Memahami Makna Dzikir Yang Menunjuk Pada Arti Al Quran

0
191
Keutamaan dan Mukzijat Al Quran. (Foto: Pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Kata “dzikir“ banyak tercantum dalam Al-Quran. Baik dengan menggunakan kata dasar atau merujuk pada kata tersebut dengan berbagai makna secara bahasa. Di antara makna tersebut adalah sebagai berikut:

  • menunjuk pada arti “menyebut”. ( Q.S. Al-Baqarah [2]: 114)
  • menunjuk pada arti “mengambil pelajaran” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 221)
  • menunjuk pada arti “peringatan” (Q.S. Al-An‘am [6]: 44 )
  • menunjuk pada arti “menceritakan” (Q.S. Maryam [19]: 56),

Dari sekian makna yang terdapat dalam ayat Al-Quran, beberapa makna dari kata “dzikir” tersebut perlu kiranya diuraikan lebih lanjut, yaitu:

Makna “dzikir” yang menunjuk pada arti Al-Quran. Hal ini seperti yang Allah firmankan pada beberapa ayat-ayat berikut,

iklan

(9). إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-dzikra, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr[15]: 9)

Kemudian dalam ayat yang lain Allah Swt berfirman

(44). وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ………..

“……………Dan Kami turunkan kepadamu adz-dzikra, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (Q.S. An-Nahl [16]: 44)

Dalam kedua ayat di atas, kata “adz-dzikra” bermakna Al-Quran. Imam Ibnu Qayyim berpendapat, “Dzikrullah itu ialah dengan Al-Quran yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya, dengannya akan tenang hati orang yang beriman, karena hati tidak akan tenang kecuali dengan iman dan yakin.

Dan tidak ada jalan untuk memperoleh keimanan dan keyakinan kecuali dengan Al-Quran”. Mengapa Al-Quran diberi nama atau sebutan adz-dzikir?

 

Ada korelasi makna antara Al-Quran dan dzikir dalam pengertian bahasa. Contohnya, kalau dzikir diartikan sebagai peringatan, begitu pula Al-Quran. Jika kita mengambil dzikir dalam pengertian bahasa sebagai “menceritakan”, maka begitu pula Al-Quran yang memiliki fungsi “menceritakan” kisah-kisah umat terdahulu yang dapat diambil ibrah (pelajaran). Demikian pula dengan makna-makna dzikir yang lain.

Selanjutnya, mari kita perhatikan firman Allah berikut ini.

(43). فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ……….

“……..Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (Q.S. An-Nahl [16]:43)

Yang dimaksud ahli dzikir dalam ayat di atas bukanlah orang yang senantiasa membaca kalimat-kalimat dzikir dengan (kadang-kadang) mengeraskannya, melafazkan pada tempat atau saat-saat tertentu, dan menghitungnya sampai bilangan tertentu. Ahli dzikir yang dimaksud dalam ayat di atas adalah yang menguasai Al-Quran dan As-Sunnah.

Banyak bukti terjadi pada zaman Nabi Saw. mengenai orang yang pada awalnya enggan beriman kepada Allah dan tidak mau melaksanakan perintah- Nya, dengan perantaraan Al-Quran, mereka akhirnya sadar, beriman, siap mengabdi, dan berbakti kepada-Nya. Misalnya Umar bin Khaththab.

Ketika mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad Saw. meninggal, Umar marah besar. Sambil menghunus pedang dia berseru, “Siapa yang mengatakan bahwa Rasul telah meninggal, maka akan aku penggal kepalanya.” Mendengar hal itu, Abu Bakar datang menghampiri Umar sambil membacakan ayat,

“Wa maa muhammdun illa rasuul …” yang artinya, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (Q.S. Ali Imran [3]: 144).

Saat itu pula Umar sadar lalu berkata, “Seolah-olah aku belum pernah mendengar ayat ini.”

Dalam kisah yang lain suatu hari, Ali Zainal Abidin, cucu Ali bin Abi Thalib, menyuruh pembantunya untuk mebawakan air wudhu. Tanpa disengaja, dia menumpahkan air ke kaki Ali serta melukainya. Ali pun marah dan hendak menghukumnya. Dengan tenang, pembantu Ali membacakan ayat tentang ciri orang yang bertakwa ialah wal kaazhimiina ghaizha.

 

Saat itu juga Ali Zainal Abidin sadar dan menjawab, “Ya, saya tahan amarah saya.” Lalu dibacakan lagi lanjutan ayat tersebut, “Wal ‘aafiin ‘aninnas.” Ali menjawab, “Ya, saya maafkan kamu.” Kemudian ia melanjutkan lagi, “Wallaahu yuhibbul muhsinin.” Lalu Ali Zainal Abidin berkata, “Pergilah kamu. Sekarang kamu menjadi manusia yang bebas.”

 

Dzikir dengan Al-Quran (membaca dan mentadabburinya) dapat digolongkan ke dalam dzikir yang sangat berkualitas. Bagaimana tidak, Al-Quran merupakan firman yang kalau dibaca akan menimbulkan perasaan bahagia, bahkan menimbulkan rasa cinta.

Terlebih, kalau seluruh isinya diaplikasikan dalam kehidupan. Bila ia dibaca dengan saksama atau bahkan diamalkan dengan segenap kemampuan, akan meningkatkan rasa mahabbah kepada Allah Swt.

Sumber: disarikan dari buku “ DOA ORANG-ORANG SUKSES “ karya Dr. Aam Amiruddin, M.Si

buku shalat wudhu

5

Red: admin

Editor: iman

908