Prediksi Awal Ramadhan 2026: Muhammadiyah Lebih Awal dari Pemerintah dan NU

0
11
Awal Ramadhan
ilustrasi foto: freepik

PERCIKANIM@N – Sejumlah lembaga telah merilis perkiraan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah yang diprediksi jatuh pada pertengahan Februari 2026. Meski belum ada penetapan resmi dari pemerintah, berbagai prediksi telah dikeluarkan sebagai acuan bagi umat Islam dalam mempersiapkan diri menyambut bulan penuh berkah tersebut.

Dari berbagai proyeksi yang ada, terlihat adanya potensi perbedaan penetapan satu hari antara Muhammadiyah dengan pemerintah, BRIN, dan Nahdlatul Ulama. Perbedaan ini bukan disebabkan oleh posisi hilal, melainkan karena penggunaan konsep hilal yang berbeda.

Prediksi Pemerintah: Kamis, 19 Februari 2026

Meskipun penetapan resmi 1 Ramadan 2026 belum diumumkan oleh pemerintah, Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang dipublikasikan oleh Kementerian Agama memproyeksikan bahwa awal Ramadan akan bertepatan dengan hari Kamis, 19 Februari 2026.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyajikan informasi prakiraan posisi hilal saat matahari terbenam pada tanggal 17 dan 18 Februari 2026 sebagai landasan ilmiah dalam penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah.

“Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima’ adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi,” tulis BMKG dalam laporannya, dikutip pada Kamis (5/2/2026).

Data Hisab BMKG: Hilal Belum Memenuhi Kriteria pada 17 Februari

Berdasarkan hasil perhitungan hisab BMKG, posisi hilal pada tanggal 17 Februari 2026 belum memenuhi kriteria untuk dapat diamati. Kondisi berbeda terjadi pada 18 Februari 2026, di mana posisi hilal telah berada di atas garis horizon dengan ketinggian, elongasi, umur Bulan, lag, dan fraksi iluminasi yang memadai untuk observasi.

Pada 17 Februari 2026, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah horizon dengan rentang antara -2,41° di Jayapura, Papua hingga -0,93° di Tua Pejat, Sumatera Barat. Kondisi ini berubah signifikan pada 18 Februari 2026, ketika ketinggian hilal sudah mencapai nilai positif, yakni berkisar antara 7,62° di Merauke, Papua hingga 10,03° di Sabang, Aceh.

Dari segi elongasi atau jarak sudut antara pusat piringan Bulan dan Matahari, pada 17 Februari 2026 nilai elongasi hanya berkisar antara 0,94° di Banda Aceh hingga 1,89° di Jayapura. Namun pada 18 Februari 2026, elongasi meningkat drastis menjadi 10,7° di Jayapura hingga 12,21° di Banda Aceh.

Nilai elongasi pada 18 Februari 2026 tersebut telah memenuhi kriteria visibilitas hilal yang umumnya digunakan di Indonesia. Negara ini menerapkan standar yang telah disepakati oleh Menteri Agama dari negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) dalam penentuan hilal.

Kriteria terbaru MABIMS menetapkan bahwa imkanur rukyat dianggap terpenuhi apabila posisi hilal mencapai ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.

Analisis BRIN: Perbedaan Konsep Hilal Lokal dan Global

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksikan bahwa puasa Ramadan 1447 H akan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026. Perkiraan ini sejalan dengan proyeksi pemerintah.

Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa terdapat potensi perbedaan dalam penetapan awal puasa tahun ini. Menurutnya, pemerintah kemungkinan besar akan menetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

“Akan ada perbedaan penentuan awal Ramadan 1447. Sumber perbedaan bukan seperti sebelumnya yang terkait posisi hilal, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan ‘hilal lokal’ dan ‘hilal global’,” katanya saat dihubungi, Kamis (5/2/2026), dilansir detikNews.

Prof Thomas menilai bahwa hilal lokal diprediksi tidak akan memenuhi kriteria ketika dilakukan pengamatan menjelang pelaksanaan sidang isbat pada 17 Februari 2026.

