Calon Suami Mengaku Paranormal, Apakah Sama Dengan Musyrik?

0
61
Orang beriman dilarang menikah dengan orang kafir dan musyrik ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, mohon bertanya. Saya mempunyai teman (wanita) berencana menikahi seorang paranormal (peramal orang atau pintar). Setiap dimintai bantuan (kliennya) ia melakukan puasa beberapa hari dan melakukan ritual layaknya seorang dukun. Ia sendiri berpenampilan modern dan praktinya dilakukan di rumah kadang di hotel. Meski mengaku beragama Islam namun dia (calon suaminya tersebut) jarang shalat dan kewajiban lainnya, kadang hanya shalat Idul Fitri saja. Beberapa teman termasuk orangtuanya melarang menikahi pria tersebut karena katanya masuk kategori musyrik. Namun katanya laki-laki tersebut pernah berjanji akan mengerjakan semua perintah agama Islam termasuk shalat dan umroh setelah menikah. Benarkah ia termasuk orang musyrik? Bagaimana hukumnya jika jadi menikah dan solusinya? Mohon nasihat dan penjelesannya pak Ustadz Aam. Terima kasih ( Y via fb)

Wa’alaykumsalam wr wb. Bapak ibu  dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Begini, di zaman sekarang ini kadang profesi dan cara tradisional itu dikemas dengan bungkus modern. Contohnya begini, seperti yang Anda sebutkan tadi.

iklan

Dulu yang namanya tukang ramal itu disebut dengan dukun namun sekarang disebut dengan paranormal, ajengan, kiai bahkan ustadz. Penampilannya pun berubah, kalau dulu serba hitam, rambut gondrong, bawa tasbih besar, bau kemenyan dan terkesan seram atau menakutkan tapi sekarang bergaya modern, rapi, ramah dan berpenampilan layaknya orang ahli ibadah atau pakain serba putih.

Begitu pun dengan tempat praktiknya, kalau dulu di kampung-kampung, di goa atau di hutan namun sekarang di rumah mewah kadang di hotel dan sebagainya. Namun intinya sama mereka tetap seorang dukun hanya kemasannya saja yang beda.

Sekali lagi hakikatnya sama dengan dulu sehingga bukan penampilan atau caranya dihukumi namun hakikatnya yakni kegiatan atau praktik yang menyekutukan Allah dengan menganggap ada kekuatan lain dan ini terkategori musyrik.

Lalu bagaimana jika ada laki-laki beriman atau perempuan beriman yang akan menikahi wanita atau pria musyrik? Jelas hukumnya haram. Coba simak surat Al-Baqarah (2) ayat 221, dimana Allah menerangkan tentang larangan pernikahan dengan laki-laki atau perempuan musyrik. Jika dipaksakan, pernikahannya tidak sah.

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Jangan kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya, hamba sahaya perempuan beriman lebih baik daripada perempuan musyrik yang menarik hatimu. Jangan pula kamu nikahkan laki-laki musyrik dengan perempuan yang beriman sebelum mereka beriman. Sesungguhnya, hamba sahaya laki-laki beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik yang menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajakmu ke surga dan memberi ampunan dengan izin-Nya. Allah menerangkan ayat-ayat- Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS.Al Baqarah [2]:221)

Jadi jelas bahwa haram perempuan beriman menikah dengan laki-laki musyrik. Ayatnya jelas,”Jangan kamu nikahkan laki-laki musyrik dengan perempuan yang beriman….”

Namun laki-laki muslim boleh menikah dengan perempuan yang tadinya musyrik kemudian masuk Islam dengan penuh kesadaran, yaitu perempuan yang keimanannya telah teruji. Coba kita perhatikan Al Quran,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

Hai, orang-orang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, ujilah keimanan mereka. Allah lebih mengetahui keimanannya. Jika kamu telah mengetahui mereka benar-benar beriman, jangan kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (walaupun itu suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir dan orang-orang kafir tidak halal bagi mereka…..” (Q.S. Al-Mumtahaanah [60]: 10)

Jika setelah menikah istri atau suami tersebut kembali murtad, otomatis pernikahannya batal atau cerai atau fasakh [batal demi hukum]. Sebaliknya, sebagaimana haramnya perempuan menikah dengan Ahli Kitab, perempuan juga diharamkan menikahi laki-laki musyrik, kecuali mereka telah menjadi mualaf.

Namun, apabila setelah pernikahan suami murtad kembali, pernikahannya otomatis batal. Mereka tidak bisa saling mewarisi jika ada di antara mereka yang meninggal dunia.

Solusinya bagaimana? Tentu yang terbaik adalah calon suami teman Anda tersebut masuk Islam atau kalau masih mengaku Islam maka segera bertaubat lalu mendapat pembinaan dan melaksankan perintah Allah khususnya shalat dan ibadah-ibadah lainnya.

Jadi jangan sebaliknya seperti janjinya tersebut, akan beribadah setalah menikah. Ini tidak boleh, jangan jadikan menikah sebagai syarat untuk taat kepada Allah dengan ibadah. Harusnya dibalik, taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya sehingga dikatakan beriman, kemudian  baru menikah.

Untuk menciptakan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah sesuai dengan statemen Surat Ar-Ruum (30) ayat 21,

(21). وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” ( QS.Ar Rum: 21)

Dalam ayat ini bahwa suami dan istri harus melaksanakan hak dan kewajibannya di dalam rumah tangga yang telah diikat oleh sebuah perkawinan.

Bagaimana bisa melaksanakan hak dan kewajiban sesuai perintah Allah sementara taat kepada Allah saja tidak?.

Nah, menurut hemat saya, teman Anda tersebut harus dijelaskan dan diberi kesadaran, bahwa menikah itu bukan sekedar tuntutan atau kebutuhan dunia semata melainkan hingga urusan akhirat.

Ingat dalam Islam menikah adalah bagian dari ibadah, mengikuti sunnah Rasul. Jadi harus diniatkan dengan benar, dijalani dengan benar sesuai tuntunan Islam.

Demikian juga calonnya tersebut. Jangan sampai hidup dalam rumah tangga dalam yang diawali dengan proses yang tidak sah dan hanya mengundang kemurkaan Allah. Menikah bukan untuk percobaan, hanya sebentar, kalau cocok dilanjut, kalau tidak cocok diputus. Bukan begitu caranya.

Sekali lagi coba beri pengertian teman Anda tersebut, libatkan keluarganya dan jangan lupa berdoa. Semoga Allah membuka pintu hidayah-Nya untuk teman Anda tersebut. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

Nah, terkait dengan pembahasan keluarga yang bahagia atau sakinah, tips atau caranya silakan baca buku saya yang berjudul “ Insya Allah Sakinah” . Ada bahasan yang cukup detail disertai dengan dalil yang shahih. Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam bishshawab. [ ]

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

895

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 08112202496 atau alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/