Tips Menghindari Salaman Dengan Lawan Jenis Namun Tetap Saling Menghormati

0
166

PERCIKANIMAN.ID – – Assalamu’alaykum. Ustadz, saya ingin bertanya, ada sebuah hadis mengatakan, “seorang muslimah itu, lebih baik ditusuk dengan jarum yang panas daripada ia harus bersentuhan dengan lelaki yang bukan muhrimnya.” Nah, yang ingin saya tanyakan, bagaimana seharusnya sikap saya, seorang muslimah, terhadap ikhwan yang tidak mengetahui perihal hal itu? Ketika ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman, jika saya mengatupkan kedua tangan saya dan menundukkan pandangan saya, karena takut akan Allah, ia merasa sakit hati. Manakah yang harus saya lakukan, tetap memegang syariat bahwa haram bersentuhan dan memandang ikhwan yang bukan muhrimnya ketika berbicara, meskipun itu hanya sekadar bersalaman, atau saya harus menjaga perasaannya? Tapi itu artinya saya melanggar syariat? Mohon penjelasannya. Jazakumullah. ( Bella via fb )

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Sebenarnya, Islam itu mengajarkan kepada kita untuk melakukan hal-hal yang bersifat preventif. Itu sebabnya laki-laki dan perempuan tidak dibenarkan untuk bersentuhan langsung, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan (misal, zina).

iklan

 

(30).قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Q.S. An-Nuur [24]: 30)

Mengenai ayat diatas yang mengatakan bahwa kita harus menundukkan pandangan, bukan berarti Anda harus terus menunduk ketika, misalnya, mengobrol dengan lawan jenis. Karena, pandangan itu ada dua jenis, yaitu, pandangan yang bermuatan syahwat dan pandangan yang tidak bermuatan.

Nah, yang dimaksud menundukkan pandangan dalam Al-Quran surat An-Nuur ayat 30 adalah apabila pandangan tersebut bermuatan, tatapannya itu full syahwat. Itu jelas harus dihindari. Sedangkan pandangan yang tidak bermuatan, tidak menjadi masalah. Misalnya, ketika ada seorang mahasiswi yang bertanya perihal tugas kuliah kepada dosennya yang laki-laki, lalu keduanya terlibat kontak mata.

Hal ini tidak menjadi masalah karena kontak mata disini diartikan sebagai proses pentransferan pemahaman dari dosen kepada mahasiswinya. Jadi, sebenarnya, yang paling tahu apakah pandangan kita bermuatan atau tidak, hanya kita sendirilah yang paling tahu.

Kembali kepada niat dan hati kita.  Lalu, urusan berjabat tangan, jika sekiranya memang Anda bisa menghindari bersentuhan langsung dengan lawan jenis, maka tentu Anda hindari itu lebih baik dan lebih utama. Akan tetapi, jika yang bersangkutan belum paham dan tetap mengulurkan tangannya ketika hendak bersalaman dengan Anda, tidak menjadi masalah Anda cukup dengan mendekatkan jari saja atau tidak berjabat tangan. Karena mungkin dia melakukan hal itu karena faktor ketidaktahuannya. Kalau suatu saat Anda bisa menjelaskan pada dia, insyaAllah nanti dia akan mengerti.

Jadi, Anda usahakan dulu menggunakan isyarat untuk menghindari bersalaman langsung dengan lawan jenis. Akan tetapi, bukan berarti bersalaman langsung (bersentuhan) itu benar, ini hanya masalah konteks saja. Misalnya, kita tentu sudah paham bahwa daging babi atau bangkai itu haram, tetapi, hal tersebut akan menjadi halal jika kita ada di kondisi darurat dan tidak ada makanan lain selain daging babi atau bangkai.

Maka memakannya menjadi halal. Karena sesungguhnya Allah Swt. Maha Tahu hati kita, jadi kita tidak perlu merasa khawatir akan hal ini (bersalaman). Memegang teguh agama itu bagus, tapi ketika Anda terpaksa melanggarnya dalam situasi tertentu, itu tidak menjadi masalah.

Namun tetap harus berusaha menjauhi atau menghindari bersalaman atau berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahromnya. Dalam sebuah haditsRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Jadi tetap sebisa mungkin harus menghindari jabat tangan atau salaman dengan yang bukan muhrimnya.  Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

907

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .