Suarakan Nasib Perawat lewat Tulisan, Rima dari UNISA Bandung Juara 1 Lomba Essay Nasional

0
5
Unisa Bandung
Foto: Dok.Unisa Bandung

PERCIKANIM@N – – Nama Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung kembali berkibar di pentas akademik nasional. Rima Melati, mahasiswi Program Studi Sarjana Keperawatan UNISA Bandung, berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan menyabet posisi pertama dalam Lomba Essay Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Wadah Karya di bawah naungan PT Cahaya Generasi Prestasi Indonesia. Kompetisi bergengsi tersebut dilangsungkan secara daring, dengan jendela pendaftaran terbuka mulai 26 Maret hingga 7 April 2026, dan pemenang resmi diumumkan pada 8 April 2026.

Keluar dari Zona Nyaman, Berani Bersaing di Level Nasional

Bagi Rima, keputusan untuk mengikuti kompetisi ini bukan sekadar dorongan ambisi akademik semata. Ada sebuah kesadaran yang lebih dalam yang menggerakkannya: keinginan untuk mematangkan kemampuan menulis karya ilmiah sekaligus menyebarluaskan gagasan-gagasan penting seputar dunia kesehatan kepada khalayak yang lebih luas. Selain itu, ia ingin melampaui batas kenyamanannya sendiri. Sebelumnya, Rima lebih dikenal aktif di ranah public speaking — dan kompetisi esai nasional ini menjadi petualangan baru yang sengaja ia pilih.

“Saya ingin mengembangkan kemampuan menulis ilmiah sekaligus menuangkan gagasan terkait isu-isu kesehatan, serta mencoba keluar dari zona nyaman dengan mengikuti kompetisi di tingkat nasional,”

— Rima Melati, Mahasiswi S1 Keperawatan UNISA Bandung

Burnout Perawat: Isu Krusial yang Jarang Disorot

Tema yang dipilih Rima bukan tema yang aman dan mudah. Ia memilih untuk menyoroti sebuah persoalan yang kerap tersembunyi di balik citra profesionalisme tenaga kesehatan: fenomena burnout yang dialami para perawat. Dalam esainya, ia membangun argumen bahwa generasi perawat masa kini dituntut untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga bertumbuh dan tetap bermakna di tengah kompleksitas dunia kesehatan yang terus bergerak dan penuh tekanan.

Rima menegaskan bahwa kompetensi klinis saja tidak cukup untuk menghasilkan pelayanan kesehatan yang optimal. Seorang perawat yang terjebak dalam kelelahan psikologis kronis — yang dikenal luas sebagai burnout — pada akhirnya tidak akan mampu memberikan yang terbaik bagi pasien-pasiennya. Oleh karena itu, kesejahteraan psikologis perawat harus menjadi perhatian serius dalam sistem kesehatan nasional, bukan sesuatu yang dianggap kemewahan atau urusan pribadi semata.

Gagasan yang Rima tuangkan dalam esainya berhasil mengaitkan teori-teori akademis dengan realitas yang betul-betul terjadi di lapangan, menjadikan tulisannya tidak hanya kuat secara ilmiah tetapi juga hidup dan relevan bagi pembaca dari berbagai latar belakang.

Ditulis Sehari Sebelum Deadline, di Sela Pengerjaan Skripsi

Yang membuat pencapaian Rima semakin mengagumkan adalah kondisi di balik layar penulisan esainya. Ia mengerjakan esai tersebut hanya dalam waktu satu hari menjelang batas akhir pengumpulan karya. Di saat yang sama, ia juga tengah berjibaku menyelesaikan skripsi — dua pekerjaan besar yang berlangsung beriringan dan menuntut konsentrasi tinggi.

Meski dalam tekanan waktu yang sangat ketat, Rima tidak mengambil jalan pintas. Ia tetap menjalani proses yang semestinya: menelusuri referensi ilmiah yang relevan, menyusun kerangka tulisan secara sistematis, lalu mengembangkan ide-idenya menjadi narasi yang utuh dan bertenaga.

“Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah membagi waktu antara mengerjakan skripsi dengan menyusun essay, serta memastikan ide yang diangkat memiliki nilai inovasi agar dapat bersaing,”

— Rima Melati

Kesadaran akan pentingnya nilai inovasi dalam sebuah karya kompetitif itulah yang mendorong Rima untuk tidak sekadar menulis ulang teori yang sudah ada, melainkan mencari sudut pandang segar yang mampu membedakan esainya dari ratusan peserta lain di tingkat nasional. Dan usaha itu terbayar lunas.

Syukur dan Tekad untuk Terus Berkarya

Menerima kabar kemenangan sebagai juara pertama di tingkat nasional, Rima mengaku merasakan campur aduk antara rasa syukur yang dalam dan semangat yang semakin membara untuk terus melangkah. Ia memandang pencapaian ini bukan sebagai puncak dari perjalanannya, melainkan sebagai bahan bakar untuk menapaki tangga-tangga berikutnya.

“Saya merasa sangat bersyukur dan bangga atas pencapaian ini. Ke depan, saya berharap dapat terus berkontribusi melalui karya-karya yang bermanfaat serta menginspirasi lebih banyak orang,”

— Rima Melati

Prestasi yang diraih Rima Melati ini menjadi pengingat bahwa suara para mahasiswa, ketika dituangkan ke dalam tulisan yang serius dan berbobot, mampu menjangkau panggung nasional dan memberi kontribusi nyata bagi wacana kesehatan yang lebih baik. Dan bagi UNISA Bandung, kemenangan ini adalah cermin bahwa institusi tersebut terus melahirkan insan-insan akademik yang tidak hanya unggul di dalam kelas, tetapi juga berani bersuara di hadapan dunia.[ ]

5

Red: admin

Editor: iman

906