Bolehkah Memberi Hibah Tanpa Diketahui Anak?

0
281

Assalamu’alayku Pak Ustadz, kalau memberikan hibah pada anak dengan bagian yang tidak diketahui oleh anak-anak lainnya boleh tidak? (Siti via email)

 

 

iklan

Waal’aykumsalam Wr Wb. Iya ibu Siti dan sahabat-sahabat sekalian, harus kita yakini bahwa Islam itu mengatur seluruh aspek kehidupan dengan lengkap dan sempurna termasuk masalah hibah ini. Nah, apa yang Anda tanyakan ini tidak dianjurkan.

Jadi begini misalnya, saya punya tiga anak, suatu saat saya memberi hibah kepada anak yang pertama namun anak kedua dan ketiga tidak tahu. Nah, hal seperti ini tidak boleh karena rasulullah mengatakan, “berbuat adil-lah kamu kepada anak-anakmu.”

Apa yang Anda tanyakan ini seringkali atau dikemudian hari seperti orang tua membuat bom waktu. Dimana ketika orang tua sudah tidak ada maka bisa jadi akan menjadi permasalahan yang serius. Sering kita dengar atau saksikan ketika orangtua sudah tidak ada atau wafat maka anak-anaknya menjadi saling tidak akur atau bermusuhan gara-gara masalah harta peninggalan orangtuanya.

Mohon maaf tanpa bermaksud menasehati tapi saya belajar dari kasus banyak orang. Jadi ada orang tua yang bikin masalah dalam keluarga ini. Dengan apa? Sewaktu dia hidup, dia bilang sama anak, misal ke anak yang paling besar memberikan salah satu rumah kepada anak pertamanya itu tanpa memberitahu anak yang lain. Nah hal ini tidak boleh, sebab akan menimbulkan pertengkaran. Kalau kita mau hibah, kumpulkan anak-anak kita, minta keridhaan masing-masing anak. Kalau begini tidak akan terjadi pertengkaran.

Kita sebagai orang tua boleh hibah ke anak. Jadi anak itu bisa mendapatkan harta dengan dua cara, dari hibah dan warisan. Tapi anak tidak boleh mendapatkan harta lewat wasiat. Karena ada keterangan yang mengatakan, tidak ada wasiat harta bagi ahli waris. Jadi kalau untuk ahli waris itu, wasiatnya bukan wasiat harta. Kecuali kalau kita bilang, “apabila saya meninggal, maka saya wasiatkan sepertiga dari harta saya untuk kepentingan agama.” Nah itu boleh. Wasiat untuk ahli waris, kaitannya dengan harta, tapi bukan untuk mereka. Selama yang diwasiatkan itu tidak lebih dari sepertiga harta, itu diperbolehkan.

Sekali lagi kembali ke pembahasan tadi bahwa kita orang tua, jangan suka membuat bom waktu pada anak-anak kita. Kalau urusan harta harus terbuka, bila perlu ada saksi atau tertulis itu menurut hemat saya lebih bagus. Sehingga kalau kita meninggal, anak-anak kita tidak bertengkar karena kita. Dengan demikian mari kita menjadi orang tua yang bijaksana, jangan sampai sedih kalau melihat anak-anak kita bertengkar karena harta yang kita tinggalkan. Kita sudah lelah cari harta untuk kebahagiaan anak-anak tapi setelah kita meninggal mereka malah bertengkar karena harta kita, itu adalah hal yang menyedihkan. Kadang itu terjadi karena kelakuan orang tua itu sendiri.

Yang perlu diingat, Rasul Saw menyampaikan,

Bersikaplah adil di antara anak-anak kalian dalam hibah, sebagaimana kalian menginginkan mereka berlaku adil kepada kalian dalam berbakti dan berlemah lembut.” (HR. Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra no. 12.003]

Sekali lagi saya mengingatkan kepada kita semua, khususnya para orangtua untuk berhati-hati,adil dan bijaksana serta terbuka untuk masalah harta atau warisan atau hibah yang hendak diberikan kepada anak-anak kita. Jangan sampai dikemudian hari justru menjadi malapetaka. Bisa jadi maksud kita baik, namun jika caranya tidak baik atau tidak benar maka hasilnya bisa jadi tidak baik pula. Wallahu’Alam. [ ]

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: norman

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .