Sikap Istri Kepada Suami Yang Menyakiti, Ini Yang Bisa Dilakukan

0
222
Kadang kita sulit menerima takdir buruk yang tidak disukai.. ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Assalamu’alaykum. Mohon maaf ustadz saya mau minta pendapat. Beberapa bulan lalu suami saya sempat mengkhianati saya dan membuat saya kecewa. Sekarang saya lebih memedulikan diri saya dan anak-anak. Saya sudah tidak peduli dengan suami. Meski saya masih mentaati dia, tapi hati saya sebenarnya tidak peduli terhadapnya karena saya selalu teringat dengan kejadian yang membuat saya kecewa. Menurut ustadz, bagaimana tindakan saya itu dan sebaiknya apa yang saya perbuat. Mohon nasihat dan penjelasannya. Terima kasih. (W via fb )

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Bisa kita pahami bahwa yang namanya dikhianati oleh siapa pun tentu bisa menimbulkan kekecewaan bahkan sakit hati. Apalagi ini yang melakukan pengkhianatan itu orang yang dekat dan yang kita sayangin.

iklan

 

Namun sesungguhnya bagaimana menghadapi pengkhianatan itu juga bagaimana sikap kita. Ada yang membalasnya atau pun melakukan hal serupa. Namun ada juga yang menerima dengan lapang hati dan memaafkannya.  Coba Anda simak surah Al-A‘rāf [7] ayat ke-199.

(199). خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

 

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang untuk mengerjakan yang baik serta jangan pedulikan orang-orang bodoh.” ( QS. Al-A’raf: 199)

Di sana tertulis, “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang untuk mengerjakan yang baik serta jangan pedulikan orang-orang bodoh.” Perhatikan, dalam ayat tersebut tercantum dengan jelas “jadilah pemaaf”.

Ingat, memaafkan dengan melupakan adalah dua perkerjaan yang berbeda. Memberi maaf adalah pekerjaan hati, sedangkan melupakan adalah pekerjaan pikiran atau memori. Bila Anda masih terngiang kejadian-kejadian yang membuat sakit, itu adalah ranah memori. Tentu hal itu sangat wajar dan manusiawi. Yang terpenting adalah hati Anda telah memaafkan.

Setelah memaafkan, dalam ayat tersebut tertulis ‘suruhlah orang untuk mengerjakan yang baik’. Sehingga, alangkah baiknya bila hati kita sudah memaafkan seseorang lantas kita ajak orang tersebut untuk berbuat baik dan meninggalkan maksiatnya.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana kita sudah mengajak orang lain untuk berbuat baik? Atau dalam kasus yang ini, mungkin anda sudah memaafkan perilaku suami, tapi apakah Anda sudah mengajaknya bertobat dan kembali ke jalan lurus atau belum?

Yang tidak baik adalah kita langsung meloncat ke poin ketiga, yaitu tidak peduli (karena ada urutan-urutan kebaikan yang harus kita lalui). Kita tidak bisa tidak peduli dengan kesalahan orang lain, tanpa terlebih dahulu memaafkan mereka.

Tetapi, bila kita sudah memaafkan dan mengajak mereka kepada kebaikan namun mereka masih saja melakukan kesalahan yang sama, maka ayat ke-199 diatas surah Al-A‘rāf [7] menyatakan, ‘jangan pedulikan orang-orang bodoh’. Bodoh dalam konsep Al-Qur’an bukanlah orang dengan IQ yang rendah, tapi orang-orang yang tidak mau berubah dari kesesatan setelah ditunjukan jalan yang lurus.

Menuju tahap tidak memedulikan tentu tidak bisa semena-mena. Kesungguhan Anda dalam mengajak suami pada kebaikan tengah diuji dalam kasus ini. Bila Anda baru satu atau dua kali mengingatkan suami, tentu belum bisa digolongkan ke dalam mengajak orang lain berbuat baik.

Perlu dilakukan usaha dan kesabaran dalam mengajak orang lain kembali ke jalan yang lurus. Namun, saya juga mengerti bahwa dalam perjalanan itu tidak mudah. Bila memang suami Anda sudah keras kepala dan tidak mau berubah seraya terus mengulangi perbuatannya, barulah Anda boleh tidak peduli.

Tetapi perlu diingat, tidak peduli bukan berarti melalaikan kewajiban-kewajiban selaku pasangan. Jangan sampai, karena ketidakpedulian kepada suami malah menjerumuskan ke dalam dosa. Bagaimana pun, tetap saja dalam menjalani rumah tangga, hati kita harus dihadirkan.

Karena, bila kita menjalani aktivitas tanpa menghadirkan hati, bukannya merasa senang apalagi bahagia, yang ada hanya lelah. Karenanya, sebisa mungkin Anda harus bisa menghadirkan kembali hati dalam menjalani aktivitas berrumah tangga.

Teruslah berusaha mengingatkan suami ke jalan yang baik, jangan sampai ketidakpedulian Anda malah membawa rumah tangga ke ambang perpisahan. Suami semakin tidak terurus dan melakukan kesalahan-kesalahan lagi.

Jadi yang harus Anda selamatkan adalah keluarga dan anak-anak Anda. Jangan sekedar menuruti kemauan sendiri. Anda boleh marah, kecewa bahkan sakit hati, tetapi coba pikirkan kembali apakah itu menyelesaikan masalah atau tidak?.

Cobalah berdamai dengan diri sendiri, Anda memaafkan itu bukan berarti Anda lemah dan kalah. Tetapi sebaliknya Anda bisa dibilang hebat. Jadi sekali lagi selesaikan dengan baik dan jangan saling mendzalimi, bahkan acuh dan cuek pada suami. Sebab, bagaimana pun Anda masih istrinya dan dia masih suami Anda, maka berbuatlah yang terbaik. Tunjukkan akhlak yang baik, jangan balas keburukan dengan keburukan lagi.

Mudah-mudahan dengan kebaikan yang Anda berikan tersebut suami berubah menjadi lebih baik lagi. Tidak mengulangi kesalahan lagi dan rumah tangga serta anak-anak terselamatkan dari perpisahan orangtuanya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.  Wallahu a’lam bishshawab. [ ]

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 08112202496 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

5

Redaksi: admin

Editor: iman

907