Dosa dan Tips Terhindar Dari Adu Domba

0
78
Adu Domba bisa berawal dari informasi yang tidak benar ( ilustrasi foto: kompasina)

PERCIKANIMAN.ID – – Dalam perjalanan Isra dan Mi’raj, Malaikat Jibril memperlihatkan banyak peristiwa kepada Rasulullah Saw. Salah satunya, serombongan laki-laki dan perempuan yang sedang memotong-motong daging salah seorang di antara mereka.

Kemudian, mereka meletakkan potongan daging tersebut ke dalam mulut salah seorang yang lain dan berkata, “Makanlah seperti apa yang aku makan.” Rasulullah Saw. merasa heran. Beliau pun bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka inilah pengumpat, pencela, dan pengadu domba.”

iklan

Mengadu domba dalam bahasa agama dikenal dengan istilah namimah. Menurut Kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Musyawarah, namimah berarti memindahkan atau menyampaikan berita kepada pihak lain untuk maksud dan tujuan yang tidak baik.

Sedangkan, menurut definisi Imam Nawawi, namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka.

Ulama bersepakat bahwa mengadu domba termasuk dosa besar. Perbuatan ini diharamkan berdasarkan Al-Quran, sunah, dan kesepakatan seluruh umat Islam. Allah Swt. berfirman,

(10).وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ

(11). هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

(12). مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

Jangan kamu patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, suka mencela, suka menyebarkan fitnah ke sana kemari, yang merintangi segala yang baik, yang melampaui batas dan banyak dosa.” (Q.S. Al-Qalam [68]: 10-12)

Mengadu domba merupakan dosa besar karena perbuatan ini bisa mengakibatkan perkelahian dan perseteruan, dengan kata lain bisa merusak hubungan baik seseorang dengan orang lain. Maka, Allah Swt. menjanjikan balasan azab yang pedih kepada para pengadu domba dalam ayat berikut ini.

(1). وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

Sungguh celaka para pengumpat dan pencela.” (Q.S. Al- Humazah [104]: 1)

Maksud ayat tersebut adalah perbuatan mencaci dan menyebarkan fitnah untuk menghancurkan orang lain tergolong ke dalam perbuatan mengadu domba. Hukumannya adalah neraka. Rasulullah Saw. bersabda,

Tidak masuk surga orang yang suka mengadu domba” (H.R. Muslim).

Agar Terhindar dari Adu Domba

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a., diceritakan bahwa Rasulullah Saw. berjalan di suatu tempat. Beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Rasulullah Saw. pun bersabda,

Dua orang (yang berada dalam kubur ini) disiksa, tetapi bukan disiksa karena melakukan dosa besar.” Rasulullah melanjutkan, “Ya, salah seorang dari keduanya itu tidak bersuci dengan bersih setelah kencing, sementara yang satu berjalan (di kalangan manusia) dengan mengadu domba” (H.R. Bukhari).

Berdasarkan semua keterangan tersebut, jelaslah bahwa mengadu domba termasuk perbuatan haram dan neraka adalah tempat atau balasan yang setimpal bagi pelakunya. Agar kita tidak terjebak dari perbuatan tersebut, maka ada beberapa hal yang harus kita pelihara.

1.Tidak mudah percaya pada ucapan buruk yang dikatakan seseorang mengenai orang lain. Sebab, pengadu domba termasuk ke dalam golongan orang fasik, yaitu orang-orang yang mengaku beriman tetapi masih saja melakukan dosa. Dalam satu ayat dijelaskan,

Hai, orang-orang beriman! Jika orang fasik datang kepadamu membawa berita, periksalah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan orang lain karena kecerobohanmu yang akhirnya kamu menyesali.” (Q.S. Al-Ĥujurāt [49]: 6).

  1. Jika mendeteksi apa yang disampaikan seseorang kepada kita merupakan hasutan, maka laranglah orang itu melakukannya. Jika mampu, nasihatilah dia sehingga tidak lagi melakukan perbuatan buruk tersebut. Allah berfirman,

“…ajak manusia melakukan perbuatan baik, cegah mereka dari perbuatan mungkar…” (Q.S. Luqmān [31]: 17).

  1. Hendaklah memelihara diri dari berburuk sangka kepada orang lain. Allah berfirman,

(12)……..يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Hai, orangorang beriman! Jauhilah banyak prasangka buruk. Sesungguhnya, prasangka buruk itu dosa….” (Q.S. Al-Ĥujurāt [49]: 12).

  1. Tidak memperbesar-besarkan berita yang diterima.

Cari tahu terlebih dahulu kebenaran berita yang sampai kepada kita. Sebagaimana firman-Nya,

(12)….وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا….

“… Jangan kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu menggunjing sebagian lain…” (Q.S. Al-Ĥujurāt [49]: 12).

  1. Jangan mudah percaya dengan hasutan.

Jangan pula “mengkonfirmasi dengan ditambahi bumbu” kepada orang yang menjadi objek hasutan. Karena, bisa membuat kita jadi pelaku adu domba. [ ]

Sumber: disarikan dari buku “ Ketika Dosa Tidak Dirasa ” karya Dr. H. Aam Amiruddin,M.Si

5

Red: admin

Editor: iman

907