Hukum Musik Dalam Islam, Boleh atau Terlarang?

0
145
PERCIKANIMAN.ID – – Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, mohon jika pertanyaannya kurang bebobot. Di masjid dekat rumah suka ada acara yang memakai musik nasyid atau kadang pakai rebana. Bagaimana hukumnya? Bolehkan kita  bernasyid dengan diiringi alat musik? Mohon nasihat dan penjelasannya. Terima kasih ( Jundi via email)
 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Sebenarnya pertanyaan seperti ini sudah sering kita bahas baik offline maupun online. Namun biar paham coba kita bahas kembali .

Begini, bernyanyi atau bernasyid dengan alat musik atau akapela, apabila tidak mengandung unsur-unsur dosa dan maksiat maka tidak dilarang. Dalilnya salah satunya dapat kita simak dalam keterangan berikut ini,

iklan

Aisyah r.a. menceritakan bahwa ayahnya, Abu Bakar, pernah masuk ke rumahnya. Di dalam rumah, ada dua gadis yang menyanyi dan memukul gendang pada hari Idul Adha, sedangkan Nabi Saw. menutup wajah dengan pakaiannya, diusirlah dua gadis itu oleh Abu Bakar. Lantas Nabi membuka wajahnya dan berkata kepada Abu Bakar, “Biarkan mereka itu hai Abu Bakar, sebab hari ini adalah hari raya, yaitu hari bersenang-senang.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis ini Nabi Saw. menegur Abu Bakar yang mengusir dua gadis yang sedang bernasyid dengan menggunakan gendang (alat musik). Hal ini menunjukkan bahwa bersenandung nasyid dengan menggunakan alat musik tidak dilarang.

Ulama kontemporer misalnya Sayyid Quthb menyebutkan sejumlah rambu-ramabu mengenai masalah nasyid atau seni suara yang diiringi alat musik. Di antaranya,

  1. Nyanyian tersebut tidak bertentangan dengan etika dan ajaran Islam. Apabila nyanyian-nyanyian tersebut penuh dengan pujian terhadap kemaksiatan dan menganjurkan orang untuk maksiat, menyanyikan dan mendengarkan lagu tersebut hukumnya haram.
  2. Bisa saja liriknya tidak mengandung maksiat, namun kalau cara menyanyikannya bertentangan dengan etika Islam, misalnya melakukan gerakan-gerakan erotis, hukumnya juga haram.
  3. Nyanyian yang tidak mengandung maksiat (halal) bisa menjadi haram kalau dilakukan secara berlebihan. Seorang ahli hikmah pernah berkata, “Tidak pernah saya melihat suatu perbuatan yang berlebih-lebihan, melainkan dibalik itu ada suatu kewajiban yang terbuang.” Karena itu, nyanyian yang berlebihan hingga melalaikan kewajiban-kewajiban, hukumnya haram.

Memperhatikan apa yang disampaikan Sayyid Quthb, maka secara pribadi saya menyimpulkan bahwa alat musik itu sesungguhnya netral, yang menentukan haram atau halalnya bukan pada alat musiknya, tetapi sangat bergantung pada liriknya.

Kalau liriknya mengandung maksiat, menyanyikannya baik dengan alat musik ataupun tanpa alat, hukumnya haram. Namun, kalau liriknya tidak mengandung kemaksiatan, kita boleh menyanyikannya baik pakai alat musik ataupun tanpa alat.

Tentunya saya menghormati bagi saudara-saudara atau bapak ibu sekalian yang berbeda pendapat dengan saya. Jadi silakan saja kalau ada yang berpendapat berbeda misalnya ada yang sampai mengharamkan. Tentu harus disertai dalil atau hujjah yang shahih.

Intinya beda pendapat tentu dibolehkan dan tidak perlu saling menyalahkan atau bahkan saling menghujat segala. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu A’lam bishshawab . [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

907

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 08112202496 atau email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .