Beranda blog

Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada Sabtu 21 Maret

0
Sidang Isbat
foto: kemenagri

PERCIKANIM@N – –  Pemerintah melalui Kementerian Agama RI menetapkan 1 Syawal 1447 H bertepatan dengan Sabtu, 21 Maret 2026. Penetapan ini diputuskan dalam sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di kantor layanan Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis malam (19/03/2026).

“Berdasarkan hasil hisab dan tidak adanya laporan rukyat hilal, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026,” ujar Menag Nasaruddin dalam konferensi pers yang digelar usai sidang.

Turut mendampingi, Wakil Menteri Agama Romo HR Muhammad Syafi’i, Wakil Ketua Umum MUI KH Muhammad Cholil Nafis, Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang, dan Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad.

Menag menjelaskan, keputusan tersebut didasarkan pada dua hal. Pertama, secara hisab, pada saat rukyat tanggal 29 Ramadan 1447 H/19 Maret 2026, tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia berada pada kisaran 0 derajat 54 menit 27 detik (0,91 derajat) hingga 3 derajat 7 menit 52 detik (3,13 derajat), dengan sudut elongasi antara 4 derajat 32 menit 40 detik (4,54 derajat) hingga 6 derajat 6 menit 11 detik. (6,1 derajat).

“Secara hisab, posisi hilal tersebut belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura),” jelasnya. Diketahui, bahwa Menteri Agama anggota MABIMS menyepakati kriteria baru yaitu tinggi hilal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.

Kedua, berdasarkan hasil rukyat atau pemantauan hilal di 117 titik lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia. “Pengamatan hilal telah dilakukan di 117 titik di seluruh Indonesia, dan laporan yang diterima serta dikonfirmasi menunjukkan bahwa tidak ada satu pun titik yang berhasil melihat hilal,” ujar Menag.

“Demikian hasil sidang isbat yang telah kita laksanakan dan sepakati bersama. Kita berharap keputusan ini dapat menjadi dasar kebersamaan umat Islam Indonesia dalam merayakan Idulfitri secara serentak, serta menjadi simbol persatuan dalam menyongsong masa depan yang lebih baik,” jelas Menag.

Sidang isbat ini dihadiri juga oleh perwakilan duta besar negara sahabat, Mahkamah Agung, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Planetarium Jakarta, para pakar falak dari berbagai ormas Islam dan perguran tinggi islam, serta anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama.[]

Rektor UNISA Bandung: Pelantikan Dekan Bukan Sekadar Pergantian Jabatan, Ini Ikhtiar Perkuat Kepemimpinan Akademik

0
Unisa Bandung
Acara pelantikan tiga Dekan Unisa Bandung ( foto: dok.unisa bandung)

PERCIKANIM@N  – – Rektor Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Bandung baru saja melantik para Dekan periode 2026-2030 sebagai bagian dari penguatan kepemimpinan akademik dan tata kelola institusi. Pelantikan tersebut menandai dimulainya amanah kepemimpinan baru dalam mengembangkan fakultas serta mendukung pencapaian target institusi, yang dilaksanakan  di Aula Kampus 1 Universitas ‘Aisyiyah Bandung. Kamis (12/03/2026)

Adapun dekan yang dilantik yaitu Dr. Rivaldi Arissaputra, S.E., M.S.M sebagai Dekan Fakultas Ekonomi, Bisnis dan Ilmu Sosial, Anggriyana Tri Widianti, S.Kep., Ners., M.Kep., Sp.Kep.MB sebagai Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, serta Imam Budi Sumarna, S.Kom., M.Sc., M.Ds sebagai Dekan Fakultas Sains dan Teknologi.

Rektor Universitas ‘Aisyiyah Bandung Prof. Dr. Sitti Syabariyah, S.Kp., MS.Biomed dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelantikan dekan bukan sekadar pergantian jabatan struktural, tetapi merupakan bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan akademik di tingkat fakultas.

“Pelantikan ini bukan sekadar pergantian jabatan struktural, tetapi merupakan bagian dari ikhtiar kita bersama untuk memperkuat kepemimpinan akademik di tingkat fakultas,” ujar Rektor Kamis (12/03/2026).

Ia menegaskan bahwa fakultas memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu, pembinaan mahasiswa, sekaligus ruang lahirnya inovasi akademik yang mendukung kemajuan universitas.

“Fakultas adalah pusat pengembangan ilmu, pusat pembinaan mahasiswa, sekaligus ruang tumbuhnya inovasi akademik. Karena itu saya mengajak para dekan untuk mendorong peningkatan kinerja fakultas secara nyata dan terukur,” tambahnya Kamis (12/03/2026).

Rektor juga mengingatkan bahwa keberhasilan universitas tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja, melainkan melalui kerja kolektif dan sinergi kepemimpinan di seluruh lini organisasi.

Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian Universitas ‘Aisyiyah Bandung Dr. Muthia Umar, M.Si menyampaikan pesan agar para dekan menjalankan amanah kepemimpinan dengan penuh keikhlasan dan semangat pengabdian.

“Selamat melanjutkan perjuangan dengan semangat baru. Jalankan amanah ini dengan hati yang gembira, karena Allah akan menolong ketika kita mengerjakan tugas semata-mata karena-Nya,” ujarnya Kamis (12/03/2026).

Ia juga menekankan bahwa seorang pemimpin di lingkungan perguruan tinggi harus mampu menjadi teladan sekaligus membangun kebersamaan di lingkungan sivitas akademika.

“Jadilah teladan atau uswah hasanah bagi seluruh sivitas. Pemimpin harus mampu menginspirasi, melayani, dan mempersatukan hati seluruh sivitas akademika,” pungkasnya.[ ]

5

Red: admin

Editor: iman

980

Idul Fitri 2026 Berpotensi Tidak Bareng, Ini Prediksi dan Alasan Menurut BMKG dan BRIN 

0
Bulan Sabit
Bulan Sabit awal bulan ( ilustrasi foto: freepik)

PERCIKANIM@N – – Umat Islam Indonesia kembali berhadapan dengan kemungkinan perbedaan hari perayaan Idul Fitri, sebagaimana yang juga terjadi saat penetapan awal Ramadan tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah merilis prediksi terkait kapan 1 Syawal 1447 H akan jatuh, dan hasil analisis keduanya menunjukkan bahwa Hari Raya Idul Fitri 2026 berpotensi dirayakan pada tanggal yang berbeda antara Muhammadiyah dan pemerintah.

Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang selama ini menjadi pegangan organisasi tersebut. Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama baru akan mengumumkan penetapan resminya setelah pelaksanaan sidang isbat yang dijadwalkan berlangsung pekan depan (Kamis, 19 Maret 2026).

BRIN: Hilal Belum Penuhi Kriteria MABIMS pada 19 Maret

Peneliti astronomi dari BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan astronomis, posisi hilal pada Kamis, 19 Maret 2026, saat Magrib di wilayah Asia Tenggara diprakirakan belum memenuhi ambang batas yang ditetapkan dalam kriteria MABIMS — singkatan dari kriteria bersama Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Sebagai acuan, kriteria MABIMS mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi paling sedikit 6,4 derajat sebagai dasar penetapan awal bulan Hijriah, termasuk untuk penentuan 1 Ramadan maupun 1 Syawal.

“Pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, maka 1 Syawal 1447 = 21 Maret 2026,”

— Thomas Djamaluddin, Peneliti BRIN, dikutip dari CNN Indonesia (14/3/2026)

Thomas menambahkan bahwa hasil berbeda dimungkinkan apabila menggunakan kriteria negara lain. Turki, misalnya, menerapkan standar yang lebih longgar sehingga dengan kriteria tersebut, Idul Fitri dapat saja jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, sesuai dengan ketetapan Muhammadiyah.

BMKG Rinci Data Ketinggian Hilal di Seluruh Wilayah Indonesia

BMKG turut merilis data teknis pengamatan hilal sebagai bahan acuan penentuan awal bulan Hijriah. Berdasarkan data yang dipublikasikan lembaga tersebut, ketinggian hilal pada saat Matahari terbenam di tanggal 19 Maret 2026 diperkirakan berada pada kisaran 0,91 derajat di Merauke, Papua — angka yang jauh di bawah ambang batas — hingga 3,13 derajat di Sabang, Aceh, yang berada di ujung barat Indonesia.

Adapun nilai elongasi geosentris pada saat yang sama diprakirakan berkisar antara 4,54 derajat di Waris, Papua, hingga 6,1 derajat di Banda Aceh. Mengacu pada rentang angka tersebut, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada di bawah ambang batas elongasi minimum yang diwajibkan oleh kriteria MABIMS, yakni 6,4 derajat.

Pengamat Diingatkan Waspadai Gangguan Planet dan Bintang Terang

Selain merilis data posisi hilal, BMKG juga mengeluarkan peringatan penting bagi para perukyat. Dalam proses rukyatul hilal, terdapat potensi gangguan dari objek-objek astronomi lain yang berada dalam jarak dekat dengan posisi Bulan, seperti planet atau bintang dengan kecemerlangan tinggi. Keberadaan objek-objek tersebut berpotensi disalahidentifikasi sebagai hilal oleh pengamat yang kurang berpengalaman, sehingga kewaspadaan dan ketelitian dalam proses pengamatan menjadi sangat penting.

Dengan kondisi hilal yang diprakirakan belum memenuhi kriteria MABIMS pada 19 Maret 2026, baik BRIN maupun BMKG menyimpulkan bahwa Idul Fitri 1447 H kemungkinan besar akan ditetapkan pemerintah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Kepastian resminya tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan diselenggarakan pemerintah. Sementara bagi yang mengikuti ketetapan Muhammadiyah, Lebaran akan tetap dirayakan pada Jumat, 20 Maret 2026. [ ]

 

5

Red: admin

Editor: iman

908

Hukum Minum Obat Penunda Haid Saat Puasa, Boleh atau Terlarang ?

0
Minum Obat
Ilustrasi foto: pixabay

 

PERCIKANIM@N – – Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya ingin puasa tahun ini tamat sebulan penuh namun sepertinya tidak bisa karena diperkiraan menjelang akhir Ramadhan saya akan mengalami haid. Apakah boleh meminum pil atau obat penunda haid agar puasa tamat sebulan? Bagaimana dengan meminum obat penunda haid saat haji? Mohon penjelasannya dan terima kasih (Anggi via fb)

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Kita tahu bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan ampunan dari Allah Swt. Ramadhan adalah rajanya bulan karena segala ibadah pahalanya akan Allah lipatgandakan. Ini tidak terjadi selain di bulan Ramadhan.

Untuk itu kita harus maksimalkan waktu sebulan ini untuk betul-betul manfaatkan dalam ibadah dan amal shalih lainnya khususnya ibadah puasa. Hanya memang khusus bagi kaum wanita yang telah baligh dan belum lewat masa menopause ada “kendala” alamiah yang tidak bisa dihindari yakni saat datangnya haid atau menstruasi sebagai siklus normal.

Secara fikih bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh melakukan ibadah baik yang sunnah maupun yang wajib khususnya puasa dan shalat. Ibadah ini wajib dikerjakan bagi kaum muslimin namun justru terlarang atau haram hukumnya bagi wanita yang sedang haid atau nifas.

Lalu, bolehkah wanita memimun pil atau obat penunda haid agar ibadah di bulan Ramadhan khususnya puasanya bisa sebulan penuh?.

