Khutbah Jumat: Kesadaran Pegawai Dan Profesional Untuk Berzakat Membawa Berkah

0
244

Oleh: KH. Drs.Abdurrahman Rasna, MA*

 

KHUTBAH I

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

الحمدُ لِلهِ العَلِيِّ العَظِيْم العَزِيْزِ الحَكِيْمِ الَّذِيْ فَطَرَنَا بِاقْتِدَارِهِ، وَطَوَّرَنَا الحمدُ لِلهِ العَلِيِّ العَظِيْم العَزِيْزِ الحَكِيْمِ الَّذِيْ فَطَرَنَا بِاقْتِدَارِهِ، وَطَوَّرَنَا بِاخْتِيَارِهِ، وَرَتَّبَ صُوَرَنا فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِالعَقْلِ السَّلِيْمِ ، وَهَدَانَا إِلى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ،

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْئ ٍقَدِيْرٌ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَأَفْضلِ اْلأَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبه أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ

إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

 

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena pada kesempatan yang mulia ini kita bersua di rumah Allah untuk sama-sama menunaikan salah satu kewajiban kita selaku ummat Nabi akhir Zaman. Selain itu, shalawat dan salam tidak lupa kita sanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dimana, kita dianjurkan untuk memperbanyak shalawat pada hari ini, hari Jumat, penghulu para hari.

 

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Sebagai agama penutup, Islam datang dengan aturan-aturan yang lengkap, baik yang berhubungan dengan Allah Ta’ala sebagai sesembahan tunggal yang dikenal dengan hablumminallah, ataupun aturan-aturan yang berhubungan dengan manusia, dikenal dengan istilah hablum minan-nas.

 

Salah satu aturan atau syariat dalam agama Islam yang memiliki dua dimensi di atas, baik yang berhubungan dengan Allah maupun antar sesama manusia adalah terkait kewajiban seorang muslim untuk mengeluarkan zakat.

 

Maka, pengetahuan tentang zakat wajib dipelajari, terutama yang berhubungan dengan syarat dan rukunnya. Menunaikan ibadah dalam Islam harus didahului dengan ilmu, sebab ibadah tanpa ilmu amal apa pun itu akan tertolak. Selain itu, pengembangan jenis zakat harta terus terjadi, hal ini lumrah sebab profesikerja pun terus berkembang. Maka para ulama terus melakukan kajian dan penelitian tentang berbagai jenis profesi yang seharusnya mengeluarkan zakat ketika menerima imbalan. Inilah yang kita kenal dengan zakat profesi.

 

Hadirin Sidang Jamaah Jumar Rahimani wa Rahimakumullah…

Secara bahasa (etimologi), zakat  berasal dari kata az-zakāh yang berarti ath-thuhr (suci),

asy-syaraf  (mulia),

an-namā’  (tumbuh),

az-ziyādah (bertambah) dan

al-barakah (berkah).

 

Sedangkan secara istilah syar’i (terminologi), zakat ialah “kadar. yang wajib dikeluarkan zakatnya dari harta karena telah mencapai nishab (batas minimal) tertentu yang harus diserahkan kepada mereka yang berhak dengan syarat-syarat tertentu.

 

Dari sudut pandang syariat, zakat wajib ditunaikan oleh seorang muslim yang memiliki harta yang telah mencapai nishab dan terpenuhi syarat-syaratnya.

Zakat adalah rukun Islam yang ketiga. Dalam Al-Qur’an, kewajiban zakat dikaitkan dengankewajiban shalat pada delapan puluh dua ayat. Dalil kewajiban zakat adalah al- Kitab,as-Sunnah dan Ijma’.

