Kisah Donny Alamsyah Menjelajah Sisi Kemanusiaan Bersama Explore

0
137
Donny Alamsyah saat mengantarkan bantuan sosial kemanusiaan pengungsi Uighur di Turki ( foto: explore humanity)

PERCIKANIMAN.ID – – Banyak cara orang menaruh simpati, peduli dan empati pada momen tragedi kemanusiaan, entah disebabkan bencana alam (natural accident) atau pun kelalaian manusia itu sendiri (human error). Sebagai manusia yang Allah karuniai sifat sosial pastinya ada sisi kemanusiaan yang mampu menggugah rasa tersebut.

Seperti yang dialami aktor laga Donny Alamsyah (41) tentang mengapa dirinya peduli akan isu-isu kemanusiaan yang terjadi diberbagai tempat. Kisah kecil Donny yang dekat dengan alam hingga sempat menjadi korban bencana alam, juga kisah tentang dirinya menjadi korban bullying yang menjadikan tumbuhnya rasa kepedulian pada rasa keadilan.

iklan

Sebagaimana diketahui Donny Alamsyah adalah salah satu bintang film laga dalam The Raid 1 dan 2. Lalu apa yang mendorong Donny untuk mendalami olah raga martial arts atau seni beladiri yang keras itu?

“Saat kecil aku kerap menjadi korban bullying karena berperawakanku kecil, berkulit putih dan bermata sipit. Tetapi entah kenapa teman-teman sesama korban bullying selalu meminta pertolongan padaku,” kenang aktor kelahiran 7 Desember 1978 ini.

Meski sang ayah adalah seorang guru silat, namun ayahnya tak pernah berniat menurunkan ilmunya kepada Donny, hingga saat ini Donny pun tak pernah tahu alasannya. Donny kecil terpaksa selalu memperhatikan gerakan-gerakan silat ketika ayahnya berlatih. Lambat laun ilmu beladiri pun dikuasainya untuk melawan bullying, dan hingga beranjak remaja Donny pun terus menjajal seluruh ilmu beladiri yang ada.

Bullying adalah pengalaman buruk bagi aku. Namun dibalik itu justru di titik inilah aku akhirnya sangat peduli pada isu keadilan, menentang segala penindasan,”imbuhnya.

Donny pun melanjutkan kisahnya yang sejak kecil tinggal di sebuah desa di Tasikmalaya Jawa Barat bersama kakek dan neneknya. Ternyata kisah inilah yang menjawab lahirnya sosok Donny yang begitu ramah dan luwes. Kedekatan dengan alam terus mendarah daging dalam dirinya, berkeliling Indonesia dan bertemu beragam orang. Sayangnya ada pengalaman buruk menimpa dirinya semasa hidup di desa, gunung Galunggung meletus pada tahun 1982 membumihanguskan desa.

Sebuah bencana nasional yang sangat membekas didalam diri Donny. Semua detail yang masih jelas dalam rekaman memori;melihat  kepanikan penduduk yang berhamburan, langit berwarna hitam sekilas seperti cahaya, bola besar seperti kilat berterbangan di angkasa beserta ledakan bertubi tubi, ledakan yang cukup keras lebih dari petir membuat telinga sakit ditambah turunnya hujan pasir yang terus menumpuk tanpa henti.

Suara tangisan, teriakan, takbir terus bersahutan dalam benak Donny kecil saat itu menumbuhkan rasa takut dan berpikir hari itu adalah akhir dari hidupnya. Memori bencana ditambah bullying memperkuat diri Donny seutuhnya dan itulah jawaban dari pertanyaan berikutnya, mengapa dirinya begitu dekat dengan isu dan tragedi kemanusiaan.

Menurutnya  perang dan bencana alam membuat manusia tersiksa, mengalami kesedihan yang panjang bahkan trauma. Empati Donny tumbuh walaupun lewat memori singkat masa kecil dan kondisi bencana yang hanya beberapa jam pun itu sudah cukup berat.

“Intinya mereka semua adalah manusia yang memiliki hak yang sama, semua manusia mengharapkan hidup senang, bahagia, hidup yang layak”, ujarnya.

Temannya yang lebih dulu aktif di sebuah lembaga kemanusiaan menjadi jalan bagi Donny. Kegiatan dermanya tak hanya di Indonesia namun ke negara lain, ini membuat Donny memiliki keinginan yang sama. Bagai gayung bersambut, akhir tahun 2019 dirinya diajak oleh sebuah lembaga kemanusiaan bernama Explore Humanity untuk mengadakan perjalanan kemanusiaan ke perbatasan Turki.

Perlu diketahui Explore sendiri adalah sebuah lembaga kemanusiaan yang digagas oleh anak-anak muda hijrah dan didirikan pada bulan Mei 2018 di kota Bandung. Mayoritas dari pegiat kemanusiaan yang tergabung dalam Explore sebelumnya berkecimpung di dunia musik, ada yang dulunya berprofesi sebagai manajer band dibeberapa band ternama, dan mayoritas anggota lainnya sebagai personel band.

Lembaga ini berkomitmen untuk memberikan bantuan nyata di wilayah-wilayah yang dilanda krisis kemanusiaan ataupun wilayah-wilayah yang terkena bencana alam, baik yang terjadi di dalam maupun luar negeri.

Luputnya perhatian publik terhadap krisis-krisis kemanusiaan yang terjadi di dunia luar menjadikan Explore tergerak untuk menjadi salah satu lembaga kemanusiaan yang bisa menjadi sarana informasi sekaligus menyalurkan bantuan di wilayah-wilayah yang terdampak krisis kemanusiaan.

Lembaga initidak kurang dari sepuluh kali sudah mendistribusikan bantuan kemanusiaan lewat untuk para korban bencana kemanusiaan yang mengungsi di perbatasan Turki.Tentunya ajakan mengunjungi kamp pengungsian di perbatasan Turki tersebut disambut baik oleh Donny.

“Saatnya membuktikan sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi di Suriah dan apa yang terjadi pada pengungsi Uighur di Turki”, sambungnya.

Awal kedatangan ke Turki dirinya menyempatkan bertemu dengan anak-anak hafidz Quran dari Uighur. Kesempatan ini diambil Donny untuk dapat mengenal para pengungsi Uighur.

Penderitaan para korban membuat banyak dari mereka memilih untuk berdiaspora ke negara lain, seperti di Turki ini.Dengan sangat terpaksa para pengungsi berjuang bertahan hidup di batas garis kemiskinan.Mereka sangat membutuhkan pekerjaan yang layak bagi penghidupan keluarga mereka dan pendidikan bagi anak-anak mereka.

Sejarah menceritakan betapa kuat dan hebatnya etnis ini dahulu.Dan sebagai tambahan informasi wilayah Turkistan Timur (Xinjiang hari ini) yang merupakan tanah kelahiran etnis Uighur memiliki sumber daya alam yang sangat kaya.

Tempat berikutnya adalah kota Reyhanli. Keadaan para pengungsi Suriah di area ini pun tak kalah malangnya.Banyak korban dari dewasa hingga anak-anak yang akhirnya menderita cacat sebagai dampak dari peperangan.

Seorang anak yang memperlihatkan Donny sebagian kecil dari tengkoraknya bolong dan dirinya mengatakan sedang menunggu batok kepala sintetis untuk menutupi kepalanya,seorang bapak yang sedang berlatih dengan semangat untuk terapi kakinya yang lumpuh, dan seorang anak yang akhirnya lumpuh akibat tembakan yang meremukkan tulang punggungnya.

Mereka adalah korban peperangan yang mengerikan yang tidak memiliki pilihan lain selain bertahan hidup dalam kondisi amukan perang yang memporakporandakan daerah asal tempat mereka tinggal. Menurut pengamatan Donny dan tim Explore Humanity tempat tinggal sementara mereka pun tampak mengenaskan; hanya beralaskan terpal.

Tak terbayang bagaimana mereka bisa bertahan hidup dalam kondisi cuaca ekstrim seperti hujan dan musim dingin. Masih minimnya pusat rehabilitasi kesehatan, pusat pelatihan dan pendidikan sepertinya masih sangat dibutuhkan di area ini.

Next pitstop adalah Killis. Sebuah area peradaban baru yang dibangun atas kedermawanan para filantropi dan beberapa lembaga kemanusiaan termasuk Explore Humanity. Killis adalah kota yang berbatasan langsung dengan Suriah, di kota ini banyak pengungsi Suriah yang berasal dari kota Aleppo. Disini terdapat tempat gudang logistik beberapa NGO (termasuk Explore Humanity) untuk menyimpan keperluan bantuan untuk warga Suriah.

Di sini juga terdapat fasilitas pendidikan yang dikhususkan untuk warga Suriah yang dikelola oleh beberapa NGO karena jumlah pengungsi yang masuk ke daerah ini cukup banyak, dari mulai sekolah, pabrik dan masih banyak lagi yang kesemuanya dirancang agar setelah para pengungsi pulih secara mental mereka bisa berswadaya.

Yang menarik adalah sekolah di area tersebut memiliki sejumlah mata pelajaran yang dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar. Walaupun demikian program besar ini masih jauh dari kata sempurna. Donny sendiri pun memaklumi terutama pada sektor papan atau hunian, mereka masih banyak yang tinggal di tenda-tenda, akan semakin sulit ketika musim dingin tiba.

Donny Alamsyah diantara para pengungsi Uighur di Turki ( foto: explore humanity)

“Memang masih membutuhkan banyak bantuan dari para dermawan”, tambahnya.

Sering kali terlihat raut wajahnya yang begitu sedih selama dirinya bercerita tentang perjalanan di Turki. Menurutnya sebagai seorang muslim harus selalu ingat perkataan Nabi Muhammad  Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa sesama muslim itu bersaudara.

“Maka saya menganggap bahwa saudara saya ada dimana-mana. Maka konteksnya bukan hanya di Indonesia saja tapi seluruh dunia”, sambungnya.

Harapan Donny atas pengalaman perjalanan menengok kamp-kamp pengungsian ini adalah bisa semakin bersyukur atas keamanan yang Allah anugerahkan untuk Indonesia dan mengajak sebanyak-banyak para dermawan untuk lebih peduli kepada kemanusiaan.

“Dunia itu luas, orang itu sangat beragam dari cara berpikir, gaya hidup hingga keyakinan. Intinya mereka semua adalah manusia yang mengharapkan hidup senang, bahagia dan hidup yang layak”, tutup Donny. [ ]

Sumber: Explore Humanity dengan sedikit penyuntingan

4

Red: admin

Editor: iman

897