Menurut mayoritas ulama fikih berpendapat bahwa meminum obat penahan atau penunda haid saat Ramadhan atau puasa Ramadhan tidak dianjurkan. Sebab Allah Swt telah menyediakan atau memberikan keringanan (rukhsah) yakni mengganti (qadha ) puasa bagi para wanita haid pada bulan Ramadhan.  Dalilnya seperti hadits yang disampaikan oleh Aisyah ra yang juga istri Rasul,

Dimana Muadzah r.a. berkata, aku bertanya kepada Aisyah r.a., “Mengapa orang haid wajib mengqadha puasa tetapi tidak wajib mengqadha shalat?” Aisyah r.a. menjawab, “Itulah suatu keuntungan bagi kaum wanita. Kita diwajibkan mengqadha puasa tetapi tidak diwajibkan mengqadha shalat.” (HR. Muslim).

Menurut sebagian ulama bahwa yang namanya rukhsah atau keringan ini adalah sedekah dari Allah kepada hamba-Nya yang bertakwa maka sudah selayaknya diterima. Coba kita simak dimana Rasul Saw bersabda,

 “(Rukhsah) itu adalah sedekah yang diberikan Allah Swt kepada kalian. Maka terimalah sedekah-Nya.” (HR Muslim).

Jadi, dengan menjalankan rukhsah tersebut yakni tidak puasa Ramadhan dan shalat itu berarti menerima hadiah dari Allah Swt berupa kemudahan yang diberikan kepada kaum perempuan.

Anda dan kaum perempuan yang tidak bisa puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan karena haid tidak perlu khawatir karena Anda diberikan kesempatan menunaikannya dilain hari yakni dengan mengqadha. Soal pahala Anda juga tidak perlu khawatir sebab Allah Maha Tahu, Anda berpuasa mengganti (qadha) puasa Ramadhan insya Allah pahalanya sama dengan puasa Ramadhan.

Anda dan para wanita yang sedang haid di bulan Ramadhan juga tidak perlu berkecil hati kehilangan pahala puasa dan shalat. Ada banyak amalan yang bisa dilakukan oleh wanita yang sedang haid di bulan Ramadhan misalnya menyiapkan buka puasa dan sahur bagi suami dan anak-anak, sedekah, infaq, menyantuni fakir miski dan dhuafa, memberikan makan buka puasa dan lain sebagainya.

Menjawab pertanyaan Anda selanjutnya, bagaimana dengan wanita yang sedang melaksanakan haji apakah boleh meminum pil penunda haid ?.

Untuk hal ini ada perbedaan jawaban dimana para ulama berpendapat secara prinsip, meminum obat penahan haid saat melaksanakan haji tidak terlarang alias boleh karena kesempatan ibadah haji sangatlah jarang atau sangat lama, bahkan ada yang hanya mampu sekali seumur hidup.

Demikian juga dengan daftar tunggunya yang sangat lama dan panjang. Juga secara fisik dan financial ibadah haji membutuhkan biaya yang cukup besar.

Kita bisa membaca pendapat ulama yang membolehkan seperti disampaikan ulama kontemporer Dr Yusuf Qaradhawi, terkait hal ini membolehkan kaum wanita meminum pil penunda haid jika tak menimbulkan mudharat bagi tubuhnya. “Tak apa-apa bagi seorang wanita menggunakan obat untuk hal tersebut dengan syarat tak ada mudharat yang ditimbulkan darinya,”.

Sementara itu Ibnu Taimiyah menambahkan, pembolehan bagi wanita untuk meminum pil penunda haid bisa dibenarkan jika memang ada alasan yang syar’i, seperti ingin merampungkan rangkaian ibadah haji. Namun, ia tidak setuju jika bertujuan untuk melengkapi puasa Ramadhan. Menurutnya, kaum wanita tidak perlu menunda haid hanya untuk bisa berpuasa Ramadhan genap satu bulan. Sebab, soal puasa sudah diberikan rukhsah (keringanan) untuk kaum wanita yakni dengan qadha.

Namun sebaiknya jika Anda akan melakukan hal ini harus dengan pengawasan atau rekomendasi dokter ahli, sebab ada kasus wanita yang meminum obat penahan haid saat di tanah suci malah menjadi sakit. Nanti dokter yang akan memberi rekomendasi boleh tidaknya. Sebab perlu diketahui juga apakah pil atau obat tersebut berpengaruh terhadap tubuh Anda terkait efek hormonalnya atau tidak.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, meminum obat atau pil penahan atau penunda haid untuk ibadah haji dengan sempurna sesuai jadwal diperbolehkan. Namun tidak dianjurkan saat shaum atau puasa Ramadhan.

Sebab untuk puasa Ramadhan ini Allah Swt. telah menyediakan fasilitas atau keringan dengan adanya qadha atau mengganti puasa di lain hari. Selesai Ramadhan atau misalnya masuk tanggal 3 Syawal Anda sudah boleh melakukan qadha Ramadhan. Sementara kalau haji ia harus menunggu minimal satu tahun bahkan lebih lama lagi dengan kesiapan tenaga dan biaya yang besar. Demikian penejalasannya semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

 

Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026

0
Sidang Isbat 2026
Foto: Dok.Kemenag.RI

PERCIKANIM@N – – Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia secara resmi mengumumkan hasil sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2/2026) malam. Sidang yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, itu memutuskan bahwa 1 Ramadan 1447 H bertepatan dengan Kamis, 19 Februari 2026.

Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar di hadapan sejumlah pemangku kepentingan dan perwakilan berbagai lembaga yang hadir dalam sidang isbat.

“Disepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Demikian hasil Sidang Isbat yang baru kita laksanakan,” tutur Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Dengan demikian, umat Islam di Indonesia yang mengikuti keputusan pemerintah akan memulai ibadah puasa Ramadan pada hari Kamis, 19 Februari 2026.

Metode Integrasi Hisab dan Rukyat

Dalam menetapkan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, Kementerian Agama konsisten menerapkan pendekatan terpadu yang memadukan dua metode utama, yakni hisab dan rukyat. Kedua metode ini saling melengkapi dalam menghasilkan keputusan yang ilmiah sekaligus syar’i.

