Cara Shalat Jamak dan Qashar, Ini Ketentuannya

0
331
Shalat adalah cara "komunikasi" dengan Allah Swt (ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Assalamu’alaykum. Ustadz, mohon dijelaskan tata cara shalat jamak dan sholat jamak qashar. Terima kasih (Novita via fb)

 

iklan

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Adakalanya dalam beberapa waktu kita melakukan perjalanan jauh ke luar kota atau daerah, misalnya tugas kerja, wisata, bersilaturahmi, atau keperluan lainnya.

Selain karena perjalanan juga kita kadang mengalami cobaan berupa sakit sampai-sampai tidak dapat bangun. Tentu saja hal ini menyebabkan kita sering mengalami kesulitan untuk melakukan ibadah khususnya shalat.

Padahal shalat merupakan kewajiban umat Islam yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apa pun termasuk saat sakit atau pun dalam perjalanan.

Melihat hal ini, ibadah shalat seolah merupakan beban yang memberatkan. Padahal tidaklah demikian. Islam adalah agama yang memberi kemudahan dan keringanan terhadap pemeluknya di dalam rutinitas ibadah kepada Allah dalam hal ini shalat.

Hal ini menandakan kasih sayang Allah kepada umat Islam sedemikian besar dengan cara memberikan rukhsah atau keringanan dalam melaksanakan shalat dengan cara boleh di jama’ dan qashar. Lalu bagaimana ketentuannya?

Pertama, Shalat Jamak

Shalat jamak adalah shalat yang digabungkan, maksudnya menggabungkan dua shalat fardu yang dilaksanakan pada satu waktu. Misalnya menggabungkan shalat Dhuhur dan Ashar dikerjakan pada waktu Dhuhur atau pada waktu Ashar.

Atau menggabungkan shalat Maghrib dan shalat Isya dikerjakan pada waktu Maghrib atau pada waktu Isya. Sedangkan salat Subuh tetap pada waktunya tidak boleh digabungkan dengan shalat lain. Demikian pula kita tidak boleh menjamak shalat Ashar dengan Maghrib.

Hukum mengerjakan shalat dengan menjamak adalah mubah (boleh) bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan. Hal ini seperti dijelaskan Rasul dalam haditsnya,

“Rasulullah apabila ia bepergian sebelum matahari tergelincir, maka ia mengakhirkan salat Dhuhur sampai waktu Ashar, kemudian ia berhenti lalu menjamak antara dua salat tersebut, tetapi apabila matahari telah tergelincir (sudah masuk waktu Dhuhur) sebelum ia pergi, maka ia melakukan shalat Dhuhur (dahulu) kemudian beliau naik kendaraan (berangkat),” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa Rasulullah pernah menjamak salat karena ada suatu sebab yaitu bepergian. Hal menunjukkan bahwa menggabungkan dua shalat (dijamak) itu diperbolehkan dalam Islam namun harus ada sebab dan ketentuannya.

Kemudian dalam mengerjakan shalat jamak boleh dilaksanakan dengan dua cara:

Pertama, Jamak Takdim (jamak yang didahulukan), yakni menjamak dua shalat yang dilaksanakan pada waktu yang pertama. Misalnya menjamak shalat Dhuhur dengan Ashar, dikerjakan pada waktu Dhuhur ( 4 rakaat shalat Dhuhur kemudian 4 rakaat shalat Ashar) atau menjamak shalat Maghrib dengan shalat Isya dilaksanakan pada waktu Maghrib (3 rakaat salat Maghrib dan 4 rakaat shalat Isya).

Yang kedua, Jamak Ta’khir (jamak yang diakhirkan), yakni menjamak dua salat yang dilaksanakan pada waktu yang kedua. Misalnya menjamak shalat Dhuhur dengan Ashar, dikerjakan pada waktu Ashar atau menjamak shalat Maghrib dengan Isya dilaksanakan pada waktu  Isya.

Dalam melaksanakan shalat jamak takdim maka harus berniat menjamak shalat kedua pada waktu yang pertama, mendahulukan salat pertama dan dilaksanakan berurutan, tidak diselingi perbuatan atau perkataan lain.

Adapun saat melaksanakan jamak ta’khir maka harus berniat menjamak dan berurutan. Tidak disyaratkan harus mendahulukan shalat pertama. Boleh mendahulukan shalat pertama baru melakukan shalat kedua atau sebaliknya.

Selanjutnya berkaitan dengan shalat Qashar

Shalat qashar adalah shalat yang dipendekkan (diringkas), yaitu melakukan shalat fardu dengan cara meringkas dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Shalat fardu yang boleh diringkas adalah shalat yang jumlah rakaatnya ada empat yaitu shalat Duhur, shalat Ashar dan Isya.

Hukum melaksanakan salat qasar adalah mubah (diperbolehkan) jika syaratnya terpenuhi. Allah berfirman dalam Al Qur’an:

(101).وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا

 “Dan apabila kamu beprgian di muka bumi, maka tidak mengapa kamu menqashar shalatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir, sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu,” (QS.An Nisa: 101)

Syarat-syarat shalat qashar sama dengan syarat shalat jamak hanya ditambah persyaratan bahwa shalat yang dapat di qashar adalah shalat yang jumlah rakaatnya empat. Shalat Dhuhur, Ashar dan Isya, sementara shalat Subuh dan Maghrib tidak boleh atau tidak bisa di qashar. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab.

Untuk lebih jelasnya terkait pembahasan shalat, Anda bisa baca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU” dan “MELANGKAH KE SURGA DENGAN SHALAT SUNAT”. Didalamnya ada pembahasan yang lebih rinci dengan dalil yang shahih. [ ]

Buku Shalat

5

Red: admin

Editor: iman

907