Miqat Haji Di Masa Depan

0
35

 

Oleh: Ir.H.Bambang Pranggono MBA*

 

iklan

PERCIKANIMAN.ID – – Miqat adalah tempat untuk mulai melakukan ritual ibadah haji dan umrah. Rasulullah Saw. telah menetapkan empat lokasi dalam hadits tersebut di atas. Selama berabad-abad, ahli fiqih berbeda pendapat tentang miqat ini. Dalam haditsnya Rasulullah Saw bersabda,

 

أَنَّ النَّبِىَّ وَقَّتَ لأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ ، وَلأَهْلِ الشَّأْمِ الْجُحْفَةَ ، وَلأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ ، وَلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ

 

“Sesungguhnya Nabi Saw. menetapkan miqat bagi penduduk Madinah: Dzulhulaifah, dan bagi penduduk Syam: Al-Juhfah, dan bagi penduduk Nejd: Qornul-Manazil, dan bagi penduduk Yaman: Yalamlam.” (H.R. Bukhari)

Ibnu Hajar Al-Haithami  dalam Syarah Al-Idah fii Manasikul Hajji karya Imam Nawawi menalar  bahwa Jedah terletak dalam jarak dua marhalah dari Mekah sehingga boleh dijadikan miqat. Namun demikian, Syekh Abdullah bin Baz dengan tegas menolak Jedah sebagai miqat  dan menganggapnya (miqat di Jedah, red) sebagai pelanggaran sehingga harus membayar dam.

Majelis Ulama Indonesia malahan membolehkan berihram dari airport Jedah. Ulama lain mengajarkan untuk berihram di atas pesawat udara ketika melewati garis imajiner miqat terdekat.

KH.Maman Suherman dari Unisba berteori bahwa lokasi-lokasi miqat yang ditetapkan oleh Rasulullah Saw. mempunyai kesamaan, yakni adanya sumber air untuk bersuci. Maka, selain ukuran jarak yang setara dengan miqat asli, adanya fasilitas air menjadi dasar ijtihad penetapan lokasi miqat baru sehingga airport pun menjadi logis sebagai miqat.

Khilafiyah tentang miqat ini sudah berlangsung selama puluhan tahun. Sebetulnya, solusi mengenai hal ini tidaklah terlalu sulit. Dengan kekayaan alam yang dikaruniakan Allah, pemerintah Saudi Arabia harusnya bisa membangun lapangan terbang khusus  dengan terminal haji di empat lokasi sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas (Dzulhulaifah, Juhfah, Qornul Manazil, dan Yalamlam)..

Kalau perlu, ditambah satu tempat lagi (sesuai hadits lain) dengan pembuatan bandara di Dzatu Irq untuk jamaah haji dari arah Iraq. Maka kelak, jamaah haji dari segenap penjuru bumi bisa berihram dengan tidak ragu-ragu lagi.

Di masa depan, ketika manusia sudah menempati koloni-koloni di ruang angkasa luar, tentunya umat Islam juga akan tersebar di sana. Maka, jamaah haji dari angkasa luar akan datang dari atas kota Mekah sehingga tidak lagi melewati Dzul-Hulaifah, Juhfah, Qornul Manazil, Yalamlam, aau Dzatu Irq.

Karenanya perlu dibuat sebuah stasiun ruang angkasa untuk miqat pada ketinggian dua marhalah di atas Mekah. Di situ jamaah haji dari angkasa akan mulai berihram. Di masa depan, dengan teknologi transportasi juga tidak kalah canggih, manusia sudah mampu membuat terowongan tembus bumi dari benua Amerika ke Jazirah Arab dengan kendaraan yang memanfaatkan energi gravitasi.

Maka, jamaah haji Amerika akan datang dari bawah tanah. Untuk mereka, perlu dibuat stasiun miqat berjarak dua marhalah di bawah kota Mekah sebagai tempat mulai berihram. Maka, di masa depan paling sedikit akan diperlukan  tujuh miqat untuk haji dan umrah. Wallahu a’lam.

*penulis adalah pendidik, pegiat dakwah dan penulis buku

4

Red: admin

Editor: iman

907