Metode hisab merupakan pendekatan berbasis perhitungan astronomi yang digunakan untuk memprediksi posisi bulan secara matematis. Hasil perhitungan ini berfungsi sebagai fondasi ilmiah tentang posisi hilal sebelum dilakukan pengamatan langsung di lapangan.

Adapun metode rukyat dilaksanakan melalui observasi atau pengamatan langsung terhadap hilal di ufuk barat setelah matahari terbenam. Pendekatan gabungan ini bertujuan untuk menyelaraskan antara kalkulasi astronomi dan bukti empiris di lapangan, sekaligus menjaga persatuan umat Islam di seluruh Indonesia.

Dalam hal standar ketinggian hilal, Kemenag menggunakan kriteria yang telah disepakati bersama negara-negara anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Berdasarkan kriteria tersebut, hilal dinyatakan memenuhi syarat visibilitas apabila mencapai ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Apabila posisi hilal belum memenuhi kriteria ini pada saat pemantauan dilakukan, maka bulan Syakban akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga awal Ramadan ditetapkan pada hari berikutnya.

Tiga Tahapan Sidang Isbat

Penetapan awal Ramadan melalui sidang isbat dilaksanakan melalui tiga tahapan utama yang telah menjadi prosedur standar dan diterapkan secara konsisten dari tahun ke tahun.

Tahap pertama adalah pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi (hisab) oleh tim ahli hisab rukyat Kemenag. Data ilmiah ini menjadi titik tolak pembahasan sebelum proses pengamatan langsung dilaksanakan, memberikan gambaran awal tentang kemungkinan terlihat atau tidaknya hilal.

Tahap kedua adalah verifikasi melalui rukyatul hilal, yaitu pemantauan hilal secara langsung di lapangan. Pengamatan dilaksanakan di 37 hingga 96 titik lokasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari ujung barat hingga ujung timur kepulauan nusantara. Laporan dari seluruh titik pengamatan ini menjadi bahan pertimbangan krusial dalam sidang isbat.

Tahap ketiga sekaligus yang terakhir adalah musyawarah dan pengambilan keputusan bersama yang melibatkan seluruh pihak yang hadir dalam sidang. Keputusan yang dicapai secara musyawarah ini kemudian diumumkan secara terbuka kepada publik melalui konferensi pers. Mekanisme ini dirancang untuk memastikan transparansi, akuntabilitas, dan keabsahan dari setiap keputusan yang dihasilkan.

Dihadiri Banyak Pemangku Kepentingan

Sidang isbat penetapan 1 Ramadan 1447 H ini dihadiri oleh beragam pihak yang merepresentasikan berbagai elemen masyarakat dan kelembagaan negara. Kehadiran yang beragam ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk menghasilkan keputusan yang komprehensif, akuntabel, dan diterima seluruh lapisan masyarakat.

Di antara pihak yang hadir adalah perwakilan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam, perwakilan kedutaan besar negara-negara Islam, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dari kalangan lembaga teknis dan ilmiah, hadir pula perwakilan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Informasi Geospasial (BIG), Observatorium Bosscha ITB, serta Planetarium Jakarta.

Selain itu, Komisi VIII DPR RI yang membidangi urusan agama, perwakilan Mahkamah Agung (MA), dan sejumlah ahli falak terkemuka turut menyertai jalannya sidang. Kehadiran berbagai lembaga negara, institusi ilmiah, dan representasi masyarakat ini mempertegas bahwa penetapan awal Ramadan bukan sekadar keputusan keagamaan, melainkan juga keputusan yang melibatkan pertimbangan ilmiah dan konsensus nasional.

Berbeda Satu Hari dengan Muhammadiyah

Meski penetapan pemerintah telah diumumkan secara resmi, terdapat perbedaan satu hari dengan keputusan yang telah lebih dahulu ditetapkan oleh Muhammadiyah. Organisasi Islam besar tersebut menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, atau sehari lebih awal dari keputusan pemerintah.

Penetapan Muhammadiyah didasarkan pada metode hisab hakiki yang menggunakan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Berbeda dengan pendekatan pemerintah yang mengacu pada kriteria hilal lokal di wilayah Indonesia, Muhammadiyah menggunakan konsep hilal global yang memungkinkan penetapan awal bulan berdasarkan visibilitas hilal di belahan dunia mana pun.

Sementara itu, Nahdlatul Ulama yang biasanya menunggu hasil pemantauan hilal pada bulan Syakban sebelum menetapkan keputusan resmi, diperkirakan akan mengikuti ketetapan pemerintah, yaitu memulai Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026. Hal ini sejalan dengan proyeksi kalender Almanak NU yang telah beredar sebelumnya.

Seruan Saling Menghormati

Perbedaan awal Ramadan antara Muhammadiyah dan pemerintah atau NU adalah hal yang bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Kondisi ini merupakan konsekuensi dari perbedaan metodologis yang sah dan telah berlangsung lama dalam tradisi penetapan kalender Hijriah di kalangan umat Islam.

Menghadapi perbedaan tersebut, masyarakat diharapkan dapat menyikapinya dengan penuh kedewasaan dan saling menghormati pilihan masing-masing pihak. Perbedaan dalam penentuan awal Ramadan sama sekali tidak menyentuh aspek akidah atau keabsahan ibadah puasa itu sendiri, melainkan semata-mata merupakan perbedaan teknis dalam metode perhitungan dan pengamatan.

Yang jauh lebih penting adalah menjaga ukhuwah Islamiyah dan semangat persaudaraan di antara sesama umat Islam, sehingga bulan Ramadan dapat dijalani dengan penuh kekhusyukan dan kebersamaan meskipun berbeda dalam waktu memulainya. Ramadan adalah momentum untuk meningkatkan ketakwaan, mempererat silaturahmi, dan memperkuat persatuan, terlepas dari perbedaan tanggal yang bersifat teknis.[ ]

Red: admin

Editor: iman

895

Sukses Gelar Rakorwil BEM PTMA Zona III, UNISA Bandung Dukung Gerakan Intelektual Mahasiswa

0
Rakor BEM
Foto: Dok.Unisa Bandung

PERCIKANIM@N – – Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (BEM PTMA) Zona III yang mencakup wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat menyelenggarakan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Lembang pada 11–15 Februari 2026.

Kegiatan ini diikuti oleh 24 perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Zona III sebagai forum konsolidasi arah gerakan mahasiswa berbasis gagasan dan riset.

Rakorwil menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk merumuskan agenda bersama dalam menyongsong Indonesia 2045, dengan penekanan pada advokasi kebijakan publik, penguatan literasi konstitusi, serta pengawalan isu-isu strategis daerah.

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, yang hadir dalam forum tersebut menekankan pentingnya generasi muda menjaga nilai konstitusi dan etika bernegara sebagai fondasi pembangunan bangsa ke depan.

 “Indonesia 2045 hanya dapat dicapai apabila demokrasi dirawat dengan komitmen kebangsaan dan integritas moral. Generasi muda harus menjadi penjaga konstitusi,” ujarnya dalam forum diskusi.

Sementara itu, akademisi sekaligus pengamat politik Rocky Gerung dalam sesi dialog mendorong mahasiswa untuk mempertahankan daya kritis dan independensi intelektual dalam merespons dinamika sosial-politik nasional.

 “Demokrasi yang sehat membutuhkan keberanian berpikir, kebebasan akademik, dan tradisi kritik yang berbasis argumentasi,” ungkapnya.

Dalam forum tersebut, para peserta menyepakati komitmen untuk memperkuat kesadaran kolektif lintas kampus serta membangun narasi bersama menuju Indonesia 2045. Isu-isu strategis daerah didorong agar dapat diangkat ke tingkat nasional melalui pendekatan berbasis data dan rekomendasi kebijakan.

Sejumlah persoalan yang menjadi perhatian antara lain krisis lingkungan dan alih fungsi lahan, ketimpangan pembangunan antarwilayah, konflik agraria, ketidakadilan distribusi anggaran, hingga tata kelola pelayanan publik yang dinilai belum optimal. Mahasiswa juga menyoroti praktik maladministrasi birokrasi yang berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan apabila terus dibiarkan.

Sebagai tindak lanjut, Rakorwil menyepakati pembentukan pusat kajian advokasi kebijakan berbasis riset kampus serta penguatan pengawasan partisipatif terhadap tata kelola pemerintahan daerah. Forum nasional juga direncanakan untuk membawa isu-isu daerah ke ruang kebijakan yang lebih luas.

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Kehadiran Wakil Rektor II UNISA Bandung, Nandang Jamiat, menjadi bentuk dukungan institusi terhadap penguatan kapasitas intelektual mahasiswa dalam ruang gerakan yang konstruktif dan berbasis gagasan.

Melalui forum ini, mahasiswa PTMA Zona III menegaskan perannya sebagai kekuatan intelektual yang tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga menyusun gagasan dan rekomendasi kebijakan demi terwujudnya Indonesia yang berkeadilan, transparan, dan berkemajuan menuju 2045.[ ]

Red: admin

Editor: iman

980

UNISA Bandung Jalin Kerja Sama Internasional dengan Goethe-Institut

0
Unisa Bandung
Foto: Dok.Unisa Bandung

PERCIKANIM@N – – Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung mengambil langkah strategis dalam memperluas jaringan kerja sama internasional dengan menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama Goethe-Institut Bandung. Penandatanganan dilakukan bersama sejumlah perguruan tinggi lainnya di Kota Bandung pada Selasa (10/2/2026) di aula gedung Goethe-Institut, Jalan Bengawan, Kota Bandung.

Kerja sama ini menandai babak baru dalam upaya UNISA Bandung memperkuat kolaborasi lintas negara yang mencakup bidang pendidikan, kebudayaan, serta pengembangan program akademik berskala internasional.

Delegasi UNISA Bandung

Dalam momentum penting tersebut, UNISA Bandung mengirimkan dua perwakilannya untuk menandatangani kesepakatan kerja sama. Tim delegasi terdiri dari Plt. Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Imam Budi Sumarna, S.Kom., M.Sc., M.Ds., yang didampingi oleh Kepala Bagian Kerja Sama dan Kantor Urusan Internasional, Resi Roswulan, NS.Kep., Ners., M.Ikom.

Kehadiran perwakilan dari dua unit strategis ini mencerminkan keseriusan UNISA Bandung dalam mengembangkan dimensi internasional kampus, baik dari sisi akademik maupun kelembagaan.

Ruang Lingkup Kerja Sama

Kesepakatan yang ditandatangani membuka berbagai peluang pengembangan program yang sangat luas cakupannya. Di antaranya adalah penguatan pembelajaran bahasa Jerman bagi sivitas akademika kampus, yang dapat menjadi modal penting dalam komunikasi dan kolaborasi akademik tingkat internasional.

Selain aspek kebahasaan, kerja sama ini juga akan memfasilitasi penyelenggaraan diskusi akademik lintas kampus yang melibatkan berbagai perguruan tinggi di Bandung. Forum-forum diskusi semacam ini diharapkan dapat menjadi ruang pertukaran gagasan dan inovasi yang memperkaya wawasan akademik seluruh pihak yang terlibat.

Dimensi kebudayaan juga menjadi fokus penting dalam kolaborasi ini. Berbagai kegiatan kebudayaan yang melibatkan partisipasi aktif mahasiswa dan dosen akan diselenggarakan, memberikan pengalaman langsung dalam memahami dan mengapresiasi keragaman budaya Jerman.

Lebih dari itu, skema kolaborasi yang dibangun diharapkan dapat menjadi gerbang pembuka bagi UNISA Bandung untuk memperluas jejaring kerja sama internasional yang lebih luas di masa mendatang, tidak hanya terbatas pada Jerman tetapi juga negara-negara lain di Eropa dan belahan dunia lainnya.

Memperluas Perspektif Global

Plt. Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UNISA Bandung, Imam Budi Sumarna, menyampaikan pandangannya tentang signifikansi kerja sama ini bagi pengembangan sivitas akademika kampus. Menurutnya, kolaborasi dengan Goethe-Institut memberikan ruang baru yang sangat berharga bagi seluruh sivitas akademika untuk memperluas cakrawala berpikir dan perspektif global mereka.

“Kolaborasi ini memberi kesempatan bagi mahasiswa dan dosen untuk terlibat dalam ruang belajar yang lebih luas, baik melalui kegiatan akademik maupun pertukaran budaya. Harapannya, pengalaman tersebut dapat memperkaya kompetensi dan kesiapan mereka menghadapi tantangan global,” ujar Imam Budi Sumarna.

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa tujuan utama dari kerja sama ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan benar-benar diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia kampus agar lebih siap berkompetisi dan berkolaborasi dalam skala global.

Implementasi Program Nyata

Yang membedakan kerja sama ini dengan kesepakatan-kesepakatan seremonial lainnya adalah komitmen untuk melaksanakan implementasi program yang konkret dan berdampak nyata. Kerja sama ini tidak akan berhenti pada penandatanganan dokumen semata, melainkan akan diwujudkan dalam berbagai program yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh sivitas akademika.

Program-program yang akan dikembangkan dirancang untuk memberikan dampak langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran di UNISA Bandung. Selain itu, kerja sama ini juga bertujuan memperkuat posisi kampus dalam jejaring internasional, yang pada akhirnya akan meningkatkan reputasi dan daya saing institusi.

Goethe-Institut: Jembatan Budaya Jerman di Indonesia

Goethe-Institut merupakan lembaga kebudayaan resmi Republik Federal Jerman yang beroperasi di berbagai negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Lembaga ini memiliki peran strategis dalam mempromosikan bahasa Jerman serta memfasilitasi kerja sama kebudayaan internasional.

Di Indonesia, Goethe-Institut tidak hanya mengajarkan bahasa Jerman, tetapi juga menjadi jembatan bagi pertukaran budaya, seni, dan ilmu pengetahuan antara Jerman dan Indonesia. Keberadaan kantor Goethe-Institut di Bandung memberikan kemudahan akses bagi perguruan tinggi di Jawa Barat untuk menjalin kolaborasi dengan institusi-institusi di Jerman.

Melalui kerja sama dengan perguruan tinggi lokal, Goethe-Institut berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia, sekaligus mempererat hubungan bilateral antara kedua negara.

Peluang bagi Mahasiswa dan Dosen

Kerja sama ini membuka berbagai peluang menarik bagi mahasiswa dan dosen UNISA Bandung. Mahasiswa akan memiliki kesempatan untuk mengikuti kursus bahasa Jerman, menghadiri seminar dan workshop internasional, serta berpartisipasi dalam program pertukaran budaya yang memperkaya pengalaman hidup mereka.

Bagi dosen, kolaborasi ini dapat menjadi wadah untuk mengembangkan penelitian bersama, menghadiri konferensi internasional, serta membangun jejaring akademik dengan sejawat di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Pengalaman internasional semacam ini sangat berharga dalam meningkatkan kualitas pengajaran dan penelitian di kampus.

Visi Internasionalisasi UNISA Bandung

Penandatanganan MoU dengan Goethe-Institut ini sejalan dengan visi UNISA Bandung untuk menjadi universitas yang memiliki orientasi global. Dalam era globalisasi dan persaingan pendidikan tinggi yang semakin ketat, internasionalisasi kampus bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Dengan memperluas kerja sama internasional, UNISA Bandung tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan yang diberikan kepada mahasiswanya, tetapi juga mempersiapkan lulusan yang memiliki kompetensi global, mampu berkomunikasi lintas budaya, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks.

Ke depan, diharapkan kerja sama ini dapat menjadi model bagi pengembangan kolaborasi internasional lainnya, sehingga UNISA Bandung dapat terus berkembang sebagai institusi pendidikan tinggi yang berkualitas dan berdaya saing global.[ ]

Red: admin

Editor: iman

896

Prediksi Awal Ramadhan 2026: Muhammadiyah Lebih Awal dari Pemerintah dan NU

0
Awal Ramadhan
ilustrasi foto: freepik

PERCIKANIM@N – Sejumlah lembaga telah merilis perkiraan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah yang diprediksi jatuh pada pertengahan Februari 2026. Meski belum ada penetapan resmi dari pemerintah, berbagai prediksi telah dikeluarkan sebagai acuan bagi umat Islam dalam mempersiapkan diri menyambut bulan penuh berkah tersebut.

Dari berbagai proyeksi yang ada, terlihat adanya potensi perbedaan penetapan satu hari antara Muhammadiyah dengan pemerintah, BRIN, dan Nahdlatul Ulama. Perbedaan ini bukan disebabkan oleh posisi hilal, melainkan karena penggunaan konsep hilal yang berbeda.

Prediksi Pemerintah: Kamis, 19 Februari 2026

Meskipun penetapan resmi 1 Ramadan 2026 belum diumumkan oleh pemerintah, Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang dipublikasikan oleh Kementerian Agama memproyeksikan bahwa awal Ramadan akan bertepatan dengan hari Kamis, 19 Februari 2026.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyajikan informasi prakiraan posisi hilal saat matahari terbenam pada tanggal 17 dan 18 Februari 2026 sebagai landasan ilmiah dalam penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah.

“Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima’ adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi,” tulis BMKG dalam laporannya, dikutip pada Kamis (5/2/2026).

Data Hisab BMKG: Hilal Belum Memenuhi Kriteria pada 17 Februari

Berdasarkan hasil perhitungan hisab BMKG, posisi hilal pada tanggal 17 Februari 2026 belum memenuhi kriteria untuk dapat diamati. Kondisi berbeda terjadi pada 18 Februari 2026, di mana posisi hilal telah berada di atas garis horizon dengan ketinggian, elongasi, umur Bulan, lag, dan fraksi iluminasi yang memadai untuk observasi.

