Cara Menghadapi Ujian Dari Allah Swt, Begini Panduannya Menurut Al Quran

0
244
Hidup ini tak selamanya menyenangkan, kadang ada saatnya kesedihan ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Pepatah mengatakan bahwa life is never plat atau hidup ini sesungguhnya tidak datar atau lurus-lurus saja. Artinya hidup selalu ada ujian dan cobaannya. Kadang senang , kadang susah, kadang lapang namun kadang sempit dan sebagainya. Maka kita dituntut untuk siap menghadapinya.

Rasulullah saw. bersabda:

(( بَادِرُوا بِالأعْمَال فتناً كقطَعِ اللَّيْلِ المُظْلِمِ ، يُصْبحُ الرَّجُلُ مُؤْمِناً وَيُمْسِي كَافِراً ، وَيُمْسِي مُؤمِناً ويُصبحُ كَافِراً ، يَبيعُ دِينَهُ بعَرَضٍ مِنَ الدُّنيا )) رواه مسلم .

iklan

Bersegeralah beramal sebelum datang ujian-ujian datang bagaikan gulita malam. Seseorang di pagi hari beriman dan di sore hari menjadi kafir serta di sore hari beriman dan di pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan secuil dunia.” (Muslim)

(( إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرةٌ ، وإنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرَ كَيفَ تَعْمَلُونَ ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاء ؛ فإنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إسرائيلَ كَانَتْ في النِّسَاءِ )) رواه مسلم .

Sesungguhnya dunia ini manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya. Maka hendaknya dia memperhatikan bagaimana seharusnya dia bekerja. Maka berhati-hatilah menghadapi dunia dan berhati-hatilah menghadapi wanita. Karena sesungguhnya awal bencana pada Bani Israel adalah urusan wanita.” (Muslim)

Semakin berat tantangan, semakin hebat ujian, dan semakin besar resiko perjuangan hidup, seorang muslim seharusnya semakin meningkatkan kuantitas dan kualitas ta’abbud (penghambaan) kepada Allah. Segala perbuatan, ucapan, bahkan desiran-desiran hati harus dikontrol dan dikendalikan dalam rangka ta’abbud kepada-Nya. Ini artinya setiap Muslim harus memastikan segala aspek dan sisi kehidupannya serta langkah-langkah perjuangannya sesuai dengan tuntunan Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Inilah yang ditegaskan oleh Allah swt dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (الحج 77)

“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj 77)

Ayat ini mempersyaratkan rukuk, sujud, ibadah kepada Allah dan melakukan kebajikan bila seseorang ingin sukses (mendapat kemengangan) dalam hidupnya. Sukses di sini bisa mencakup segala bentuk sukses, termasuk sukses saat menghadapi segala macam ujian dan kepahitan hidup.

Rasulullah saw. telah memberikan contoh, pada saat berdukacita sekalipun tetap tidak melakukan dan mengucapkan selain dari yang diridoi dan dibenarkan Allah swt. ini terjadi saat Ibrahim putranya meninggal dunia. Beliau mengatakan:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلا نَقُولُ إِلا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

Mata berlinang air mata, hati bersedih, namun kami tidak akan mengatakan selain apa yang  Allah ridoi. Sesungguhnya kami benar-benar bersedih dengan perpisahan denganmu wahai Ibrahim.”

Dan manakala Allah menurunkan ujian, bencana, dan hal-hal yang menyedihkan lainnya, ada sesuatu yang ingin diwujudkan oleh-Nya, yakni agar manusia merunduk sujud seraya merendahkan hatinya di hadapan-Nya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ () فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (الأنعام 42-43)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am 42-43)

Merendahkan hati (tadharru’) kepada Allah dilakukan dengan beribadah kepada-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Meninggalkan ibadah dan melanggar larangann-Nya adalah sebentuk kesombongan dan pembangkangan kepada-Nya.

Saat para sahabat Nabi saw. menghadapi penindasan, intimidasi, dan ancaman pembunuhan dari orang-orang kafir Quraisy, justeru mereka diperintahkan untuk bertaqarrub kepada Allah dengan berbagai bentuk ibadah. “Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang yang dikatakan kepada mereka, ‘Tahanlah tangan-tangan kalian dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.’ Maka ketika diwajibkan kepada mereka berperang ternyata sebagian mereka sebagian dari mereka merasa takut kepada manusia seperti takutnya kepada Allah atau bahkan lebih takut lagi. Dan mengatakan, ‘Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan perang kepada kami sekarang. Sekiranya Engkau menangguhkannya sampai waktu yang dekat.” (QS. An-Nisa 77)

Begitulah Allah mendidik Rasulullah saw membina para pengikutnya. Untuk memperkokoh dan memantapkan kesabaran, para sahabatnya diperintahkan untuk semakin dekat kepada Allah dengan melaksanakan segala macam ibadah yang telah digariskan oleh Allah swt.