“Kementerian Agama dan sebagian besar ormas Islam menggunakan kriteria ‘hilal lokal’, yang mensyaratkan posisi hilal memenuhi kriteria visibilitas di wilayah Indonesia. Pada saat magrib 17 Februari, posisi hilal/bulan masih di bawah ufuk. Jadi tidak mungkin dirukyat (diamati). Jadi, awal Ramadan pada hari berikutnya, yaitu 19 Februari 2026,” jelas Thomas.

Lebih lanjut, ilmuwan astronomi ini menuturkan bahwa penentuan awal Ramadan bisa berbeda jika menggunakan acuan posisi hilal global. Dengan pendekatan ini, 1 Ramadan dapat ditetapkan pada 18 Februari, sebagaimana yang diterapkan oleh Muhammadiyah.

“Muhammadiyah menggunakan ‘hilal global’, yaitu asalkan hilal memenuhi kriteria visibilitas di mana pun dan konjungsi sebelum fajar di Selandia Baru, maka besoknya masuk awal bulan. Pada 17 Februari posisi hilal/bulan telah memenuhi kriteria di Alaska dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, maka awal Ramadan ditetapkan 18 Februari 2026,” urai Thomas dengan rinci.

Penetapan Muhammadiyah: Rabu, 18 Februari 2026

Berbeda dengan proyeksi lembaga lain, Muhammadiyah telah menetapkan secara resmi bahwa 1 Ramadan 2026 jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026. Ini berarti satu hari lebih awal dibandingkan dengan prediksi pemerintah, BRIN, dan NU.

Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah terkait awal Ramadan 1447 H tersebut tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025. Penetapan ini mengacu pada hasil hisab hakiki yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dengan menggunakan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah.

Konsep KHGT yang digunakan Muhammadiyah memungkinkan penetapan awal bulan Islam berdasarkan visibilitas hilal di belahan dunia mana pun, tidak terbatas pada wilayah Indonesia saja. Pendekatan ini berbeda dengan kriteria hilal lokal yang mensyaratkan hilal harus terlihat di wilayah Indonesia.

Proyeksi Nahdlatul Ulama: Kamis, 19 Februari 2026

Hingga saat ini, Nahdlatul Ulama belum mengeluarkan ketetapan resmi mengenai kapan tepatnya 1 Ramadan 2026 akan berlangsung. Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini biasanya menunggu hasil pemantauan hilal yang dilakukan oleh tim rukyat pada bulan Syaban sebelum membuat penetapan final.

Namun demikian, jika merujuk pada prediksi yang tertera dalam kalender Almanak NU, disebutkan bahwa 1 Ramadan 1447 H kemungkinan besar akan jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Proyeksi ini sejalan dengan perkiraan pemerintah dan BRIN.

NU dikenal konsisten menggunakan metode rukyat atau pengamatan langsung hilal sebagai basis utama penetapan awal bulan Hijriah, meskipun juga mempertimbangkan hasil hisab sebagai data pendukung.

Implikasi bagi Umat Islam Indonesia

Perbedaan satu hari dalam penetapan awal Ramadan bukanlah hal yang baru dalam tradisi keislaman di Indonesia. Perbedaan metodologi antara hilal lokal dan hilal global telah menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam yang sah dan dapat diterima.

Yang terpenting bagi umat Islam adalah memahami bahwa perbedaan ini bersifat teknis dan ilmiah, bukan perbedaan akidah atau prinsip keagamaan. Setiap muslim dapat mengikuti penetapan yang dianut oleh organisasi atau pemerintah sesuai dengan keyakinan masing-masing, sambil tetap menghormati pilihan pihak lain.

Dengan mengetahui perkiraan awal Ramadan sejak dini, umat Islam dapat mempersiapkan diri secara lebih baik, baik dari segi fisik, mental, maupun spiritual untuk menyambut bulan suci penuh rahmat dan ampunan.[ ]

Red: admin

Editor: iman

893