Modal Besar Untuk Pendidikan, Bukan Penghambat Untuk Berkorban

0
59
Belajar atau menuntut ilmu itu tidak kenal usia ( ilustrasi foto: idn times)

Oleh: Ilyas H*

PERCIKANIMAN.ID – – Untuk masuk kuliah di fakultas kedokteran saat ini bisa mencapai biaya ratusan juta rupiah. Angka 150 sampai200 juta rupiah sudah menjadi angka yang biasa dilihat oleh para orangtua yang hendak menyekolahkan anaknya di fakultas tersebut.

Sebenarnya, bukan hanya fakultas kedokteran, tetapi universitas negeri yang berada di Bandung, yang namanya sudah dikenal di seantero Nusantara, memasang tarif mencapai angka puluhan juta. Bila kita pikirkan lebih dalam, uang dengan nilai setinggi itu, bagi kebanyakan masyarakat, bukanlah jumlah yang kecil untuk diinvestasikan.

iklan

Setelah para “investor” tersebut selesai menempuh proses pendidikan dan bergelar sarjana, banyak yang berambisi untuk mendapatkan pekerjaan di tempat yang bonafide dan berharap gaji tinggi.

Dengan harapan, uang ratusan atau puluhan juta yang telah diinvestasikan untuk biaya pendidikan mencapai Break Even Point (BEP), atau bahasa sederhananya balik modal. Bahkan, sedari awal menempuh pendidikan memang diniatkan untuk mendapat salary yang besar, selain itu juga berkesempatan mendapat tunjangan di usia pensiun nanti.

Sebenarnya, tidak salah memiliki pola pikir seperti itu. Toh, memiliki kehidupan yang layak berdasarkan apa yang telah diusahakan adalah hak setiap orang. Apalagi ketika kita hidup di masa sekarang, di mana ruh kapitalistik bersemayam di kebanyakan raga masyarakat Indonesia, walaupun ia dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Kebanyakan dari kita menilai dan menghormati orang lain berdasarkan materi yang melekat padanya, selain kita menilai dari tingginya ilmu dan jabatannya.

Yang disayangkan, ketika ruh kapitalistik itu menggerakkan raga para sarjana untuk menghalalkan segala cara demi mendapatkan kehidupan layak atau sekadar “balik modal” itu tadi. Menyogok oknum perusahaan agar diterima di sebuah BUMN, misalnya. Bahkan, konon untuk menjadi PNS pun uang pelicin bukan hal yang tabu lagi.

Atau, misalnya profesi dokter. Cukup banyak dokter yang sengaja memberi resep obat yang mahal kepada pasien demi mendapatkan penghasilan lebih, setelah sebelumnya sang dokter kongkalikong dengan perusahaan farmasi yang menyetok suplai obat-obatan.

Sungguh, jarang sekali di Tanah Air ini orang-orang yang telah menempuh pendidikan tinggi, kemudian mau menggunakan skill yang dia dapatkan bukan untuk kepentingan pragmatis atau balik modal, tapi untuk tujuan yang lebih mulia, memberi manfaat bagi orang lain.

Padahal, orang-orang semacam ini sering keberadaannya dinanti-nantikan. Bukannya sok idealis, tetapi nanti siapa yang akan mengajar anak-anak di pelosok jika bukan guru yang memiliki niat yang mulia? Siapakah nantinya yang akan menolong dan merawat kesehatan korban bencana alam atau korban perang seperti di Gaza baru-baru ini?

Kita harus mengingat diri sebagai seorang muslim. Dedikasi hidup kita hanya ditujukan untuk beribadah kepada Allah dengan mengorbankan harta dan jiwa, sehingga virus kapitalistik tadi bisa terusir dengan sendirinya. Dengan kesadaran ini, kita akan mengerti untuk apa tujuan kita menempuh pendidikan dengan modal yang tidak kecil itu.

Paradigma itulah yang mestinya ditanam sebelum kita menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Bahwa skilldan ilmu yang kita dapat, dedikasinya adalah untuk memberi manfaat kepada manusia lainnya, sepeti sabda Rasulullah Saw. yang mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang tidak hanya bermanfaat untuk dirinya, tetapi juga untuk sesama. Jadi, nafsu kapitalistik yang menghantui otak kita bukan masalah lagi.

Kali ini, penulis ingin mencoba untuk agak fokus terhadap profesi dokter, mengapa? Boleh dibilang, untuk meraih profesi ini, perjuangan menempuh pendidikannya tidaklah ringan. Bahkan, menurut beberapa mahasiswa pada fakultas ini, bukan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, tetapi bersakit-sakit dahulu sulit kemudian.

Pengorbanan mereka tidaklah mudah, berawal dari modal ratusan juta rupiah, persaingan masuk universitas, dan aktivitas kuliah dengan jadwal yang superpadat dibandingkan fakultas lainnya.

Jika mahasiswa fakultas teknik ketika lulus berpeluang besar untuk bekerja di perusahaan besar dengan gaji tinggi, makah para sarjana kedokteran belum bisa seperti itu. Mereka harus menjalani proses koas, semacam peran dokter muda di sebuah rumah sakit.

Di antara tugasnya adalah jaga malam di Instalasi Gawat Darurat maupun ruangan lainnya dengan jadwal yang cukup padat pula. Mengganti waktu tidur menjadi pagi hari sudah menjadi santapan mereka. Libur pun menjadi barang langka, tanggal merah atau weekend hanya bisa dinikmati jika tidak ada jadwal jaga.

Belum lagi, ketika sudah menjadi dokter, bila salah langkah dalam memberikan treatment, maka tuntutan malapraktik selalu siap menghantui. Bisa berujung di meja hijau bahkan izin praktik bisa dicabut. Dengan proses perjuangan yang dahsyat tersebut, siapa sih yang dalam hatinya tidak berontak dan menuntut untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak secara materil dibanding profesi-profesi lainnya?. [ ]

*penulis adalah aktivis sosial dan pegiat media

4

Red: admin

editor: iman

907