Suami Menolak Ajakan Istri Berhubungan, Apakah Berdosanya Sama Dengan Istri Menolak Ajakan Suami?

0
251
Jumhur ulama mewajibkan pemberian nafkah batin terhadap istri adalah kewajiban suami. (ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Salah satu tujuan dari berkeluarga atau berumah tangga adalah memperoleh keturunan. Jalan memperoleh keturunan itu adalah dengan hubungan suami-istri  atau berjima’. Hubungan suami-istri juga bisa menentramkan keduanya baik istri maupun suami ehingga, terhindar dari jalan-jalan buruk, seperti zina. Dalam Al Quran disebutkan,

(21).وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

iklan

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” ( QS.Ar-Rum: 21)

Islam mengatur dengan baik bagaimana jima’ harus dilakukan. Allah SWT berfirman,

(223).نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman ” (QS al-Baqarah [2]: 223).

Lalu, banyak juga hadis yang menerangkan bagaimana istri harus melayani permintaan suami dalam berhubungan intim. Istri hendaknya tidak menolak ajakan suami dalam berhubungan intim jika tidak ada uzur.

Hal ini didasarkan pada beberapa hadis, di antaranya, dari dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda,

Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan, sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR Bukhari).

Hadis sejenis seperti di atas ada beberapa. Termasuk, “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul, hendaknya wanita itu mendatanginya sekali pun dia berada di dapur.” (HR Tirmidzi).

Seorang istri juga dilarang berpuasa sunah tanpa seizin suaminya. Hal ini dimaksudkan kalau-kalau sang suami menginginkan hubungan suami-istri pada hari itu.

Beberapa aturan memang secara tekstual mewajibkan sang istri tak menolak ajakan suami jika tidak ada udzur syar’i atau alasan yang dibenarkan secara syariat. Udzur di sini bisa berupa saat haid, sakit, atau kelelahan. Tapi, apakah hal ini juga berlaku sebaliknya? Berdosakah seorang suami yang menolak ajakan istri berhubungan intim?

Pada hakikatnya, melakukan hubungan intim dengan istri adalah bentuk nafkah batin dari suami. Artinya, suami berkewajiban memberikan nafkah batin, seperti halnya nafkah berupa materi.

Jumhur ulama mewajibkan pemberian nafkah batin terhadap istri adalah kewajiban suami. Karena wajiba maka jika suami tidak melakukannya maka hukumnya adalah berdosa. Jika suami dalam kondisi tidak mampu misalnya sakit parah hingga impoten maka hukum asalnya dikembalikan kepada tidak mampu melaksanakan kewajiban.

Jika istri boleh menolak hubungan suami-istri berdasarkan uzur yang syar’i, suami juga memiliki  uzur yang sama dalam pemenuhan nafkah batin ini. Jika suami sakit atau lelah maka ia bisa menolak ajakan istrinya.

Sementara terkait ketidakmampuan suami memenuhi nafkah batin kepada istri disebabkan suami impoten atau lemah syahwat, maka para ulama menekankan pencarian penyebab penolakan tersebut dan dibicarakan antara suami-istri untuk dicarikan jalan keluar. Termasuk suami wajib berobat atau mencari kesembuhan.

Dalam buku Fikih Wanita juga dibahas bahwa saat pernikahan maka ada hak dan kewajiban dari suami dan istri. Suami diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan istrinya. Sementara kebutuhan istri tidak hanya dari segi pemenuhan lahiriah, seperti nafkah,  pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain. Tapi, juga pemenuhan kebutuhan baitiniah, seperti rasa sayang sampai hubungan biologis yang menentramkan. Allah SWT berfirman,

(19)… وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ…

“…dan gaulillah mereka (istri-istrimu) dengan cara yang makruf… ” (QS An-Nisa [4]:19).

Seorang istri ketika dalam rumah tangga juga memiliki hak yang sama seperti halnya suami juga memiliki  hak. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT,

(228).وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ……

“…..Dan para wanita yang mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf…” (QS Al-Baqarah [2]: 228).

Sebagian jumhur ulama menyimpulkan suami akan berdosa jika tidak menunaikan kewajiban yang merupakan hak istri, salah satunya soal hubungan biologis.

Sesibuk apa pun si suami baik dalam beribadah, bekerja, atau berjihad tidak boleh menyebabkan ia lalai dalam melayani istrinya. Dalam kisah yang cukup populter tentang istri Amr bin Ash RA yang mengadukan suaminya kepada Rasulullah SAW. Amr bin Ash RA tidak mendekati istrinya karena sibuk puasa pada siang hari dan shalat tahajud pada malam hari. Mendengar hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda,

Jangan kau lakukan lagi. Berpuasalah dan berbukalah, serta shalat malamlah dan tidurlah. Sesungguhnya, tubuhmu memiliki hak, matamu memiliki hak, dan istrimu memiliki hak.”

Dengan demikian hak dan kewajiban suami istri dalam rumah tangga adalah sama dan saling melengkapi. Hak suami menjadi kewajiban istri dan kewajiban suami menjadi hak istri. [ ]

Sumber: disarikan dari buku “ CINTA DAN SEKS RUMAH TANGGA MUSLIM “ karya Dr.Aam Amiruddin dan dr.Untung Santosa, M.Kes

5

Red: admin

Editor: iman

906