Para pelanjut Rasulullah saw sepeninggal beliau pun memahami arti penting tadarru’ unutk meraih sukses dan selamat dalam perhalanan yang penuh ujian, perjalanan jihad. Ketika memberangkatkan pasukan menuju Syam, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq –-semoga Allah meridoinya- menasihati mereka,

“Aku berpesan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, berperanglah di jalan Allah, perangilah orang yang kufur kepada agama Allah karena sesungguhnya Allah pasti mebela agama-Nya. Janganlah berlaku curang, jangan berkhianat, jangan menjadi penakut, jangan merusak di muka bumi, janganlah kalian membantah apa yang diperintahkan kepada kalian.”(Hayatush-Shabah, Yusuf Al-kandahlawi)

Setelah perang Yamamah berakhir, Abu Bakar Ash-Shiddiq –-semoga Allah meridoinya- menulis surat kepada Khalid Bin Walid yang isinya sebagai berikut:

“Dari Abdullah Abu Bakar Khalifah Rasulullah saw. kepada Khalid Bin Al-Walid dan orang-orang yang bersamanya dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang yang mengikutinya secara baik. Semoga sesejahteraan dilimpahkan kepada kalian. Sesungguhnya aku memuji Allah Yang tiada tuhan selain Dia. Amma ba’du:

Segala puji bagi Allah Yang telah menunaikan janji-Nya, menolong hamba-Nya, memulyakan wali-Nya, menghinakan musuh-Nya, mengalahkan kelompok-kelompok (kafir) sendirian. Sesungguhnya Allah Yang tiada tuhan selain Dia berfirman,

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.’ (QS. 24:55)

Itu adalah janji Allah yang tidak akan diingkari, dan perkataan yang tidak mengandung keraguan. Dan Dia telah mewajibkan jihad kepada orang-orang beriman dengan firman-Nya (QS. 2:16). Maka sempurnakanlah dirimu untuk mendapatkan janji Allah itu. Taatilah segala apa yang diwajibkan kepada kalian, meskipun beban demikian besar, musibah  merajalela, jarak begitu jauh, dan kalian merasakan penderitaan dalam harta dan jiwa. Karena sesungguhnya itu semua adalah kecil dibandingkan dengan keagungan pahala Allah. Maka berperanglah kalian –semoga Allah merahmati kalian- di jalan Allah baik dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwa kalian.” (Hayatush-Shabah, Yusuf Al-Kandahlawi)

Itu semua menegaskan bahwa Islam tidak merestui langkah-langkah perjuangan yang justeru bertentangan dengan nilai-nilai ta’abbud, terlebih lagi saat kita diperhadapkan dengan aneka ujian. Misalnya mencuri, merampas, merampok, menipu, berdusta, menjual nama orang lain secara dusta untuk merekrut pengikut, meninggalkan ibadah-ibadah wajib seperti shalat dengan dalih belum tegaknya negara Islam atau masih periode Makkah, menerima uang suap atau uang syubhat, dan sebagainya.

Gerakan yang begini kelakuannya bisa dipastikan tanpa ragu-ragu lagi: gerakan fi sabilisy-syaithan (di jalan syetan) dan bukan fi sabilillah. Mengapa? Karena Allah tidak memerintah kepada yang fahsya dan munkar seperti itu. Hanya syetan yang memerintahkan perbuatan-perbuatan haram, busuk dan tercela seperti itu.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 24:21)

Bila Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan mengujinya,” tentu ujian yang mendatangkan kebaikan bagi seseorang adalah ujian yang disikapi dengan benar, antara lain dengan cara semakin mendekatkan diri dan meningkatkan ta’abbud kepada Allah. Dan ta’abbud kepada Allah, itulah kebaikan yang sesungguhnya.

Jika ada orang yang  mengatakan, “Untuk apa saya shalat. Toh, saya shalat dan tetap miskin,” maka katakan padanya, “Untuk apa meninggalkan shalat, toh meninggalkan shalat tidak membuat Anda kaya.” Allahu a’lam bishshawab. [ ]

4

Red: admin

Editor: iman

932