Beranda blog Halaman 2

MUI Jabar Kecam Keras Pembagian Bir di Event Bandung Pocari Run: “Sangat Merusak Kesadaran Keagamaan Kaum Muslimin”

0
MUI Jabar
Kantor MUI Jabar ( foto: salam online)

PERCIKANIMAN.iD – – Kontroversi pembagian minuman beralkohol kepada peserta ajang lari Pocari Run 2025 di Kota Bandung mendapat respons keras dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat. Organisasi keagamaan tersebut menganggap insiden yang terjadi beberapa hari lalu bukan sekadar kesalahan prosedural, melainkan persoalan fundamental yang berkaitan dengan nilai-nilai keagamaan.

 

Sekretaris MUI Jawa Barat, KH Rafani Achyar, menyuarakan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut. Menurutnya, pembagian bir dalam event olahraga nasional ini tidak hanya bertentangan dengan norma agama, tetapi juga menciptakan kebingungan di tengah masyarakat, khususnya umat Islam yang menjadi mayoritas peserta.

 

“Kalau soal membagikan bir, itu satu tindakan yang salah menurut saya. Itu tidak boleh terjadi sebetulnya, walaupun ada yang mengklaim bir itu di bawah 20 persen kadar alkoholnya,” tegas Kyai Rafani dalam keterangannya.

 

Ulama senior ini menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, konotasi dan persepsi masyarakat terhadap suatu produk sangat penting diperhatikan. Meskipun kadar alkohol dalam bir mungkin rendah, namun produk tersebut tetap memiliki stigma sebagai minuman keras yang diharamkan.

 

“Tapi tetap aja bir itu sudah punya konotasi minuman keras, jadi nggak boleh. Dalam Islam, sesuatu yang sudah punya konotasi yang diharamkan itu nggak boleh,” lanjutnya dengan tegas.

 

Rafani menjelaskan konsep syubhat dalam hukum Islam, yaitu hal-hal yang masih abu-abu atau meragukan secara hukum. Menurutnya, umat Islam diajarkan untuk menjauhi perkara-perkara semacam ini sebagai bentuk kehati-hatian dalam beragama. Ia memberikan contoh konkret mengenai produk makanan dengan nama-nama ekstrem yang pernah populer di masyarakat.

MUI Jabar
Sekretaris Umum MUI Jabar, KH Rafani Achyar ( foto: tribun jabar)

“Baksonya mungkin halal, tapi kalau namanya pakai setan, itu sudah jelas musuh. Dalam Al-Qur’an setan itu musuh yang nyata, dan perlakukanlah sebagai musuh. Sama halnya dengan bir, meskipun mungkin kadar alkoholnya rendah, tetap aja haram diminum itu karena sudah punya konotasi haram,” jelasnya.

 

Kritik MUI Jabar tidak hanya terhenti pada isu pembagian bir, tetapi meluas pada konsep penyelenggaraan event yang dinilai terlalu komersial. Rafani menyayangkan dominasi nama brand perusahaan dalam acara tersebut, yang menurutnya mengaburkan identitas lokal sebagai tuan rumah.

 

“Mestinya acara lari itu bukan mengatasnamakan perusahaan. Namanya kan Pocari Run, seharusnya yang dikedepankan itu nama kota, misalnya Bandung Run atau Jawa Barat Run. Di mana-mana juga gitu, seperti Borobudur Marathon,” ujar Kyai Rafani.

 

Ia menilai pemerintah daerah perlu lebih assertif dalam menjaga marwah dan identitas regional dalam event-event berskala besar. Kondisi saat ini dinilai seolah-olah pemerintah daerah dimanfaatkan oleh korporasi untuk kepentingan branding semata.

 

“Ini kan seolah-olah perusahaan mengeksploitasi pemerintah daerah. Fasilitas pemerintah dipakai, tapi malah dominasi brand,” ungkapnya dengan nada kritis.

 

Keprihatinan lain yang disampaikan Rafani berkaitan dengan aspek spiritual dalam pelaksanaan event olahraga. Ia menyoroti waktu penyelenggaraan yang dimulai menjelang subuh, dimana seharusnya umat Islam sedang mempersiapkan diri untuk menunaikan salat subuh.

 

“Saya prihatin, menjelang subuh orang sudah berbondong-bondong di jalan untuk ikut lari. Saya tidak tahu apakah mereka salat dulu atau tidak. Tapi kenyataannya seperti itu, dan mayoritas peserta itu kan muslim. Olahraga itu boleh, tapi kalau sampai mengorbankan salat, jelas tidak boleh,” kata Kyai Rafani.

 

Merespons pernyataan Wali Kota Bandung Farhan yang menilai insiden pembagian bir tidak menimbulkan dampak signifikan, Rafani memberikan pandangan yang berbeda. Menurutnya, sudut pandang semacam itu terlalu menyederhanakan persoalan dan mengabaikan dimensi keagamaan yang lebih substansial.

 

“Iya mungkin dampak langsung sih tidak ada. Tapi kalau sampai ada pembagian bir segala macam itu, ya menurut saya dampaknya sangat prinsipil. Orang awam nanti bisa menganggap bir itu sebagai minuman biasa. Padahal dari sisi kesadaran keagamaan, ini merusak,” jelasnya.

 

Rafani mengakhiri pernyataannya dengan peringatan tentang kondisi keberagamaan masyarakat yang menurutnya semakin mengkhawatirkan. Ia melihat adanya kecenderungan pencampuradukan dalam berbagai aspek kehidupan beragama yang dapat mengikis kesadaran spiritual masyarakat.

