Nafkah Lahir Batin Kepada Istri, Ini Yang Harus Dipahami Suami

0
298
Seorang suami berkewajiban memberikan nafkah lahir dan batin kepada istrinya ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Untuk membangun rumah tangga yang harmonis, sudah sepantasnya suami dan istri menjalankan peran masing-masing. Dalam ajaran agama Islam ketika seorang laki-laki (suami) yang menikahi seorang perempuan (istri), maka ia wajib memberikan nafkah secara lahir maupun batin.

 

Namun, nyatanya meski sudah menikah belum tentu seorang suami paham dan melaksanakan hak kepada istri atau kewajiban suami kepada istrinya khususnya dalam hal kewajiban memberikan nafkah lahir dan batin. Berikut ini penjelasannya tentang dua hal tersebut:

iklan

 

 

  1. Nafkah Lahir

Seorang suami wajib memberikan nafkah lahir berupa sandang,  pangan, dan papan kepada istrinya. Pemberian tersebut harus  disesuaikan dengan kemampuan seorang suami. Dalam Al Quran, Allah Swt berfirman,

 

 (233)……….وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا……

“…Kewajiban ayah, yaitu memberikan nafkah dan pakaian kepada mereka dengan cara yang baik. Seseorang tidak dibebani melainkan sesuai dengan kadar kemampuannya….” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 233)

 

Dalam ayat yang lain Allah Swt kembali tegaskan,

 

(6)…..أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ ۚ وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Tempatkanlah para istri di tempat kamu bertempat tinggal  sesuai kemampuanmu dan jangan kamu menyusahkan mereka untuk  menyempitkan hatinya. Jika mereka (istri yang sudah ditalak) itu sedang  hamil, berilah nafkah sampai mereka melahirkan.” (Q.S. Ath-Thalaq  [65]: 6)

 

Selanjutnya dalam ayat berikutnya Allah Swt jelaskan,

 

(7).لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. ” (Q.S. Ath-Talaq [65]: 7)

 

Di antara faktor kebahagiaan dalam rumah tangga adalah  terpenuhinya kebutuhan material, tempat tinggal, pakaian,  kesehatan, dan ilmu pengetahuan.

Semua itu sebagai media untuk  mencapai kehidupan yang progresif dan prestatif, mampu menjalani  kehidupan dengan lebih efektif dan efisien dalam mencari solusi  setiap permasalahan yang dialami, baik sebagai anggota keluarga  maupun sebagai anggota masyarakat, dan sebagai manusia yang  bertugas menjadi hamba dan khalifah Allah Swt. di bumi.

  1. Nafkah Batin

Istri akan mendapatkan kebahagiaan atau kepuasan batin apabila  suaminya dapat memenuhi nafkah batin sesuai dengan yang  dianjurkan oleh Rasulullah Saw.,

 

(223)……….نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ

Istri-istrimu itu seperti ladang bagimu, maka datangi ladangmu  kapan saja dengan cara yang kamu sukai…” (Q.S. Al-Baqarah [2]:  223)

 

Abu Ya’la meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa  Rasulullah Saw. bersabda, “Jika seseorang di antara kamu berhubungan  intim dengan istrinya, hendaklah dia bersungguh-sungguh. Bila istrinya  sedang menyelesaikan kebutuhannya, janganlah dia tergesa-gesa (untuk  mengakhirinya) sebelum kebutuhan istrinya diselesaikan pula.”

 

Disunatkan membaca doa ketika hendak berhubungan intim.  Sebagaimana sebuah hadits dari Ibnu Abbas r.a. saat Rasulullah  Saw. bersabda, “Jika seorang di antaramu hendak mendatangi istrinya,  bacalah ‘Bismillah Allahumma Jannibnaasya syaithaana wa jaannibisy  syaithaana maa razaqtanaa.’ (Dengan nama Allah! Wahai Tuhan,  jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau  berikan kepada kami).’ Jika di waktu itu antara keduanya ditakdirkan  terjadi anak, setan tidak akan membahayakan anak itu selama-lamanya.”

Namun dalam beberapa keterangan dan pendapat ulama bahwa yang dimaksud nafkah batin kepada istri tidak sebatas hubungan suami istri (hubungan intim) semata namun seorang suami harus bisa memberikan perasaan tenang, damai dan bahagia. Suami harus mampu mengayomi sang istri dan mengarahkannya ke jalan yang benar agar dapat menjalani bahtera rumah tangga bersama.

 

Selain itu seorang suami juga harus memberikan kasih sayang yang tulus kepada pasangannya sehingga sang istri merasa batinnya damai dan merasakan ketenangan dalam menjalani rumah tangga. Kebutuhan batin istri yang bukan sekedar hubungan intim inilah yang harus diberikan seorang suami kepada istrinya. [ ]

*Sumber: dikutip dari buku “MEMBINGKAI SURGA DALAM RUMAH TANGGA” karya Dr. Aam Amiruddin, M.Si & Ayat Priyatna Muhlis

 

5

Red: admin

Editor: iman

926