Janji Calon Peminpin, Ringan Saat Kampanye Namun Berat Saat Berkuasa

0
41
Mudah berjanji saat kampanye, sulit menepati saat berkuasa. ( Ilustrasi foto: lampung post )

 

Oleh: Ali .K Bakti*

PERCIKANIMAN.ID – – Berbicara mengenai janji-janji palsu bukanlah sesuatu yang asing di telinga kita, terutama pada saat menjelang pemilu. Calon presiden, gubernur, anggota dewan, dan lain-lain  biasa menebar janji guna meraih simpati. Janji seakan menjadi satu-satunya cara efektif untuk memengaruhi masyarakat yang ditemui.

iklan

Mereka memberikan sebuah harapan lewat janji-janjinya untuk pengikat hati rakyat. Lewat harapan, pemimpin meyakinkan rakyatnya akan kondisi yang lebih baik apabila terpilih.

Inilah yang kemudian menumbuhkan kepercayaan dalam diri masyarakat untuk mau memilihnya dan patuh pada setiap kebijakan yang dibuat demi mewujudkan harapan yang telah disampaikan sebelumnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap manusia, termasuk seorang pemimpin besar sekalipun, adalah tempatnya salah. Dapat kita ketahui bahwa tidak semua janji dan harapan yang diucapkan bisa terlaksana 100 persen.

Dalam kondisi serba sulit dan psikologi masyarakat yang sudah sedemikian pasrahnya, rakyat akan cenderung lebih mudah dibohongi. Tidak sedikit para calon pemimpin yang memanfaatkan situasi seperti itu untuk mendulang suara lewat janji-janji palsu lengkap dengan selembar uang dua puluh ribuan.

Akhirnya, ketika rakyat merasa tertipu oleh harapan palsu, mereka menjadi marah dan merasa antipati terhadap pemimpin yang telah dipilihnya.

Untuk menghindari dari hal tersebut, setiap  calon  pemimpin harus benar-benar mempertimbangkan tindakan dan ucapannya. Seorang calon pemimpin juga dituntut untuk selalu waspada atas yang akan diucapkan.

Dia harus memegang teguh falsafah bahwa kita harus memikirkan semua yang diucapkan dan tidak memberikan janji-janji muluk kepada masyarakat. Karena jika tidak terealisasi, kepercayaan itu pun dengan sendirinya akan menghilang. Untuk itulah seorang  calon pemimpin dituntut untuk pandai-pandai dalam mengelola janji.

Dengan semakin ketatnya persaingan pada saat kampanye, para calon pemimpin dapat tergoda untuk meningkatkan janji dan harapan mereka sekalipun dia sendiri yakin hal itu dapat dicapai.

Pemimpin yang bertanggung jawab menyadari setiap yang dijanjikannya. Jangan sampai, tindakan dari pesaing memancing calon seorang  pemimpin untuk ikut-ikutan membuat janji-janji palsu.

Untuk itu, seorang pemimpin pada saat kampanye harus membuat janji maksimum yang dapat dia capai. Dia harus membuat batas yang tegas agar tidak ikut-ikutan membuat janji palsu. Buat janji-janji tersebut menarik dan mudah dipahami bagi masyarakat, sekalipun masih kalah manis dengan para pesaing.

Lagi pula, rakyat sudah sedemikian pintar untuk dapat membedakan mana yang manisnya asli dan mana yang pemanis buatan. Kalaupun nantinya kalah, biarlah kalah secara terhormat karena telah berupaya menjadi calon pemimpin yang bertanggung jawab. Kalau sebelum menjadi pemimpin sudah berbohong, maka akan lebih mudah lagi berbohong untuk rakyat di kemudian hari setelah menjabat.

Ingat, dalam Islam, janji merupakan bagian dari identitas keimanan. Bahkan, untuk mengetahui kualitas keimanan seseorang dapat diukur dari ketepatannya dalam memenuhi janji. Kalau ada seseorang yang suka mempermainkan janji, tidak menepati janji, serta suka menunda-nuda pemenuhan janji, kita boleh mempertanyakan mutu keimanannya.

Dalam surat Al-Mukminun disebutkan indikator utama mukmin yang akan mendapatkan kebahagiaan adalah mereka yang suka memenuhi amanah dan janji-janjinya.

 

Sesungguhnya, beruntunglah orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (Q.S. Al-Mukminun [23]: 1 & 8)

Sebaliknya, orang yang selalu mengingkari janjinya dapat dikategorikan sebagai munafik. Ciri-ciri orang munafik ada tiga macam, sebagaimana disampaikan Rasulullah Saw. yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.

 

“Jika berbicara selalu berdusta, jika berjanji selalu ingkar, dan jika dipercaya selalu berkhianat.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, janji adalah utang (al-wa’du dai nun). Orang yang dibebani utang akan merasa hilang kebebasannya. Dia akan selalu dibelenggu oleh sebuah tuntutan untuk melunasi utang tersebut. Rasulullah Saw. mengingatkan,

Hati-hati dengan utang, sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) di siang hari.” (H.R. Ahmad)

Apabila kita senang mengumbar alasan saat tidak menepati janji, bisa jadi termasuk dalam golongan orang kafir. Sebagai mana firman-Nya,

 

“Hai orang-orang kafir.janganlah kamu mengemukakan alasan (uzur) pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan”. (QS. At-Tahrim [66]: 7)

Faktanya, para pemimpin kita sering kali belum menganggap penting untuk menepati janji. Jauh-jauh hari sebelum kampanye pemilihan pemimpin, baik presiden, gubernur, anggota dewan, dan lain-lain, mereka selalu menampilkan ‘pencitraan’ yang baik.

Janji-janji, atau kerap dikatakan tekad, diumbarnya. Ternyata setelah menjadi pemimpin, malah tidak menepati janji, bahkan hilang dari peredaran. Bukankah ini sebuah musibah?

Sedemikian pentingnya janji ini, maka memenuhinya termasuk pokok-pokok kebajikan. Kalau ada seseorang yang tidak memenuhi janjinya, berarti dia tidak mempunyai birran (kebajikan).

Dengan senantiasa menepati janji dan tepat waktu, ini berarti kita juga telah mendakwahkan Islam. Karena pada dasarnya, setiap diri kita adalah ‘duta-duta’ yang membawa nama baik Islam.

Kalau ada seorang aktivis Islam yang biasa terlambat, dia telah tampil menjadi orang yang tidak simpatik dan pada gilirannya akan mengganggu jalannya dakwah yang dilakukan. Demikian juga ketika seorang calon pemimpin atau pemimpin tak menepati janjinya, masyarakat jadi kurang simpati kepadanya.

Kekurangseriusan menepati waktu juga bisa dilihat dari adanya budaya afwan atau hapunten (maaf). Ini budaya yang tidak benar. Sekali-sekali kita memang bisa memaafkan kalau ada seorang saudara kita yang tak menepati janji, tetapi jangan sampai hal tersebut menjadi kebiasaan.

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim yang ingin menjadikan Islam sebagai landasan hidup, tidak sepantasnya kita suka mengingkari janji yang dibuat. Seorang pemimpin akan dilihat kiprahnya dari pemenuhan janji-janji yang telah diucapkannya.

Jadi, marilah membuat janji yang yakin bisa kita tepati. Terlebih di bulan suci saat alam kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Sungguh, menjadi seorang pemimpin adalah pekerjaan mulia yang akan membuhkan pahala yang tidak kalah besar manakala kita amanah. Namun, jabatan juga dapat menjadi ujian yang tidak sedikit membuat orang tergelincir karena kurang nya iman dan ketakwaan [ ]

*penulis pegiat media dan dakwah

4

Red: admin

Editor: iman

906