Allah Ta’ala berfirman,

 

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

 

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kamumembersihkan dan menyucikan mereka…” (QS. At- Taubah [9]: 103)

Dan firman-Nya,

 

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ ۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

 

“ Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat….” (QS. Al-Baqarah [2]:110)

 

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah berpesan kepada Mu’adz bin Jabal y ketika mengutusnya ke Yaman, sabda beliau,

ا

فأخبرهم : إن الله قد فرص عليهم صدقة تؤخذ

من اغنياءهم فترد على فقراءهمفإن هم اطاعوالك بذالك فاياك وكراءم  اموالهم

 

“Maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya kemudian dikembalikan kepada orang-orang miskin di antara mereka. Dan apabila mereka menaatimu dalam hal ini, maka berhati-hatilah engkau terhadap harta mereka yang sangat berharga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

 

Sedangkan dalil dari ijma’, maka kaum Muslimin telah sepakat bulat (ijma’) tentang wajibnya zakat.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Secara sederhana ajaran Islam terbagi menjadi tiga bagian yang saling terkait antarasatu dengan lainnya, masing-masing adalah akidah, syariat, dan

mu’amalat. Dan jika disederhanakan lagi, dapat klasifikasikan menjadi dua, yaitu hubungan antara manusia dengan Allah (hablun minallah) serta hubungan antarsesama (hablunminannas).

 

Zakat, jika ditinjau dari sisi ajaran Islam maka ia berada pada posisi syariat yang berhubungan dengan mu’amalat sekaligus akidah.

 

Mu’amalat karena erat kaitannya dengan sesama manusia, sedangkan akidah karena masuk dalam rukunIslam ketiga. Literatur (nash) dalam Al-Qur’an ketika menyinggung masalah zakat hakikatnya belum terinci menjadi zakat fitrah ataupun zakat harta.

 

Walaupun jika ditelusuri lebihmendalam, perintah-perintah Allah tentang zakat yang disertai dengan ancaman (tarhīb) erat kaitannya dengan zakat harta, seperti mereka yang menumpuk-numpuk emas [uang] dan perak, dan tidak mengeluarkan zakatnya. Mereka akan diazab dengan cara disetrika dahi, perut, dan punggung mereka. Allah berfirman,

 

( يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْأَحْبَارِ وَٱلرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۗ وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (٣٤)

 

وْمَ يُحْمٰى عَلَيْهَا فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوٰى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوْبُهُمْ وَظُهُوْرُهُمْۗ هٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ فَذُوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْنَ (٣٥)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orangalim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakardengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepadamereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Makarasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah [9]:34-35).

 

Sedangkan zakat fitrah sama sekali tidak ditemukan ancaman dalam Al-Qur’an bagi yang meninggalkannya.

Hadits Nabi saw hanya menegaskan bahwa tujuan zakat fitrah adalah sebagai penyuci dari perbuatan dan perkataan sia-sia bagi orang yang berpuasa, sekaligus menjadi makanan bagi golongan miskin. Ini berdasarkan riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas seperti yang dinarasikan Abu Dawud.

 

Karena itulah, dalam penelusuran, khatib menemukan bahwa pembahasan tentang zakat fitrah oleh para ulama hanyalah sebagian kecil dari masalah zakat yang sangat luas.Ini berbeda dengan zakat harta yang terus-menerus mengalami perkembangan, sebut saja zakat pegawai dan profesi yang kini sedang hangat dibahas di berbagai kalangan mulai dari golongan awam, hingga para ulama.

 

Adalah Syekh Yusuf Al-Qaradhawi sebagai pencetus dan penggagas zakat profesi melalui disertasinya, “Fiqh Al-Zakāh

”. Dari sinilah pembahasan tentang zakat pegawai dan atau profesi terus bergulir dan menuai sanjungan dan kritikan, ada yang setuju dan ada pula yang membantah sesuai dengan argumentasimasing-masing.

 

Hadirin Sidang Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah…

Jika merujuk kepada Departemen Agama Republik Indonesia bahwa pengertian zakat profesi adalah zakat yang dikenakan kepada tiap usaha (kasab) pekerjaan atau keahlian (profesi) tertentu yang dilakukan secara sendiri ataupun bersama-sama yangdapat memberikan hasil atau keuntungan.

 

Adapun jenis pekerjaan sebuah profesi yang dapat menghasilkan dan memperoleh keuntungan dapat diklasifikasikan menjadi dua begian,;

 

Yang pertama adalah pekerjaaan yang dilakukan mengikut keahlian, seperti penghasilan seorang dokter,konsultan, insinyur, pengacara, dosen, guru, artis, dan sebagainya.

 

Yang kedua adalah mereka yang memberikan jasa untuk orang lain, baik untuk lembaga pemerintah, perusahaan maupun perdagangan dengan mendapat gaji, upah, honorarium, dan lain-lain.

 

Sejujurnya, pengenaan zakat atas penghasilan dari kegiatan sebuah profesi berupa gaji, upah, honorarium seorang guru, dokter, pegawai, legislator, dan sebagainya merupakan pengembangan hukum dari kepemilikan harta kekayaan.

 

Hasil yang diperoleh beragam profesi tersebut memiliki potensi yang sangat besar dan terbukti bahwa banyak di antara mereka masuk dalam kategori golongan menengah dan kaya.

 

Pada dasarnya untuk mengeluarkan zakat harta harus memenuhi lima syarat: beragama Islam; merdeka dan bukan hamba sahaya; kepemilikian yang sempurna terhadap harta; mencapai batas minimum harta yang wajib dizakati (nishab); dan telah mencapai satu tahun mengikuti kalender Hijriah (haul ).

 

Terkait dengan zakat profesi, problemnya terdapat pada poin keempat dan kelima, yaitu belum mencapai nishab dan haul.

 

Di sinilah letak titik krusial yang terus menerus diperdebatkan.

 

Jika merujuk kepada pendapat Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitab “Minhajul Muslim”, maka nishab terendah dalam berzakat adalah 20 dinar atau setara dengan 85 gram emas, (Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Minhajul Muslim, Jakarta: Darul Haq,2006, hlm. 355).

Jika diuangkan dengan harga emas saat ini Rp. 900.000 per gram, maka batas minimal uang yang harus dikeluarkan zakatnya adalah Rp. 42.500.000, (empat puluh dua juta lima ratus ribu) dengan syarat harus mengendap selama setahun penuh jika merujuk kepada pemahaman tekstual perintah zakat. Kecuali hasil pertanian, terutama biji-bijian yang dapat bertahan lama, seperti padi, jagung, kopi, kakao, cengkeh, dan semisalnya, maka hitungan nisab-nya adalah 650 kg, dan dikeluarkan setiap kali panen.

 

معشر المسلمين رحمكم الله

 

Lalu bagaimana dengan zakat pegawai dan atau profesi? Penghitungan zakat pegawai dan atau profesi adalah tetap mengacu pada hitungan emas yang mencapai nisab. Hanya saja pembayarannya dilakukan secara bertahap tiap bulannya. Jika seorang pegawai mendapatkan gaji sebanyak Rp. 3.600.000 perbulan, kemudian ditotalkan selama setahun gajinya berjumlah Rp. 43.200.000 (empat puluh tiga juta dua ratus ribu), maka yang bersangkutan sudah dikenakan zakat pegawai dan atau  profesi, dapat dibayar sekali setahun dengan jumlah 2,5 persen dari total gajinya, atau dibayar secara bertahap setiap menerima gaji.

 

Seperti ditegaskan sebelumnya bahwa zakat pegawai dan atau  profesi adalah ijtihad kontemporer yang belum pernah berlaku pada zaman Nabi Saw hingga era modern ini kecuali setelah terbitnya disertasi Yusuf Al-Qaradhawi, lalu disebarluarkan oleh berbagai kalangan, terutama para ulama dan intelektual yang menilai bahwa zakat profesi memiliki kemaslahatan yang sangat besar. Selain itu, adanya Undang-Undang No. 11 Tahun 2011 dan PP No. 14 Tahun 2014 hakikatnya berfungsi untuk melerai perdebatan tentang kedudukan zakat pegawai dan atau  profesi. Artinya keberadaan ikhtilāf

antar para ulama maupun juhalā’ sudah tidak relevan lagi, sebab sudah ada penetapan wujudnya zakat pegawai dan atau profesi dari pemerintah selaku ulul amri.

