Memutus Silaturahmi dan Memutus Keburukan, Ini Bedanya

0
300
Memutus silaturhami adalah dosa besar. ( ilustrasi foto: pixabay )

PERCIKANIMAN.ID–Assalamu’alaykum. Pak Aam bagaimana cara memaafkan secara ikhlas? Saya pernah disakiti oleh pihak saudara suami. Saya tidak dendam tapi saya masih mendiamkan orang itu dengan alasan saya tidak mengenal orang itu justru saya tidak ada masalah. Namun perasaan memutus tali silaturahmi membebani saya. Apakah saya salah bersikap seolah tidak pernah mengenal dia sebelumnya? Mohon nasihat dan penjelasannya .( Dhea via fb )

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Sekarang kembali kepada niat kita.

iklan

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Apabila kita dekat dengan orang, tapi yang muncul adalah keburukan dan keburukan dan kemudian Anda menghidari orang tersebut itu bukan disebut dengan memutuskan tali silaturahmi melainkan menghindari keburukan.

Selama Anda yakin dengan menghindari orang tersebut Anda lebih nyaman, tidak ada keburukan, tidak bermusuhan, maka Anda tidak bertemu dengan dia lagi atau Anda mengindari dia lagi bukan memutuskan tali silaturahmi, tapi memutuskan keburukan.

Jadi ada dua istilah, pertama memutuskan tali silaturahmi. Kedua, memutuskan keburukan. Apabila memang orang itu adalah saudara suami Anda, ya kalau sedang susah Anda bantu, kalau ia sakit Anda tengok, tapi memang Anda tidak senang karena tabiatnya sering kali berbicara suka menyakitkan orang lain.

Sehingga Anda mengindari orang tersebut untuk menghindari keburukan. Anda pasti tidak mau ia buruk kepada Anda dan Anda pun tidak mau buruk kepada dia. Maka Anda bukan memutuskan tali silaturahmi, tapi memutuskan keburukan.

Dengan catatan ketika ia susah Anda tetap membantunya dan menganggap ia sebagai saudara Anda. Saat ia sakit misalnya, Anda tetap menengoknya atau mendoakannya. Dalam haditsnya Nabi Saw bersabda,

”Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung hikmah silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” ( HR.Bukhari)

Berbeda dengan ketika ia susah, Anda tidak mau membantunya dan menggapnya sebagai saudara, maka Anda memutuskan tali silaturahmi. Memutus hubungan silaturahmi atau tali persudaraan itu termasuk dosa besar yang dilarang dalam ajaram Islam. Pesan Rasul,

Tidak akan masuk sorga orang yang memutuskan (persaudaraan)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi saran saya jangan sampai Anda memutus silaturahmi dengan saudara. Silakan Anda membantu dia ketika ia susah, menjenguknya ketika ia sakit, tapi ketika ia tidak sedang kesusahan Anda jarang menemuinya karena tabiatnya buruk, maka Anda tidak memutuskan tali silaturahmi melaikan memutuskan keburukan. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

5

Red: citra

Editor: iman

982

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini