Memahami Surat An Nas Dari Setiap Kalimatnya

0
212
Keutamaan dan Mukzijat Al Quran. (Foto: Pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Al Quran adalah salah satu mukzijat yang Allah turunkan kepada Rasul Muhammad Saw yang kemudian menjadi petunjuk bagi seluruh manusia yang mengimaninya.

Kandungan Al Quran baik perkata atau kalimat sungguh sangat dalam maknanya, maka hanya Allah Swt yang paling memahaminya. Namun kaum muslimin mempunyai hak untuk memahaminya melalui tafsir yang dilakukan para ulama.

Kali ini kita coba memahaminya dari Surat An-Nas yang dalam mushaf Al Quran menjadi surat yang terakhir penempatannya.

iklan

A n  –  N a s  ,   Surat ke 114 : 6 ayat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ {1} مَلِكِ النَّاسِ {2} إِلَهِ النَّاسِ {3} مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ {4} الَّذِي يُوَسْوِسُ فيِ صُدُورِ النَّاسِ {5} مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ {6}

A’uudzu ( أَعُوْذُ)

Berasal dari kata A’adza – yu’idzu yang artinya Aku mohon perlindungan  ( اَلْتَجِئُ) dan penjagaan (   (أَحْتَمِيAyat atau surat yang diawali dengan kalimat أَعُوْذ dikenal dengan surat/ayat isti’adzah, atau al mu’awwidzah sebagaimana surat Al Falaq dan An-Naas dinamakan surat Al Mu’awwidzatain المعوذتين  dua surat untuk berlindung/memohon perlindungan

Rabbun Naas  (رَبُّ النَّاسِ)

Rabb adalah Tuhan yang mengurus dan memperhatikan urusan manusia, Al Baidhowi menjelaskan bahwa  Isti’adzah –memohon perlindungan pada surat sebelumnya (Al Falaq)—adalah memohon perlindungan dari bahaya yang berupa fisik secara umum.

Sedangkan Isti’adzah pada surat An-Naas adalah mohon perlindungan dari bahaya yang menimpa jiwa atau hati manusia secara khusus, dengan demikian ayat ini juga maksudnya adalah,  “ Aku berlindung kepada Rabb manusia yang menggenggam semua urusan mereka dan yang satu-satunya berhak di ibadahi dari kejahatan yang berbisik-bisik pada manusia”.

Adapun penyebutan Allah secara khusus dalam ayat ini dengan Rabbun Naas (Tuhan Manusia), padahal Allah adalah Rabb seluruh makhluk. Ada beberapa alasan, diantaranya

  1. Karena manusia adalah makhluk yang dimuliakan dan diutamakan, maka dengan menyebutkan manusia itu sendiri adalah sebagai peringatan (tadzkirah) bahwa Allah adalah Rabb mereka sekalipun mereka makhluk termulia.
  2. Karena Allah memerintah agar berlindung dari kejahatan manusia. Hal ini mengingatkan manusia bahwa Allahlah yang akan dan mampu melindungi mereka.

Malikin Naas  (مَلِكِ النَّاِس)

Malik artinya raja dan bentuk jamaknya adalah Muluk (para Raja), dibaca Maa, menggunakan alif (panjang) atau Ma tanpa alif (pendek), jadi Malikin Naas maknanya Raja / penguasa semua manusia.

Ilaahin Naas (إله الناس)

Tuhan manusia, Ilaah adalah bentuk mashdar (abstrak) yang berasal dari kata Aliha-Ya’lahu-Ilaahanأَلِهَ – يَأْلَهُ – إِلَهًا    artinya  ‘Abida, (عَـبد) beribadah/menyembah (Kamus Al Muniir), kata Ilaah juga merupakan bentuk mashdar yang memiliki arti maf’uul (Ma’luuh) artinya ; Yang diibadahi/disembah.