 

Pengenaan zakat pegawai dan atau profesi dapat dicermati dari dua sisi;

pertama adalah penegakan keadilan ekonomi,

dan kedua meringankan beban para pembayar zakat (muzakki). Jika merujuk pada pemerataan dan keadilan dalam ekonomi, ini dapat dilihat dalamAl-Qur’an:

 

كيل يكون دولة بين الأغنياء منكم

 

“Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7).

 

Dan, jika berfungsi untuk meringankan beban muzakki, maka dalilnya adalah:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ

 

“Hai orang-orang beriman, keluarkanlah hartamu yang baik-baik di jalan Allah(zakat) yang merupakan hasil usaha kamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 267).

 

Ayat di atas juga dapat dipakai untuk membuat analogi (qiyas) antara zakat petanidan yang berprofesi sebagai pegawai, professional, hingga konsultan. Bahwa jika petani saja yang wajib mengeluarkan zakatnya jika telah mencapai ssatu nishabketika panen dengan jumlah 650 kg. Maka asas keadilan dan kemaslahatan terhadap para professonal adalah juga seharusnya mengeluarkan zakat profesinya setiap kali mendapat upah atau gaji.

 

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Adapun mereka yang gaji dan penghasilannya belum mencapai nisab, lalu dipotong oleh lembaga zakat seperti Baznas dengan nominal tertentu berdasarkan regulasi yang dikeluarkan oleh DPRD yang disebut Perda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah berupa Perbub, maka dana tersebut masuk dalam kategori infak. Lalu apakah infak boleh ditarik secara paksa padahal itu adalah sunnah?

 

Tentu saja boleh, dan Kepala Daerah berhak menarik infak dari rakyatnya secara sukarela ataupun terpaksa jika melihat dalam kebijakan tersebut terdapat kemaslahatan yang besar, baik sebagai pemerataan ekonomi dari golongan pegawai yang berpendapatan tetap kepada    golongan fakir dan miskin atau para penuntut ilmu agama yang butuh bantuan demi kelangsungan hidup dan pendidikan mereka yang hakikatnya menjadi kewajiban setiap muslim untuk membantu saudaranya yang membutuhkan.

 

Pendapat bahwa infak boleh dikuatkan oleh regulasi juga didukung oleh pendapat sahabat senior, Umar bin Al-Khattab yang menegaskan, bahwa jika diberikan wewenang sebagai penguasa maka ia akan menarik harta orang-orang kaya secara paksa atau sukarela lalu dibagikan pada golongan Muhājirīn yang miskin. Pendapat ini diamini oleh sahabat lainnya, Ali bin Abi Thalib  katanya,

 

 

“Sesungguhnya Allah mewajibkan kepada orang kaya untuk menginfakkan hartanya kepada fakir misikin sekadar menutup kebutuhkan mereka. Dan, kalau ternyata mereka terlantar, tidak makan dan berpakaian, lalu meminta namun diabaikan oleh golongan kaya, maka kelak Allah berhak menghisab lalu mengazab mereka di hari kemudian.”

 

Bahkan,Abdullah bin Umar Al-Khattab sebagaimana yang ditulis Sayid Sabiq (2007) menegaskan, “Dalam setiap harta yang kita miliki, para pemimpin punya hak selain dari zakat.”

