Terdampak Covid-19, Menjadi Ibu Rumah Tangga atau Membantu Suami Bekerja?

0
185
Dalam kondisi tertentu seorang istri terpaksa harus bekerja diluar rumah (ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Assalamu’alaykum. Pak ustadz, kami salah satu keluarga yang terdampak pandemi Covid-19 ini. Awalnya suami yang bekerja namun setelah di PHK, saya sebagai istri dan ibu anak-anak terpaksa harus bekerja di luar rumah. Selain untuk menambah income keluarga, niat saya bekerja untuk mengamalkan ilmu yang ada. Namun akhir-akhir ini mulai timbul masalah ketika anak juga butuh perhatian. Bagaimana solusinya menurut pak ustadz, apakah saya tetap bekerja mengamalkan ilmu atau di rumah mengurus keluarga? Mana yang lebih utama?  Mohon nasihatnya. (B via email)

 

iklan

Wa’alaykumsalam.ww .  Bapak ibu dan sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Harus diakui bahwa dampak dari pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih 6 bulan ini sungguh luar biasa bagi kita semua.

Dampaknya bukan hanya terkait dengan masalah kesehatan saja,dimana sudah banyak yang menjadi korban baik yang sakit maupun yang meninggal. Mereka dari semua kalangan, baik kaya atau pun miskin, rakyat maupun pejabat.

Pandemi Covid-19 juga berdampak pada sektor ekonomi, dimana banyak usaha yang tutup bahkan gulur tikar. Demikian juga dampak dari sektor atau sisi ibadah, misalnya ke masjid dibatasi bahkan tahun ini saja khususnya di Indonesia tidak ada ibadah haji maupun umroh.

Apa yang Anda alami sejatinya juga dialami oleh keluarga atau orang lain. Dimana suami yang kehilangan pekerjaan karena di PHK terpaksa istri harus ikut bekerja dan meninggalkan anak di rumah.

Dilema ibu yang bekerja khususnya di luar rumah kebanyakan tidak jauh dengan yang Anda alami. Secara umum dalam bekerja itu membutuhkan dedikasi atau konsentrasi yang maksimal sehingga mempunyai out put atau hasil yang maksimal juga.

Ketika disuruh memilih satu di antara dua, yang perlu kita lakukan adalah mengambil pilihan yang dinilai memiliki bobot lebih serta mempersiapkan diri menanggung semua konsekuensi atas pilihan tersebut. Mungkin ini tidak ada masalah. Masalah muncul ketika kita diharuskan menjalani kedua pilihan itu secara bersamaan.

Hal itulah yang dihadapi kaum muslimah saat ini, khususnya kaum ibu, antara menjalani profesionalitas kerja dan memenuhi kewajibannya sebagai istri untuk suaminya serta ibu bagi anak-anaknya. Hal ini tidak mudah, mengingat satu sama lain terkadang menuntut perlakuan lebih pada saat bersamaan. Ketika memilih salah satu dirasa tidak mungkin, lantas apa yang harus dilakukan?

Tentu saja tidak ada jawaban pasti mengenai hal ini. Namun, hal terpenting yang harus diingat adalah keputusan bekerja untuk seorang istri atau ibu harus tetap dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan keluarga, bukan menambah permasalahan tersebut.

Oleh karena itu, pintar membagi waktu antara bekerja dan mengurus rumah tangga adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Namun demikian, tidak semua muslimah pandai melakukannya. Sehingga, muslimah atau ibu yang bekerja di luar rumah harus menentukan skala prioritas.

Bagaimanapun, istri bekerja di luar rumah harus atas seizin suami. Hal ini menandakan bahwa mencari nafkah bagi seorang istri hukumnya adalah mubah dan bukannya wajib sebagaimana dibebankan kepada suami. Sudah selayaknya kalau seorang wanita yang telah menikah lebih mendahulukan keluarga daripada pekerjaannya.

Istri yang mengabdi kepada suami di dalam rumah jauh lebih mulia di mata Allah daripada istri yang bekerja di luar rumah. Ketaatan istri kepada suami adalan bagian dari keimanan istri. Lantas, bagaimana dengan kebutuhan ekonomi yang tidak tercukupi hanya dari penghasilan suami?

Sebagian orang berpendapat bahwa karier terbaik bagi seorang wanita yang telah berumah tangga adalah dengan merintis bisnis rumahan yang bisa dioperasikan dari dalam rumah, misalnya bisnis makanan ringan, konveksi, membuka kios bahan kebutuhan pokok, katering, dan masih banyak lagi. Tujuannya, agar dia tidak menelantarkan tanggung jawabnya mengurus rumah tangga.

Namun, masalah baru datang. Bukankah merintis usaha lebih menyita perhatian daripada bekerja kepada orang lain? Alih-alih bisa memberikan perhatian lebih baik bagi anak dan suami, bisa jadi bisnis tersebut malah menguras habis perhatian dan waktu Ibu di rumah.

Kalau begitu, sekarang saatnya kita berkaca pada wanita karier dan pebisnis ulung pada zaman Rasulullah Saw. Siapa lagi kalau bukan Siti Khadijah. Beliau adalah contoh sukses wanita karier pertama dalam sejarah Islam yang bukan hanya berbisnis dalam skala regional, tetapi juga internasional (ekspor-impor). Namun demikian, beliau tidak mengabaikan perannya sebagai istri dari seorang rasul, ibu bagi anak-anaknya, dan ibu bagi kaum mukmin.

Nah, bukankah Islam memang membuka lebar pintu karier seorang wanita yang bekerja? Selama hal tersebut diniatkan karena mengharap rida-Nya dan dilakukan dalam koridor yang telah ditentukan, tentu ibu yang bekerja tidak akan menimbulkan permasalahan. Tentu yang bisa memahami dan memutuskan adalah Anda sendiri, sebab keduanya jelas ada konsekuensinya.

Terkait mana yang lebih utama atau mulia, bekerja mengamalkan ilmu atau di rumah mengurus keluarga?. Menurut hemat saya, jawabannya bukan A atau B. Sebab keduanya bisa menjadi kemuliaan dan keutamaan dalam beramal sekiranya dijalani dengan ikhlas dan tidak mendatangkan mudharat.

Anda mempunyai ilmu dan Anda mengajarkan kepada orang lain tentu ini adalah sebuah pekerjaan yang mulia. Begitu pun Anda full time mengurus keluarga dan mengasuh anak-anak sehingga suami dan anak-anak terawatt dengan baik. Lalu anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang shalih shalihah tentu ini adalah pekerjaan yang sangat mulia juga.

Namun sebaliknya, Anda bekerja karena niat untuk mengamalkan ilmu tetapi pada saat bersamaan Anda menelantarkan anak-anak dan suami maka menurut hemat saya itu adalah salah satu bentuk pendzoliman Anda kepada keluarga. Bisa jadi Anda bekerja dan mengamalkan ilmu Anda kepada banyak, Anda akan dapat pahala.

Namun disatu sisi Anda mendzolimi keluarga khususnya anak-anak maka bisa jadi Anda berdosa. Atau sebaliknya, Anda tidak bekerja dan rumah saja namun banyak bekerjaan yang tidak terurus karena Anda lebih banyak menonton tv dan aktivitas yang tidak bermanfaat lainnya maka itu juga bukan sesuatu yang mulia. Bisa jadi Anda berdosa juga.

Jadi menurut hemat saya, bukan mana yang lebih mulia, bekerja atau mengurus rumah tangga tetapi bagaimana bekerjaan itu dilakukan dengan sebaik-baiknya dan tidak saling mendzolimi. Tentu sangat sulit dan mungkin berat untuk bisa mengerjakan dua-duanya hingga bernilai ibadah atau pahala.

Untuk itu Anda diberi pilihan sebagai solusinya dan jangan lupa diskusikan dengan suami Anda. Ingat juga bahwa kesempatan bersama anak-anak tidak akan datang dua kali maka gunakan waktu Anda selagi masih ada kesempatan.

Sekali lagi setiap pilihan pasti membawa konsekuensinya, pilih A konsekuensi bla bla. Kalau pilih B konsekuensinya juga ada. Maka itu harus disadari sejak awal. Diskusikan dengan suami dan anak-anak serta jangan lupa berdoa.

Semoga wabah pandemi ini segera berlalu dan Allah cabut segala kesusahan ini sehingga kehidupan menjadi normal kembali. Demikian jawaban saya, semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

831

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

,,