 

“Pola pikir keagamaan masyarakat sekarang ini sudah pabaliut, sudah kusut, sudah campur-campur. Makanan dicampur-campur, minuman dicampur-campur, pandangan keagamaan juga campur-camur. Hari ini mau dibawa ke mana?,” tutup Kyai Rafani dengan nada prihatin.

 

Kontroversi ini menunjukkan pentingnya dialog antara penyelenggara event, pemerintah daerah, dan tokoh agama dalam merancang kegiatan publik yang dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah dengan mayoritas muslim seperti Jawa Barat.[ ]

5

Red: admin

Editor: iman

908

 

 

 

Komitmen Terhadap Mutu Layanan,Perpustakaan Unisa Bandung Raih Akreditasi A

0
Unisa Bandung
foto: dok.unisa bandung

PERCIKANIMAN.iD – –  Di tengah transformasi pendidikan tinggi yang kian dinamis, Universitas ‘Aisyiyah Bandung kembali membuktikan komitmennya terhadap mutu layanan akademik. Perpustakaan UNISA Bandung sukses meraih Akreditasi A (Unggul) dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sebuah pengakuan bergengsi yang menandai keberhasilan institusi ini dalam menghadirkan layanan informasi yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan zaman.

 

Plt. Kepala UPT Perpustakaan, Rizal Zaenal, S.S.I, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas capaian tersebut.

 

“Alhamdulillah, saya merasa sangat bangga dengan pencapaian luar biasa ini. Akreditasi A yang diraih perpustakaan UNISA Bandung menunjukkan bahwa kampus ini tidak hanya unggul di bidang akademik, tapi juga memiliki komitmen tinggi dalam menyediakan akses informasi dan literasi yang berkualitas,” ungkapnya, Jumat (25/07/2025)

 

Ia menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja keras tim pustakawan, dukungan seluruh sivitas akademika, serta upaya kolektif dalam menjaga kualitas layanan.

 

“Fasilitas, koleksi, teknologi, hingga layanan kepada pemustaka harus memenuhi standar tinggi, dan akreditasi ini menegaskan bahwa kampus Universitas ‘Aisyiyah Bandung serius dalam hal itu.” Tuturnya.

 

Melihat posisi strategis UNISA Bandung saat ini, Rizal menilai sinergi antara tata kelola kampus yang baik, mutu akademik, dan pemanfaatan teknologi informasi menjadi kekuatan utama institusi.

 

“Dari sisi perpustakaan, kami mendukung penuh melalui layanan berbasis digital, koleksi yang relevan, serta program literasi informasi yang mendukung capaian akademik mahasiswa dan dosen,” jelasnya.

 

Rizal juga menuturkan bahwa sebagai upaya untuk menjaga mutu ke depan, tim perpustakaan akan memperkuat layanan digital, memperkaya koleksi, meningkatkan kompetensi pustakawan, serta menjalin kerja sama strategis lintas institusi.

 

“Kami tengah menyiapkan beberapa inovasi layanan, seperti pengembangan portal e-library yang lebih interaktif, layanan referensi daring, serta integrasi sistem peminjaman berbasis mobile. Kami juga sedang merancang program literasi digital yang lebih aplikatif untuk mendukung keterampilan informasi mahasiswa di era AI,” tambah Rizal.

 

Menutup pernyataannya, Rizal Zaenal menyampaikan harapannya agar perpustakaan dapat terus menjadi bagian strategis dari visi besar universitas.

 

“Kami berharap perpustakaan dapat menjadi mitra strategis dalam mendukung pencapaian visi Universitas ‘Aisyiyah Bandung sebagai kampus yang unggul dan Islami,” pungkasnya. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

907

 

BMH dan Askrindo Syariah Wujudkan Kebahagiaan 50 Santri Tahfidz Yatim Dhuafa

0
BMH
Foto: dok.bmh

PERCIKANIMAN.iD – Suasana penuh kebahagiaan dan syukur terpancar dari wajah-wajah para santri penghafal Al-Qur’an di Pesantren Tahfidz Yayasan Aqshol Madinah Cirebon. Mereka menerima bantuan dan santunan dalam program “Muharam Bangkit” yang diselenggarakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BMH) bekerja sama dengan PT Askrindo Syariah.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, (24/7/2025) bertepatan dengan 28 Muharram 1447 H ini digelar di lokasi pesantren yang beralamat di Jalan Surapandan II Argasunya Harjamukti, Kota Cirebon. Acara tersebut dihadiri oleh 50 santri tahfidz dari kalangan yatim dan dhuafa, beserta pengurus yayasan, amil BMH, mahasiswa yang berperan sebagai agen kebaikan, serta Ketua DPD Hidayatullah Kota Cirebon.

 

Asep Juhana, Ketua BMH Gerai Cirebon, menjelaskan bahwa program Muharam Bangkit ini merupakan inisiatif kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak. Kegiatan ini dilaksanakan bersama Kang Gemilang selaku Founder Agen Kebaikan dan Koordinator Program BMH Cirebon.

 

“Kegiatan Muharam bangkit ini di lakukan Bersama Kang Gemilang selaku Founder Agen Kebaikan dan Kordinator Program BMH Cirebon yang ke 3 kalinya ditempat yang berbeda dengan jumlah penerima manfaat sebanyak + 250 orang, mulai dari santri di Yayasan Hidayatul Falah – Kuningan, Yayasan Manarusalam Kota Cirebon dan Yayasan Aqshol Madinah Kota Cirebon,” ungkap Asep Juhana.

