Pengaruh Al-Quran Terhadap Organ Tubuh, Rasakan Mukzijat Ini

0
61
Salah satu ciri orang yang mendapat hidayah Allah adalah ia mudah dan istiqomah dalam beramal shalih. ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Ada yang menarik perhatian yang begitu besar terhadap kekuatan membaca Al-Quran, dan yang terlansir di dalam Al-Quran, dan pengajaran Rasulullah. Sampai beberapa waktu yang belum lama ini, belum diketahui bagaimana mengetahui dampak Al-Quran tersebut kepada manusia. Apakah dampak ini berupa dampak biologis ataukah dampak kejiwaan, ataukah malah keduanya, biologis dan kejiwaan.

Maka, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kami memulai sebuah penelitian tentang Al-Quran dalam pengulangan-pengulangan “Akbar” di kota Panama wilayah Florida. Tujuan pertama penelitian ini adalah menemukan dampak yang terjadi pada organ tubuh manusia dan melakukan pengukuran jika memungkinkan. Penelitian ini menggunakan seperangkat peralatan elektronik ditambah komputer untuk mengukur gejala-gejala perubahan fisiologis pada responden selama mereka mendengarkan bacaan Al-Quran. Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap sejumlah kelompok manusia:

iklan

– Muslimin yang bisa berbahasa Arab.

– Muslimin yang tidak bisa berbahasa Arab.

– Non-Islam yang tidak bisa berbahasa Arab.

Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Quran dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.

Pada setiap kelompok ini diperoleh data adanya dampak yang bisa ditunjukkan tentang Al-Quran, yaitu 97% percobaan berhasil menemukan perubahan dampak tersebut. Dampak ini terlihat pada perubahan fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan pada saraf secara spontanitas. Penjelasan hasil penelitian ini aku presentasikan pada sebuah muktamar tahunan ke-17 di Universitas Kedokteran Islam di Amerika bagian utara yang diadakan di kota Sant Louis Wilayah Mizore, Agustus 1984.

Dan, benar-benar terlihat pada penelitian permulaan bahwa dampak Al-Quran yang kentara pada penurunan tekanan saraf mungkin bisa dikorelasikan kepada para pekerja. Pekerja pertama adalah suara beberapa ayat Al-Quran dalam bahasa Arab. Hal ini bila pendengarnya adalah orang yang bisa memahami Bahasa Arab atau tidak memahaminya, dan juga kepada siapa pun (random). Adapun pekerja kedua adalah makna sepenggal ayat Al-Quran yang sudah dibacakan sebelumnya, sampai walaupun penggalan singkat makna ayat tersebut tanpa sebelumnya mendengarkan bacaan Al-Quran dalam bahasa Arab.

Adapun Tahapan kedua adalah penelitian kami pada pengulangan kata “Akbar” untuk membandingkan apakah terdapat dampak Al-Quran terhadap perubahan-perubahan fisiologis akibat bacaan Al-Quran, dan bukan karena hal-hal lain selain Al-Quran, semisal suara atau lirik bacaan Al-Quran atau karena pengetahun responden bahwasanya yang diperdengarkan kepadanya adalah bagian dari kitab suci atau pun yang lainnya.

Tujuan penelitian komparasional ini adalah untuk membuktikan asumsi yang menyatakan bahwa kata-kata dalam Al-Quran itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis hanya bila didengar oleh orang yang memahami Al-Quran. Penelitian ini semakin menambah jelas dan rincinya hasil penelitian tersebut.

Peralatan

Peralatan yang digunakan adalah perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan saraf yang ditambah dengan komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Universitas Boston dan Perusahaan Dafikon di Boston.

Perangkat ini mengevaluasi respons-respons perbuatan yang menunjukkan adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal, (1) Perubahan gerak napas secara langsung melalui komputer, dan (2) Pengawasan melalui alat evaluasi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh. Perangkat ini sangat lengkap dan menambah semakin menguatkan hasil validitas hasil evaluasi.

Subsekuen :

-Program komputer yang mengandung pengaturan pernafasan dan monitoring perubahan fisiologis dan printer.

-Komputer Apple 2, yaitu dengan dua floppy disk, layar monitor, dan printer.

-Perangkat monitoring elektronik yang terdiri atas empat chanel, dua chanel untuk mengevaluasi elektrisitas listrik dalam otot yang diterjemahkan ke dalam respons-respons gerak saraf otot; satu chanel untuk memonitor arus balik listrik ke kulit; dan satu chanel untuk memonitor besarnya peredaran darah dalam kulit dan banyaknya detak jantung dan suhu badan.

Berdasarkan elektrisitas listrik dalam otot-otot, maka ia semakin bertambah yang menyebabkan bertambahnya cengkeraman otot. Untuk memonitor perubahan-perubahan ini, digunakan kabel listrik yang dipasang di salah satu ujung jari tangan. Adapun monitoring volume darah yang mengalir pada kulit sekaligus memonitor suhu badan, maka hal itu ditunjukkan dengan melebar atau mengecilnya pori-pori kulit. Untuk hal ini, menggunakan kabel listrik yang menyambung di sekitar salah satu jari tangan. Dan, tanda perubahan-perubahan volume darah yang mengalir pada kulit terlihat jelas pada layar monitor yang menunjukkan adanya penambahan cepat pada jantung. Bersamaan dengan pertambahan ketegangan, pori-pori mengecil, maka mengecil pulalah darah yag mengalir pada kulit, dan suhu badan, dan detak jantung.

Metode dan Keadaan yang digunakan

Percobaan dilakukan selama 210 kali kepada lima responden: tiga laki-laki dan dua perempuan yang berusia antara 40 tahun dan 17 tahun, dan usia pertengahan 22 tahun.

Setiap responden tersebut adalah non-muslim dan tidak memahami bahasa Arab. Dan, percobaan ini sudah dilakukan selama 42 kesempatan, dimana setiap kesempatannya selama 5 kali, sehingga jumlah keseluruhannya 210 percobaan. Dibacakan kepada responden kalimat Al-Quran dalam bahasa Arab selama 85 kali. Dan, 85 kali juga berupa kalimat berbahasa Arab bukan Al-Quran. Sungguh adanya kejutan (shock) pada bacaan-bacaan ini.

Bacaan berbahasa Arab (bukan Al-Quran) disejajarkan dengan bacaan Al-Quran dalam lirik membacanya, melafadzkannya di depan telingga, dan responden tidak mendengar satu ayat Al-Quran selama 40 uji coba. Selama diam tersebut, responden ditempatkan dengan posisi duduk santai dan terpejam. Posisi seperti ini pulalah yang diterapkan terhadap 170 uji coba bacaan berbahasa Arab bukan Al-Quran.

Ujicoba menggunakan bacaan berbahasa Arab bukan Al-Quran seperti obat yang tidak manjur dalam bentuk mirip Al-Quran. Padahal, mereka tidak bisa membedakan mana yang bacaan Al-Quran dan mana yang bacaan berbahasa Arab bukan Al-Quran. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah bacaan Al-Quran bisa berdampak fisiologis kepada orang yang tidak bisa memahami maknanya. Apabila dampak ini ada (terlihat), maka berarti benar terbukti dan dampak tidak ada pada bacaan berbahasa Arab yang dibaca murottal (seperti bacaan Imam Shalat) pada telinga responden.

Adapun percobaan yang belum diperdengarkan satu ayat Al-Quran kepada responden, maka tujuannya adalah untuk mengetahui dampak fisiologis sebagai akibat dari letak atau posisi tubuh yang rileks (dengan duduk santai dan mata terpejam).

Dan, sungguh telah terlihat dengan sangat jelas sejak percobaan pertama bahwasanya posisi duduk dan diam serta tidak mendegarkan satu ayat pun, maka dia tidak mengalami perubahan ketegangan apa pun. Oleh karena itu, percobaan diringkas pada tahapan terakhir pada penelitian perbandingan terhadap pengaruh bacaan Al-Quran dan bacaan bahasa Arab yang dibaca murottal seperti Al-Quran terhadap tubuh.

Metode pengujiannya adalah dengan melakukan selang-seling bacaan: dibacakan satu bacaan Al-Quran, kemudian bacaan bahasa Arab, kemudian Al-Quran, dan seterusnya, atau sebaliknya secara terus menerus. Para responden tahu bahwa bacaan yang didengarnya adalah dua macam: Al-Quran dan bukan Al-Quran. Akan tetapi, mereka tidak mampu membedakan antara keduanya, mana yang Al-Quran dan mana yang bukan. Adapun metode monitoring pada setiap percobaan penelitian ini, maka hanya mencukupkan dengan satu chanel, yaitu chanel monitoring elektrisitas listrik pada otot-otot, yaitu dengan perangkat Midax sebagaimana kami sebutkan di atas. Alat ini membantu menyampaikan listrik yang ada di dahi.

Pada satu ayat percobaan, dan satu kelompok percobaan perbandingan, mengandung makna adanya hasil yang positif untuk satu jenis cara yang paling kecil sampai sekecil-kecilnya energi listrik bagi otot. Sebab, hal ini merupakan indikator bagusnya kadar fluktuasi ketegangan saraf, dibandingkan dengan berbagai jenis cara yang digunakan responden tersebut ketika duduk.

Hasil Penelitian

Ada hasil positif 65% percobaan bacaan Al-Qur’an. Dan hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada otot lebih banyak turun pada percobaan ini. Hal ini ditunjukkan dengan dampak ketegangan syaraf yang terbaca pada monitor, dimana ada dampak hanya 33% pada responden yang diberi bacaan selain Al-Qur’an. Pada sejumlah responden, mungkin akan terjadi hasil yang terulang sama, seperti hasil pengujian terhadap mendengar bacaan Al-Qur’an. Oleh karena itu, dilakukan ujicoba dengan diacak dalam memperdengarkannya (antara Al-Qur’an dan bacaan Arab) sehingga diperoleh data atau kesimpulan yang valid.

 

Pembahasan Hasil Penelitian dan Kesimpulan

Sungguh sudah terlihat jelas hasil-hasil awal penelitian tentang dampak Al-Qur’an pada penelitian terdahulu bahwasannya Al-Qur’an memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap syaraf. Dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini sebagai satu hal yang terpisah, sebagaimana pengaruh inipun terlihat pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. Dan perubah-perubahan yang terjadi pada kulit karena energi listrik, dan perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, voleme darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan.

 

Semua perubahan ini menunjukan bahwasannya ada perubahan pada organ-organ syaraf otak secara langsung dan sekaligus mempengaruhi organ tubuh lainnya. Jadi, ditemukan sejumlah kemungkinan yang tak berujung (tidak diketahui sebab dan musababnya) terhadap perubahan fisiologis yang mungkin disebabkan oleh bacaan Al-Qur’an yang didengarkannya.

 

Oleh karena itu sudah diketahui oleh umum bahwasannya ketegangan-ketegangan saraf akan berpengaruh kepada disfungsi organ tubuh yang dimungkinkan terjadi karena produksi zat kortisol atau zat lainnya ketika merespon gerakan antara saraf otak dan otot. Oleh karena itu pada keadaan ini pengaruh Al-Qur’an terhadap ketegangan saraf akan menyebabkan seluruh badannya akan segar kembali, dimana dengan bagusnya stamina tubuh ini akan menghalau berbagai penyakit atau mengobatinya. Dan hal ini sesuai dengan keadaan penyakit tumor otak atau kanker otak.

 

Juga, hasil uji coba penelitian ini menunjukan bahwa kalimat-kalimat Al-Qur’an itu sendiri memeliki pengaruh fisiologis terhadap ketegangan organ tubuh secara langsung, apalagi apabila disertai dengan mengetahui maknanya. Dan perlu untuk disebutkan disini bahwasannya hasil-hasil penelitian yang disebutkan diatas adalah masih terbatas dan dengan responden yang juga terbatas. (Dievalusi dengan menggunakan perangkat elektronik oleh Dr. Ahmad Al-Qadhiy – USA) [ ]

Sumber: alsofwah.or.id

5

Red: admin

Editor: iman

906