Menjadi Hamba Allah Yang Bahagia

0
71
Saat bahagia karena jatuh cinta, jangan lupa dengan Allah ( ilustrasi foto: pixabay)

 

Oleh: Vivi Navisah*

iklan

 

PERCIKANIMAN.ID – – Al-kisah seorang Professor keturunan Oostenrijk, yaitu mahaguru yang mengadakan pendidikan guru. Dia mempunyai teman sesama Professor. Kemudian dia mengungsi ke negri Belanda sesudah perang dunia pertama.

Disitu dia mengajarkan Ilmu Fisika pada salah satu Perguruan Tinggi. Tetapi kemudian Professor yang ada di sana menjadi gempar, mendengar satu berita bahwa Professor yang mengajar Ilmu Fisika itu telah meninggal dunia karena bunuh diri.

Professor itu sangat dicintai oleh para mahasiswanya. Dia orang yang berilmu dan juga orang yang berakhlak. Pandai bergaul dengan teman sejawatnya. Para mahasiswa merasa mendapat bimbingan dari professor itu dan juga dianggap sebagai bapak. Semua orang gempar mendengar berita kematiannya itu dan terkejut. Ada yang merasa kehilangan teman, ada yang merasa kehilangan bapak dan ada yang merasa kehilangan guru.

Orang terkejut, oleh karena tidak dapat memikirkan apa gerangan yang menjadi sebab ia melakukan bunuh diri, padahal melakukan bunuh diri itu hanyalah dapat dilakukan oleh orang yang tidak berilmu atau orang yang “abnormal”. Lebih-lebih lagi sebelum ia meninggal itu dia telah membunuh anaknya sendiri, sehingga orang lebih merasa lebih heran lagi memikirkan hal yang demikian, karena hal yang demikian itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang tidak sehat akalnya.

Apakah gerangan yang menjadi sebab dari kejadian itu ? kuncinya ada ditangan salah seorang sahabatnya yang juga Professor. Hal ini tiada lain karena sahabatnya itu mendapat sepucuk surat yang diterimanya sebelum ia menembak dirinya. Dalam surat itu dijelaskan apa yang menjadi penyebab tindakannya itu.

Diceritakannya kehidupannya sebagai seorang mahasiswa yang mempunyai kecukupan dan tidak mendapat kesulitan. Perjalanan hidup sebagi pemuda, adalah perjalanan yang sangat licin. Dia di sekolahkan oleh bapaknya mulai dari sekolah rendah sampai sekolah tinggi.

Otaknya memang tajam sehingga dia dapat menggapai gelar Prof. dan terus menyelidiki alam ini dengan pengetahuannya itu. Akhirnya dia mengajar disekolah tinggi di negri kincir. Dia adalah pelopor pengetahuan Fisika yang bukan dengan membaca buku orang lain tetapi merintis jalan sendiri ke Ilmu Fisika itu.

Tiap penemuan barunya ia sumbangkan kepada lapangan ilmu pengetahuan sebagai tambahan baru bagi umat manusia di abad dua puluh ini. Dia perintis jalan, dia tidak kekurangan harta benda, ilmunya tinggi, pergaulannya baik. Tidak ada rasanya yang kurang dalam kehidupannya.

Akan tetapi, demikian kata surat itu, saya …. Wahai saudara, masalah saya ini mungkin orang tidak akan percaya karena kelihatannya tidak ada yang kurang dalam kehidupan saya ini. Tetapi sebenarnya ada kekurangan yang tidak pernah saya peroleh, tidak dapat dibayar dengan uang dan tidak dapat dicari dengan ilmu. Sudah lama saya bertanya di dalam hati kenapa jiwa saya ini tidak pernah tentram dan …….. kadang-kadang saya bingung karena tidak pernah bisa menjawab pertanyaan, buat apa sebenarnya saya hidup di dunia ini ?

Saya menyangka bahwa saya dapat menjawab pertanyaan itu dengan ilmu pengetahuan yang selama ini saya geluti. Tetapi faktanya hanya kepuasan sesaat saja.

Aku melihat sekeliling, tiba hatiku berjumpa dengan satu pengharapan. Kalau umurku ini tidak sempat menjawab pertanyaan buat apa sebenarnya saya hidup di dunia ini ? mudah-mudahan anaku ini dapat melanjutkan dan barangkali dia akan mendapatinya.

Anakku sangat cerdas dan tajam pemikirannya. Tetapi tiba-tiba akalnya rusak dan tidak diketahui apa penyebabnya. Satu demi satu para ahli saya tanya apa penyebab dan apa obatnya.

Akan tetapi semuanya menggelengkan kepala dan merasa bingung untuk mengobatinya. Ibarat seseorang tempat bergantungnya telah putus, dan tempat berpijaknya telah roboh. Maka bertambahlah kekecewaannya itu. Maka dalam keadaan demikian bingung itulah dia membunuh anak dan dirinya.

Akhirnya, inilah krisis yang bergelora dalam jiwanya seorang intellek tingkat tinggi, bukan intelek sembarangan, tetapi intelek yang berwatak untuk mencari makna hidupnya.

Seandainya dia membuka lembaran al-Qur’an dan mengkajinya maka tentu dia akan dapat menemukan jawabannya. Bahkan jawaban yang bukan hanya memuaskan intelektualnya saja, tetapi juga akan memuaskan jiwanya. Allah swt berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) [الذاريات/56

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. ( QS. Adz Dzariyat: 56)

Sudahkah kita mengkaji lembaran demi lembaran kitab suci Al-Qur’an ? Wallahu ‘Alam [ ]

*penulis adalah ibu rumah tangga, pendidik dan pegiat dakwah

5

Red: admin

Editor: iman

956