Pada 17 Februari 2026, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah horizon dengan rentang antara -2,41° di Jayapura, Papua hingga -0,93° di Tua Pejat, Sumatera Barat. Kondisi ini berubah signifikan pada 18 Februari 2026, ketika ketinggian hilal sudah mencapai nilai positif, yakni berkisar antara 7,62° di Merauke, Papua hingga 10,03° di Sabang, Aceh.

Dari segi elongasi atau jarak sudut antara pusat piringan Bulan dan Matahari, pada 17 Februari 2026 nilai elongasi hanya berkisar antara 0,94° di Banda Aceh hingga 1,89° di Jayapura. Namun pada 18 Februari 2026, elongasi meningkat drastis menjadi 10,7° di Jayapura hingga 12,21° di Banda Aceh.

Nilai elongasi pada 18 Februari 2026 tersebut telah memenuhi kriteria visibilitas hilal yang umumnya digunakan di Indonesia. Negara ini menerapkan standar yang telah disepakati oleh Menteri Agama dari negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) dalam penentuan hilal.

Kriteria terbaru MABIMS menetapkan bahwa imkanur rukyat dianggap terpenuhi apabila posisi hilal mencapai ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.

Analisis BRIN: Perbedaan Konsep Hilal Lokal dan Global

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksikan bahwa puasa Ramadan 1447 H akan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026. Perkiraan ini sejalan dengan proyeksi pemerintah.

Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa terdapat potensi perbedaan dalam penetapan awal puasa tahun ini. Menurutnya, pemerintah kemungkinan besar akan menetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

“Akan ada perbedaan penentuan awal Ramadan 1447. Sumber perbedaan bukan seperti sebelumnya yang terkait posisi hilal, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan ‘hilal lokal’ dan ‘hilal global’,” katanya saat dihubungi, Kamis (5/2/2026), dilansir detikNews.

Prof Thomas menilai bahwa hilal lokal diprediksi tidak akan memenuhi kriteria ketika dilakukan pengamatan menjelang pelaksanaan sidang isbat pada 17 Februari 2026.

“Kementerian Agama dan sebagian besar ormas Islam menggunakan kriteria ‘hilal lokal’, yang mensyaratkan posisi hilal memenuhi kriteria visibilitas di wilayah Indonesia. Pada saat magrib 17 Februari, posisi hilal/bulan masih di bawah ufuk. Jadi tidak mungkin dirukyat (diamati). Jadi, awal Ramadan pada hari berikutnya, yaitu 19 Februari 2026,” jelas Thomas.

Lebih lanjut, ilmuwan astronomi ini menuturkan bahwa penentuan awal Ramadan bisa berbeda jika menggunakan acuan posisi hilal global. Dengan pendekatan ini, 1 Ramadan dapat ditetapkan pada 18 Februari, sebagaimana yang diterapkan oleh Muhammadiyah.

“Muhammadiyah menggunakan ‘hilal global’, yaitu asalkan hilal memenuhi kriteria visibilitas di mana pun dan konjungsi sebelum fajar di Selandia Baru, maka besoknya masuk awal bulan. Pada 17 Februari posisi hilal/bulan telah memenuhi kriteria di Alaska dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, maka awal Ramadan ditetapkan 18 Februari 2026,” urai Thomas dengan rinci.

Penetapan Muhammadiyah: Rabu, 18 Februari 2026

Berbeda dengan proyeksi lembaga lain, Muhammadiyah telah menetapkan secara resmi bahwa 1 Ramadan 2026 jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026. Ini berarti satu hari lebih awal dibandingkan dengan prediksi pemerintah, BRIN, dan NU.

Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah terkait awal Ramadan 1447 H tersebut tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025. Penetapan ini mengacu pada hasil hisab hakiki yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dengan menggunakan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah.

Konsep KHGT yang digunakan Muhammadiyah memungkinkan penetapan awal bulan Islam berdasarkan visibilitas hilal di belahan dunia mana pun, tidak terbatas pada wilayah Indonesia saja. Pendekatan ini berbeda dengan kriteria hilal lokal yang mensyaratkan hilal harus terlihat di wilayah Indonesia.

Proyeksi Nahdlatul Ulama: Kamis, 19 Februari 2026

Hingga saat ini, Nahdlatul Ulama belum mengeluarkan ketetapan resmi mengenai kapan tepatnya 1 Ramadan 2026 akan berlangsung. Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini biasanya menunggu hasil pemantauan hilal yang dilakukan oleh tim rukyat pada bulan Syaban sebelum membuat penetapan final.

Namun demikian, jika merujuk pada prediksi yang tertera dalam kalender Almanak NU, disebutkan bahwa 1 Ramadan 1447 H kemungkinan besar akan jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Proyeksi ini sejalan dengan perkiraan pemerintah dan BRIN.

NU dikenal konsisten menggunakan metode rukyat atau pengamatan langsung hilal sebagai basis utama penetapan awal bulan Hijriah, meskipun juga mempertimbangkan hasil hisab sebagai data pendukung.

Implikasi bagi Umat Islam Indonesia

Perbedaan satu hari dalam penetapan awal Ramadan bukanlah hal yang baru dalam tradisi keislaman di Indonesia. Perbedaan metodologi antara hilal lokal dan hilal global telah menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam yang sah dan dapat diterima.

Yang terpenting bagi umat Islam adalah memahami bahwa perbedaan ini bersifat teknis dan ilmiah, bukan perbedaan akidah atau prinsip keagamaan. Setiap muslim dapat mengikuti penetapan yang dianut oleh organisasi atau pemerintah sesuai dengan keyakinan masing-masing, sambil tetap menghormati pilihan pihak lain.

Dengan mengetahui perkiraan awal Ramadan sejak dini, umat Islam dapat mempersiapkan diri secara lebih baik, baik dari segi fisik, mental, maupun spiritual untuk menyambut bulan suci penuh rahmat dan ampunan.[ ]

Red: admin

Editor: iman

893

Menyambut Ramadhan:Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan

0
ilustrasi foto: freepik

Oleh: Andre Hariyanto*

Andre

*penulis adalah penulis uku Mutiara Hikmah & Jurnalis Muslim asal Mojokerto, Jawa Timur

[email protected] – – Ramadhan adalah bulan yang selalu dinanti oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Bulan suci ini hadir membawa cahaya keimanan, mengajak setiap jiwa untuk kembali mendekat kepada Allah SWT, memperbaiki diri, serta memperbanyak amal kebaikan. Menyambut Ramadhan 1447 Hijriah / 2026 Masehi, sudah sepatutnya kita mempersiapkan diri lahir dan batin agar dapat meraih keutamaan yang terkandung di dalamnya.

Allah SWT telah menjadikan Ramadhan sebagai bulan istimewa, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa Ramadhan adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu, menjaga lisan, pandangan, serta membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.

Ramadhan Bulan Diturunkannya Al-Qur’an

Keagungan Ramadhan semakin sempurna karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Allah SWT berfirman:

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Momentum ini seharusnya mendorong umat Islam untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an, baik dengan membacanya, memahami maknanya, maupun mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Peduli Sumatra

Persiapan Menyambut Ramadhan

Menyambut Ramadhan tidak cukup hanya dengan kesiapan fisik, tetapi juga kesiapan spiritual. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Meluruskan niat, menjadikan Ramadhan sebagai sarana ibadah dan perbaikan diri.
  2. Memperbanyak istighfar dan taubat, membersihkan diri dari dosa-dosa masa lalu.
  3. Menjaga silaturahmi dan saling memaafkan, agar ibadah Ramadhan dijalani dengan hati yang bersih.
  4. Mempersiapkan amal ibadah, seperti shalat, sedekah, tilawah Al-Qur’an, dan kepedulian sosial.

Harapan di Bulan Suci

Ramadhan adalah bulan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa meninggalkan perubahan positif dalam diri kita.

Semoga Ramadhan 1447 H menjadi momentum kebangkitan iman, penguatan ukhuwah, dan lahirnya pribadi-pribadi Muslim yang lebih bertakwa, jujur, dan berakhlak mulia.

Marhaban ya Ramadhan. Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan bulan suci ini dalam keadaan sehat, beriman, dan penuh keberkahan.[ ]

Resmi Dilantik, Rektor UNISA Bandung Tegaskan Akselerasi Menuju Kampus Unggul Berdaya Saing Global

0
Rektor Unisa Bandung
Acara pelantikan Rektor Unisa Bandung ( foto: dok.unisa bandung)

PEERCIKANIM@N – – Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung resmi memiliki Rektor baru untuk masa jabatan tahun akademik 2026–2030. Acara pelantikan berlangsung, di hotel Asterilia, Jln Pelajar Pejuang Kota Bandung, Senin (19/1), dalam suasana khidmat yang menandai kesinambungan kepemimpinan sekaligus penguatan arah strategis pengembangan UNISA Bandung sebagaimana visi dan misinya.

Pelantikan tersebut juga menjadi momentum penting bagi UNISA Bandung untuk menegaskan komitmen menuju perguruan tinggi unggul dan berdaya saing global.

Dalam kesempatan itu, Rektor UNISA Bandung periode tahun akademik 2021–2025, Tia Setiawati, S.Kp., M.Kep., Ns., Sp.Kep.An, menyampaikan refleksi akhir masa jabatan yang menekankan pentingnya kerja kolektif seluruh sivitas akademika. Ia mengapresiasi sinergi dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan seluruh pemangku kepentingan yang telah menjadi fondasi kemajuan UNISA Bandung selama masa kepemimpinannya.

“Saya hanya sebagai konduktor dalam simponi besar yang dimainkan dengan baik oleh bapak dan ibu semua sivitas akademika UNISA Bandung,” tuturnya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Rektor terpilih,  Prof. Dr. Sitti Syabariyah, S.Kp., MS. Biomed  menegaskan bahwa kepemimpinan ke depan tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan, tetapi juga pada akselerasi penguatan mutu akademik, riset, dan kontribusi sosial berbasis nilai keislaman dan kemuhammadiyahan.

“Kami berkomitmen untuk mendorong UNISA Bandung menjadi institusi yang adaptif terhadap tantangan global melalui penguatan tata kelola yang profesional, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan jejaring nasional dan internasional,” katanya.

Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten yang diwakili oleh Kepala Bagian Umum, Gina Indriani, S.Si., M.T — dalam sambutannya — menegaskan bahwa perguruan tinggi saat ini dituntut untuk melampaui standar minimal yang telah ditetapkan. Dikemukannya, di tengah berbagai tantangan global, UNISA Bandung perlu terus meningkatkan daya saing agar mampu berkompetisi di tingkat internasional.

“Perguruan tinggi tidak cukup hanya memenuhi standar, tetapi harus melampauinya. Dengan tantangan yang semakin kompleks, UNISA Bandung diharapkan mampu bersaing di kancah global melalui peningkatan mutu pendidikan, riset, dan inovasi,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dr. Apt. Salmah Orbayinah, M.Kes menyampaikan apresiasi kepada Rektor periode sebelumnya atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan, serta mengucapkan selamat kepada Rektor baru. Ia berharap UNISA Bandung dapat bergerak lebih cepat dalam mewujudkan universitas yang unggul.

Menurut Salmah Orbayinah, transformasi kepemimpinan tidak semata dimaknai sebagai pergantian figur rektor, melainkan sebagai pengukuhan komitmen bersama untuk melanjutkan estafet kepemimpinan secara berkesinambungan.

“Pergantian kepemimpinan ini diharapkan menjadi momentum akselerasi, bukan sekadar melanjutkan, tetapi memperkuat arah UNISA Bandung menuju universitas unggul yang berdaya saing global,” ungkapnya.[ ]

5

Red: admin

Editor: iman

986