragu dan ambil yang yakin). Misalnya, ada seorang perjaka yang melamar Anda. Untuk memutuskan apakah Anda terima atau tolak lamaran tersebut, Anda istikharah.

Setelah   istikharah, Anda makin mantap untuk menerimanya, nah ini isyarat bahwa lamaran tersebut boleh Anda terima. Tapi bisa juga selesai istikharah, Anda malah menjadi ragu, maka ini isyarat bahwa sebaiknya Anda tidak menerima lamaran dia. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

972

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 / 0813-2007-1001 (Aam Amirudin Official) atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .