Maqam Ibrahim dan Keistimewaan Batu Mulia

0
63
Maqam Ibrahim ( foto: madania)

 

Oleh: Ir.H.Bambang Pranggono MBA* 

PERCIKANIMAN.ID – –  Nabi Ibrahim as. adalah Nabi yang Allah berikan keistimewaan yang besar. Dia adalah imam, ummah, hanif, orang yang tunduk (qanit) lillahi azza wa jalla. Seluruh Nabi dan Rasul setelahnya bernasab kepadanya.                       

iklan

Ka’bah adalah peninggalan Nabi Ibrahim as dan keberadaannya tetap terjaga sepanjang masa,

(97)…..فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا

“ Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia;………..” ( QS.Ali-Imran : 97)

Bagi kaum muslimin yang pernah menunaikan ibadah haji atau umroh pasti melihat di depan pintu Ka’bah sebelah kanan ada kurungan kuningan berkubah kecil. Didalamnya ada batu dengan bekas telapak kaki.

Konon itu adalah batu pijakan Nabi Ibrahim ketika memasang batu-batu menjadi dinding Ka’bah dibantu oleh puteranya, Nabi Ismail.

Oleh karenanya batu itu disebut Maqom Ibrahim, artinya tempat berdiri Ibrahim. Ayat diatas menyatakan dua hal. Pertama bahwa maqom Ibrahim adalah tanda yang jelas, yang kedua siapa memasukinya akan aman. Dalam ayat lain Allah Swt jelaskan:

 

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Ingatlah, ketika Kami menjadikan Baitullah sebagai tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat. Telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Isma‘il, “Bersihkan rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang ruku‘, dan yang sujud!” (QS.Al-Baqarah: 125)

Di surat tersebut malahan Allah menjadikan maqom Ibrahim sebagai musholla. Masalahnya ialah mustahil kita bisa masuk kedalam batu itu secara fisik. Mungkin ada makna alternatif. Di sudut Ka’bah juga ada batu yang lain, warnanya hitam sehingga disebut Hajar Aswad.

Batu itu sejak dulu selalu diciumi berebut-rebut oleh jutaan manusia. Minimal orang menyentuhnya. Atau melambaikan tangan ketika sedang tawaf melewatinya. Tetapi aneh, tidak ada satupun ayat Al-Qur’an menyebut tentang Hajar Aswad.

Jadi batu yang diciumi tidak ada di Al-Qur’an, tetapi batu yang diinjak malahan diangkat Allah masuk 2 kali dalam Al-Qur’an.

Batu pijakan waktu Nabi Ibrahim membangun Ka’bah adalah ibarat orang-orang sederhana tak dikenal yang membantu orang lain meniti puncak prestasi. Orang yang menyediakan punggungnya jadi anak tangga kesuksesan orang lain.

Dia akhirnya hanya melihat karir orang yang dibantunya menanjak tinggi. Menjadi tokoh terkenal, kaya raya, dihormati, dipuja.  Sedangkan dia tidak menikmati apa-apa, tetap dibawah.

Banyak diantara kita merasakan nasib seperti itu. Tetapi jangan kecil hati. Allah ternyata lebih memuliakan batu yang diinjak daripada batu yang diciumi.

Allah Swt mengangkat jasa batu pijakan itu, walaupun tidak ikut menempel di Baitullah Ka’bah. Maka ketika kita merasa nasib kok masih susah, padahal sudah berjasa atas suksesnya orang, jangan sedih.

Masukkanlah diri kedalam sifat ikhlas, jadilah kelompok Maqom Ibrahim, maka kita akan aman tenteram. Barangkali itu makna ayat tadi :Waman dakholaha kana aminan. Barangsiapa masuk kedalamnya, dia akan aman. Wallahu a’lam. [ ]

*Penulis adalah pendidik, pegiat dakwah dan penulis buku.

5

Editor: Iman

790