Buka Pakai Jilbab Karena Belum Siap, Begini Seharusnya

0
196
Berjilbab jangan nunggu jadi shalehah dulu ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Assalamu’alaykum. Pak Ustadz mohon pencerahannya. Menurut Ustadz, lebih baik yang mana; memakai jilbab tapi setengah-setengah (pakaian ketat dan masih suka clubbing/dugem) atau tidak memakai jilbab tetapi berkelakuan baik. Secara pribadi, saya lebih memilih tidak memakai jilbab kalau belum dapat hidayah atau benar-benar yakin bisa menjaga citra wanita berjilbab. Teman saya bahkan ada yang suka membuka jilbab kalau imannya sedang  tidak stabil. Mohon pendapat dan nasihat Ustadz. Terima kasih. ( H via fb ) 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Saya setuju dengan Anda bahwa busana muslimah dalam hal ini jilbab merupakan salah satu identitas takwa atau ketaatan.

iklan

Baju atau busana yang menutup aurat harus menggambarkan kesolehan, ketaatan dan keimanan seorang muslimah. Berbusana yang menutup aurat atau berjilbab jangan sampai hanya sekedar ikut trend gaya semata . Berjilbab bagi seorang muslimah adalah sebuah kewajiban dan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana diperintahkan Allah melalui ayat berikut.

(59).يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 59)

Kemudian citra wanita berjilbab atau muslimah yang taat hendaknya jangan sampai menjadi buruk atau rusak hanya karena kelakukan segelintir orang yang tidak bertanggung jawab. Buka tutup jilbab, berjilbab tapi berkelakuan buruk dan sebagai. Itu pribadinya bukan citra muslimah secara keseluruhan.

Tentu saja dan seharuasnya atau idealnya, seorang wanita yang berbusana muslimah atau menutup aurat secara syari itu kelakuannya, perbuatannya, omongannya, dan perilakunya serta akhlaknya adalah mencerminkan orang yang bertakwa. Ini idealnya atau tuntutannya.

Menurut pendapat saya, sikap Anda sudah bagus karena tidak mau merusak citra Islam atau citra muslimah. Saya menghargai ikhtiar Anda untuk menjaga citra muslimah yang berjilbab. Namun saya perlu ingatkan, bagaimana jika kematian terlebih dahulu menjemput sebelum Anda benar-benar melaksanakan niat berjilbab? Tentu Anda akan menyesalinya, bukan?

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (H.R. Bukhari)

Oleh sebab itu, alangkah lebih baiknya kalau akselerasi niat berjilbab tersebut dipercepat dan tidak harus menunggu dapat hidayah dulu. Anda memilih Islam sebagai agama atau keyakinan itu sebuah hidayah dari Allah yang harus Anda jaga dan pertahankan hingga akhir hayat.

Dalam Islam bahwa wanita yang sudah baligh harus menutup aurat atau jilbab, ini adalah konsekuensi dari sebuah ajaran yang Anda peluk dan yakini kebenarannya. Jadi bukan menunggu hidayah lagi tetapi yakin dan kalahkan ego Anda yang menunggu baik atau sholehah dulu baru berjilbab.

Dalam sebuah hadits yang sering kita dengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu anhuma ketika beliau datang ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan busana yang agak tipis. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memalingkan mukanya sambil berkata :

يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا

Wahai Asma ! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).” (HR. Abu Dâwud  dan Baihaqi)

Itu batasan aurat yang haru ditutup bagi seorang muslimah yang sudah baligh. Sangat jelas. Jadi hemat saya, hendaknya kaum wanita atau khususnya Anda tidak harus menunggu menjadi shalehah terlebih dahulu untuk memakai jilbab, tetapi sebaliknya, memakai jilbab supaya menjadi wanita yang shalehah.

Ya, kalau boleh saya beri saran, sebaiknya paradigma berpikir Anda diubah. Katakan pada diri sendiri, “Saya akan berjilbab supaya jilbab itu membimbing dan mendorong saya menjadi lebih shalehah dan saya harus mampu menjaga citra wanita berjilbab.”

Dengan kerangka fikir seperti ini, kita berharap agar ajaran-ajaran Islam khususnya berjilbab bagi wanita semakin membawa pada perubahan hidup dan perilaku yang lebih baik.Adapun mengenai perilaku teman Anda yang melepas jilbab dengan alasan kondisi keimanannya sedang tidak stabil, menurut hemat saya ini adalah perilaku dan cara berfikir yang  kurang tepat.

Justru perilaku ini akan semakin menurunkan kadar keimanan orang yang bersangkutan. Kalau kondisi keimanan menurun, hal tersebut justru harus dilawan dengan semakin meningkatkan keshalehan.

Seperti orang yang sedang sakit tapi malas makan, kalau ingin cepat sembuh maka ia harus harus memaksakan diri untuk makan sehingga daya tahan tubuhnya meningkat dan bukan malah meninggalkan makan yang justru akan semakin menurunkan daya tahan tubuhnya.

Jadi, bagi Anda yang sedang mencoba untuk istiqomah berjilbab, kalau merasa iman sedang menurun justru harus semakin rajin memakainya sehingga diharapkan kondisi keimanan menjadi semakin pulih dan sehat kembali. Kalau Anda menyengaja melepas jilbab dengan alasan iman sedang turun, perilaku ini justru akan membuat iman semakin rapuh.

Tidak kalah pentingnya juga coba Anda ubah pola pergaulan dengan teman-teman Anda. Usahakan bergaul atau kumpul dengan sesama muslimah yang berjilbab maka insya Allah anda akan terbawa suasana dan saling mengungatkan.

Jangan sebaliknya Anda berjilbab, tapi Anda bergaul atau kumpul dengan teman yang tidak atau belum berjilbab, sementara Anda masih labil. Maka Anda akan merasa asing bahkan tidak nyaman. Kecuali jika keimanan dan tekad Anda sudah kuat, tidak mudah tergoda, ya silakan bergaul dengan teman yang belum berjilbab, siapa tahu mereka justru mengikuti Anda yang berjilbab. Demikian penjelasannya semoga bermanfaaat. Wallahu ‘alam bishshawab. [ ]

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 08112202496 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

5

Red: admin

Editor: iman

907