Agar Tidak Salah Pilih, 4 Hal Ini Yang Boleh Diteliti Sebelum Menikah

0
292
Menikah khususnya saat akad nikah adalah salah satu momen istimewa dalam hidup seseorang (foto: pixabay)
Persiapan menikah diperlukan agar kelak tidak timbul penyesalan. (foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Menikah merupakan sebuah keputusan besar yang bisa jadi menentukan nasib kebahagiaan seseorang, tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Itulah mengapa, keputusan menikah bisa sangat menyita pikiran dan pertimbangan, apalagi soal urusan menentukan siapa yang akan dijadikan pendamping hidup.

‘Harus yang seperti apa, ingin yang bagaimana’ menjadi pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul di benak setiap orang yang ingin menikah, namun gamang dalam menentukan pilihan. Islam sangat menganjurkan umatnya agar menentukan pilihan pendamping hidup secara selektif, dan jangan asal pilih.

Dalam Islam, hendaknya, calon pasangan dipilih bukan karena kekayaan, ketampanan, atau ketenarannya. Justru, yang harus menjadi standar utama adalah agamanya. Itulah pesan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. melalui sabdanya,

iklan

Dinikahi wanita atas dasar empat perkara: karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya, dan karena agamanya. Barangsiapa yang memilih agamanya, maka beruntunglah” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dalam kesempatan lain, Rasulullah Saw. juga pernah memberikan nasihatnya kepada para sahabat,

Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, sebab kecantikan itu akan lenyap dan janganlah kamu menikahi mereka karena hartanya, sebab harta itu akan membuat dia sombong. Akan tetapi, nikahilah mereka karena agamanya, sebab seorang budak wanita yang hitam dan beragama itu lebih utama” (H.R. Ibnu Majah).

Jauh sebelum Rasulullah Saw. menyampaikan pesan tersebut, Allah Swt. terlebih dulu memberikan peringatan kepada kita melalui firman-Nya,

Perempuan-perempuan keji untuk laki-laki keji, dan laki-laki keji untuk perempuan-perempuan yang keji pula. Perempuan-perempuan baik untuk laki-laki baik, dan laki-laki baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula…” (Q.S. An-Nūr [24]: 26).

Ayat ini menjelaskan bahwa wanita-wanita yang shaleh diperuntukkan bagi laki-laki yang shaleh pula, sedangkan wanitawanita yang tidak shaleh diperuntukkan bagi laki-laki yang tidak shaleh, dan begitupun sebaliknya.

Maksudnya, jika kita menginginkan pasangan yang shaleh, maka tanamkan dalam diri kita untuk menjadi manusia yang shaleh. Akan lebih baik lagi bila tekad tersebut didukung dengan lingkungan yang shaleh, insya Allah kita akan mendapatkan pasangan yang shaleh pula.

Islam memberi jalan ta’aruf bagi mereka yang ingin menikah. Ta’aruf sendiri adalah media untuk mengenal calon pasangan sebelum memasuki gerbang rumah tangga. Ta’aruf perlu dilakukan oleh pasangan yang telah siap untuk menikah.

Namun, perlu digarisbawahi di sini bahwa ta’aruf yang dimaksud bukanlah pacaran. Ta’aruf dilakukan oleh dua pihak untuk saling mengenal (dengan tujuan pernikahan), yang kelak menentukan bersedia atau tidaknya mereka untuk menuju gerbang pernikahan.

Sementara, pacaran cenderung hanya dilandasi oleh rasa suka, sehingga kerap dibumbui pada hal-hal di luar ajaran Islam, seperti berdua-duaan, cemburu berlebihan, seks bebas, atau bahkan kekerasan.

Kita harus cerdas dan cermat dalam menentukan calon pasangan hidup agar kebahagiaan yang kita dapatkan saat berumah tangga dapat terbawa sampai ke akhirat kelak. Untuk itu, Rasulullah Saw. telah mengajarkan kepada kita tentang standar dalam memilih pasangan hidup, yaitu:

 

  1. Pilihlah Pasangan Hidup Yang Shaleh

Inilah faktor yang paling utama, yang tidak boleh tidak, harus ada pada calon pasangan kita. Semakin baik pemahaman agama calon pasangan, maka kebahagiaan rumah tangga akan tampak semakin jelas di hadapan kita.

Betapa beruntungnya menikah dengan orang yang shaleh yang pandai menghormati pasangan hidupnya, sebagaimana jawaban Hasan bin Ali ketika ada orang yang bertanya, “Aku mempunyai anak gadis, menurutmu kepada siapa aku harus menikahkannya?” Maka, Hasan menjawab, “Nikahkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah Swt. Jika lelaki itu mencintainya, maka dia akan menghormatinya, dan jika marah maka dia tidak akan menzaliminya.” Dalam sebuah hadits,

Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seorang mukmin meraih pahala setelah takwa kepada Allah Swt. selain istri yang shalehah, yaitu istri yang apabila sang suami menatapnya, dia mampu menenteramkan hatinya. Jika suami memerintahnya, dia (istri tersebut) menaatinya. Jika suami menasihatinya, dia hormat kepadanya. Dan jika suami keluar rumah, maka dia menjaga diri dan hartanya” (H.R. Ibnu Majah).

Sungguh bahagia bila kita memiliki jodoh yang shaleh yang bisa menjadi penyejuk saat kita lelah, menjadi penggembira saat kita sedih, dan menjadi pelindung saat kita menghadapi kesulitan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Hendaklah kalian berusaha agar memiliki hati yang selalu bersyukur, mempunyai lidah yang selalu berzikir, dan memiliki jodoh shaleh yang bisa saling membantu untuk urusan akhirat” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah).

  1. Carilah Calon Pasangan Dari Keturunan Orang Baik- Baik

Setiap orang pasti menginginkan pasangan yang berasal dari keturunan orang yang baik. Hal ini pernah diungkapkan oleh Rasulullah Saw. ketika menasihati para sahabatnya,

Pilihkan tempat mani kalian, karena urat itu menyelinap pada pribadi seseorang (akhlak orangtua menurun pada anaknya)” (H.R. Ibnu Majah).

Dalam kesempatan lain, Rasulullah Saw. bersabda, “Manusia itu laksana barang tambang dan urat itu menyelinap, dan perilaku yang buruk laksana urat yang buruk” (H.R. Baihaki).

  1. Pilihlah Yang Masih Perawan Atau Perjaka

Rasulullah Saw. memberikan nasihat kepada kita melalui sabdanya, “Nikahilah para gadis, sebab dia lebih lembut mulutnya, lebih lengkap rahimnya, dan tidak berfikir untuk menyeleweng, serta rela dengan apa yang ada di tanganmu” (H.R. Ibnu Majah).

Bahkan, Rasulullah Saw. pernah menasihati Jabir r.a. karena menikahi seorang janda. Sabdanya, “Kenapa tidak gadis saja yang kaunikahi, sebab dia bisa kamu cumbui dan dia mencumbuimu” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Menikahi janda itu dibolehkan dalam Islam. Tetapi, pernikahan akan terasa lebih indah jika yang dinikahi adalah perawan.

  1. Lihatlah Keindahan Fisiknya

Kecantikan hanyalah kenikmatan sesaat. Yaitu, kenikmatan yang dapat dirasakan di dunia saja dan tidak dapat dibawa ke akhirat. Namun, bukan berarti kita harus menafikan keindahan fisik, karena ketampanan atau kecantikan seseorang akan melahirkan sifat mahabbah (rasa cinta).

Kita tentu akan lebih bahagia jika memiliki pasangan yang memiliki keindahan fisik, terlebih jika dibarengi dengan keshalehan pribadi. Karenanya, Rasulullah Saw. pernah berkata kepada Mughirah ketika dia akan mengkhitbah seorang wanita,

Lihatlah wajahnya (perempuan tersebut) karena akan lebih menguatkan hubungan di antara kamu berdua” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Mengagumi kecantikan atau ketampanan adalah fitrah manusia. Bahkan, Allah sendiri memiliki sifat indah dan menyukai keindahan. Tetapi, pernikahan bukanlah sekadar kesenangan mata belaka. Karenanya, Rasulullah Saw. pernah bersabda,

Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, sebab kecantikan itu akan lenyap dan janganlah kamu menikahi mereka karena hartanya, sebab harta itu akan membuat dia sombong. Akan tetapi, nikahilah mereka karena agamanya, sebab seorang budak wanita yang hitam dan beragama itu lebih utama” (H.R. Ibnu Majah).

Rasulullah Saw. juga melarang umatnya memilih wanita cantik yang tumbuh di keluarga yang buruk. Sabdanya, “Waspadalah wanita cantik, tetapi berhati jahat.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud wanita cantik, tetapi berhati jahat?” Beliau menjawab, “Wanita yang tumbuh di keluarga yang buruk” (H.R. Dailami dan Daruquthni).

Sumber: dikutip dari buku “ INSYA ALLAH SAKINAH “ karya Dr. Aam Amiruddin, M.Si

5

Red: admin

Editor: iman

908