Istri Berakhlak Buruk dan Tidak Mau Dicerai, Bagaimana Hukumnya?

0
157
Sekecil apa pun perselingkuhan tidak boleh dibiarkan terjadi, karena ia akan menjadi api dalam rumah tangga (ilustrasi foto: pixabay)
Rumah tangga yang harmonis dibangun dari akhlak yang baik antara suami istri (ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Assalamu’alaykum. Pak Ustadz Aam, saya sudah tidak tahan dengan istri dan sudah berniat untuk menceraikannya. Namun ia tidak mau bercerai. Sementara saya juga sudah memberinya kesempatan untuk memperbaiki akhlak dan perilakunya agar tidak merendahkan dan menjatuhkan martabat saya sebagai seorang suami dihadapan teman-temannya. Namun semua terasa sia-sia karena kurang lebih selama 1 tahun ini tidak ada yang berubah dari istri saya. Sepertinya itu sudah menjadi karakternya dan mendarah daging dalam dirinya. Akhirnya saya mengalah dengan meninggalkan rumah dengan memilih kost di luar selama lebih dari dua tahun. Sementara anak-anak masih suka minta uang atau sekedar main jika kangen dengan saya. Apakah hal ini sudah jatuh talak dalam pernikahan kami?. Apakah saya perlu ijin istri untuk menikah lagi?. Mohon nasihat dan penjelasannya. Terima kasih ( GH via fb)

 

iklan

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Perlu dipahami bahwa menceraikan istri adalah otoritas suami sehingga tidak perlu ijin istri terlebih dahulu. Seperti yang Anda sampaikan tadi bahwa istri Anda mempunyai tabiat yang buruk bahkan hingga merendahkan dan menjatuhkan martabat Anda di depan umum.

Disisi lain Anda sendiri sudah berusaha mempertahankan dengan cara memberinya nasihat namun akhirnya Anda sendiri merasa tidak sanggup lagi untuk mempertahankannya karena merasa sudah tidak ada jalan lain dan tidak ada perubahan dari istri khususnya masalah akhlaknya kepada Anda selaku suami.

Jika Anda akan menceraikan istri maka Anda tinggal datang saja ke kantor pendadilan agama (PA) mendaftarkan gugatan atau mencatatkan diri untuk mencerai istri. Setelah itu pihak PA akan memanggil istri dan Anda untuk mediasi. Kalau istri tidak datang dan kemudian dijatuhkan talak secera sepihak maka itu sudah sah karena ketidakdatangannya dianggap setuju.

Meski pun istri Anda ngotot tidak mau diceraikan namun Anda menjatuhkan kata cerai maka sudah otomatis akan jatuh talak. Cerai juga tidak harus seikhlas istri, meski istri merasa tidak ikhlas atau tidak mau maka tetap jatuh talaknya.

Namun yang perlu diingat adalah alasan bercerai tersebut harus jelas dan sesuai tuntunan syariat bukan mengada-ada atau berbohong atau memanipulasi fakta. Secara pikologis rumah tangga yang Anda jalani sudah tidak sehat, apalagi secara fisik Anda dan istri sudah pisah rumah selama 2 tahun dimana masing-masing (suami istri) sudah tidak lagi saling memenuhi kewajibannya.

Suami tidak memenuhi kebutuhan lahir batin istri. Demikian juga istri sudah tidak memenuhi kebutuhan lahir suami, misalnya menyediakan makanan dan juga kebutuhan batin yakni tidak ada hubungan suami istri yang ma’ruf. Dalam buku nikah disebutkan batasnya adalah 6 bulan terus menerus dan yang Anda jalani ini malah sampai 2 tahun atau 24 bulan.

Menurut pendapat saya lebih baik cerai daripada saling mendzolimi dan menyakiti satu sama lain. Namun sekali lagi perceraian tersebut harus ditempuh dengan benar sesuai dengan syariat baik hukum Negara maupun syariat Islam.

Dalam sebuah hadits ada seseorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya istriku…,” lalu ia menyebutkan kejahatan-kejahatan istrinya.

 

فَقَالَ: طَلِّقْهَا

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ceraikanlah dia!”

Lalu, dia berkata, “Sesungguhnya, dia mempunyai teman dan anak.”

قَالَ:مُرْهَا وَقُلْ لَهَا، فَإِنْ يَكُنْ فِيْهَا خَيْرٌ فَسْتَفْعَلْ، وَلاَ تَضْرِبْ ظَعِيْنَتَكَ ضَرْبَكَ أَمَتَكَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Panggillah dia dan bicaralah dengannya. Jika kebaikan padanya, maka tentu dia akan lakukan. Dan jangan memukul istrimu seperti memukul budakmu.” (HR. Ahmad).

Jadi menceraikan istri karena akhlak atau kejahatan-kejahatan perilakunya yang sudah tidak bisa diperbaiki lagi maka hukumnya boleh.

Persoalan Anda ingin menikah lagi itu sebenarnya sah atau boleh saja. Namun saran saya lebih baik Anda selesaikan terlebih dahulu perceraian Anda sehingga Anda mempunyai status yang jelas (duda). Langkah ini menurut saya lebih elegan dan Anda seorang yang gentleman.

Alangkah baik dan bijaknya sebelum Anda menikah lagi Anda menyelesaikan persoalan Anda dengan istri sebelumnya dengan bercerai. Rasanya akan lebih ringan Anda melangkah ke depannya dengan menyelesaikan persoalan satu persatu.

Sekiranya istri Anda tetap ngotot tidak mau diceraikan itu tidak menjadi masalah karena bercerai tidak harus sepersetujuan istri. Seperti halnya ketika seorang istri merasa didzolimi suaminya lalu ia mengadu dengan datang ke Pengadilan Agama dengan menuntut gugatan cerai dari suaminya.

Lalu sang suami enggan menceraikannya namun pengadilan menetapkan atau memutuskan cerai maka jatuhlah status perceraian dalam perkawinan tersbeut. Hakim di pengadilan agama tidak munngkin menjatuhkan talak sekiranya gugatan oleh sang istri tidak kuat. Misalnya istri merasa selalu dikasari (disakiti) baik secara fisik maupun psikis atau tidak dinafkahi lebih dari 4 bulan silakan baca kembali ada di buku nikah.

Dengan demikian pasangan suami atau istri sekiranya akan menggugat cerai tidak harus seijin atau sepersetujuan dari pasangannya. Selama alasannya jelas dan dibenarkan dalam agama atau Negara maka boleh dilakukan. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam Bishshawab.[ ]

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 08112202496 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

5

Red: admin

Editor: iman

909