Ketinggalan Rakaat Shalat Berjamaah, Ini Batasannya

0
158
Shalat berjamaah di masjid ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Assalamu’alaykum. Pak Aam, dalam sebuah kesempatan saya dan teman sama-sama tertinggal dalam shalat berjamaah (masbuk). Namun berbeda dalam penambahan ketertinggalan rakaatnya. Saya menganggap hanya ketinggalan 1 rakaat namun teman saya menganggap telah ketinggalan 2 rakaat. Nah. batas masbuk itu pada saat terlambat takbir atau setelah imam membaca Al-Fatihah? Bolehkah kita bermakmum kepada orang yang shalat sunnah? Mohon penjelasannya. Terima kasih. ( Syahroni by email)

Wa’alaykumsalam ww.  Bapak ibu dan  sahabat-sahabat sekalian yang di rahmati Allah. Permasalahan Anda ini sebenarnya sudah pernah kita bahas baik dalam kajian offline maupun yang online. Namun untuk mengingatkan kembali coba kita bahas kembali agar yang sudah tahu menjadi paham dan yang belum menjadi paham.

iklan

Begini, terkait permasalahan Anda ini setidaknya ada dua pendapat tentang masbuk atau ketinggalan rakaat dalam shalat berjamaah.

Pendapat pertama, menyatakan bahwa jika yang masbuk itu sempat mendapati ruku (sempat melaksanakan ruku), dia dinilai mendapat satu rakaat. Dasar dari pendapat ini merujuk pada hadits Rasulullah Saw. bersabda,

Apabila kamu hendak salat dan kami sedang sujud, sujudlah dan jangan kamu hitung satu rakaat, dan barang siapa yang mendapati ruku, berarti dia mendapat satu rakaat dalam salat.” (H.R. Abu Daud dari Abu Hurairah r.a.).

Pendapat kedua, menyatakan bahwa satu rakaat itu dihitung bukan mendapatkan ruku, tetapi bisa menamatkan Surah Al-Fatihah. Kalau tertinggal Al-Fatihah, dia dianggap telah tertinggal satu rakaat. Hal ini berdasar pada dalil tentang wajibnya membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat, seperti dijelaskan dalam riwayat berikut.

Rasulullah Saw. bersabda kepada Abbas, “Wahai pamanku, salatlah empat rakaat dengan membaca Al-Fatihah di setiap rakaatnya” (H.R. Tirmidzi dari Abu Rafi’ r.a.).

Berdasarkan hal itu maka kedua pendapat tersebut memiliki alasan atau dalil yang kuat masing-masing. Untuk itu, silakan Anda pilih di antara dua pendapat itu yang paling meyakinkan dengan saling menghargai dan tidak saling menyalahkan satu sama lainnya.

Kedua pendapat di atas memiliki alasan atau dalil yang kuat. Untuk itu, silakan Anda pilih di antara dua pendapat itu yang paling meyakinkan Anda.

Lalu bolehkah kita masbuq kepada orang yang sedang shalat sunah? Apabila kita tidak mengetahuinya, tentu saja tidak ada masalah, alias shalat kita sah. Terjadinya perbedaan niat antara imam dan makmum tidaklah merusak keabsahan shalat.

Namun kalau kita tahu bahwa dia sedang shalat sunnah dan kita hendak shalat wajib maka tidak boleh makmum kepadanya.

Untuk pembahasan terkait permasalahan shalat ini silakan Anda membaca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU?”. Insya Allah ada penjelasan dan pembahasan yang lebih detail dengan dalil yang shahih. Wallahu a’lam bishawab. [ ]

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

5

Red: admin

Editor: iman

906