 

Menurutnya, program bantuan untuk ketiga yayasan tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai komunitas melalui pengumpulan donasi berupa Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) dari para donatur. Pendekatan kolaboratif ini memungkinkan jangkauan bantuan yang lebih luas dan berkelanjutan.

 

Dukungan signifikan dalam program ini datang dari PT Jaminan Pembiayaan Askrindo Syariah Pusat Jakarta melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang dipimpin oleh Farid Datul Rohman. Kontribusi perusahaan asuransi syariah ini memperkuat komitmen sektor korporat dalam program pemberdayaan masyarakat, khususnya santri yatim dan dhuafa.

 

“Pada kesempatan ini dukungan penuh yang di berikan oleh Bapak Farid Datul Rohman sebagai ketua UPZ PT. Jaminan Pembiayaan Askrindo Syariah Pusat yang berada di Jakarta, melalu program Muharam Bangkit dengan memberikan santunan untuk Yatim dan Dhuafa ini diharapkan bisa lebih memberi manfaat dan keberkahan untuk semua,” jelas Asep Juhana.

 

Antusiasme dan rasa syukur mendalam disampaikan oleh Ustadz Busro, salah satu pengurus Yayasan Aqshol Madinah. Dalam sambutannya, ia menyatakan kebahagiaan yang luar biasa atas kepedulian BMH dan PT Askrindo Syariah terhadap para santri yang dibinanya.

 

“Sementara dalam sambutannya Ust Busro salah satu pengurus Yayasan mengaku sangat Bahagia dan berterima kasih kepada BMH dan PT Askrindo atas dukungannya dalam memberikan santunan Yatim dan Bingkisan kepada para santri yang beliau bina selama ini, beliau mendo’akan agar para karyawan di PT Askrindo Syariah diberikan sehat wal afiat serta rezeki yang berkah dan berlimpah,” ungkapnya.

 

Ucapan terima kasih ini disertai dengan doa tulus agar seluruh karyawan PT Askrindo Syariah senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, serta rezeki yang berkah dan melimpah sebagai balasan atas kebaikan yang telah mereka berikan.

 

Kegembiraan yang tulus juga terpancar dari para santri penerima manfaat. Gibran dan Rizki, dua santri yatim yang menerima bingkisan dan uang pembinaan, tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan mereka. Kedua santri ini mengaku sangat tersentuh dengan perhatian dan kepedulian yang diberikan BMH.

 

“Salah seorang santri yatim yang bernama Gibran dan Rizki Ketika mendapat bingkisan dan uang pembinaan mengaku sangat bahagia atas perhatian dan kepedulian dari BMH yang secara rutin terus mensuport dirinya, harapannya semakin banyak lagi penerima manfaat yang di lakukan oleh BMH,” kata mereka.

 

Harapan kedua santri tersebut mencerminkan dampak positif program ini, tidak hanya dalam bentuk bantuan material tetapi juga motivasi spiritual untuk terus menghafal Al-Qur’an dan mengembangkan diri.

 

Program Muharam Bangkit ini menunjukkan model kolaborasi yang efektif antara lembaga amil zakat, perusahaan swasta, dan komunitas masyarakat dalam memberdayakan santri yatim dan dhuafa. Pendekatan holistik ini tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga membangun jaringan dukungan sosial yang berkelanjutan.

 

Puncak acara ditutup dengan ritual keagamaan yang khidmat. Ustadz Fahrur Rozi, yang berperan sebagai Da’i BMH sekaligus Ketua DPD Hidayatullah Cirebon, memimpin doa bersama dan acara buka puasa. Suasana spiritual yang tercipta semakin memperkuat makna kebersamaan dan keberkahan dari program ini.

 

“Acara yang di akhiri dengan do’a dan buka puasa yang dipimpin oleh Ust Fahrur Rozi sebagai Da’I BMH juga Ketua DPD Hidayatullah Cirebon berjalan dengan hidmat dan penuh keberkahan serta kebahagiaan,” demikian suasana penutupan acara yang meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta.

 

Keberhasilan program Muharam Bangkit di tiga lokasi berbeda dengan total 250 penerima manfaat menunjukkan potensi besar pengembangan program serupa di masa mendatang. Kolaborasi antara BMH, Askrindo Syariah, dan berbagai komunitas ini diharapkan dapat menjadi model replikasi untuk daerah lain dalam mendukung pendidikan dan pembinaan santri tahfidz dari kalangan kurang mampu.[ ]

5

Red: admin

Editor: iman

987

MUI Jatim Fatwa Haram Sound Horeg, Pemprov Diminta Buat Regulasi

0
Sound Horeg
Sound Horeg ( foto: radar jatim)

PERCIKANIMAN.iD – – MUI Jawa Timur resmi mengeluarkan fatwa haram terhadap penggunaan sound horeg. Sound horeg dinilai sangat meresahkan karena penggunaannya yang berlebihan kerap mengganggu kenyamanan, kesehatan, bahkan merusak fasilitas umum.

Fatwa ini ditetapkan usai Komisi Fatwa MUI Jatim menggelar rapat khusus dan forum dengar pendapat dengan berbagai pihak, termasuk pakar kesehatan THT, Pemprov Jatim, polisi, tokoh masyarakat, hingga perwakilan Paguyuban Sound Horeg Jatim.⁠

Penggunaan sound horeg yang menimbulkan kemaksiatan, seperti joget campur laki-laki dan perempuan, buka aurat, serta kegiatan negatif lainnya, dinyatakan haram.

Namun, penggunaan sound horeg tetap diperbolehkan bila volumenya wajar, digunakan untuk kegiatan positif, dan tidak mengandung unsur maksiat.⁠

Dikutip dari kumparan, MUI Jatim kini mendesak Pemprov Jatim agar segera memberikan instruksi kepada pemkab dan pemkot untuk membuat aturan khusus. Aturan tersebut diharapkan mengatur perizinan, standar penggunaan sound horeg, hingga sanksi bagi pelanggar.⁠

Sound Horeg Haram
Keputusan MUI Jawa Timur

 

[ ]

5

Red: admin

Editor: iman

983

Mahasiswa UNISA Bandung Raih Dua Prestasi Di Tingkat Nasional Dalam Midvent 2025

0
Unisa Bandung
Foto: Dok.Unisa Bandung

PERCIKANIMAN.iD – – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Bandung pada ajang Midwifery Event (Midvent) 2025 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Kebidanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Dalam kompetisi yang berskala nasional ini, mahasiswa Prodi S1 Kebidanan UNISA Bandung berhasil membawa pulang dua gelar juara sekaligus, yakni Juara I Lomba Poster Edukasi dan Juara II Lomba Short Movie.

Pada kategori Poster Edukasi, tim yang terdiri dari Zhillan Nurul Bayani dan Silvia Bianiah sukses menyabet juara pertama dengan karya yang mengangkat tema edukasi reproduksi bagi remaja Gen-Z.

“Alasan kami mengikuti lomba selain untuk mengambil pengalaman, juga ingin membantu menyukseskan event HIMA Kebidanan Purwokerto dan mengenalkan karya UNISA Bandung kepada jajaran Universitas Muhammadiyah Purwokerto,”ujar Zhillan, Kamis (10/07/2025).

Zhillan menuturkan bahwa poster yang mereka buat berisi pesan edukatif mengenai pentingnya menjaga pergaulan agar terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan, terutama di kalangan remaja.

“Pesan dari poster kami adalah edukasi kepada remaja, terutama Gen-Z, tentang pentingnya menjaga pergaulan dengan lawan jenis agar terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan,” tuturnya.

Zhillan dan Silvia juga mengaku meski proses pengerjaannya sempat terkendala waktu, semangat dan kolaborasi membuat mereka berhasil menuntaskan karya dengan baik.

“Kami mengerjakan posternya H-1 dari deadline lomba. Untuk kontennya sudah dirancang kasar sebelumnya, tapi desain finalnya baru kami kirimkan dua menit sebelum deadline. Bahkan sempat salah kirim file, tapi alhamdulillah panitia memberi pengertian dan kami bisa mengirim ulang,” ungkap Zhillan dan Silvia.

Diakhir, Silvia juga berharap agar dirinya dan teman temannya tidak cepat puas serta bisa terus berkarya.

“Alhamdulillah, semoga kami tidak cepat puas dan terus berkarya. Semoga ini bisa menjadi pengharum nama UNISA Bandung dan membawa keberkahan. Tapi yang paling utama adalah agar pesan dari poster ini dapat dimengerti dan diterima oleh banyak kalangan, khususnya Gen-Z,”tutup Silvia.

Tak hanya berhenti di sana, UNISA Bandung juga mengukir prestasi dalam kategori Short Movie, yang berhasil meraih Juara II. Tim ini terdiri dari tiga mahasiswa Prodi Kebidanan yaitu Raisa Rahma, Aliyya Zahra, dan Amelia Sri Rahayu.  [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

893

Cara Shalat Istikharoh, Bolehkan Diwakilkah Orang Lain ? Ini Penjelasannya

0
Sujud
Seorang muslimah sedang shalat ( ilustrasi foto: pixabay )

PERCIKANIMAN.iD – – Assalamu’alaykum. Ustadz saya pernah dengar katanya shalat istikharah itu boleh atau bisa diwakilkan oleh orang lain, misalnya ayah atau ibu. Benarkah demikian ?. Apakah jawaban shalat istikharah itu lewat mimpi? Kapan sebaiknya dilakukan?. Mohon penjelasannya. ( Ade by email)

 

Wa’alaykumsalam wr wb, saudara Ade dan pembaca sekalian shalat istikharah adalah shalat dua rakaat  yang dilakukan karena kita akan mengambil keputusan yang dinilai penting dalam kehidupan. Jabir r.a. berkata, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. mengajarkan kepada kami cara shalat istikharah   seperti juga beliau mengajarkan Al Quran.

Beliau bersabda, “Jika salah seorang ber-azam (hendak melakukan sesuatu yang dinilai penting) maka hendaklah shalat dua rakaat yang bukan wajib (shalat istikharah) dan setelah shalat selesai, berdoalah,

‘Ya Allah saya memohonkan pilihan menurut pengetahuan-Mu dan memohonkan penetapan-Mu dengan kekuasaan-Mu, juga saya memohonkan karunia-Mu yang besar, sebab sesungguhnya Engkaulah yang Maha berkuasa dan saya tidak mengetahui apa-apa. Engkau Maha Mengetahui segala gaib. Ya Allah, jikalau Engkau mengetahui bahwa urusanku ini (kita sebutkan apa urusan tersebut), baik untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku, maka takdirkanlah untukku dan mudahkanlah serta berikanlah berkah kepadaku di dalamnya. Sebaliknya jikalau Engkau mengetahui bahwa urusanku ini (kita sebutkan apa urusannya) jelek untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku, maka jauhkanlah hal itu dariku dan jauhkanlah aku darinya. Serta takdirkanlah untukku yang baik-baik saja di mana saja berada, kemudian puaskanlah hatiku dengan takdirmu itu.” (HR. Bukhari)   

Mencermati hadis sahih ini cukup jelas bahwa  doa istikharah ditujukan untuk pribadi, jadi tidak tepat apabila diwakilkan kepada orang lain. Mengapa?  Karena yang paling tahu urgensi kebutuhan tersebut adalah kita. Maka tentu saja kita sendiri yang paling kompeten untuk melakukannya.

Kita boleh minta didoakan ayah, ibu, atau siapa saja yang kita nilai saleh dengan harapan Allah memberikan keputusan yang terbaik untuk diri kita. Jadi bukan minta dishalat-istikharahkan, tetapi minta didoakan.

Apakah jawaban istikharah itu mimpi? Memang ada sebagian masyarakat  yang beranggapan bahwa jawaban istikharah adalah lewat mimpi. Artinya, kalau apa yang kita istikharah-kan itu belum muncul dalam mimpi, itu isyarat belum  terkabulkan.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada yang berpendapat demikian, penulis  berpendapat bahwa tidak ada dalil sahih yang menjelaskan bahwa jawaban istikharah itu harus lewat mimpi.

Jadi, walaupun Anda belum memimpikan apa yang Anda istikharah-kan, bukan berarti istikharah Anda tidak terkabulkan. Jawaban istikharah itu adanya  kemantapan hati. Maksudnya, walaupun Anda belum mimpi tapi kalau hati Anda sudah mantap untuk mengambil keputusan, itulah jawaban istikharah.

Apabila Anda sudah  istikharah, tapi hati Anda menjadi ragu. Ini isyarat bahwa Anda harus meninggalkannya, alias tidak akan baik kalau Anda ambil. Hal ini merujuk pada keterangan berikut. ”Da’ maa yuriibuka ilaa maa laa yuriibuka” (Tinggalkan yang ragu dan ambil yang yakin). Misalnya, ada seorang perjaka yang melamar Anda. Untuk memutuskan apakah Anda terima atau tolak lamaran tersebut, Anda istikharah.

Setelah   istikharah, Anda makin mantap untuk menerimanya, nah ini isyarat bahwa lamaran tersebut boleh Anda terima. Tapi bisa juga selesai istikharah, Anda malah menjadi ragu, maka ini isyarat bahwa sebaiknya Anda tidak menerima lamaran dia. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

972

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 / 0813-2007-1001 (Aam Amirudin Official) atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

Bersaing di Tingkat Nasional, Satgas UNISA Bandung Boyong Dua Penghargaan

0
Unisa Bandung
Foto: Dok.Unisa Bandung

PERCIKANIMAN.iD – – Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Bandung kembali mencatatkan prestasi membanggakan. Tim UKM Satgas Kesehatan berhasil meraih Juara I dan III dalam ajang Lomba Bantuan Hidup Dasar (BHD) tingkat nasional yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya pada tahun 2025.

Ketua tim Satgas dalam lomba tersebut, Maswiyah, serta para anggota menunjukkan kekompakan dan dedikasi tinggi selama masa persiapan hingga pelaksanaan lomba.

“Motivasi utama kita ikutan lomba tentunya ingin membuktikan bahwa ilmu BHD yang kita pelajari di UKM Satgas Kesehatan UNISA sangat bermanfaat dan bisa bersaing dengan peserta lainnya. Apalagi lombanya di Universitas Tasikmalaya, jadi makin semangat buat nunjukkin kalau anak UNISA juga bisa unggul di bidang BHD. Selain itu, kami ingin menyebarkan kesadaran bahwa BHD itu penting untuk semua orang,”ungkap Maswiyah, Kamis (10/07/2025).

Masywiyah beserta timnya mengaku bahwa proses latihan yang dijalani berlangsung intensif. Selama dua minggu, tim berlatih setiap hari selepas kuliah, mempersiapkan diri dengan simulasi skenario perlombaan, serta pendalaman materi BHD terkini.

“Latihannya benar-benar maksimal. Kami latihan setiap hari dari pukul 16.00 sampai malam. Kalau tidak ada kajian di Pesma, kami lanjut sampai pukul 21.00. Latihan juga dilakukan di bawah tekanan waktu agar kami terbiasa dengan situasi lomba. Pembimbing (Kang Nanda) dan dosen (Pa Iyep) banyak membantu lewat materi dan evaluasi rutin. Kuncinya adalah disiplin, latihan konsisten, dan kerja tim yang solid”. Ungkapnya.

Tantangan utama yang dirasakan peserta adalah menjaga ketenangan dan fokus di tengah tekanan waktu serta suasana kompetisi.

“Yang paling menantang adalah tetap tenang dan fokus. Saat berada di ruang lomba, atmosfernya cukup tegang, apalagi saat juri mengamati langsung dan waktu sangat terbatas. Tapi karena kami sudah terbiasa latihan dalam situasi serupa, kami bisa tetap fokus menjalankan prosedur.” Lanjutnya.

Momen kemenangan menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan dan membanggakan bagi tim.

“Perasaannya campur aduk—senang, bangga, dan terharu. Usaha kami benar-benar terbayar. Kemenangan ini bukan hanya untuk kami, tetapi juga untuk UKM Satgas dan seluruh civitas UNISA. Ini bukti bahwa kerja keras, semangat, dan latihan tidak pernah sia-sia”.

Maswiyah juga membagikan tips untuk mahasiswa UNISA yang ingin mengikuti lomba serupa:

“Niatkan dari awal bahwa lomba adalah sarana untuk belajar dan berkembang, bukan sekadar mengejar juara. Pahami materi BHD secara menyeluruh, rutin latihan, jalin komunikasi yang baik dalam tim, dan jaga kesehatan. Jalani prosesnya dengan semangat dan rasa ingin tahu”

Diakhir Ia berharap UKM Satgas UNISA Bandung terus berkembang dan menjadi wadah yang inspiratif bagi mahasiswa yang ingin mengasah keterampilan di bidang kesehatan.