 

Pendapat terakhir ini didukung oleh 300 sahabat. Karena itu, regulasi nasional berupa Undang-undang No. 23 tahun 2013 tentang pengelolaan zakat, infak, dan shadaqah, lalu diikuti oleh setiap daerah satu demi satu mengeluarkan peraturan dalam bentuk Perda, Pergub, hingga Perbub, sebagai umat Islam yang memahami, bahwa zakat adalah salah satu pilar agama, seharusnya kita ikut dukung dan sosialisasikan kepada segenap lapisan masyarakat. Bahkan, Kementerian Agama telah menerapkan zakat pegawai dan profesi terhadap segenap pegawainya, sejak keluarnya Undang-undang No. 13 tahun 1999. Gaji Mereka dipotong sebesar 2,5 persen, baik yang sampai nishab maupun tidak.

 

Demikian pula beberapa daerah telah melakukan pemotongan gaji serupa sejak lima tahun silang, seperti Solok di Sumatera Barat, Barru di Sulsel. Menyusul Makassar dan Enrekang sejak dua bulan lalu, dan Tator yang minoritas muslim pun akan ikut menerapkan zakat profesi untuk segenap pegawai yang muslim.

 

Khusus yang berlum masuk nishab dan masuk kategori infak-shadaqah, pahalanya pun tidak kalah besar dengan zakat.   Andai saja orang yang sakaratul-maut dapat ditangguhkan ajalnya walau beberapa saat saja, maka permintaan terakhirnya adalah hdiberi kemampuan untuk berinfak dan bershadaqah. Allah Ta’ala berfirman,

 

 

واتفقوا مما ؤزقناكم من قبل أن يأتي أحدكم الموت فيقول رب لولا اخرتني إلى أجل قريب فاصدق واكن من الصالحين

 

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (dengan penyesalan), ‘Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bershadaqah dan aku akan termasuk orang-orang saleh. ” (QS. Al-Munāfiqūn [63]: 10).

 

Demikian pula, Nabi saw yang tidak biasa bersumpah kecuali perkara yang benar-benar luar biasa, dan salah satu sumpahnya adalah,

 

ما نقصت المال من صدقة

 

mā ئ naqashat māl min shadaqah, hartatidak akan pernah berkurang dengan bershadaqah.Demikian seperti dirawikan At-Tirmidzi. Dan, hingga detik ini belum ada kisah dan kenyataan yang menunjukkan bahwa orang melarat karena ikhlas berinfak dan bershadaqah karena Allah Ta’ala.

 

 

باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى القُرآنِ الكَرِيْم، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا ِفيْهِ مِنْ الآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْم، وَتَقَبَّل مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْم. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْم لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ المسْلِمِيْنَ وَ المسْلِمَات، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَنَا وَاِيَّكُمْ عِبَادِهِ الْمُتَّقِيْنَ وَاَدَّبَنَا بِالْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ.

اَشْهَدُ اَنْ لاَ الَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ.

وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. َاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.

اَمَّا بَعْدُ :

فَيَا اَيُّهَا النَّا سُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَقَالَ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلاَءِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِي يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَا بِهِ اَجْمَعِيْنَ, وَارْضَى عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Sebegitu pentingnya pemanfaatan zakat ini terutama dalam membantu keperluan sosial dan pembiayaan perjuagan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam (sabilillah),  maka tidak heran jika ketika Abu Bakar  menjadi Khulaafa Ar-rasyu7idiin pengganti Nabi Muhammad saw sangat tegas dalam menegakan syari’at zakat, seraya memerangi orang yang tidak mau mengeluarkan zakat.

Demikian hutbah jum’at yang dapat kami sampaikan mudah-mudahan bermanfaat dan menambah pemahaman akan arti pentingnya zakat bagi diri kita semua.Aamiin

 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُوءْمِنِيْنَ وَالْمُوءْمِنَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ ِانَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ ِاذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ِانَّكَ اَنْتَ   الْوَهَّاب. رَبِّى اغْفِرْلِى وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيْرًا.  رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَ خِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبّى اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون وَالسَّلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

*Penulis adalah anggota Komisi Dakwah MUI Pusat dan anggota Bidang Dakwah PB MA serta dosen di Banten

5

Red: admin

Editor: iman

839