Malikin Naas dan Ilaahin Naas adalah dua sifat Allah yang menunjukan bahwa  hanyaAllahlah yang berhak dimintai perlindungan dan yang mampu memberikannya.

Min (مِنْ)

Artinya dari, dalam tata bahasa Arab (nahwu) termasuk salah satu huruf Jarr yang berfungsi memajrurkan yakni meng-kasrah-kan (i) kalimat setelahnya, seperti, Min Syarri  مِنْ شَِر – من اللهِ.

Syarri ( شرِّ)

Syarrun adalah sesuatu yang bersifat jelek, buruk, keji, dan jahat kebalikan dari Khairun (kebaikan). Bentuk jamak dari syarrun adalah syurur sebagaimana sering kita dengar dalam mukadimah khutbah/hamdalah ونعوذ بالله من شرور أنفسنا    yang berarti, dan kami berlindung kepada Allah dari berbagai kejahatan diri kami.

Al Waswaas  ( الوَسْوَاس)

Maksudnya adalah setan yang membisikan kejahatan dan keburukan, diambil dari kata Al Waswasah   الوسوسة(mashdar) yakni kata-kata yang pelan/tersembunyi atau bisikan hati (Haditsun Nafs) sebagaimana diterangkan dalam Al Mukhtar. Dalam kitab Al Misbaah dijelaskan bahwa Al waswaas berarti dengan sesuatu kejahatan dan keburukan yang tersirat dalam hati.

Al Khonnaas (الخنَّاس)

Maksudnya adalah setan, berasal dari kata Khonasa   خَنَسَ – يَخْنُسُ  artinya tersembunyi  اِخْتَفَى  atau dibelakang تَأخَّر . Adapun setan dijuluki  Al Khonnaas karena ia selalu bersembunyi dan berada di belakang seorang hamba ketika berzikir/ingat kepada Allah, dan apabila hamba tersebut lalai –tidak ingat kepada Allah swt— ia kembali menghembuskan bisikan jahatnya. Hal itu merupakan tabiat dan kebiasaan setan, karenanya ia dijuluki Al Khonnaas dengan (Shigaat Mubalaghah) suatu bentuk yang melebihi kebiasaan. Sementara kalau kata Al Khonnus الخنُوس artinya kembali dan terbelakang الرُجُوعُ والتَأخُّر.

Minal Jinnati مِنَ الجِنَّةِ

Al Jinnah الجِنّة adalah bentuk jamak dari Jinniy جِنّي dan jin maknanya adalah  makhluk yang tersembunyi, yang tidak dapat diketahui/dilihat kecuali oleh Allah SWT. Ayat/kalimat ini sebagai penjelasan dari kalimat Al waswaas, bahwa yang berbisik-bisik itu di antaranya adalah golongan Jin.

Wan Naas  ( وَالنَاس)

Wa artinya dan, sedangkan An Naas adalah Manusia, artinya bahwa yang berbisik itu baik dari golongan jin atau manusia, sebagimana firman Allah ta’ala dalam surat  Al An’aam (6) ayat 112

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَافَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَايَفْتَرُونَ

Dan demikianlah kami jadikan untuk tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebagaian mereka membisikkan kepada sebagian lain kata-kata yang indah untuk menipu (manusia). Jikalau Allah menghendaki mereka tidak akan mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa-apa yang mereka ada-adakan.”

Al Hasan menerangkan bahwa ada dua jenis setan. Setan (berbentuk) jin adalah mereka yang berbisik-bisik dalam dada manusia, dan setan manusia adalah yang datang menganggu secara terbuka. Imam Abu Qotadah berkata,

Dari golongan jin itu terdapat setan, dan dari golongan manusia pun terdapat setan, maka berlindunglah kalian kepada Allah dari gangguan setan (golongan) manusia ataupun jin.”

Semoga kita terlindung dari godaan setan dan tidak tergolong pada setan yang berujud manusia. Aamiin. Wallahu ‘Alam Bishawwab. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

967