“Harapannya, UKM Satgas UNISA semakin dikenal dan menjadi tempat belajar yang menyenangkan bagi mahasiswa, terutama tingkat awal. Semoga ke depan kita bisa terus mencetak prestasi dan mendorong lebih banyak mahasiswa untuk terlibat dan berkembang,” pungkasnya. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

903

Mengedepankan Ihsan

0
Al Ihsan
ilustrasi foto: istimewa

 

Oleh: Prof. Dr. Miftah Faridl*

*Penulis adalah Ketua Umum MUI Kota Bandung

PERCIKANIMAN.iD – – Istilah “Ihsan” menghangat pada beberapa hari terakhir ini. Bukan karena baru, tapi karena digunakan untuk menamai salah satu fasilitas publik, dan diganti dengan bahasa lokal untuk kepentingan tetentu. Menghangat, karena pergantian itu memicu kontroversi orang banyak. Menjadi semakin menghangat ketika istilah itu dikaitkaitkan dengan dimensi agama yang dipeluk mayoritas penduduk di tempat fasilitas itu berdiri. Orang pun banyak yang berusaha mencari asal muasal istilah itu, dan mencari tahu apa hubungannya dengan egama keyakinan seseorang.

 

Sekurang-kurangnya sebelas kali Allah menggunakan kata “ihsan” dalam AlQur’an untuk menyebut perbuatan yang baik. Dua di antaranya memakai “alif-lam”, al-ihsan, yaitu pada surah al-Rahman ayat ke-60 dan surah al-Nahl ayat ke-90. Bila diterjemahkan, keduanya berarti kebaikan atau kebajikan. Yang pertama Allah menjelaskan: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” Sedang yang kedua, penjelasan itu berbunyi: ”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (ihsan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

 

Demikian pula dalam sembilan ayat lainnya, kata “ihsan” diterjemahkan menjadi suatu kebaikan dan perbuatan baik. Bahkan ayat ke-83 dari surah al-Baqarah, “ihsan” digunakan sebagai pengganti kata berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana dalam firman-Nya: “Janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah, dan berbuat baiklah (ihsan) kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”

 

Pada ayat tersebut, Allah menyebut “ihsan” sejajar dengan larangan berbuat syirik, perintah berbuat baik kepada orang tua dan kaum kerabat, berbuat baik kepada fakir miskin dan anak-anak yatim, mengucapkan kata-kata yang baik kepada sesama manusia, serta mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Secara sederhana dapat dipahami bahwa konsep “ihsan” adalah sama dan sebangun dengan konsep akhlak, baik akhlak kepada Sang Pencipta, maupun akhlak kepada sesama manusia.

 

Kata “ihsan” kemudian menjadi kontroversi ketika digunakan untuk melabeli sesuatu karya manusia. Terlepas dari kontroversi seperti itu, ihsan tetap bermakna luhur sebagai derajat penyempurna amal seorang pemeluk Islam. Suatu ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah tentang iman, Islam, dah ihsan. Setelah Nabi menjelaskan tentang iman dan Islam, Jibril pun bertanya, ”Apakah ihsan itu?” Lalu Nabi menjelaskannya, ”Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Dia, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

 

Makna inilah yang selanjutnya menjadi definisi “ihsan” yang kemudian sangat populer digunakan, baik dalam kehidupan maupun hanya sebatas sumber referensi.Secara implisit makna tersebut mengisyaratkan pentingnya ikhlas sebagai faktor utama dalam beramal, seperti terungkap pada kalimat “seakan-akan engkau melihat Dia, dan apabila engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

 

Kunci Ketulusan dalam Berbuat

Pendeknya, dapat pula diartikan bahwa faktor “ihsan” harus selalu hadir menyertai setiap motif dan seluruh perilaku manusiawi. Ihsan sejatinya menjadi napas dan inspirasi dari keseluruhan amal manusia, bersenyawa dengan jenis pekerjaan dan profesi apapun. Karena itu, ihsan adalah juga pengendali motif-motif insani yang mendasari keseluruhan tindakan aktivitas yang dilaluinya setiap saat.

 

Itulah sebabnya, ketika berdialog dengan Rasulullah, Jibril menempatkan pertanyaan tentang ihsan ini pada urutan terakhir setelah iman dan islam. Ihsan dalam hal ini menjadi dimensi penggenap amal setelah seseorang menyatakan keimanan dan melaksanakan serangkaian ajaran seperti disyariatkan Islam. Ihsan merupakan kekuatan moral yang menyempurnakan setiap tindakan.

 

Dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi serta budaya masyarakat saat ini, kita perlu menghidupkan kembali spirit ihsan yang mungkin telah mati, sehingga tidak ada lagi kebijakan, program, dan tindakan yang hanya berorientasi pada kepentingan pribadi ataupun kelompok. Semuanya merupakan implementasi pengabdian hanya kepada-Nya untuk mewujudkan kebaikan.

Kita tidak cukup hanya menjadi seorang pemeluk agama. Beragama saja tidak cukup. Beragama (Islam) itu harus pula diikuti oleh sikap ihsan. Demikianlah, Allah menjelaskan bahwa: ”(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri (ber-Islam) kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan (ber-ihsan), maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS, 2: 112).

 

Dalam kerangka inilah, kerja-kerja kemanusiaan, termasuk usaha mencari nafkah seperti petani berladang di sawah, pedagang pergi ke pasar, karyawan bekerja di kantor, guru mengajar di sekolah, atau pemerintah melayani rakyatnya, dapat dinilai sebagai perbuatan ibadah. Ibadah menjadi demikian luas maknanya dan demikian banyak bentuknya. Karena itu, bukan sesuatu yang menyulitkan bila tugas manusia memang hanya untuk beribadah, yaitu ibadah dalam cakupan makna yang sangat luas seperti terungkap di atas.

 

Dengan demikian, ihsan merambah segala ikhtiar yang mencakup seluruh dimensi kehidupan, baik dimensi ritual maupun dimensi sosial. Ihsan harus hadir dalam setiap tindakan. Dalam shalat, misalnya, ihsan akan meluruskan motivasi dan kekhusukan; dalam zakat, ihsan akan menjadi identitas pengabdian terhadap sesame manusia untuk tulus menolong kaum yang lemah, menjalin ukhuwah, sekaligus membangun solidaritas dengan sesama. Demikian pula dalam menjalankan roda kekuasaan, ihsan sejatinya tetap hadir sebagai kekuatan moral yang dapat menggerakkan seluruh potensi spiritual manusia untuk berbuat hanya karena Allah, bukan karena alasan popularitas, ataupun alasan pragmatisme lainnya.

 

Demikian pula sebaliknya, dimensi sosial selalu menyertai ihsan karena pada gilirannya ia akan melibatkan proses hubungan antar sesama manusia sebagai makhluk sosial yang satu sama lain saling membutuhkan. Jadi, dalam hubungan seperti itulah, ihsan akan terlibat bersama-sama dengan iman dan Islam yang telah menjadi keyakinan para pelakunya. Di sinilah ihsan menjadi potret sempurnanya akhlak. Yaitu Kebajikan yang telah mentradisi dalam setiap perilaku, memberikan nuansa moral dalam setiap amal, dan menjadi alat kontrol dalam setiap pengambilan keputusan.

 

Tidak ada ruang sedikitpun dalam beramal untuk memanjakan apapun selain Tuhan. Dalam proses kekuasaan, rakyat hanyalah jembatan yang menghubungkan penguasa dengan Tuhannya. Kekuasaan yang sifatnya sangat sementara juga tidak lebih dari sekedar fasilitas pengabdian hanya kepada-Nya, bukan untuk mendapatkan penghargaan ataupun pujian dari rakyatnya, dan bukan pula untuk kepentingan pencitraan di hadapan masyarakatnya.

 

Ihsan akan membimbing kita untuk memperoleh kesempurnaan citra dihadapan Tuhan. Karena itu, berbuatlah dengan tulus, hindari motif-motif pragmatism yang hanya akan mengorbankan kepentingan orang banyak. Berihsanlah dalam segala bentuk perbuatan, termasuk dalam menjalankan roda kekuasaan. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

980

Bikin Bangga, Mahasiswa Unisa Bandung Sabet Juara di Berbagai Kategori Lomba ASLAMA PTMA 2025

0
Juara Lomba
Foto: dok.unisa bandung

PERCIKANIMAN.iD – – Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Bandung kembali menorehkan prestasi membanggakan Lomba Kreatifitas Mahasiswa Asrama PTMA Tingkat Nasional  Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pengelola Asrama Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah dari tanggal 26 Mei – 15 Juni 2025.

Mudir Pesma Unisa Bandung, Dr. Mohammad Anwar Syi’aruddin, S.Hum., M.A., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta dan pemenang Lomba. Ia menekankan bahwa capaian ini merupakan bukti bahwa semangat untuk terus berkarya dan berkompetisi dalam kebaikan terus tumbuh di kalangan mahasiswa Unisa.

“Bagi yang belum meraih juara, jangan berkecil hati, ini adalah pengalaman berharga. Untuk para pemenang, kami harap prestasi ini menjadi pendorong semangat untuk terus meningkatkan prestasi dengan rendah hati,” ungkapnya, Minggu (29/06/2025)

Ia juga berharap prestasi ini menjadi motivasi untuk terus berinovasi dan menebar manfaat, baik di dalam maupun luar kampus.

Salah satu mahasiswa yang meraih juara pertama dalam lomba pidato Bahasa Arab/Inggris adalah Hala Lubadd. Ia mengangkat tema tentang pentingnya akhlak sebagai fondasi utama dalam kehidupan.

“Alhamdulillah, saya merasa sangat bahagia ketika mengetahui bahwa saya meraih juara pertama. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengirim pesan kepada ibu saya untuk membagikan kebahagiaan ini dan membuatnya senang” ujarnya, Senin (30/06/2025)

Prestasi lain datang dari Delis Safaatin yang berhasil meraih juara pertama lomba Komik Islami dan juara harapan tiga dalam lomba Kultum Bahasa Indonesia. Delis mengangkat tema tentang sedekah, yang menurutnya perlu disampaikan dengan cara sederhana agar menyentuh kesadaran pembaca.

“Saya nggak menyangka bisa menang dua kategori sekaligus. Semoga bisa menginspirasi dan membuka hati pembaca untuk lebih peduli terhadap sesama,” ujarnya, Selasa (01/7/2025)

Dalam kategori video kesehatan dan kebersihan asrama, Layla Mumtaza Marsya Hani dan Sopi Nur Solihah sukses meraih juara pertama. Karya mereka mengajak mahasiswa asrama untuk menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal.

“Senang sekali bisa ikut berpartisipasi. Ini jadi pengalaman berharga dan motivasi untuk terus mencoba hal-hal baru,” kata keduanya.

Shofia Asri Nuarini, yang meraih juara ketiga lomba pidato Bahasa Arab/Inggris, mengaku sempat merasa tidak percaya diri.

“Awalnya saya cuma ingin belajar dan nambah pengalaman, nggak berekspektasi apa-apa. Tapi ternyata kalau kita berani mencoba dan menikmati proses, Allah bisa beri hasil yang tidak disangka,” ungkapnya.

Dari kategori Komik Islami, Nasywa Muthmainnah turut meraih juara harapan tiga. Ia menyampaikan rasa syukur dan menilai bahwa berkarya juga bisa menjadi bentuk dakwah.

“Belajar dari ide, gagasan, dan layar digital yang bicara iman—rasanya seru. Tapi lebih dari itu, aku bersyukur,” katanya.

Sedangkan dalam lomba Tartil Al-Qur’an, M. Azizan Hakim berhasil meraih juara harapan dua. Ia menyebut bahwa lomba ini menjadi sarana untuk memperbaiki kemampuan membaca Al-Qur’an sekaligus meningkatkan kesabaran.

“Bersyukur bisa ikut dan menang, ini memotivasi saya untuk terus belajar lebih baik lagi,” ujarnya.[ ]

5

Red: admin

Editor: iman

907

Kemenag-BAZNAS Kerja Sama Pemberdayaan Umat Berbasis Masjid

0
Kemenag
Penandatanganan kerja sama antara Kemenag dan Baznas ( foto: dok.kemenag)

PERCIKANIMAN.iD – – Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dalam dua program strategis, yaitu Masjid Berdaya Berdampak (MADADA) dan BAZNAS Microfinance Masjid (BMM). Kolaborasi ini bertujuan memperkuat peran masjid dalam pemberdayaan ekonomi umat secara berkelanjutan.

Penandatanganan PKS tersebut dilakukan Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, dengan Deputi II BAZNAS Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, M. Imdadun Rahmat dalam rangkaian kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendamping BMM–MADADA yang digelar di Jakarta, Selasa (1/7/2025). Kegiatan tersebut diikuti 33 pendamping program se-Jawa Barat.

Dalam kesempatan itu, Arsad menjelaskan, konsep MADADA berangkat dari dua kata kunci utama, yaitu “berdaya” dan “berdampak”.

Menurutnya, masjid yang berdaya adalah masjid yang memiliki sumber daya untuk bertindak, sedangkan masjid yang berdampak adalah yang mampu membawa perubahan nyata bagi lingkungan sosial sekitarnya. Untuk itu, ia mendorong agar para takmir dapat mentransformasikan fungsi-fungsi masjid menjadi multifungsi.

Arsad menyebut, transformasi fungsi masjid sejatinya telah dimulai sejak masa Nabi Muhammad saw. dan dilanjutkan oleh para sahabat serta ulama terdahulu. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, melainkan juga pusat kegiatan pendidikan, sosial, dan ekonomi umat. Salah satu contohnya adalah Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, yang pada mulanya merupakan masjid tempat belajar.

“Jangan dibayangkan Al-Azhar saat itu sudah berupa kampus besar dengan gedung dan kursi seperti sekarang. Saat itu, proses pembelajaran masih berlangsung di dalam masjid, dengan para mahasiswa duduk bersila mengikuti pengajian. Ini menunjukkan bahwa masjid sejak dulu sudah menjalankan fungsi pendidikan,” jelas Arsad.

Ia juga mengungkapkan pentingnya meneladani sistem Baitul Mal pada masa sahabat sebagai bentuk pengelolaan sosial-ekonomi berbasis masjid yang relevan untuk diterapkan di era modern. Namun, menurut Arsad, prasyarat utama dari semua inisiatif pemberdayaan ini adalah kejelasan status hukum masjid, terutama terkait tanah wakaf.

“Kita harus pastikan status masjid jelas. Bila belum diwakafkan, segera diurus. Kemenag melalui KUA siap membantu penerbitan Akta Ikrar Wakaf,” tegasnya.

Sementara itu, Deputi II BAZNAS Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, M. Imdadun Rahmat, menilai kolaborasi ini sangat strategis. Menurutnya, pemakmuran masjid harus dilakukan melalui kerja sama yang terintegrasi. Masjid, kata dia, perlu difungsikan sebagai sentrum pembangunan umat, baik dalam aspek ibadah maupun ekonomi dan kemanusiaan.

“Nama MADADA ini sangat tepat. Masjidnya diperkuat, dikelola secara profesional, dan akhirnya memberdayakan masyarakat,” ujar Imdad.

Ia juga memastikan bahwa BAZNAS siap mengalokasikan anggaran untuk memperluas program ini secara nasional.

Kasubdit Kemasjidan, Akmal Salim Ruhana, menambahkan, program MADADA mendukung visi nasional, terutama Asta Cita Presiden terkait percepatan pengentasan kemiskinan, serta Asta Protas Menteri Agama yang menekankan pentingnya “beragama yang berdampak”.

Menurutnya, peran masjid belum dioptimalkan secara maksimal dalam agenda pemberdayaan umat. Ia berharap, program MADADA menjadi tonggak lahirnya masjid-masjid percontohan yang berdaya dan berdampak di seluruh Indonesia.

“Konsep MADADA ini sudah melalui tiga kali diskusi dan pematangan. Hari ini kita mulai bergerak. Melalui sinergi ini, masjid tidak hanya menjadi simbol religius, tetapi benar-benar menjadi pusat perubahan sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” pungkas Akmal.[ ]

5

Red: admin

Editor: iman

908