Berutang Untuk Menunaikan Haji, Boleh atau Terlarang?

0
235
Tingginya biaya haji di Indonesia, sebagian orang melakukan tabungan haji agar bisa berangkat. ( ilustrasi foto: wajibbaca.com)

PERCIKANIMAN.ID – -Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya sudah 9 tahun ikut tabungan haji dan insya Allah tahun depan ada kesempatan untuk berangkat haji. Namun setelah dihitung tabungan saya tidak cukup untuk bayar ONH. Ada teman yang menawari pinjaman untuk mencukupi tabungan haji  sehingga saya bisa berangkat. Bolehkah saya meminkam untuk menutupi kekurangannya? Jika saya ambil pinjaman, bagaimana hukum hajinya apakah sah atau batal? Mohon nasihat dan penjelasannya. Terima kasih ( Tarya via FB)

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Kalau kita perhatikan bahwa ibadah haji sebagai rukun Islam ke-5 itu diwajibkan kepada orang-orang yang mampu. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat berikut,

iklan

(97). وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ….

“…mengerjakanhai adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.” (Q.S. Ali Imran 3: 97)

Menurut para ulama bahwa yang dimaksud dengan quwwah atau kemampuan itu ada empat macam kemampuan yang harus dimiliki yaitu Quwwah Maaliyyah, Quwwah Jasadiyyah, Quwwah Ruuhiyyah, dan Quwwah Ilmiyyah.

Pertama Quwwah Maaliyyah artinya kekuatan harta.

Ibadah haji membutuhkan dana yang relatif besar karena tanah suci Mekah relatif jauh dari negeri kita. Paling tidak, dibutuhkan sepuluh jam dengan pesawat Air Bus untuk bisa sampai ke sana. Kita butuh biaya transportasi, biaya hidup di sana, dan dana untuk keluarga yang ditunggalkan. Ini jelas membutuhkan Quwwwah Maaliyyah atau kekuatan harta.

Kedua Quwwah Jasadiyyah artinya kekuatan jasad.

Ibadah haji membutuhkan kekuatan fisik, karena hampir seluruh pelaksanaannya melibatkan kekuatan fisik, misalnya tawaf, yaitu berjalan mengitari Kabah sanbil berdoa, Sa’i yakni berjalan antara bukit Shafa dan Marwah, Jumroh yakni melempar jamarat. Semuanya melibatkan kekuatan fisik. Itu sebabnya haji membutuhkan Quwwah Jasadiyyah.

Ketiga Quwwah Ruuhiyyah artinya kekuatan mental atau rohani.

Banyak orang yang secara harta dan fisik sudah kuat atau mampu, tapi kalau mentalnya belum siap? Di sinilah dibutuhkan kekuatan mental alias Quwwah Ruhiyyah. Kekuatan atau kemampuan ruuhiyah ini diperlukan mendudukung seluruh pelaksanaan dan proses ibadah dengan khusyu sehingga dijika ruuhiyahnya kuat maka insya Allah dapat menghayati ibadah haji dengan baik dan benar. Sebaliknya jika mental atau rohaninya lemah maka bisa jadi jasad atau fisiknya ibadah haji namun pikiran dan ruhaninya kemana-mana, memikirkan keluarga, memikirkan urusan dunia, bisnis dan sebagainya.

Keempat Quwwah Ilmiyyah artinya kekuatan ilmu.

Haji perlu bekal ilmu yang memadai terutama masalah manasik atau pelaksanaan haji yang benar. Betapa banyak umat Islam yang melaksanakan haji namun tidak dibarengi dengan pemahaman yang benar tentang tata cara haji, sehingga banyak melakukan kekeliruan. Sayang apabila kita sudah mengeluarkan harta yang banyak, meninggalkan anak-anak, tapi ternyata hajinya banyak yang keliru. Di sinilah pentinyanya Quwwah Ilmiyyah alias kekuatan ilmu dan pemahaman.

Adapun yang Anda tanyakan adalah masalah Quwwah Maaliyyah atau kekuatan harta.  Bolehkah kita berhaji dengan cara berutang? Secara prinsip, berutang untuk haji tidak dilarang, selama kita yakin bisa membayar utang itu seandainya terjadi apa-apa saat melaksanakan ibadah haji. Misalnya sampai kita meninggal di tanah suci, kita yakin utang-utang itu bisa dilunasi dan tidak membebani keluarga yang Anda ditinggal.

Tapi, jika Anda tidak yakin akan ada yang membayarkan utang Anda, sekiranya Anda meninggal di sana, atau utang tersebut bisa menjadi beban keluarga yang ditinggalkan, berutang seperti ini tidaklah dibenarkan.

Apakah hajinya sah? Selama rukun dan syarat sah haji terpenuhi maka insya Allah ibadah haji Anda tetap sah meski berangkat dari dana pinjaman.

Tetapi menurut hemat saya, lebih baik Anda menangguhkan pelaksanaan ibadah haji sampai benar-benar mampu. Bersabar, berdoa dan ikhtiar sampai Allah memampukan Anda untuk berangkat ibadah haji. Semoga Allah memberikan rezeki yang halal dan luas kepada Anda, sehingga bisa segera melaksanakan ibadah haji tanpa berutang. Aamiin Demikian penjelasannya semoga bermanfaat..  Wallahu A’lam bishshawab. [ ]

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 08112202496 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

5

Red: iman

Editor: admin

935

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini