Menyalahgunakan Jabatan dan Wewenang, Dosa Besar Yang Kadang Tak Disadari

0
101
Penyalahgunaan kekuasaan adalah salah satu dosa yang kadang tidak disadari. ( ilustrasi foto: detik)

Menyalahgunakan Jabatan

PERCIKANIMAN.ID – – Jika korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah perbuatan yang jelas-jelas diharamkan, menyalahgunakan jabatan kerap masih dianggap berada dalam area abu-abu. Oleh karenanya, banyak kita temui orangorang yang menggunakan jabatannya untuk keperluan pribadi.

iklan

Tanpa merasa berdosa, mereka akan berkata, “Toh, ini tidak merugikan keuangan perusahaan seperti kalau melakukan korupsi atau semacamnya.”

Ya, bentuk penyalahgunaan jabatan kadang hanya berupa “menumpang” nama besar perusahaan untuk mendapat kemudahan atau fasilitas yang sebenarnya tidak berhubungan dengan profesionalisme kerja. Tidak salah jika kemudian penyalahgunaan jabatan ini dikategorikan sebagai dosa tidak terasa.

Jabatan adalah amanah sehingga menyalahgunakan jabatan pada dasarnya sama dengan mengkhianatiamanah. Jika ditinjau dari segi bahasa, al-amanah adalah isim masdar dari kata amuna, ya’munu, amanatan yang berarti jujur atau bisa dipercaya.

Kata ini khusus digunakan dengan hal yang berkaitan dengan agama. Ini dapat kita lihat dari ayat berikut.

(8:27). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai, orang-orang beriman! Jangan kamu khianati Allah dan Rasul dan jangan kamu khianati amanat yang dipercayakan kepadamu, padahal kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Anfāl [8]: 27)

Secara tidak langsung, ayat tersebut mengindikasikan bahwa manusia hanya bisa disebut beriman ketika mampu menjaga amanah. Sedangkan, manusia yang menyalahgunakan amanah akan mendapatkan gelar munafik.

Hidup adalah perjalanan menunaikan amanah. Sekecil apa pun amanah, jika ditunaikan akan berbuah kebaikan. Sebaliknya, secetek apa pun (amanah), jika tidak ditunaikan, akan berbuah keburukan.

Pentingnya menjaga amanah, bisa kita ambil hikmahnya dari kekalahan umat Islam ketika Perang Uhud. Kekalahan ini tidak lain akibat kelalaian dalam mengemban amanah. Pada saat itu, Rasulullah Saw. mengamanahi pasukan pemanah untuk tetap bertahan di Bukit Uhud.

Akan tetapi, mereka menganggap kemenangan sudah berada di pihak kaum muslim, kemudian turun dari bukit karena tergiur oleh ghanimah (harta rampasan perang). Tidak disangka, ternyata semua itu hanyalah jebakan musuh. Akibatnya, pasukan kafir berhasil memukul mundur tentara muslim.

Dalam konteks perilaku kehidupan sehari-hari, amanah bisa diartikan sebagai tumbuhnya sebuah kesadaran dalam menjaga apa pun, baik yang nyata (kebendaan) ataupun yang bersifat maknawi. Hal itu sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw., yaitu

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu.” (HR.Muslim)

Paling tidak, ada tiga makna yang bisa kita ambil dalam hadits tersebut. Pertama, amanah dalam menunaikan hak-hak Allah. Menunaikan hak-hak Allah harus kita lakukan dengan cara bertauhid kepada-Nya.

Bertauhid maksudnya adalah melaksanakan ibadah semata-mata karena mencari keridhoan Allah dan tidak mengharapkan imbalan dari makhluk lain. Hal ini merupakan tugas manusia yang sangat berat.

Kedua, amanah terhadap nikmat Allah.  Segala hal di dunia ini merupakan nikmat dari Allah Swt. yang wajib kita syukuri.

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mensyukuri nikmat Allah Swt., yakni sebagai berikut.

  1. Mensyukuri dengan hati; termasuk di dalamnya mengakui, mengimani, dan meyakini bahwa semua kenikmatan yang didapat semata-mata karena Allah Swt.
  2. Mensyukuri dengan lisan. Di antaranya memperbanyak ucapan “Alhamdulillaah” dan “Subhanallaah”.
  3. Mensyukuri dengan perbuatan. Caranya dengan mempergunakan segala bentuk kenikmatan Allah untuk menunaikan perintah-perintah-Nya, baik itu perbuatan wajib maupun sunah. Selain itu, hindari dengan sekuat tenaga semua hal yang telah dilarang atau diharamkan oleh Allah Swt.

Ketiga, amanah dalam menunaikan hak sesama manusia. Misalnya, menjaga titipan harta, rahasia, aib, dan kehormatan yang dipercayakan kepada kita. Al-Quran telah menyebutkan tentang keutamaan sifat amanah dalam banyak ayat.

Hal itu dimaksudkan agar kita mau memelihara dan menjaganya, termasuk di dalamnya jabatan yang diamanahkan ke pundak kita.

Sebab, etiap amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan manusia tidak bisa lari dari pertanggungjawaban tersebut. [ ]

*Sumber: disarikan dari buku “ KETIKA DOSA TAK DIRASA ” karya Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si

5

Red: admin

Editor: iman

907