PERCIKANIMAN.ID – – Menyadari kehilangan orang yang dicintai untuk selama-lamanya karena meninggal dunia, memang selalu menyisakan kesedihan. Walaupun begitu, cara manusia akan berbeda dalam mengekspresikan kesedihannya. Mulai dari menitikkan air mata, kehabisan kata-kata, sampai meraung meratapi jenazah.
(61) وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ
(62) ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ ۚ أَلَا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ
“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat.” (Q.S. Al An’am [6]: 61-62)
Tentu saja, menangis adalah sesuatu yang manusiawi. Menurut Dr. Ali Muhammad Lagha dalam bukunya “Tamasya Kematian” tangisan merupakan cerminan rasa kasih sayang yang Allah subhanahu wa ta’ala. tanamkan dalam hati hamba-hamba-Nya. Bahkan Rasulullah saw. tidak kuasa menahan air matanya ketika dia ditinggalkan oleh istrinya, Siti Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib. Mengenai hal ini, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. pernah bersabda,
“Tangis dapat menghilangkan segumpal kesedihan yang bergelora dalam jiwa orang-orang yang tertimpa musibah. Akan tetapi seseorang harus tahu batas-batas ratap dan tangis itu dibolehkan.”
Batas kesedihan yang dimaksud oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. adalah tidak sampai megekspresikan kesedihan secara berlebihan, seperti memukul-mukul atau membentuk-benturkan diri sendiri. Lebih buruk lagi apabila kesedihan itu membuatnya menggugat keadilan Yang Maha Kuasa atas takdir yang menimpanya, naudzubillah min dzalik. Ibnu Mas’ud ra. berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. bersabda, “Tidaklah termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul serta mencabik-cabik bajunya ketika (tertimpa musibah) serta berseru dengan seruan jahiliah.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Malik al-Asy’ari r.a. berkata, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Ada empat hal warisan jahiliah di tengah-tengah umatku yang belum ditinggalkan; bangga dengan harta, mencemarkan nama baik, minta hujan pada ahli nujum, serta meratapi kematian.”
Kita tidak dilarang mengekspresikan rasa sedih, karena itu juga merupakan fitrah yang telah dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tetapi, kita tidak boleh terus terlena dalam kesedihan itu. Rasulullah memberikan batasan waktu berkabung bagi yang ditinggal mati oleh orang terdekatnya selama tiga hari, kecuali bagi wanita yang ditinggal mati suaminya masa berkabungnya adalah empat bulan sepuluh hari (masa iddah).
Zainab binti Abu Salamah r.a. bercerita, “Saya datang ke rumah Ummu Habibah r.a. –istri Nabi saw.– yakni Abu Sufyan bin Harb r.a. –wafat. Ummu Habibah minta diambilkan minyak wangi yang kuning warnanya atau selainnya, maka seorang jariya (budah perempuan) meminyakinya dengan minyak itu, kemudian juga mengolesi kedua tepi pipinya. Lalu Ummu Habibah berkata, ‘Demi Allah, sedikit pun saya tidak memerlukan wewangian. Hanya saja saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak halal bagi perempuan yang mengaku beriman kepada Allah swt. dan hari akhir, untuk berkabung atas orang mati lebih dari tiga malam, kecuali berkabung atas suaminya selama empat bulan sepuluh hari’.” Zainah binti Salamah melanjutkan, “Beberapa waktu kemudian saya datang kepada Zainab binti Jashy r.a. ketika suadaranya wafat. Ia juga minta diambilkan wewangian dan mengusapkannya lalu berkata, ‘Demi Allah saya tidak memerlukan wewangian ini, karena saya mendengar Rasulullah saw. bersabda di atas mimbar, ‘Tidak halal bagi perempuan yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, untuk berkabung atas orang mati lebih dari tiga malam, kecuali berkabung atas suami empat puluh bulan sepuluh hari’.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Namun kita pun harus ingat, bahwa bukan hanya meratapi orang yang meninggal yang dilarang dalam ajaran Islam, tetapi juga yang berlawanan dengan itu, yaitu menjelek-jelekkan atau bersumpah serapah kepada orang yang sudah meninggal. Tidak ada alasan bagi kita untuk tetap menyimpan dendam dan permusuhan kepada orang yang telah meninggal.
Seburuk apa pun perlakukan almarhum semasa hidupnya, jangan biarkan diri kita terjebak dalam kesumat yang tidak berkesudahan. Kalau kekesalan itu masih ada, kubur dalam-dalam di hati. Jangan biarkan diri kita lepas kendali sehingga tertawa puas menyaksikan kematiannya, apalagi sampai sumpah serapah terlontar dari mulut kita. ‘Aisyah r.a. berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. bersabda, “Jangan kalian memaki orang-orang mati, karena mereka telah sampai pada amal yang mereka persembahkan (karena itu, tidak ada gunanya memaki mereka).” (H.R. Bukhari)
Begitulah kematian. Bagi sebagian orang, kematian selalu saja menguras air mata yang tidak terhingga. Sedangkan bagi sebagian yang lain, kematian disikapi dengan proporsional, sesuai dengan tuntunan agama. Kematian merupakan misteri terbesar dalam hidup yang sewaktu-waktu bisa datang kapan saja dan di mana saja.
Kalau sekarang Anda sedang berduka karena baru saja menguburkan sanak atau kerabat, yakinlah nanti –bisa satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, atau beberapa tahun mendatang– giliran sanak atau kerabat melaksanakan hal itu untuk kematian kita. Bersiaplah! [ ]
5
Red: admin
Editor: iman
930